Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 21 : Imut


__ADS_3

Rama Ron yang wajahnya sudah dipenuhi amarah, secara tiba-tiba mengubah ekspresinya. Dia dengan tidak tahu malu berkata, "Darel Yon, apa kamu tidak salah? Kamu mencoba mengusirku dari pusat perbelanjaan milik ayahku sendiri?"


Mendengar itu Darel Yon tertawa. Keluarga Rama runtuh bersamaan dengan kematian mendiang ibunya. Jadi, jika keluarga Rama memiliki pusat perbelanjaan, itu pasti bisnis yang dititipkan kepada kepala keluarga mereka.


"Kakak?"


Mayuna Yon mengintip di ujung pintu. Yuna sudah selesai berganti pakaian, tetapi ketika dia melihat ke luar, sudah ada banyak orang yang tidak dikenal. Dia merasa canggung dan memilih untuk bersembunyi.


Panggilan dari Yuna membuat Darel sangat bersemangat sehingga dia bahkan tidak peduli lagi dengan orang di sekelilingnya. Dia bergegas menghampiri dan menggandeng tangan adik perempuannya. "Coba kulihat." Darel memandang Yuna dari atas ke bawah, gadis itu ramping dan terlihat sangat anggun ketika rok coklatnya bergoyang. "Sangat cantik."


Yuna mencoba yang terbaik untuk tidak terlihat begitu bahagia, tetapi dia tidak bisa menahan senyum tidak peduli seberapa keras dia mencoba. Dia tahu itu sangat memalukan, tetapi siapa yang peduli, reaksi tulus dari kakak laki-lakinya sudah lebih dari cukup untuk memberi perisai kepada hatinya yang rapuh.


Darel Yon hendak berbicara, tetapi suara mengganggu Rama Ron datang dari belakangnya. "Wah, apa ini, Darel? Harusnya kamu bilang kalau kamu sedang menunggu pacarmu. Ngomong-ngomong, aku tidak menyangka kalau seleramu—"


"Diam!" Darel memotong. Dia menoleh dengan tiba-tiba dan menatapnya dengan dingin. "Suasana hatiku sedang bagus sekarang. Jadi, aku harap di masa depan kamu lebih menjaga sikapmu di hadapanku. Maksudku, sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi," ancam Darel.


"Apa, apa maksudmu?" Rama Ron tertegun sejenak sebelum dia kembali ke kenyataan. "Darel Yon, apa kamu barusan mengancamku?"


"Hey, sudahlah, ayo cepat kita pergi dari sini." Ken Mura maju dan menepuk bahu Rama Ron. Dia gelisah dan ekspresinya kacau, seolah khawatir dengan sesuatu. "Ada apa denganmu? Apa kamu menjadi takut dengan Darel setelah dipanggil kepala sekolahmu sebelumnya?" Rama Ron tidak senang.

__ADS_1


Darel mengikuti arah mata Ken Mura dan menemukan wajah yang familiar berjalan ke arah mereka. Itu Soma Haruka, dia berjalan dengan anggun dan senyum mekar di wajahnya. "Kalian tidak seharusnya ada di sini, apa kalian bolos sekolah?" Haruka menyipitkan matanya.


"Tidak!" Ken Mura secara naluriah mencoba membela dirinya sendiri. "Aku tidak membolos. Mereka mengancamku, jadi aku terpaksa mengikuti mereka ke luar!" kata Ken Mura mencoba membela dirinya dengan alasan yang tidak masuk akal.


Haruka menatap tajam ke arah Ken Mura yang bersembunyi di balik tubuh Rama Ron. Haruka tahu dengan jelas kalau Ken Mura berbohong dan dia tidak menyukainya. "Seseorang dari keluarga Ken takut dengan ancaman?" Ken Mura terdiam seribu bahasa. Dia menegang dan bagian belakang tubuhnya berdenyut. Tatapan dingin dari Haruka membuatnya teringat kembali dengan pendisiplinan yang diberikan padanya.


Soma Haruka menggelengkan kepalanya. Dia beralih dan tatapannya jatuh pada rambut gelap Darel dan Yuna Yon. Setelah jeda yang lama, dia berkata, "Aku harap kamu punya alasan yang kuat untuk hal ini."


Darel Yon tersenyum, menarik tangan Yuna, dan merangkulnya. "Tentu saja. Apa kakak luang sore ini? Bisakah kakak menemaniku ke suatu tempat?" tanya Darel. Dia berniat untuk mengunjungi keluarga Rama setelah ini dan mencoba mengundang Haruka sebagai walinya.


