
"Sepertinya orang-orang yang ada di balik layar sudah menyadari perubahanmu, Daniel. Melihat dari tingkah Dokter Arkam yang semula pasif menjadi agresif, mereka pasti menekannya baru-baru ini." Soma Haruka sedikit tersenyum. "Karena mereka bergerak dengan terburu-buru sekarang, cepat atau lambat mereka akan menjadi ceroboh dan meninggalkan jejak. Saat itu terjadi, kita harus memastikan kakimu sudah sembuh."
Tidak lama kemudian, Dokter Arkam dengan cepat datang ke ruangan Daniel Yon setelah mendengar bahwa mereka sudah kembali.
Selama Dokter Arkam memeriksanya, Daniel Yon sama sekali tidak menyembunyikan napsu membunuhnya. Melihat seorang Dokter yang mengabaikan sumpahnya, Daniel Yon merasa hatinya tidak bisa memandang Dokter Arkam sebagai manusia lagi.
Setelah pemeriksaan, Dokter Arkam mengeluarkan botol pil putih yang baru dan mengingatkan Daniel Yon ntuk minum obat tepat waktu. Daniel Yon mengangguk diam-diam, dan meminta Dokter Arkam dengan ramah, "Dokter, bisakah kamu meminta pelayan untuk mengambilkan air untukku? Aku akan meminumnya sekarang."
Mendengarnya Dokter Arkam langsung bersemangat. Jika Daniel Yon meminum obat di depan matanya, laporannya pada atasan akan sempurna dan dia bisa memastikan kepada mereka kalaua rencana masih berjalan di jalan yang seharusnya. Sayangnya Daniel Yon mengincar titik itu, saat Dokter Arkam pergi, Daniel Yon diam-diam mengganti pil di dalam botol dengan permen yang sudah ia siapkan.
Saat Dokter Arkam kembali, Daniel Yon berpura-pura menuangkan beberapa pil, kemudian menelannya dengan air. Melihatnya meminum obat dengan matanya sendiri, Dokter Arkam akhirnya menghela napas lega.
Setelah Dokter Arkam berulang kali mengingatkan Daniel Yon untuk secara rutin meminum obatnya tepat waktu, dia membawa kotak obatnya dan pergi dengan tergesa-gesa. Dia tampak senang dan wajahnya berseri-seri, tetapi Daniel Yon tidak. Dia melempar botol pil putih itu ke lantai dan menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah.
Dia harus segera kembali pulih dan mencabik-cabik semua penjahat dengan taringnya.
__ADS_1
Tiga hari kemudian, hari perjamuan keluarga mulia Asrahan akhirnya tiba. Di kala fajar baru timbul, kediaman keluarga Yon sudah ramai dengan aktivitas. Daniel Yon secara khusus menyewa Pengarah Gaya profesional (Fashion Stylist) untuk memberi perubahan pada penampilan Soma Haruka dan adik-adiknya.
Saat rambut Soma Haruka masih ditata, Darel Yon masuk ke ruangannya untuk memberitahu sesuatu, "Seorang penyanyi solo legendaris akan tampil selama perjamuan ini, nama panggungnya Roseta, wanita tua itu adalah idola bagi Yuna. Jadi, kalau kakak punya kesempatan berbicara dengannya, cobalah untuk membuatnya menjadi guru untuk Yuna. Jika kakak berhasil, aku akan sangat berterima kasih."
Soma Haruka sangat menyetujuinya "Baiklah, itu terdengar baik untuk Yuna." Saat rambutnya selesai dirapikan, Soma Haruka melihat Yuna Yon menjulurkan kepalanya dari balik pintu. Matanya yang seperti rusa dipenuhi dengan rasa malu dan gugup. Soma Haruka memberi isyarat agar dia masuk, dan Yuna Yon segera mematuhinya. "Ka-kakak ipar, ka-kamu sangat cantik!" puji Yuna tergagap.
