
Orang-orang terus berdatangan ke Distrik Pusat untuk mengadu nasib. Akibatnya, populasi menjadi tidak terkendali, dan menyebabkan harga rumah melonjak drastis. Pemerintah tidak punya kekuatan untuk mengendalikan nilai properti yang melembung tinggi, sehingga mereka mengumumkan rencana pembangunan lima ratus ribu rumah dan pengembangan perumahan skala besar untuk kaum elite dan konglomerat generasi baru.
Proyek pembangunan pemukiman baru di pinggiran Distrik Pusat ini baru saja selesai, dan bangunan di sekitarnya belum resmi dibuka untuk dijual. Sebagian besar orang yang bisa pindah pada saat ini memiliki identitas yang luar biasa dan tentu saja keuangan yang luar biasa. Misalnya, hanya orang-orang seperti Maestro Roseta, yang membawa kemuliaan bagi negara dan didukung oleh keluarga besar Asrahan. Hanya orang sekaliber itu yang memiliki hak istimewa untuk pindah ke sana lebih awal.
Di sekolah, Darel Yon sibuk dengan ponselnya, dia berterima telepon dengan orang-orang yang dikenalkan oleh Rama Ryan sebelumnya. Dia gelisah dan bersemangat dalam satu waktu yang sama. Fokus utamanya adalah proyek pembangunan pemukiman baru, dan prediksi apa yang terjadi ketika penjualannya dibuka untuk umum.
Mereka memprediksi, pada tahun pertama pembukaan harga rumah akan menjadi tidak stabil, dan karena pemukiman baru ini masuk ke dalam Distrik Pusat, orang-orang akan berbondong-bondong untuk mencoba mendapatkan beberapa tempat. Untuk mengatasi kericuhan, pemerintah akan menetapkan pelelangan, dan jumlah lima ratus ribu rumah tidak akan cukup untuk menampung masa.
"Kawasan perkotaan baru kemungkinan tinggi akan di bangun di sekitar Distrik Pusat. Aku ingin Paman membeli beberapa tanah dilokasi yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai kota baru. Jangan khawatir tentang uang, aku bisa menjual beberapa hal untuk menyanggupinya." Darel Yon membuka selembar peta kemudian melingkari beberapa tempat yang menurutnya akan menjadi lokasi yang terpilih sebagai kota baru.
"Dimengerti, tolong kirimkan lokasi kasar perkiraan pembangunan kota baru. Saya akan turun langsung untuk menyurvey lokasi dan memberitahunya kepada Anda." Seseorang di sebrang telepon setuju.
"Bagus, aku akan mengirimkannya sekarang dan mentransfer dana awal kepadamu. Kita harus menganggap ini sebagai perang, karena aku yakin, orang lain juga mencium bau uang dari masalah ini."
__ADS_1
"Baik, Saya pastikan Anda mendengar kabar baik setelah ini."
"Bagus, aku mengandalkanmu." Darel Yon menutup panggilan teleponnya. Dia kembali ke kelas dan melemaskan tubuhnya ke atas kursi. Semenjak mengetahui bahwa dia jatuh cinta kepada adiknya sendiri, Darel Yon menjadi lebih jinak dan terlihat sangat frustasi sehingga tidak ada murid maupun guru yang berani untuk mengganggunya.
Perasaan bodoh itu sangat menyiksanya dan dia tahu kalau perasaan itu harus ia hilangkan sesegera mungkin. Hanya saja, sangat sulit untuk secara tiba-tiba menjauhi Yuna Yon setelah sebelumnya ia begitu dekat dengannya.
Mata Darel Yon menjadi gelap dan wajahnya terlihat keras dan dingin ketika ia kembali keluar dari kelas. Pikirannya menerawang kembali ke masa lalu, meskipun dia masih sangat kecil waktu itu, Darel Yon mengingatnya dengan jelas.
Saat itu di ruang dapur keluarga Yon, beberapa pelayan sedang mengobrol sembari menyiapkan makanan, sedangkan Darel Yon yang pemalu dan penakut bersembunyi di kolong meja dengan kertas nilai di kedua tangannya.
