
Ketika Yuna Yon terjebak dalam kesulitan ini dan tidak mampu keluar darinya, suara saudara-saudarinya yang memberinya semangat terdengar di telinganya. Yuna melirik ke arah keluarganya, mereka tersenyum dan percaya bahwa dia tidak akan mengecewakan mereka.
Maestro Roseta berdiri dari kursinya untuk menyemangati gadis kecil yang terlalu gugup di depannya itu. "Abaikan orang lain dan bermainlah untuk keluargamu. Mereka percaya padamu."
Mendengarnya, Yuna Yon menjadi semangat kembali, dia memikirkan kata-kata itu di dalam hatinya dan melemaskan tubuhnya untuk menyatu dengan biola di tangannya. Hatinya yang semula gelisah perlahan-lahan menjadi tenang. Dia menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
Yuna Yon menutup matanya, saat dia melakukan itu, dia merasa hatinya menjadi sedikit lebih damai. Dia pasti bisa melakukannya!
Yuna Yon meletakkan biola di bahunya dan meletakkan busur di senar. Dia menggerakkan tangannya sedikit dan nada-nada yang mengalir menari dan melompat seperti kupu-kupu.
Dikatakan bahwa permainan musik yang bagus adalah permainan musik yang mengandung perasaan pemainnya. Soma Haruka tersenyum puas, di masa lalu, musik Yuna Yon terdengar kesepian dan penuh keputusasaan. Kedengarannya megah namun goyah, memberi orang rasa bahaya dan perasaan hampa. Namun, kali ini, musiknya mengandung harapan di tengah kesepian dan keputusasaan. Itu seperti cahaya yang tiba-tiba muncul dari kegelapan, seperti kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya, memberi kehidupan baru kepada orang-orang.
Yuna Yon tidak bisa menahan senyum saat dia bermain. Dibandingkan gitar yang selama ini menemani hidupnya, biola lebih bisa mengekspresikan emosinya dengan jelas dan dia sepertinya juga lebih berbakat dalam memainkannya. Ketika dia bermain biola, dia merasa menjadi lebih berani dan bersemangat melawan takdir.
__ADS_1
Saat Yuna Yon membuka kembali matanya, seluruh kegelapan di hatinya seketika menghilang setelah melihat orang-orang yang menonton pertunjukkannya terlihat senang dengan permainan biolanya. Yuna semakin berani dan mulai membuka suaranya untuk bernyanyi. Suaranya merdu dan memiliki sinkronisasi tinggi dengan melodi biola.
Permainan gadis itu semakin baik dan semakin baik. Yuna Yon telah melepaskan kegelapan yang mengikatnya dan menghangatkan dirinya dalam cahaya. Kematian dan harapan saling bertarung. Pada akhirnya, kekuatan cahaya mengalahkan kegelapan. Ketika bait terakhir berdering di udara dan perlahan memudar, seluruh ruang perjamuan menjadi sunyi senyap. Beberapa gadis meneteskan air mata, tetapi matanya bersinar, seolah terberkati.
Tangan Yuna Yon gemetar saat dia meletakkan busur biola. Dia gelisah dan bersemangat. Dia berseru, "Kakak ipar, aku berhasil melakukannya!"
"Aku tahu kamu bisa melakukannya!" Soma Haruka tersenyum dan memberikan jempolnya. "Adik, kamu benar-benar hebat itu tadi adalah penampilan terbaik yang pernah aku dengar!" Marina Yon berteriak dengan sangat antusias dan David Yon tersenyum sembari mematikan rekaman audio dari ponsel pintarnya.
Maestro Roseta memikirkannya sejenak kemudian tersenyum dan memberikan Yuna Yon tepuk tangan yang keras, menyebabkan penonton di bawah panggung ikut bertepuk tangan dengan antusias satu demi satu. Yuna Yon tersipu di bawah tepuk tangan yang dipenuhi dengan sorak-sorai, dan wajah kecilnya yang pucat berubah menjadi merah muda. Meskipun dia pemalu, dia tidak memilih untuk bersembunyi kali ini. Sebagai gantinya, dia mencoba yang terbaik untuk menghadapinya.
