Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 81 : Maaf (3)


__ADS_3

Namun, Marina Yon merasa dia tidak bisa mempermalukan kakak iparnya dan tidak mau mempermalukan keluarga Yon dengan bertingkah egois. "Marina?" Soma Haruka dengan lembut menggenggam tangan Marina Yon yang terkepal erat dan bertanya dengan lembut, "Apakah kamu bersedia menerima permintaan maafnya? Tidak perlu terlalu memikirkannya, katakan saja apa yang sebenarnya kamu pikirkan."


Marina Yon merasa bersalah dan matanya memerah. Dia tanpa sadar menggelengkan kepalanya dan berkata jujur, "Tidak, aku tidak mau menerima permintaan maafnya." Hanya Marina Yon yang tahu betapa menakutkannya semua yang dia alami di keluarga Asrahan dan betapa tidak berdaya dan putus asa yang dia rasakan ketika dia dituduh dan dicurigai oleh semua orang.


Dia tidak semurah hati itu untuk memaafkan pelaku sebenarnya. Apalagi semata-mata hanya karena sang pelaku meminta maaf. Permintaan maaf itu pun tidaklah tulus. Meminta maaf saja tidak cukup jika mau menghapus kesalahan yang dilakukan oleh Helma Krisan padanya.


Marina Yon tidak ingin memaafkan Helma Krisan bahkan jika orang lain akan mengatakan bahwa dia seorang gadis yang menyimpan dendam dan tidak layak dijadikan menantu, dia tidak peduli. Dia berharap dia tidak akan pernah melihat Helma Krisan lagi seumur hidupnya, sebesar itulah sakit hatinya.


Wajah Bibi Namira Krisan dan Helma Krisan berubah suram. Bahkan Ares Krisan yang sedari tadi tersenyum, kini mengerutkan keningnya. "Apa?" Bibi Namira Krisan memaksakan senyum agar tetap tampil di wajahnya.


Dia menatap Marina Yon saat dia dengan halus menyalahkannya, "Marina Yon, aku akan berbicara sebagai Bibimu, perempuan yang juga pernah memakai nama Yon di belakang namanya. Sesama saudara perempuan seharusnya tidak boleh saling berseteru, apalagi sampai menyimpan dendam. Helma Krisan sudah tahu apa kesalahannya dan meminta maaf. Kamu seharusnya memaafkannya dan mendukungnya menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan biarkan orang lain berpikir bahwa keluarga Yon kita adalah lelucon karena masalah ini."


"Siapa yang berani menganggap keluarga Yon sebagai lelucon?" Soma Haruka mencibir saat dia melihat sekeliling. Dia jelas seorang gadis muda yang terlihat lemah, tetapi ketika dia melirik ke arah mereka, mereka bisa merasakan peringatan yang kuat di tatapannya. Semua orang secara tidak sadar menghindarinya matanya.

__ADS_1


"Katakan padaku Bibi, mengapa keluarga Yon kita dianggap lelucon hanya karena Marina Yon tidak ingin menerima permintaan maaf dari orang lain?"


"Soma Haruka, bagaimana kamu bisa mengatakan itu!?" Bibi Namira Krisan tidak bisa mempertahankan senyum palsunya lagi. Nada suaranya seketika dipenuhi dengan kemarahan dan penghinaan.


"Kamu baru saja menikah dengan keluarga Yon kami, dan sebelum itu, kamu berasal dari latar belakang yang buruk. Aku tahu bahwa kamu tidak dididik dengan baik oleh orang tuamu tentang kalangan atas. Jadi, ada beberapa hal yang tidak kamu mengerti. Dengarkan aku, jangan terlalu kalkulatif dalam segala hal. Bagaimanapun, kita adalah keluarga. Selain itu, apa yang kamu tahu tentang karakter Putriku? Meskipun kata-katanya sebelumnya tidak enak didengar, dia sesungguhnya memiliki hati yang baik. Mengapa kamu tidak bisa bermurah hati dan memaafkannya?"


