Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 62 : Terimakasih, Kak!


__ADS_3

"Apakah kamu tahu apa isi kontraknya?" Soma Haruka sangat marah sehingga dia menggenggam bahu gadis itu dengan cukup keras. Dia menegur dengan marah, "Kamu hanya tahu cara menandatangani kontrak. Bisakah kamu melihat jebakan dalam ketentuan kontrak? Apa benar kontrak ini melindungi hak dan kepentinganmu atau malah mengeksploitasimu? Kamu bahkan tidak bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Apakah kamu masih berpikir bahwa kamu sudah dewasa dan bisa berdiri sendiri?"


"Kamu tadi membandingkan dirimu denganku? Apakah putus sekolah adalah hal yang mulia?" Semakin banyak Soma Haruka berbicara, semakin marah pula dia. Dia memelototi Sintia Wang dengan sekuat tenaga. "Menurutmu apa yang sedang kamu lakukan? Apa menurutmu kami sudah mati!?"


Soma Haruka, Sintia Wang, Rayan Moon, dan Bari Hen, mereka berempat terkenal di daerah kumuh karena persahabatan dekat mereka. Di antara mereka, Sintia Wang adalah yang termuda. Semua orang memperlakukannya sebagai adik perempuan mereka dan melindunginya dengan sepenuh jiwa.


"Aku tidak bisa terus meminta bantuan kalian untuk menyelesaikan masalahku." Mata Sintia Wang merah. Dia tahu bahwa saudara laki-laki dan perempuannya baik padanya, tetapi dia tidak bisa menerima begitu saja kebaikan mereka dan mengandalkan mereka untuk segalanya.


Operasi transplantasi ginjal membutuhkan uang sebanyak tiga ratus juta rupiah. Selain itu, ia juga harus membayar rehabilitasi pasca operasi dan berbagai biaya lainnya. Jadi, dia perlu menyiapkan setidaknya tiga ratus lima puluh juta rupiah. Itu bukan jumlah yang kecil. Apalagi untuk keluarga Wang yang miskin, menjual rumah mereka satu-satunya pilihan yang tersisa, itu pun sepertinya tidak akan cukup.


Sintia Wang takut dengan angka-angka itu, dan takut untuk mempersulit saudara-saudaranya yang tumbuh bersamanya dengan masalah keluarganya.


"Sintia Wang, kamu itu hanya gadis kecil." Soma Haruka menghela napasnya. "Tugasmu sekarang adalah belajar dengan giat dan berusaha untuk masuk ke universitas yang bagus. Hanya dengan begitu kamu akan memiliki lebih banyak opsi untuk dijelajahi di masa mendatang." Mata dinginnya perlahan menghangat ketika dia berkata dengan sedih.


"Kamu mengatakan kepadaku bahwa kamu ingin putus sekolah dan pergi untuk menjadi seorang idola. Apakah kamu benar-benar ingin menjadi idola atau hanya sedang membutuhkan uang? Sintia Wang, katakan padaku."

__ADS_1


Sintia Wang menggigit bibirnya, ekspresi Soma Haruka membuat hatinya terasa sakit dan dipenuhi oleh rasa bersalah. Dia berkata dengan rendah, "Aku benar-benar tidak tertarik untuk belajar. Aku suka menari dan berakting. Awalnya aku menolak tawaran agen pencari bakat itu, tetapi ketika ibuku sakit, tekadku untuk putus sekolah semakin kuat."


Saat masih kecil, Sintia Wang diculik oleh paman dan bibinya ke Distrik Kumuh untuk meminta tebusan kepada keluarga Wang. Namun, saat mereka berdua melarikan diri dengan membawa sekoper uang, mereka jatuh ke jurang di arena kematian dan meninggal saat itu juga, meninggalkan Sintia Wang yang mereka tinggalkan sendirian di jalanan.


Sintia Wang hidup bersama dengan para pengamen dan pemain sirkus jalanan. Dari sana, dia mulai suka tampil di depan umum dan memerankan kehidupan yang berbeda dalam pertunjukan jalanannya.


