
Melihat Kepala Pelayan Hans, Daniel Yon, dan Darel Yon sudah pergi. David Yon yang masih berdiri di dekat pintu, menghela napas lega. Dia menyentuh punggungnya yang basah kuyup dan berkata dengan gugup, "Ka-kalau begitu, aku juga akan pergi tidur sekarang."
"Tunggu." Soma Haruka menghentikannya. Saat David Yon mendengar itu, dia tahu sesuatu yang buruk akan terjadi. "Jangan pergi dulu, masih ada urusan yang harus kamu dan aku selesaikan.
Darel Yon turun dari tangga sambil membawa camilan dan tongkat bisbol. Dia memberikannya kepada Soma Haruka dan membuat wanita cantik itu tersenyum. Darel Yon duduk santai di sofa, dia menyeringai dan berkata, "Kak, apakah kamu pikir kamu bisa lolos setelah melakukan hal yang tidak benar? Berlomba di tengah badai dan membuat saudaramu, yang badannya tersisa setengah, mengkhawatirkanmu di tengah malam?"
David Yon menggigit bibir ketika mendengar omong kosong yang dimuntahkan oleh Darel Yon. Daniel Yon mengkhawatirkannya? Jelas-jelas orang itu hanya khawatir dengan istri kecilnya yang cantik.
David Yon meneguk ludah ketika melihat Soma Haruka mendekat ke arahnya. Dia tidak tahu apa maksud Soma Haruka, tetapi tatapannya terus jatuh pada tongkat kayu di tangan Haruka. Dia bertanya-tanya apakah wanita ini serius ingin memukulnya? Memukul ahli waris keluarga besar Yon?
"Sepertinya kamu belum menyadari kesalahanmu." Senyum Soma Haruka sedikit memudar.
David Yon tersenyum seperti orang bodoh. "Apa kamu berpikir bahwa hanya karena kamu adalah saudara iparku, kamu memiliki hak untuk memberiku pelajaran? Lelucon yang lucu."
Wajah tenang Darel Yon tiba-tiba berubah suram ketika ia mendengar ucapan David Yon. Dia teringat hal yang lucu, dia juga mengatakan itu ketika pertama kali bertemu dengan Soma Haruka.
Bibi Liam diam-diam bersembunyi di samping Darel Yon. Meski David Yon dan Darel Yon sama-sama pembuat onar, Tuan Muda Kedua itu berbeda, jika Darel Yon keras kepala dan tidak peduli dengan hidup orang lain, maka David Yon adalah orang gila yang tidak peduli dengan hidupnya sendiri. Dia melakukan apa yang dia inginkan tanpa memperhatikan konsekuensinya. Dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Dia adalah seorang pecandu adrenalin yang memuja harga diri di atas segalanya.
Bahkan ketika ayah mereka masih hidup, dia tidak bisa mengendalikan David Yon dan sering sangat marah padanya sehingga dia sampai pada titik memukulinya.
__ADS_1
David Yon tidak mau mendengarkan kakak iparnya, yang lebih muda darinya. Dia sudah memenuhi janjinya dengan Soma Haruka untuk pulang ke rumah, tetapi ini hal yang berbeda. Jika dia berubah menjadi penurut, harga dirinya patut dipertanyakan.
Haruka membuang mukanya dan tertawa kecil. "Apa Tuan Muda Kedua yang berani sudah mati? Sehingga takut dengan pukulan gadis kecil?"
Mendengar itu mata David Yon menjadi gelap. Dipanggil penakut membuat harga dirinya terluka. Dia menutup matanya dan bertanya, "Lalu apa yang ingin kamu lakukan?" Soma Haruka dengan santai menjawab, "Ulurkan tanganmu."
Dia tidak peduli apa yang dipikirkan David Yon. Membayangkan Suaminya yang sakit duduk sendirian di kursi roda untuk menunggunya dengan gelisah membuat hatinya sakit.
Soma Haruka berpikir kalau Daniel Yon sangat peduli terhadap David Yon. Sehingga pria itu menyeret tubuhnya yang terluka ke dalam hujan untuk mencari David Yon, bahkan mengesampingkan egonya untuk mengirim Darel Yon keluar.
