Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 8 : Terbiasa Mengurus Orang Lain


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan di sini, Kak?" tanya Yuna.


Darel terkejut, segera menghampiri adik perempuannya dengan khawatir. Darel memeriksa Yuna, dia sangat takut jika Haruka melakukan tindak disiplin yang sama dengan yang dilakukan kepada Ken Mura.


Tubuh Yuna kurus dan lemah, tetapi syukurnya tidak ada tanda kekerasan dan gadis itu tidak tergores sedikitpun.


Sebaliknya, Yuna yang merasa tingkah kakak laki-lakinya aneh tersadar dengan bekas pukulan di wajah Darel. "Aku tidak apa-apa, Kak, tapi apa yang terjadi dengan wajah, Kakak?" tanya Yuna.


"Ah, ini..." Darel melirik ke arah Haruka, begitu melihat senyum palsunya, Darel merinding dan menjawab pertanyaan Yuna dengan kepala yang kosong. "Ba-bajak laut! Iya, kakak bertarung dengan raja bajak laut!" katanya.


"Eh?" Jawaban kakaknya tidak masuk akal, tetapi Yuna tidak mempermasalahkannya. Bagi Yuna yang terpenting adalah fakta bahwa kakak laki-lakinya masih menyayanginya dan kedepannya akan terus menjaganya, itu sudah cukup.


Ketika mereka turun, para pelayan dan Daniel tidak bisa tidak terkejut. Khususnya Dean Yon yang baru saja pulang dari sekolah.


Haruka tidak tahu apa yang membuat mereka bereaksi berlebihan seperti itu. Dia kembali ke tempat duduknya sambil menyapa adik termuda keluarga Yon, Dean Yon, yang baru kembali dari sekolahnya.


"Halo, aku kakak iparmu, Soma Haruka. Kamu Dean, kan? Pergilah ganti pakaianmu dulu, cuci tangan kemudian kembali kemari."


"Oh!?" Dean memberikan reaksi yang hebat. "Halo, kakak ipar!"


Dean adalah seorang siswa SMP, perawakannya berbeda dengan Darel. Dean memiliki tubuh yang ramping dan kurus, rambut hitamnya pun tidak segelap milik kakak-kakaknya.


Haruka senang, akhirnya ada yang normal di keluarga ini. Haruka mengangguk puas dan tatapannya tanpa sengaja mengarah kepada Darel.


Darel sekali lagi menjatuhkan garpunya, tetapi secara tidak sadar dia sudah mengembangkan refleks manusia super, dengan cepat menangkap garpu itu kembali.


Darel sangat terusik dengan tatapan Haruka, dia merasa kalau kakak iparnya itu sedang membanding-bandingkan dirinya dengan Dean. Harga diri Darel terluka dan dia merasa kesal melihat senyum bodoh Dean.


Darel batuk dan memberi instruksi kepada Dean, "Kenapa kamu masih berdiri di sana? Cepat pergi ganti bajumu sana! Semua orang menunggu."


Ketika mendengar ucapan Darel, mata Dean berbinar. Dia menatap, menyapu meja makan dan menemukan saudara-saudarinya duduk dengan nyaman meski terasa canggung.

__ADS_1


Dean menarik kembali ke hari-hari sebelumnya, kakak pertamanya Daniel Yon dan kakak kelima Yuna Yon mengurung diri mereka sendiri di dalam kamar. Kakak keduanya David Yon tidak tahu ada di mana, sedangkan kakak perempuan ketiganya Rina Yon ada di luar negeri.


Meja makan yang besar ini pun, hanya di isi oleh dirinya dan Kakak keempatnya Darel Yon. Yang sayangnya Darel adalah tipe orang yang tidak cocok diajak bicara.


Meski masih belum lengkap, tetapi melihat meja makan kembali terisi membuat Dean menjadi sangat bahagia. Dia tersenyum dan berkata dengan patuh, "Baik, Kak!" Dean berlari ke kamarnya disusul oleh pelayan yang membawakan tas ranselnya.


Suasana makan malam pertama Haruka di rumah itu terasa aneh, tetapi lucunya cukup harmonis.


Keesokan paginya, ketika Dean turun, dia melihat Haruka duduk di meja makan dan sarapan dengan santai. Gerakannya begitu lembut dan menawan, kemampuan kakak iparnya menggunakan sendok dan garpu sudah sekelas bangsawan. Dean harus bertanya pada pelayannya sekali lagi, apa benar kakak iparnya berasal dari pedesaan?