"Industri hiburan tidak sesederhana yang kamu pikirkan," Soma Haruka menarik napasnya dan berhenti sejenak, lalu dia melanjutkan, "Jika kamu benar-benar menyukainya, kamu seharusnya mendaftar ke jurusan di bidang itu di universitas, bukannya berhenti sekolah dan menerima tawaran kontrak dari orang yang tidak kamu kenal!"


Setelah mengatakan itu, Soma Haruka tersenyum, dia menepuk pundak Sintia Wang. "Jangan khawatir masalah uang. Kamu tidak ingat kalau kakak perempuanmu ini menikah dengan Tuan Muda kaya raya? Jangan khawatir, kakak akan membayar biaya operasi Bibi Wang untukmu."


Anak-anak dari daerah kumuh itu pragmatis. Mereka tahu kekuatan pengetahuan lebih baik daripada apapun. Bagi orang miskin, uang adalah segalanya. Namun, ilmu pengetahuan adalah satu-satunya cara untuk mengubah nasib.


Soma Haruka langsung mengangguk. Sintia Wang dan yang lainnya adalah teman dan keluarga baginya, dia berharap mereka dapat menjalani kehidupan yang baik di masa depan. Jauh lebih baik darinya. Namun, itu tidak berarti bahwa mereka harus mematahkan sayap mereka dan hidup di bawah perlindungannya, dan mengandalkannya selama-lamanya. Mereka harus mandiri, hanya saja, Soma Haruka tidak tega.


"Karena kamu menyukai industri hiburan dan ingin menjadi idola, aku akan mengawasimu dan membantumu." Soma Haruka memperingatkannya. "Kamu tidak boleh mengambil keputusan tanpa berkonsultasi denganku dan jangan pernah mengatakan bahwa kamu akan putus sekolah lagi. Apakah kamu mengerti?"

__ADS_1


"Iya-iya, aku mengerti, Kak." Sintia Wang menjulurkan lidahnya dan dengan genit menyenggol Soma Haruka seperti ulat yang manja, dia kembali ke dirinya yang asli. "Kak, apa kamu Malaikat? Mengapa kamu begitu baik? Aku sangat mencintaimu!"


Marina dan Mayuna Yon yang mengawasi mereka, merasa masam di hati dan merasa cemburu. Jika dia di sini untuk berbicara dengan Soma Haruka, maka dia seharusnya berbicara saja, tidak perlu memeluknya seperti itu.


Dean Yon pulang dari sekolah dan tertegun sejenak saat melihat pemandangan di ruang tamu. "Kakak ipar, aku kembali. Namun, siapa perempuan disebelahmu?"


"Ini adik perempuanku, Sintia Wang." Mereka yang berada di ruangan lain juga mengambil inisiatif untuk berkumpul. Soma Haruka memperkenalkan mereka satu sama lain.


Marina Yon dengan cepat mengambil alih lengan Soma Haruka dan diam-diam menatap Sintia Wang dengan permusuhan. Kemudian, dia berkata dengan genit, "Kakak ipar, aku sudah lapar. Bagaimana kalau kita makan malam lebih awal?"


Soma Haruka menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju ruang makan. Marina Yon menyeringai, sementara di dalam hati ia berkata. "Apakah kamu dengar itu? Keluarga kami akan makan malam. Jika kamu punya sopan-santun, sebaiknya kamu segera pergi!" Namun, Soma Haruka malah menggandeng Sintia Wang dan membawanya ke sisinya.


Wajah Mayuna Yon masam melihat Sintia Wang merebut kursi di samping kakak iparnya. Mayuna Yon ingin berteriak, "Itu adalah kursiku, aku ingin duduk di antara kakak iparku dan kakak laki-kakiku, tolong menyingkir!" Namun, dia tidak punya keberanian yang cukup untuk melakukannya.


Soma Haruka menarik lengan seorang pelayan dan meminta tolong padanya. "Tolong bawakan lebih banyak kursi dan lebih banyak makanan, tamu akan datang sebentar lagi." Soma Haruma tersenyum dan menepuk tangan Sintia Wang. Dia berkata dengan lembut, "Rayan Moon dan Bari Hen akan tiba sebentar lagi. Mari kita makan bersama dan kemudian aku akan meminta seseorang untuk mengirim kalian kembali."

__ADS_1


"Terimakasih, Kak."


__ADS_2