Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 16 : Pil Putih


__ADS_3

Nada suara Hans terdengar pahit, dia meracau, "Kami tidak bisa melakukan apa-apa. Ketika kaki Tuan Daniel mulai sakit, itu terlihat sangat menyakitkan sehingga kami takut rasa sakit itu akan membunuhnya."


Dengan meminum pil itu, mereka bisa meringankan beberapa rasa sakit yang dipikul Daniel. Jika mereka membiarkan rasa sakit itu terus berlanjut, mereka khawatir Daniel Yon tidak memiliki kesempatan untuk bangun kembali.


Wajah Haruka muram. Dia menatap pria yang kemejanya sudah basah oleh keringat dingin itu dan tidak bisa mengatakan apa-apa untuk membantahnya.


Haruka mengerti darimana datangnya kekhawatiran itu. Dia sudah melihat sendiri kondisi Daniel yang seolah ruh di dalam tubuhnya sedang ditarik.


Keputusasaan dan rasa sakit melilit Daniel Yon seperti jurang yang gelap. Rasa kekerasan dan jijik yang kuat tumbuh di lubuk hatinya. Dia lumpuh sekarang. Dia menderita siang dan malam dalam kesakitan dan menantikan kelegaan kematian. Dia pikir dia tidak akan pernah melihat matahari lagi, tetapi matahari malah muncul dalam bentuk yang berbeda.


Haruka hadir layaknya titik embun pertama di pagi hari, seperti mawar pertama yang mekar di padang pasir, dan sesuatu yang bersinar terang di antara jurang keputusasaan yang gelap gulita.


Uluran tangan yang sangat ia butuhkan sudah ada di depan matanya, cahaya yang ia rindukan sudah memberitahunya jalan untuk pulang, tetapi apa yang bisa dia lakukan? Rasa bersalah terlanjur membuat Daniel tidak berani untuk menerima uluran tangannya. Tidak, dia tidak pantas mendapatkannya, dia hanya akan merusaknya.


Jantungnya terasa seperti tercabik-cabik dan darah sepertinya menyembur keluar bagai letusan gunung berapi. Kepahitannya mengeluarkan bau amis yang membuat jantung berdebar-debar. Saat itu, ujung hidungnya mencium aroma yang familiar. Dia membuka matanya tanpa sadar dan menemukan malaikat penolongnya masih menunggunya dengan sabar.


Soma Haruka setengah jongkok di depan kursi rodanya, matanya yang indah sedikit melengkung. Jari-jarinya yang cantik membuka bungkus lolipop dan menyerahkannya ke bibirnya. "Daniel, apa kamu bisa mendengarku? Katanya itu pahit, tolong makan ini."

__ADS_1


Daniel terdiam, dia jengkel karena diperlakukan seperti anak kecil, tetapi tubuh tidak bisa berbohong, secara tidak sadar ia membuka mulutnya lebar-lebar kemudian mengisap permen rasa jeruk.


Rasanya manis, tetapi tidak cukup untuk bersaing dengan senyum gadis itu. Bibir merahnya terlihat manis seperti senja. Jika benda itu bersentuhan dengannya, rasa manisnya pasti merangsang dari ujung lidah sampai ke pangkal hati.


Soma Haruka memegang botol kecil di tangannya, dan mencoba berdiskusi dengan Daniel, "Obat penghilang rasa sakit memang bisa membantumu, tetapi ini bukan solusi. Apalagi jika kamu terus meminumnya, kamu akan kecanduan dan itu benar-benar tidak boleh terjadi padamu, Daniel. Aku ingin kamu mulai mengurangi pemakaian pil ini dan lebih mendengarkan instruksi dokter terkait perawatanmu."


Daniel menatap ke dalam mata Haruka, dia melihat pantulan wajahnya sendiri yang begitu kurus dan pucat, dia tidak pantas. Haruka tidak mendapat jawaban dari Daniel, dan dia memutuskan untuk membuka mulutnya dan berkata, "Kamu adalah Kepala dari Keluarga ini, bagi adik-adikmu, dan juga bagiku. Kami semua tidak bisa kehilanganmu, kami sangat membutuhkanmu."


