
Darel Yon melirik jam tangannya kemudian bertanya, "Paman bilang pernah belajar administrasi bisnis di Amerika, kan? Apa paman punya teman yang berurusan dengan saham dan bisa dipercaya di sana?"
"Ba-baik, akan Saya perkenalkan kepada Anda beberapa kenalan." Rama Ryan langsung menyetujuinya.
"Terimakasih." Darel Yon berdiri. "Lalu, mari kita pergi, Kakak Ipar."
"Tu-tunggu. Sudah mau pergi? Setidaknya makan malam dulu bersama kami." Rama Ryan mencoba mencegah Darel Yon pulang. Dia masih ingin berbicara lebih banyak dengannya dan juga Darel Yon belum menjawab pertanyaan sebelumnya. Apa dia benar-benar tidak tertarik dengan harta keluarga Yon?
"Saya menghargai itu Tuan Rama, tetapi adik-adik ipar Saya saat ini pasti sudah menunggu Saya. Mungkin lain kali." Soma Haruka membungkukkan badannya. Karena dia sudah sampai seperti ini, mau tidak mau Rama Ryan melepaskan mereka.
"Ah, baiklah. Semoga selamat sampai tujuan."
"Terimakasih."
***
Malam harinya, Soma Haruka tidak bisa tidur setelah ia mendengar dari Darel Yon tentang tradisi aneh penyerahan ahli waris keluarga Yon.
Berpikir membuatnya menjadi haus dan pergi untuk mengambil air. Namun, di tengah jalan dia melihat Kepala Pelayan Hans berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa. Dia menghentikannya.
"Ada apa, Hans? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Melihatnya, Hans pertama-tama menghela napas lega, tetapi dia masih terlihat sedikit cemas. "Nyonya, Saya baru saja menerima telepon yang memberitahukan bahwa Tuan Muda Kedua pergi ke Distrik Kumuh untuk balapan."
"Tuan Muda Kedua? David Yon?" tanya Haruka memastikan.
__ADS_1
"Benar, Nyonya. Saya ingin melaporkan ini kepada Tuan Daniel." Hans hendak pergi ke ruangan Daniel Yon, tetapi Haruka tidak mengizinkannya. "Daniel sudah tidur setelah meminum obatnya dan Darel sedang sibuk dengan urusannya sendiri. Jadi, biar aku saja yang menemuinya." Haruka menawarkan diri.
Soma Haruka melihat ke luar jendela. Awan gelap menutupi langit, membuat segalanya tampak suram. Pepohonan berdesir di bawah angin kencang, dan kilat menyambar membelah kegelapan. Suara gemuruh membuat jantung berdebar dan kaki gemetar. Malam yang merefleksikan kematian.
Haruka mengenal dengan jelas Distrik Kumuh Selatan dan tempat yang biasa digunakan untuk balapan.
Jalan berkelok-kelok di daerah pegunungan Distrik Kumuh Selatan tidak mulus dan tidak rata, oleh karena itu warga mengenalnya sebagai Jalan Menuju Surga. Penggemar balap suka balapan di sana untuk mencari kegembiraan. Mereka bertaruh dan berpesta setelah berhasil mempermainkan Dewa Kematian.
Pegunungan yang curam dan berkelok-kelok menaiki tebing sambil dibayangi jurang tanpa dasar di satu sisi. Jalan gunung berputar dan jika ada orang yang keluar dari jalan, mereka akan jatuh ke tebing dan hancur berkeping-keping. Mereka menamai jalur ekstrem itu dengan nama Arena Kematian dan pembalap yang menyelesaikannya di beri gelar Petaruh Nasib.
Jalan seperti itu mengharuskan pengemudi untuk berhati-hati bahkan di siang hari, apalagi di malam hari saat hujan seperti ini, itu tidak ada bedanya dengan tindakan bunuh diri.
Ekspresi Soma Haruka menjadi gelap. Dia mengenakan jaket untuk menutupi sosoknya yang indah dan berkata dengan dingin, "Aku akan pergi sekarang."
Hans merasa cemas dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia ragu-ragu. Setelah beberapa saat, dia dengan cepat mengikuti di belakang, "Nyonya, Saya akan memegang payung untuk Anda."
