Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 128 : Sejarah


__ADS_3

Darel Yon cukup terkejut mendengar jawaban Daniel Yon, khususnya tentang dia yang merupakan mantan Putra Mahkota tidak tahu tentang keberadaan Plakat emas berlian hitam ketiga. "Bagaimana kepala keluarga Asrahan tahu bahwa permata hitam satunya ada di tangan Saudara Kandung ayahku, di saat Daniel Yon saja tidak tahu," batinnya.


Darel Yon tidak puas. Jadi, dia kembali bertanya, "Apa kakak tahu arti dari lukisan di dinding ini? Bisakah kakak memberitahuku?" Daniel Yon menganggukkan kepalanya. Tidak ada yang spesial dari lukisan ini. Jadi, dia bisa memberitahukannya tanpa masalah. "Kamu yakin? Ini akan panjang."


"Aku berencana keluar dari vila ini cepat atau lambat. Jadi, setidaknya aku ingin mengetahui tentang beberapa hal yang sudah lama membuatku penasaran." Darel Yon menjelaskan niatnya. Seperti yang diharapkan, wajah Daniel Yon langsung cerah. David Yon akan pergi ke asrama militer dan sekarang Darel juga akan segera pergi. Adik-adiknya yang tersisa adalah tipe yang tidur lebih awal. Dengan begini, dia bisa pergi ke ruangan Soma Haruka tanpa khawatir.


"Baiklah. Mari kita mulai dari lukisan pertama." Daniel Yon bersemangat. Mereka mengalihkan pandangan ke lukisan pertama. Di sana terlukis sebuah Pedang putih yang jatuh dari langit, memusnahkan orang yang sedang berperang. Lalu, dikelilingi oleh orang yang berpesta.


"Permata hitam dulunya sebuah batu meteor. Kejatuhannya membawa bencana bagi orang lain, tetapi juga memberi berkah bagi yang lainnya." Daniel Yon menjelaskan artinya. Dia kemudian beralih ke lukisan ke dua.


Di sana ada banyak manusia yang saling berkelahi di sekitar Pedang, mereka terlihat memperebutkan pedang langit, mencipratkan darah yang membuat pedang putih itu mulai menjadi hitam. Lalu, manusia yang memiliki tanduk di kepalanya menjadi pemenangnya. Dia mengarahkan ujung pedangnya ke langit, dan di atasnya ada awan melingkar dengan warna merah mengisi di tengahnya.


"Manusia itu serakah dan tidak mampu berbagi dengan yang lain. Mereka berperang memperebutkan berlian ini, yang kemudian berubah warna karena banyaknya dosa yang harus dipertanggungjawabkan. Dalam perang itu, orang yang paling jahatlah yang menang. Dia mengklaim kepemilikan permata dengan aksi tirani yang membuat surga marah. Itu adalah dosa leluhur kita."

__ADS_1


Di lukisan ketiga, Di atas tumpukan tengkorak manusia, pria bertanduk membelah pedang menjadi tiga dan ada malaikat yang naik ke langit dari percikan pedang yang terbelah. Lalu, ada siluet istana yang sedang dibangun oleh beberapa orang di belakang pria bertanduk itu.


"Perang itu memakan terlalu banyak korban bahkan di dalam keluarga. Demi keadilan, leluhur membelah permata menjadi tiga dan membangun keluarga besar Yon. Dari keadilan ini, kebaikan muncul dan bertindak untuk menenangkan kemarahan surga. ini adalah asal dari tradisi perebutan hak waris posisi kepala keluarga Yon."


Pada lukisan ke empat, layer di bagi menjadi dua. Istana yang ditinggali oleh pria bertanduk sepenuhnya tertutup oleh kegelapan dan tanda silang merah. Sedangkan di sisi lainnya, ada wanita yang sedang berjuang di dalam rawa, bersama dengan orang-orang yang melemparinya dengan batu.


"Jalan untuk mendapatkan penerimaan maaf dari surga atau Jalan untuk menjadi kepala keluarga, nyatanya sangat sulit dan menyakitkan. Keluarga Yon akan diterpa dengan masalah dan perpecahan yang tidak terhindarkan. Mereka bersinar di kegelapan itu, tetapi dengan sinar yang berwarna merah."


