Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 58 : Harus Dewasa!


__ADS_3

Kembali ke Soma Haruka, saat dua orang tua itu sedang memeriksanya, Soma Haruka juga perlahan menilai mereka. Mereka terlihat ramah dan baik hati, mata mereka bijaksana dan damai, dan mereka membawa kelembutan dan ketenangan yang akan dimiliki seseorang setelah mengalami banyak hal.


Selain itu, keduanya berbicara tentang Maestro Roseta dengan sangat akrab, bahkan memanggilnya dengan nama aslinya, Rosa, Rosalina Hadley, atau sekarang dia adalah Rosalina Asrahan? Roseta Asrahan? Soma Haruka kebingungan mengenai hal ini.


Dua orang ini mungkin adalah seniornya atau semacamnya. Soma Haruka menyesuaikan ekspresinya lalu dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia menjawab, "Bukan, adik ipar Sayalah yang menjadi murid Maestro Roseta, Saya hanya mengantarkannya ke sini. Nama saya Soma Haruka."


"Soma Haruka?" Wanita tua berambut pendek itu menyeka kacamata bacanya. Tiba-tiba, dia tersenyum dan berkata, "Oh, aku ingat nama ini. Bukankah kamu Nyonya Yon yang dibicarakan Rosa setelah dia kembali kemarin? Orang yang membuatnya tertarik lebih dari murid barunya, apa kamu ingat itu, Pak Tua Hadley?"


"Ya, aku mengingatnya, mengingatnya." Pria tua yang dipanggil Pak Tua Hadley itu melambaikan tangannya pada Soma Haruka. "Kemarilah, jika kamu tidak keberatan. Datang dan minum teh bersama kami."


"Selama Saya tidak mengganggu kalian berdua, dengan senang hati." Karena tidak ada yang bisa dilakukan, Soma Haruka tidak menolak. Dia mengikuti saran pria tua itu untuk duduk bersama mereka.


Setelah memasuki paviliun, Soma Haruka menyadari bahwa pasangan tua itu tidak hanya minum teh dan mengobrol. Wanita tua itu memiliki seperangkat skor musik di tangannya dan tampaknya sedang menggubah musik. Sementara itu Pak Tua Hadley memiliki kuas dan cat di tangannya.


"Orang ini adalah suamiku, panggil saja dia Pak Tua Hadley." Wanita tua itu memperkenalkan sambil tersenyum. "Dia tidak punya hobi lain, dia hanya suka menggambar sesuatu yang bodoh." Mendengar nama Hadley, Soma Haruka sekarang menjadi yakin bahwa mereka adalah orang tua dari Maestro Roseta.

__ADS_1


Seperti yang diharapkan, lingkungan di mana seseorang tumbuh sangat penting. Orang tua Maestro Roseta juga sangat riang, dan mereka masih sangat tenggelam dalam seni bahkan di tahun-tahun terakhir mereka.


Soma Haruka menyapa mereka, dan Nyonya Tua Hadley melambai padanya. Dia bertanya, "Karena kamu juga tahu tentang biola, jangan keberatan datang untuk melihat skorku ini. Bagiamana menurutmu?"


Soma Haruka duduk lebih dekat dengannya dan melihat skor yang tertulis di kertas. Dia perlahan memainkannya di kepalanya, dan ujung jari putihnya yang ramping dengan lembut mengetuk meja batu. Melihat ini, sedikit senyum muncul di mata Nyonya Tua Hadley.


Pembukaan musik ini sangat sepi dan heroik. Itu seperti perahu kesepian yang berjalan di permukaan laut yang penuh badai. Ia bertahan melalui celah-celah, menghadapi kesulitan dan rintangan, dan terus berjuang. Akhirnya, itu memotong angin dan ombak dan secara bertahap berlayar menuju masa depan yang cerah dan damai.


Di akhir karya, ada rasa toleransi dan perdamaian terhadap dunia yang telah diasah selama bertahun-tahun. Seolah-olah sebuah perahu kecil yang telah mengalami ribuan layar akan beriak lembut di permukaan laut bersama ombak. Perahu akan menyapa burung camar itu sesekali terbang melewati permukaan laut sambil tersenyum.


