
Bibi Namira Krisan merasa kecewa dan menegur Mayuna Yon dengan keras, "Mayuna Yon, ketika kamu baru saja dibawa kembali dari pemukiman kumuh, kamu sangat kurus dan lemah. Kamumemiliki berat badan kurang dari seorang anak berusia delapan sampai sembilan tahun, meskipun kamu sudah remaja. Saat itu, hatiku sakit untukmu. Aku memandikanmu setiap hari dan memberimu makan!"
Bibi Namira Krisan menghela napas berat. "Pikirkan dengan baik waktu itu, aku adalah orang yang mengajarimu hal-hal dasar yang tidak kamu ketahui dan kamu sangat patuh saat itu. Meskipun kamu tidak banyak bicara, aku tahu kamu gadis yang baik. Namun, sejak kapan kamu belajar memukul orang? Lihatlah dirimu sekarang, kamu tidak bertindak seperti seorang wanita dari keluarga Yon sama sekali. Kamu lupa? Kamu dulu sangat dekat dengan Helma Krisan, tetapi kenapa sekarang kamu seperti ini?"
Kilatan dingin melintas di mata Daniel Yon, dia sadar bahwa meski kata-kata tajam itu dihunuskan kepada Mayuna Yon, tetapi sesungguhnya itu mengarah kepada Soma Haruka. Bibi Namira Krisan secara tidak langsung berkata bahwa istrinya membawa pengaruh buruk pada adik-adiknya. Daniel Yon menyeringai dalam marah, dia bertanya, "Lalu, seperti apa seharusnya putri-putri keluarga Yon?"
"Daniel Yon, tolong jangan salah mengartikannya!" Bibi Namira tidak menyadari sikap dingin Daniel Yon. Dia terus berbicara, "Ketika kakekmu masih hidup, dia bersikeras agar semua orang patuh dan mematuhi aturan dalam keluarga. Jika dia melihat Mayuna dan Marina Yon sekarang, dia akan kecewa!"
Mendengarnya Daniel Yon tertawa kecil, dia memalingkan wajahnya dan melihat ke arah Darel Yon. "Bibi benar, kakek memang menghormati aturan, tetapi aku tidak yakin dalam masalah ini. Bagaimana menurutmu? Kamu orang yang paling dekat dengan kakek dan juga pewarisnya."
__ADS_1
Darel Yon tersenyum sinis. "Benarkah? Selama aku bersamanya, kakek tidak benar-benar mematuhinya, dia tidak sekeras itu sampai-sampai tidak akan mengatakan sepatah kata pun bahkan ketika seseorang menggertak keturunannya. Bahkan, kakek lebih suka kami membunuh daripada terbunuh. Yang dilakukan Mayuna Yon sudah benar. Anak-anak dari keluarga Yon sudah seharusnya melakukan hal itu, bahkan seharusnya bersikap sepertiku, berhati tiran, iblis, dingin, dan kejam. Kebaikan hanya akan melahirkan kelemahan, dan pengampunan tanpa pembalasan setimpal tidak akan membuat jera."
Daniel Yon menggenggam lututnya dengan erat. Seandainya dia tidak berhati lemah dan bersikap keras sedari awal, tidak akan ada orang yang mencoba untuk menyakitinya. Dia tidak akan sehancur ini jika selalu berhati-hati dan tidak mudah percaya kepada orang lain. Saat dia diberikan posisi sebagai Putra Mahkota keluarga Yon, dia mencoba untuk mengubah sistem keluarga yang sangat kejam ini.
Dia ingin menghapus sistem keluarga cabang yang memaksa saudara-saudarinya melepas nama belakang mereka dan mencoba untuk mengobati tali ikatan dengan keluarga cabang. Siapa yang pernah mengira bahwa kebaikan hatinya akan terlihat sebagai celah untuk menusuk keluarga Yon. Sekarang, meski Daniel Yon masih berpikir bahwa tradisi keluarga Yon masih terlalu kejam, dia paham mengapa sistem yang sudah mengakar itu dibutuhkan oleh keluarga ini.