"Akan aku lihat-lihat dulu, apa aku luang atau tidak," jawab Haruka dengan lembut. Dia sudah memperhatikan Darel dari sebelumnya, dan menemukan kalau adik iparnya itu mulai berubah ke sisi yang lebih baik. Dia masih pemarah dan sombong, tetapi tidak langsung main tangan seperti sebelum-sebelumnya.


Haruka beralih kepada Yuna. Dia menatapnya dan berkata sambil tersenyum, "Manis sekali." Yuna menjadi sangat malu ketika mendengarnya, dia menarik lengan kakak laki-lakinya dan menyembunyikan sebagian wajahnya.


Haruka mengangkat tangannya dan menyerahkan es buah yang dibelinya dalam perjalanan ke sini. Dia berkata kepada Yuna dengan lembut, "Sangat bagus. Kamu harus lebih sering keluar dan jalan-jalan seperti ini. Kemudian, ini hadiah untukmu."


Yuna menerimanya dengan pipi yang merah. Dia memegangnya dengan erat dan berbicara dengan gugup, "Te, terimakasih, Kakak Ipar!" Hampir saja menggigit lidahnya sendiri.


Darel menatap es buah di tangan adik perempuannya sambil meneguk ludah. Hadiah itu terlihat sejuk dan manis, meminumnya selama musim panas sepertinya dapat membantu menjernihkan pikirannya yang kusut dan membuatnya merasa lebih hidup.

__ADS_1


Darel membuang rasa malunya dan bertanya, "Kakak ipar, apa kamu tidak menyiapkan hadiah untukku?"


Ken Mura yang tumbuh hanya bersama saudara laki-lakinya setelah orang tuanya meninggal ketika ia masih kecil, menjadi cemburu. Dia dengan sinis mengejek, "Hmph, abaikan tentang pertengkaran kita sebelumnya. Aku tidak tahu kalau kamu bahkan membutuhkan walimu untuk sekedar membeli minuman, apa kamu juga memintanya membelikanmu popok?"


Haruka menatap Darel, melihat bagaimana pemuda itu akan bereaksi. Di luar kebiasaan, Darel tidak menunjukkan tanda-tanda marah. Justru sebaliknya, dia terlihat tersenyum licik dan berbisik ke telinga adik perempuannya.


Yuna maju dan berkata dengan sedikit ragu-ragu, "Ka, kalau kamu cemburu dengan kami, daripada merengek seperti ini, lebih baik minta saja kakak laki-lakimu untuk segera menikah!"


Berbagai emosi melintas di wajah Ken Mura ketika dia mendengarnya. Melihat dia menjadi seperti ini, Darel Yon merasa bangga. Dia tertawa puas dan memeluk adik perempuannya dengan bahagia.


Daniel Yon yang melihat mereka dari kejauhan merasa tidak senang. Dia sedang pusing karena ada orang yang ingin membuatnya menderita dan dia tidak cukup tidur karena terus bermimpi buruk tadi malam. Melihat orang yang membuatnya bermimpi buruk sedang tertawa riang dan gembira hanya membuat hatinya terluka.


Ken Mura yang tidak bisa menjawab apa-apa lagi pergi begitu saja dari hadapan mereka dan orang-orang yang datang bersamanya juga ikut pergi termasuk Rama Ron.


Setelah selesai membeli beberapa set pakaian untuk Yuna, Darel membawanya menemui Daniel dan Haruka yang tengah beristirahat di kedai minuman.


Mereka ikut beristirahat di sana dan memesan sesuatu untuk melepas dahaga. Haruka berkata pada Darel, "Aku menyukai sikapmu yang sebelumnya. Namun, kamu juga harus berhati-hati dengan kata-katamu. Aku mendengarnya, kamu mengusir anak pemilik pusat perbelanjaan ini."


Mendengar itu Darel lagi-lagi tertawa. Dia mencoba membuka mulutnya, tetapi yang keluar hanyalah rasa geli hati yang membuatnya meneteskan air mata. Haruka merasa jengkel melihatnya, sepertinya dia sudah mengatakan sesuatu yang salah, tetapi dia tidak tahu apa itu.

__ADS_1


Daniel menghela napasnya dan memberi isyarat agar Haruka mendekatkan telinganya, dia berkata, "Pusat perbelanjaan ini awalnya milik mendiang ibuku, dan dia mewariskannya kepada Darel. Karena Darel masih kecil, ayahku menyerahkan tempat ini kepada kepala keluarga Rama untuk dikelola sampai dia cukup dewasa untuk mengambilnya kembali."


__ADS_2