Lukisan ke lima menggambarkan, wanita itu keluar dari rawa, masuk ke istana dan membuatnya terang, bersamaan dengan itu, seorang ksatria mengangkat dan menggabungkan Kembali pedang yang terpecah tiga.


"Brengsek."


Di lukisan terakhir, Ksatria sebelumnya tampak berdiri di tengah lukisan sendirian. Bersinar sendirian dipermukaan tanah. Pedangnya yang selalu diangkat saat ini ditancapkan ke tanah. Gunung, sungai, dan langit, terbelah menjadi dua.

__ADS_1


"Hanya mereka yang bisa menyatukan tiga permata yang terpisah dan yang bersinar paling teranglah yang diizinkan untuk menjadi kepala keluarga Yon. Dengan arti lain, hanya mereka yang bisa mendapatkan suara dan dapat membuktikan kemampuannyalah yang diperbolehkan menjadi kepala keluarga. Pilihan dari tiga pemilik permata, suara dari perwakilan masing-masing keluarga cabang, reputasi yang bagus, dan kemampuan yang hebat. Itu adalah semua syarat menjadi kepala keluarga Yon."


Daniel Yon menatap Darel Yon yang masih belum puas. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata dengan kesal, "Itu tadi apa yang dikatakan oleh ayah kepadaku. Kalau kamu merasa tidak terima, salahkan dia saat kamu menemuinya nanti!"


Suasana di ruangan itu langsung suram. Darel Yon mengepalkan tinjunya dan tersenyum dengan kesal. Daniel Yon menatap adiknya dengan dingin dan mulai memaksa kakinya untuk berdiri dari kursi roda. Pada saat panas ini, David Yon masuk sambil berteeiak, "Hey, apa yang kalian lakukan di ruangan ini!?"


Melihat David Yon, Darel Yon menarik kembali niat membunuhnya dan Daniel Yon duduk kembali ke kursi rodanya. Mereka menatap David Yon dengan tatapan dingin."Apa? Ngomong-ngomong aku tidak pernah masuk ke ruangan ini sebelumnya. Sangat kosong dan penuh foto dan lukisan. Mereka seperti menatapku dari segala sisi. Mengerikan sekali." David Yon berjalan masuk acuh tak acuh dan melihat ke sekitar.


Dia berhenti saat melihat lukisan yang pedang yang menurutnya sangat unik. "Wow, sangat keren! Saudara, apa ini lukisan ramalan atau semacamnya? Aku tidak tahu ada yang seperti ini di keluarga kita!" Dia menjadi sangat bersemangat. Ada pedang yang turun dari langit, Ksatria, dan seseorang yang terlihat seperti iblis, dia tidak bisa untuk tidak tertarik.


"Ramalan? Baguslah kamu ada di sini, menurutmu, apa arti lukisan ini menurutmu?" Darel Yon bertanya. Daniel menganggukkan kepalanya setuju, dia cukup tertarik dengan penilaian orang lain. Apalagi kalau itu orang aneh seperti David Yon yang kepalanya terbentur.


"Oke, mari aku lihat dulu. Di lukisan pertama, terlihat manusia saling berperang satu sama lain, menghancurkan kedamaian, dan menghilangkan kemanusiaan. Dewa murka. Jadi, dia mengirimkan Pedang Keadilan untuk memusnahkan mereka, dibawah Pedang Keadilan, kedamaian bangkit kembali!"

__ADS_1


Mendengar kebodohan ini, Darel Yon dan Daniel Yon sama-sama menggelengkan kepala, keputusan bodoh membiarkan David Yon yang sengklek menjelaskan sesuatu. Mereka ingin menghentikannya, tetapi tidak tega. Orang bodoh memang sangat pandai menarik rasa simpati.


"Lukisan selanjutnya. Em... ini, sepertinya waktunya dilompati karena pakaian orang-orangnya lebih modern. Kalau begitu, bertahun-tahun berlalu, manusia mulai serakah dan menginginkan kekuatan Pedang Keadilan. Pedang yang semula menghentikan bencana dan menciptakan kedamaian kini menjadi bencana itu sendiri. Ksatria Keadilan menerobos peperangan, mencabut Pedang Keadilan dan menghentikan bencana. Dia ingin mengembalikan Pedang itu ke Surga, tetapi Surga malah memperlihatkan kepada sang Ksatria tentang masa depan yang suram tanpa Pedang Keadilan."


__ADS_2