Soma Haruka tersenyum sedikit dan menarik putri kecil pemalu itu ke pelukannya. "Yuna juga sangat imut, seperti putri kecil dalam dongeng!" Yuna hari ini mengenakan gaun putih pendek yang manis. Pengarah Gaya menyisir poninya yang biasanya dia sisir lurus untuk menutupi dahinya, sekarang dia memperlihatkan dahinya yang mulus dan lebar, membuatnya terlihat sangat anggun. Tatapan malu-malu di matanya membuatnya tampak seperti seorang putri kecil yang tidak tahu urusan dunia. Hal itu membuat orang merasa kagum padanya.
Mendengar pujian Soma Haruka, wajah kecil Yuna Yon memerah. Tangannya mencengkeram lengan jas Darel Yon erat-erat, tidak tahu harus berbuat apa.
"Putri kecil dari dongeng? Maksudnya kurcaci?" David Yon datang menghancurkan suasana. Di belakangnya ada Kepala Pelayan Hans yang mengelap keringat dingin dari dagunya. Dia tahu bahwa Tuan Muda Kedua sangat suka menantang maut, tetapi tidak sampai menyinggung dua pencabut nyawa juga.
Saat David baru melangkah masuk, tubuhnya sudah disudutkan ke dinding oleh Darel Yon, dia menggenggam kerah David Yon dan secara terang-terangan mengeluarkan hasrat membunuhnya. Mata gelap Darel Yon terlihat sangat dingin, David Yon bisa menyadari kalau dia membuka mulutnya sekali lagi, Darel Yon akan mencekiknya dan tidak akan ada orang yang bisa menghentikannya.
Soma Haruka bisa menenangkan Yuna Yon, tetapi tidak dengan Darel Yon. Jadi, dia menggunakan kewenangan miliknya sebagai pemilik ruangan untuk mengusir mereka dari sana. Darel Yon mematuhi perintahnya, dia keluar, tetapi sambil menyeret David Yon bersamanya. Yuna Yon yang khawatir berpamitan dengan Soma Haruka kemudian menyusul Darel Yon pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
Melihat tingkah anak-anak keluarga Yon, Soma Haruka menggelengkan kepalanya. Mereka semua bersaudara, tetapi sepertinya saling membenci satu sama lain meskipun sejak kecil tinggal bersama. Karena penasaran dia bertanya, "Hans, apa kamu tahu mengapa hubungan Daniel dan adik-adiknya terlihat buruk seperti itu?"
"Maaf?" Kepala Pelayan Hans terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari Nyonya barunya. Namun, dia tahu mengapa Soma Haruka bertanya tentang itu dan tahu bagaimana dia harus menjawab. "Meski kerap kali terlihat seperti itu, mereka sebenarnya tidak saling membenci."
Soma Haruka mendengarkan dengan baik kata-kata Hans, tetapi ia tidak bisa mempercayainya. Ada banyak hal yang masih belum ia ketahui tentang keluarga Yon ini, dari apa yang ia dengar ketika Darel dan Daniel bertengkar hari itu. Darel berkata kalau dia membunuh ibunya sendiri dan Daniel Yon melampiaskan kemarahannya pada Darel Yon sewaktu kecil.
Mereka tidak saling membenci? Apa yang Soma Haruka lihat malah bertentangan, Darel Yon secara terang-terangan memperlihatkan permusuhannya dengan Daniel Yon, sedangkan Daniel, telah menutup-nutupi tentang tradisi keluarga Yon yang mengusir saudaranya sendiri ketika terpilih.
"Daniel!"
Daniel Yon yang sedang duduk di kursi rodanya di ruang tamu menengadahkan kepalanya ketika dia mendengar suara Soma Haruka.
Gaun merah melilit sosok indah di depannya. Saat dia berjalan, ekor gaun itu berayun, seperti putri duyung yang melompat keluar dari laut. Setiap gerakannya romantis dan mudah merebut hati orang lain. Pinggangnya begitu ramping sehingga dia bisa meraihnya dengan satu tangan. Garis leher Istri kecilnya memamerkan tulang selangka yang begitu indah.
Daniel Yon menatap lurus ke arah matanya, dan yang bisa ia dapatkan hanyalah fakta bahwa dia ingin menyembunyikannya dan tidak ingin orang lain melihatnya dan terpesona oleh kecantikannya yang ajaib.
__ADS_1