Daniel Yon sedang dalam situasi yang kacau karena ada orang yang ingin dirinya celaka, tetapi adik laki-lakinya yang bodoh tidak mengerti dan menyebabkan segala macam masalah di luar segingga membuatnya selalu khawatir dan tidak bisa fokus dalam penyembuhan kakinya.
Pak!
Dia memukul telapak tangan David Yon dengan keras. Membuat pria itu sedikit merengek dan pria lain yang sedang duduk di sofa tersenyum puas. Suara Soma Haruka dingin ketika ia bertanya, "Apakah kamu tahu kesalahan apa yang kamu lakukan?"
David Yon diam tidak berbicara. Karena dia tidak menunjukan reaksi apa-apa Darel Yon merasa kesal sendiri. Dia membuka mulutnya dan secara terang-terangan mencoba memanaskan suasana. "Kakak kedua adalah orang yang arogan dan masokis, satu pukulan seperti itu tidak cukup untuknya."
Amarah Haruka terkumpul ke dalam tongkatnya, dia kembali memgamgkat tongkatnya, dan melepaskan pukulan beruntun yang cantik gerakannya.
__ADS_1
Satu pukulan membuat David Yon terkejut, pukulan kedua membuatnya mengumpat, pukulan ketiga membuatnya meminta tolong, pukulan keempat membuatnya meminta ampun, pukulan kelima membuatnya bungkam, pukulan keenam membuatnya takluk.
David Yon masih tidak mengatakan sepatah kata pun tentang kesalahannya, tetapi secara bertahap rasa takut mulai menyala di matanya yang arogan dan sesat.
Soma Haruka menjatuhkan tangannya yang memegang tongkat dan menatap lurus ke mata David Yon. "David Yon, aku tahu bahwa kamu adalah orang yang sombong, keras kepala, dan tidak mau mengakui kesalahan." Saat Haruka mengatakan itu, tidak ada emosi di wajahnya, tidak ada yang tahu apakah dia marah atau tidak.
"Mungkin kamu tidak merasa bahwa tindakanmu salah. Kamu adalah ahli waris keluarga Yon yang agung, apa yang salah dengan melakukan apa yang ingin kamu lakukan?"
Soma Haruka berbalik badan dan tanpa sengaja memperlihatkan lekuk tubuh indahnya dari balik gaun yang basah. Setelah menarik napas, dia melanjutkan ceramahnya.
"Namun, apa kamu tidak sadar? Selama ini kamu dapat melakukan apa pun yang kamu inginkan karena kamu memiliki seseorang yang menyelesaikan semua masalah yang kamu buat. Sekarang Daniel Yon tidak memiliki kesehatan yang baik, dan tidak ada yang tahu apakah dia masih bisa menjadi kepala keluarga atau tidak. Sebagai putra kedua dari keluarga Yon, kamu bukan hanya tidak mendukung saudaramu, tetapi kamu juga membuat Daniel Yon terus mengkhawatirkanmu dalam sakitnya!"
Memikirkan hal ini, membuatnya semakin marah. Soma Haruka berharap dia bisa memukulinya beberapa kali lagi, tetapi dia tahu seberapa banyak pun dia memukulinya, David Yon hanya akan lebih memberontak padanya. Namun, bukan berarti dia bisa begitu saja memperlakukannya dengan baik. Semuanya harus dilakukan secara bertahap, seperti apa yang terjadi pada Darel Yon.
Berbicara tentang Darel Yon, pemuda itu nampak sangat tidak puas karena Soma Haruka berhenti memukuli kakaknya. Dia ingin melihat lebih, cemilannya juga belum habis. Dia dengan ceroboh mencoba memanas-manasi Soma Haruka sekali lagi. "Jangan lupa, si lumpuh itu sampai masuk ke lumpur karena mengkhawatirkanmu."
Mendengarnya, Soma Haruka menjadi gelap mata. Amarahnya yang susah payah ditekan kini kembali dan berpindah arah kepada Darel Yon. Pemuda keras kepala itu memang sudah berubah karena mulai menggunakan kepalanya dan mengontrol tinjunya, tetapi sekarang malah mulutnya yang tidak dijaga.
Soma Haruka mengayunkan tongkat bisbol sekeras dan secepat yang ia bisa ke arah Darel Yon. Namun, tenaga besar yang ia keluarkan itu menjadi sia-sia. Darel Yon dengan mudah menahan kemudian menangkapnya.
__ADS_1