Pada saat ini, cahaya terang menerangi persimpangan jalan pegunungan yang berkelok-kelok. Seorang gadis berpakaian seperti kelinci sedang menggoda David Yon sambil memegang payung. David Yon bersandar di sisi mobilnya, memantik api untuk rokoknya. Dia menatap Arena Kematian dengan ekspresi dingin.
"David Yon."
Di tengah hujan lebat, Wang Haris berlari dan menyeka air hujan dari wajahnya. Dia bertanya, "Saat ini hujannya terlalu deras. Jadi, tidak akan ada cukup gesekan di tanah, dikondisi seperti ini roda akan mudah tergelincir. Arena Kematian menjadi sangat berbahaya. Apakah kita masih akan bersaing malam ini?"
David Yon bermain dengan korek api di tangannya dan tersenyum jahat. "Memangnya kenapa? Kalau kamu takut, akui saja kalau dirimu itu pengecut, bagaimana?"
"Bukan begitu, aku hanya takut kamu tergelincir." Wang Haris tersenyum datar. "Kita bukan musuh David, tidak perlu menatapku seperti itu. Maksudku, apa gelar itu sebegitu pentingnya sampai-sampai kita harus bertaruh nyawa?"
__ADS_1
"Jika kamu takut, kamu bisa pergi." David Yon menutup pemantiknya dan kembali menegur dengan jijik, "Aku akan menjadi Petaruh Nasib malam ini, jangan hentikan aku, lalu pergilah sana dasar pengecut."
Pada saat ini, cahaya terang menembus kegelapan, dan sebuah mobil sport merah secara bertahap muncul. Bagian belakang mobil berayun sebelum berhenti dengan mantap di tengah hujan lebat.
Pintu pengemudi terbuka. Kepala Pelayan Hans melangkah keluar dan membuka pintu penumpang belakang sambil memegang payung. Hal pertama yang terlihat adalah sepasang pergelangan kaki halus seperti batu giok yang begitu putih sehingga mempesona.
Segera setelah itu, betisnya yang ramping dan jaket hitam yang menutupi sebagian besar tubuhnya muncul. Namun, orang masih bisa samar-samar melihat bahwa lekuk tubuhnya sempurna. Dia melangkah keluar dari mobil, memperlihatkan wajah yang cantik. Angin kencang bercampur hujan meniup rambutnya yang lurus. Matanya yang dingin jatuh pada David Yon.
"David Yon?"
Bibir merah Soma Haruka bergerak sedikit saat dia membungkus jaketnya lebih erat di sekelilingnya. Dia berjalan ke arahnya dan berkata, "Senang bertemu denganmu. Aku kakak iparmu, Soma Haruka."
David Yon meludahkan rokok di mulutnya dan melengkungkan bibir tipisnya dengan jijik. Di masa lalu, ketika kaki Daniel Yon masih sehat, banyak wanita datang satu demi satu untuk menikah dengan pewaris keluarga Yon, mereka tidak bermoral. Mereka berpura-pura peduli padanya, menghentikannya membuat onar, menyelamatkannya dari masalah, dan mencoba membawanya kembali ke jalan yang benar.
Mereka semua adalah wanita munafik, begitu juga orang di depannya. Tidak peduli betapa menakjubkan penampilan Soma Haruka, di dalam, dia pasti busuk, kotor, dan hanya memikirkan uang saja.
Dia merasa kesal. Dia membuka pintu mobil dan hendak masuk ke mobilnya ketika dia memperingatkan, "Hanya karena kamu menikah dengan Kakak laki-lakiku, bukan berarti kamu bisa mengendalikanku. Pergilah, urus saja bajingan lumpuh itu."
"Tunggu sebentar." Soma Haruka menekan pintu mobil yang hendak David Yon buka. "Beri aku kunci mobilmu."
"Apa maksudmu?" David Yon tercengang.
"Mulutmu bau alkohol. Berikan kuncimu dan biarkan aku melakukan satu putaran untukmu."
"Nyonya!" Kepala Pelayan Hans yang ada di belakangnya dengan cepat mencoba menghentikannya. "Anda tidak boleh melakukan itu, jalanan licin sekarang dan itu sangat berbahaya!"
__ADS_1
"Baik." David Yon yang awalnya masih ragu-ragu, segera melemparkan kunci mobil ke telapak tangan Haruka ketika mendengar ini. Dia berkata dengan provokatif, "Kamu ingin balapan, kan? Biarkan aku melihat kemampuanmu."