"Ada apa dengan latar belakangku, Bi?" Mata indah Soma Haruka dipenuhi dengan kegelapan. Sebuah kesalahan menyebut orang tuanya di depan Soma Haruka. "Apakah latar belakangku ada hubungannya dengan apa yang Bibi katakan? Jadi, bagaimana jika aku dibesarkan di daerah kumuh? Aku masih memahami prinsip paling dasar untuk tidak memaksa orang lain. Sejak kapan pengampunan paksa menjadi populer di masyarakat ini? Apakah maksud Bibi korban harus memaafkan pelaku agar pelaku tidak perlu masuk penjara. Lalu, itu adil selama pelaku membawa beberapa hadiah dan meminta maaf kepadanya? Bagaimana dengan pembunuh dan pemerkosa, apakah mereka juga mendapat keadilan yang sama?"


"Begitu? Jadi, Aku yang berlebihan di sini?" Soma Haruka mengangkat bahu. "Maafkan aku, Bibi. Aku bukan pembicara yang baik, tetapi sesungguhnya aku memiliki karakter yang hatinya baik. Tolong maafkan Aku!"


Bibi Namira Krisan terdiam seketika. Soma Haruka memiringkan kepalanya. "Ada apa, Bi? Apakah Bibi tidak senang dengan permintaan maafku? Apa Bibi tidak ingin menerimanya? Bibi terlihat seperti ingin melakukan perhitungan kepadaku."


Bibi Namira Krisan menggertakkan giginya. "Tidak perlu, mengapa aku harus berdebat dengan anak kecil bodoh tidak berpendidikan sepertimu? Itu hanya akan membuat orang bodohnya menjadi dua."

__ADS_1


"Tsk, Bibi terlihat sangat membenciku sehingga Bibi ingin membunuhku jika Bibi bisa, tetapi Bibi berpura-pura murah hati. Aku baru tahu kalau semua orang di masyarakat kelas atas penuh dengan kepalsuan." Soma Haruka menggelengkan kepalanya.


"Itulah mengapa aku tidak menyukai masyarakat kelas atas sepertimu, Bibi. Aku orang yang keras kepala dan protektif. Aku tidak ingin mematuhi aturan masyarakat kelas atas yang Bibi katakan, dan aku tidak ingin menganiaya saudari iparku hanya karena apa yang disebut aturan tak tertulis itu."


Soma Haruka menegakkan punggungnya. Tatapannya tajam saat dia berkata dengan tegas, "Kalau posisiku tidak relevan, maka aku akan berbicara sebagai perwakilan suamiku, Daniel Yon." Matanya menjadi dingin saat dia menegaskan, "Marina Yon adalah Nona Muda dari keluarga Yon. Dia tidak punya alasan untuk membodohi dirinya sendiri dan memaafkan orang lain, hanya agar orang yang meminta maaf bisa merasa nyaman. Kami, keluarga Yon, tidak akan pernah melakukan hal seperti itu untuk menyakiti diri kami sendiri."


Menurut Soma Haruka, orang yang seharusnya kesal dan memendam rasa harusnya adalah pelaku, bukan korban. Bibi Namira Krisan merasa kepalanya akan meledak karena marah. Jari-jarinya gemetar saat dia tergagap, "Kamu..." Namun, dia tidak bisa mengatakan apa-apa tentang itu.


"Sepupu Ipar, apa yang kamu ingin aku lakukan?" Helma Krisan membiarkan air mata mengalir di wajahnya. Dia kembali mengangkat suaranya dan berkata, "Aku tahu kesalahanku. Tamparanmu sudah membuatku sadar sejak lama. Jika Marina Yon masih tidak mau memaafkanku, apakah Sepupu Ipar ingin aku berlutut agar tahu betapa tulusnya aku?"


Mereka bertiga tahu bagaimana harus menggertak. Sayangnya, Soma Haruka mengetahui pola pikir mereka dan dia sangat tidak menyukainya. "Baik, kalau begitu, berlututlah. Tunjukkan pada Marina Yon, seberapa tulus dirimu, oke?"


Kali ini Helma Krisan yang membeku. Marina Yon yang berada di belakang Soma Haruka menjadi sangat gembira. Dia menjulurkan kepalanya. Kemudian dia berkata dengan penuh semangat, "Jika kamu sebegitunya ingin berlutut, maka berlututlah. Tidak ada yang akan menghentikanmu!" Tidak ada yang pernah mengharapkan reaksi seperti itu dari mereka. Helma Krisan segera merasa sangat menyesal sekarang. Dia merasa bahwa tatapan mengejek semua orang akan menenggelamkannya jika dia benar-benar berlutut.

__ADS_1


__ADS_2