"Selamat pagi, kakak ipar!" sapa Dean.


Haruka memperhatikan Dean yang sudah memakai seragam lengkap dan menggendong ransel. "Apa kamu akan berangkat sekarang? Minumlah susu yang di sana itu sebelum kamu pergi," kata Haruka sambil menunjuk ke gelas susu di depannya.


Mata Dean membesar dan berbinar, reaksinya yang lucu membuat perasaan Haruka menjadi lebih baik. "Kenapa? Apa kamu tidak suka susu sapi? Apa perlu aku panggil pelayan untuk menggantinya untukmu?"


"Tidak, tidak perlu." Dean bergegas mengambil segelas susu kemudian meminumnya dalam sekali teguk. "Ini enak, terimakasih, Kakak Ipar!"


Dean segera bangkit hendak pergi, tetapi seorang pelayan menghalangi jalannya. "Aku dengar makanan di kantin sekolah sangat buruk. Aku meminta Bibi untuk menyiapkan bekal makan siang untukmu. Aku melihatnya tadi malam, kamu menyukai rendang, kan? Aku meminta Bibi Liam untuk menyiapkannya untukmu."


Dean menahan bibirnya yang sudah mengerucut kemudian berkata, "Terimakasih, Aku sangat menyukainya!" Dean tersenyum, tetapi sudut matanya sudah tergenang.


"Kalau begitu pergilah ke sekolah, hati-hati di jalan."


Begitu Dean keluar dari pandangan Haruka, Yuna dan Darel turun dengan bergandengan tangan. Mereka sepertinya sudah lama disitu dan pasti mendengar percakapan Haruka dengan Dean.


Melihat Darel dan Yuna bangun di pagi hari saja sudah pemandangan yang langka bagi para pelayan, apalagi melihat mereka berdua bersama.


Mereka turun, menghadap Haruka dengan pipi yang memerah seolah-olah mengharapkan sesuatu.


Haruka menyadarinya dan dia ingin sedikit bermain-main dengan mereka.

__ADS_1


Haruka mengabaikan Darel yang terus berdeham. Matanya tertuju pada Yuna yang menyembunyikan wajahnya di balik punggung lebar Darel.


"Yuna, duduklah di sini," suruh Haruka. Yuna melepas tangannya dari Darel dan duduk di samping Haruka dengan memperlihatkan mata kucingnya mengharapkan kasih sayang.


Meskipun diabaikan dan tidak diminta untuk duduk, Darel ikut duduk di samping Yuna.


"Bi, tolong buatkan bubur sehat untuk Yuna. Yuna tidak terlihat terlalu baik, jadi dia harus lebih banyak makan." Bi Liam menundukkan kepalanya dan langsung pergi ke dapur untuk mengambil bubur yang sebelumnya sudah dibuat oleh Haruka.


Yuna melahap buburnya dengan mata rusa yang menggemaskan. Sementara di sampingnya terdapat harimau yang menahan rasa kesal bercampur malu karena diabaikan.


Darel yang diabaikan memelototi Yuna dan membuatnya sangat terganggu.


Haruka merasa sudah cukup untuk menggoda Darel, dia memanggil Bi Liam lagi dan memintanya untuk mengambilkan kotak bekal dan segelas minuman untuk Darel Yon.


Begitu Darel mendengarnya ia sangat senang dan ketika kotak makan siangnya datang, Darel tidak sabaran ingin tahu apa yang kakak iparnya siapkan untuknya.


"Bagaimana, apa kamu menyukainya?" tanya Haruka sambil mengedipkan matanya.


Darel memaksakan senyumnya dan segera menutup rapat-rapat kotak bekal yang membuat Yuna berhenti memakan buburnya.


"Aku memang menyukainya, tapi apa kakak serius ingin aku membawa semur jengkol ke sekolah?"


"Kenapa? Bukankah ini bagus untukmu, Tuan Muda yang tidak punya teman di sekolah?"


Haruka mengejeknya, tetapi Darel masih bisa menahannya. Darel memasukkan bekalnya, meskipun Haruka menyiapkan bekal itu untuk mengejeknya, tetap saja itu dibuat khusus untuknya dan Darel tidak ingin menyianyiakannya.


Darel kembali duduk dan meminum minuman yang diberikan oleh Haruka. Hanya dalam satu tegukan Darel memuntahkannya, dia bertanya, "Kak, apa ini?"


"Kamu suka berolahraga, kan? Itu jus."


"Jus?"

__ADS_1


"Jus protein dada ayam."


"Kakak!!"


__ADS_2