"Sebelumnya Saya minta maaf, sejujurnya Saya tidak tahu banyak tentang skor musik." Soma Haruka tersenyum sedikit malu. Dia berkata dengan lembut, "Jika Anda berkenan, Saya akan mengungkapkan pemahaman saya tentang karya musik ini dari sudut pandang seorang amatir. Saya harap Anda tidak keberatan jika saya tidak mengungkapkannya dengan baik."


Nyonya Tua Hadley menganggukkan kepalanya dan Soma Haruka melanjutkan. "Saya merasa bahwa musik ini melambangkan kehidupan seseorang. Pada tahap awal, itu penuh dengan bencana dan perjuangan tanpa akhir. Kemudian, setelah mengalami banyak hal, secara bertahap mencapai kedamaian dengan dunia dan juga dengan dirinya sendiri. Jadi, dengan demikian, seseorang itu menyelesaikan transformasi psikologisnya dengan matang."


Soma Haruka merasa sedikit emosional. Musik sering kali dapat mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Beberapa menit musik dapat menciptakan dan mengekspresikan kehidupan dan sebuah kehidupan bisa menciptakan musik.

__ADS_1


"Menurut Saya bagian ini bisa sedikit dimodifikasi." Soma Haruka membuang rasa malunya dan ujung jarinya mendarat di bagian tertentu dari skor musik. Dia menyuarakan pendapatnya, "Melodi di sini terlalu lembut dibandingkan dengan baris melodi sebelumnya. Jadi, kedengarannya agak disonansi. Hubungan antara suasana hati yang berbeda tidak cukup." Soma Haruka tidak menyadari bahwa mata Nyonya Tua Hadley menjadi semakin cerah saat dia mengutarakan pikirannya.


Disonansi: Kombinasi bunyi yang dianggap kurang enak didengar.


Melihat Soma Haruka mencoba untuk mengguruinya, Nyonya Tua Hadley menunjukkan kekeraskepalaan yang tidak seperti orang seusianya. Dia terus berdiskusi dengan Soma Haruka tentang modifikasi karya tersebut. Untuk membuat pendapatnya lebih meyakinkan, dia akan menyanyikan beberapa bait pendek untuk membuktikan bahwa apa yang dia katakan itu benar.


Sehingga itu menjadi benar-benar tidak mungkin untuk menentukan siapa yang memiliki saran yang lebih baik, dia bahkan menyeret Tuan Tua Hadley yang sedang melukis di samping untuk menjadi hakim. Pada akhirnya, tak satu pun dari mereka diyakinkan oleh yang lain. Mereka dengan marah saling memandang sejenak, tetapi mereka berdua tidak bisa menahan tawa.


"Hedeh, kamu itu sudah sangat tua, tetapi kamu masih kekanak-kanakan berdebat dengan orang-orang muda." Tuan Tua Hadley menggoda istrinya sambil menuangkan teh untuk mereka. "Staminamu pasti sudah habis karena semua pembicaraan itu. Cepat minum teh dan tarik napas dengan benar!"


Setelah berdebat lama, mereka berdua sudah haus. Ketika mereka mengambil cangkir teh dan minum teh, Soma Haruka dan Nyonya Tua Hadley saling memandang. Ada keakraban di mata mereka, dan meski tidak mengatakannya, mereka berdua menghargai kesempatan untuk bertemu dengan seseorang yang bisa dianggap karib meskipun dengan perbedaan usianya yang sangat jauh.


"Sangat jarang melihatmu berdebat tentang musik, kamu pasti sangat menyukai gadis ini." Ada senyum di mata Tuan Tua Hadley. Dia sengaja berkata, "Karena kamu sudah membantu istriku melihat komposisinya, maka kamu juga bisa membantuku dengan melihat lukisan yang baru saja selesai ini."


Wajah Soma Haruka sedikit memerah. Jarang baginya untuk mengungkapkan rasa malu seperti ini. Sekarang setelah dia tenang, dia menyadari bahwa perilakunya sebelumnya ketika dia berdebat dengan Nyonya Tua Hadley tentang skor musik terlalu kekanak-kanakan. Itu benar-benar terlalu tidak pantas. Dia adalah Nyonya Yon sekarang, dia tidak boleh lagi bertindak tidak dewasa atau bertingkah seperti gadis seumurannya. Dia harus tegar, semuanya demi pembalasan dendam.

__ADS_1


__ADS_2