Darel Yon mengeluarkan plakat emas berlian hitam dari sakunya. Benda itu adalah bukti bahwa dia adalah pewaris hak kekuasaan kakeknya. "Berlian hitam di atas plakat emas ini adalah simbol dari keluarga Yon. Emas berarti nilai yang tak tertandingi, berlian sebagai simbol bakat yang cemerlang, dan hitam merepresentasikan kekuasaan yang melahap segalanya. Dalam penafsiranku, aku akan mengatakan bahwa keluarga Yon adalah sebuah keluarga yang anggotanya dianugerahi bakat tak tertandingi untuk melahap semua yang bernilai, yang dalam prosesnya mau tidak mau menyentuh jalan kegelapan."
"Saudaraku benar. Aku pikir seperti inilah seharusnya keluarga Yon. Keras dan kejam bagaikan berlian hitam. Kami bernilai bagaikan emas, tidak sepantasnya diinjak-injak seperti ini!" Marina Yon mengangkat kepalanya dengan bangga dan berkata dengan percaya diri, "Apakah Sepupu sebelumnya mengatakan bahwa di mata kami dia adalah seekor anjing? Maaf, tapi keluarga kami tidak memelihara anjing liar yang mencoba menggigit kami dari belakang!"
__ADS_1
"Marina Yon, kamu!" Wajah Helma Krisan merah.
"Jadi, kenapa jika Yuna memukulmu?" Mayuna Yon maju selangkah, dia tidak menangis, tetapi air mata mengalir bebas di pipinya. Dia mengangkat tangannya saat dia berkata, "Yuna akan terus memukulmu, dasar wanita licik, wanita kejam, penipu yang jahat!"
Setelah suara tamparan yang renyah, Mayuna Yon tidak berhenti. Dia menarik tangan Helma Krisan yang mencoba menghalau tamparan dari wajahnya dan menamparnya beberapa kali lagi, "Kamu tidak melakukannya dengan sengaja? Apakah kamu pikir Yuna buta? Teko teh itu sangat jauh dari biola Yuna. Bagaimana itu bisa sampai mendarat di sana? Kamu dapat menghindar dari menabrak meja, dan teko itu hanya akan jatuh ke lantai, tetapi kenapa kamu malah menarik lengan Yuna dengan sengaja? Apakah kamu pikir Yuna sebodoh itu hingga tidak menyadarinya? Bukankah kamu sombong di depan Yuna barusan? Mengapa kamu tidak memberi tahu semua orang apa yang baru saja kamu katakan kepada Yuna!?" Tubuh Mayuna Yon lemah. Setelah beberapa tamparan, dia sudah terengah-engah.
"Ya, yang kamu katakan sebelumnya benar. Yuna adalag gadis yang tidak berguna. Yuna selalu mempermalukan keluarga Yon. Yuna tidak punya nyali untuk menunjukkan diri di depan semua orang. Yuna hanya pantas hidup dalam kegelapan. Jadi, kenapa? Seperti apapun Yuna, itu tidak ada hubungannya denganmu!" Mata Mayuna Yon terbuka lebar saat dia menatap lurus ke arah Helma Krisan. Dia tampak seperti ingin mencabik-cabik sepupunya itu jika ia bisa.
"Helma Krisan, katakan! Apakah kamu ingin menghancurkan biola Yuna atau tangan Yuna barusan!?" Teko itu pecah di sampingnya. Jika dia tidak menghindar dengan cepat, teh panas yang mendidih akan jatuh ke tangan dan wajahnya. Mengingat adegan saat itu, Mayuna Yon merasakan ketakutan yang tersisa di hatinya. Kemarahan yang bercampur oleh rasa takut membangkitkan adrenalin yang membuatnya berani. Dia langsung meraih pecahan teko di tanah dan mengarahkan ujung yang tajam ke wajah Helma Krisan. "Sebenarnya apa salah Yuna? Kenapa orang-orang sepertimu selalu saja mengganggu Yuna!?"
__ADS_1
"Pergi! Jauh-jauh dariku!" Kemarahan Mayuna Yon mencengkram jiwa. Helma Krisan takut Mayuna Yon akan melukai wajahnya dengan pecahan kaca. Jadi, dia dengan cepat berteriak dan mundur.
Soma Haruka menyadari ada yang salah dengan Mayuna Yon, jadi dia dengan cepat melangkah maju dan menghentikannya. "Mayuna Yon, tenanglah." Dia dengan hati-hati meraih pergelangan tangan Mayuna Yon dan mengambil pecahan kaca dari tangannya.