"Kepala Keluarga..." Daniel bergumam, matanya kembali menutup dan ujung jarinya meringkuk. Dia tidak tahu apa itu keluarga sebenarnya dan tidak juga memiliki contoh seperti apa seorang kepala keluarga yang baik.


Ibunya meninggal dunia belasan tahun yang lalu dan selama waktu itu pula ayahnya berubah drastis. Dia tidak pulang ke rumah dan menyebar benih ke banyak wanita seperti orang bodoh.


Daniel Yon membuka matanya kembali, dan dengan suara serak, menjawab, "Baiklah." Dengan demikian, bidadarinya tersenyum puas, dan dalam sekejap mata, ruangan itu seperti dipenuhi dengan bunga-bunga yang tak terhitung jumlahnya dan ratusan kicauan burung yang menari-nari di udara.


Dokter keluarga datang terlambat dan matanya berbinar ketika melihat pemandangan ini. "Bagaimana perasaanmu Tuan Daniel? Apa kamu masih merasa tidak enak badan?"


"Apakah kamu Dokter yang bertanggung jawab atas perawatan Daniel?" Haruka menyela, dia membuka telapak tangannya dan memperlihatkan botol kecil di dalamnya. "Apakah kamu juga yang meresepkan pil ini?"

__ADS_1


Ekspresi Dokter Arkam berubah karena tekanan dan tatapan dingin dari Haruka, dengan ragu dan takut, ia menjawab, "Be-benar, Nyonya. Apakah ada masalah?" Mata Haruka sedikit menyipit saat dia mengarahkan pandangannya padanya.


Dokter Arkam mulai gelisah, kacamata bulatnya jatuh dan kepalanya menjadi linglung, dan mencoba mencari tahu apa ada kesalahan yang sudah ia buat akhir-akhir ini. Namun, hasilnya nihil, kepalanya terasa kosong.


"Tidak, tidak ada masalah," kata Haruka. Dokter Arkam menjadi tenang dan dia menunduk untuk mengambil kacamatanya kembali. Pada saat itu tangannya berhenti, kaki jenjang Haruka berjalan menghampirinya.


Soma Haruka tersenyum dan bertanya padanya dengan suara yang rendah, "Dokter, katakan padaku. Kaki Daniel masih terasa sakit, apakah itu berarti kakinya masih bisa sembuh dan kembali seperti semula?"


Tangan Dokter Arkam menjadi sedikit gemetar, kacamatanya pun jatuh kembali. Setelah lama terdiam, dia berkata dengan ekspresi yang tidak sedap dipandang, "Maaf, Nyonya. Saya sudah berusaha seba—" Kata-kata Dokter Arkam terhenti dan dia tergigit lidahnya sendiri karena takut dengan Haruka yang menatapnya dengan mata yang kosong.


Dia sangat ketakutan, tetapi dia juga masih memiliki harga diri yang patut dipertahankan, "Jika Nyonya memiliki keraguan mengenai perawatan Saya, Nyonya bisa membawa Dokter lain untuk Tuan Daniel." Dokter Arkam merasa tidak puas dengan tuduhan tanpa alasan yang ada dalam benak Haruka mengenai dirinya.


"Maaf, Nyonya."


Kepala Pelayan Hans maju dan menjelaskan dengan penuh perhatian kepada Haruka, "Ketika Tuan Daniel bangun setelah kecelakaan, kami sudah berkonsultasi dengan ahli rumah sakit, dan akhirnya membawa Dokter Arkam yang sudah belajar medis di luar negeri ke keluarga ini. Kemampuan medisnya sudah diakui."


Soma Haruka menghilangkan pikiran yang dalam dari matanya dan tertawa ringan. "Jangan salah paham, aku hanya ingin tahu." Dia dan Daniel saling memandang, sebelum akhirnya saling membuang muka. Daniel masih merasa dirinya tidak pantas, sedangkan Haruka teringat kata-kata manis Daniel saat membelanya sebelumnya.

__ADS_1


"Bagaimanapun, Daniel adalah suamiku, jadi sulit bagiku untuk tidak memiliki harapan. Tolong maafkan aku jika kata-kataku sebelumnya menyinggung perasaan Dokter."


__ADS_2