Maestro Roseta tersenyum ketika dia melihat gadis kecil di depannya tersipu malu dan tidak berani menatap matanya. Dia bertanya dengan penuh semangat tetapi menahan diri, "Mayuna dari keluarga Yon, maukah kamu belajar biola dariku? Aku berjanji bahwa aku akan mengajari semua yang aku tahu kepadamu."
Begitu dia selesai berbicara, seluruh tempat menjadi gempar. Mereka sudah siap secara mental untuk hal ini karena mereka tahu bahwa Maestro Roseta punya rencana untuk menerima seorang penerus. Namun, ini sudah di luar prediksi mereka. Siapa yang pernah menyangka, Nona Muda ke lima dari keluarga Yon, yang bukan siapa-siapa, dipilih sebagai muridnya. Mereka merasa itu sangat sulit dipercaya.
__ADS_1
Darel Yon masuk kembali ke aula dengan ekspresi wajah yang tumpang tindih antara sedih dan senang. Orang itu adalah Maestro Roseta, seorang legenda yang telah memenangkan banyak penghargaan internasional dalam berbagai kategori. Dia adalah sosok perwakilan di tingkat atas biola internasional, dan dia juga dianggap sebagai harta nasional oleh negara.
Meski Roseta bukan dari keluarga kaya, tetapi ribuan keluarga kaya menginginkannya. Namun, orang seberharga itu mengatakan bahwa Yuna Yon akan dapat mencapai lebih dari dia di masa depan. Bagaimana bisa mereka tidak gempar.
Ekspresi Yuna Yon dipenuhi dengan kegembiraan. Dia melihat Soma Haruka yang berdiri di sampingnya; menopang tubuhnya yang mulai goyah. Dia dipenuhi dengan rasa terima kasih. Dia berusaha keras untuk mengendalikan emosinya. Dia mengangguk dengan sedikit rasa cemas, "Saya bersedia, saya bersedia menjadi murid Anda, Maestro Roseta."
"Gadis kecil, bukan Maestro, kamu harus memanggilku guru mulai sekarang!" Roseta berdiri dan berjalan ke sisinya. Menjabat tangan kecil Yuna Yon dan menghadapi kerumunan di bawah panggung bersamanya, dia mengumumkan, "Mulai sekarang, Nona Muda ke lima dari keluarga Yon, Mayuna Yon, akan menjadi muridku!"
Para wartawan yang diundang ke pertunjukan menekan tombol satu demi satu, merekam momen yang tampaknya bersejarah ini. Para reporter tidak akan tahu adegan yang mereka rekam dengan kamera mereka, akan menjadi saksi sejarah pertemuan dua legenda dalam sejarah permusikan dunia.
Tepuk tangan di bawah panggung menggelegar. Karina Arthur dan kelompoknya menjadi pucat. Mereka ingin diam-diam meninggalkan tempat itu. Namun, mereka dihentikan oleh Marina Yon yang sudah tahu ini akan terjadi. Dia berkata, "Karina Arthur, kamu belum menunaikan taruhanmu. Mau pergi ke mana kamu? Apa kamu mencoba untuk melarikan diri?"
"Aku tidak melarikan diri!" Ekspresi Karina Arthur berubah menjadi tidak sedap untuk dipandang saat dia memelototi Marina Yon dengan mata yang merah. "Aku hanya ingin ke kamar mandi!" Dia berkilah.
__ADS_1
"Benarkah? Kalau begitu, aku minta maaf. Aku pikir Nona Muda keluarga Arthur adalah seorang pengecut yang tidak bisa menepati janjinya." Marina Yon menyeringai "Jaga-jaga jika kamu lupa. Kamu dan teman-temanmu harus meminta maaf kepada adik perempuanku di depan umum, oke?"
"Kamu!" Karina Arthur menggigit bibir. Jika dia meminta maaf kepada Yuna Yon di depan umum, itu akan sangat memalukan. Dia akan kehilangan wajahnya dan terpaksa menundukkan kepalanya di masa depan.