Pelayan ke dua menyeka keringat di dahinya dengan menggunakan siku, kemudian menjawab, "Benar, apalagi dibandingkan dengan kakak-kakaknya, Tuan Muda ke empat itu, em... bagaimana aku harus menyebutnya? Haruskah aku mengatakan kalau mental dan pikirannya agak sedikit di bawah standar?" Dia menambahkan, "Menurutku, Tuan Muda ke empat itu seperti produk gagal yang tidak memiliki fungsi apapun selain mengeluarkan air dari matanya." Setelah mengatakan itu, mereka tertawa dengan cukup keras.
Tawa gadis-gadis itu menarik perhatian Tuan Tua Yon dan dia langsung mendatangi mereka, dia bertanya dengan nada keras, "Apa makanannya sudah siap!?" Hawa keberadaan Tuan Tua Yon yang sangat berat membuat dua gadis itu berkeringat dingin dan tidak mampu untuk mengangkat wajahnya. Mereka menjawab dengan gagap, "Su-sudah Tuan, akan kami hidangkan sekarang." Setelah mengatakan itu Pelayan itu segera pergi dengan nampan di tangan mereka.
__ADS_1
Tuan Tua Yon mengerutkan keningnya dan menggerutu, "Anak-anak jaman sekarang, kerjanya tidak ada yang becus!" Wajahnya yang keras menjadi lembut ketika dia menyadari kehadiran sosok lain di tempat itu.
Tuan Tua Yon melunakkan ekspresi wajahnya, menunduk, kemudian mengulurkan tangannya kepada Darel Yon. "Cucuku, apa yang kamu kerjakan di sini?" Dia bertanya sambil tersenyum.
Darel Yon tidak meraih uluran tangan kakeknya, dia hanya diam dan menundukkan kepalanya dengan mata yang kosong. Melihat hal itu, Tuan Tua Yon menarik lengan kurus Darel Yon sehingga lembar kertas ujian terjatuh dari tangan kecilnya. Anak laki-laki itu sangat lemah dan ringan, tidak ada setetes cahaya pun di matanya.
Tuan Tua Yon melirik kertas yang berhamburan di lantai, dan akhirnya mengetahui mengapa cucunya ada di sini. Di kertas itu, tidak ada satu soalpun yang Darel Yon jawab dengan benar, sehingga dia ingin menyembunyikan dari orang lain dan ingin membuangnya ke pembakaran. Itulah mengapa dia bisa berakhir di kolong meja dapur.
Mulut kecil yang kering dan pecah itu mulai bergerak, suaranya serak dan hampir tidak terdengar. Darel Yon bertanya, "Kakek, apa aku adalah kegagalan seperti ujian ini?" Matanya yang gelap dan mati berbinar membendung tangis. "Kenapa aku tidak baik dalam hal apapun seperti kakak-kakakku? Yang bisa aku lakukan hanyalah membuat masalah bagi orang lain."
Tuan Tua Yon tertegun sejenak. Mata cucunya itu terlihat mati, tubuhnya lemah, dan dia juga bodoh dalam belajar. Namun, Tuan Tua Yon bisa melihat hal lain dalam dirinya, secara mengejutkan cucu bodohnya itu mempunyai sisi lain di dalam dirinya yang belum terbangkitkan.
Tuan Tua Yon tersenyum kemudian mengusap kepala cucunya yang hebat dalam menahan tangis. "Kamu tidak boleh berbicara seperti itu, membuat masalah bagi orang lain juga sebuah bakat. Cucuku, apakah kamu..." Tuan Tua Yon ragu sejenak. Namun, dia mengabaikan kecemasannya dan melanjutkan, "Cucuku, apakah kamu berani ikut kakek ke neraka demi menjadi manusia yang berguna?"
__ADS_1
Darel Yon kecil dan polos. Jadi, dia langsung menyetujuinya. Tuan Tua Yon setelah itu mengadakan rapat keluarga besar, memainkan skenario hukuman untuk Darel Yon yang gagal di ujiannya dan mengasingkannya. Namun, yang sebenarnya terjadi adalah dia membawa Darel Yon terbang ke medan perang, di garda paling depan, dan mencekik cucunya dengan situasi hidup dan mati.
Sekumpulan stress yang berpadu dengan keinginan kuat untuk bertahan hidup, di tambah dengan keterbatasan kemampuan yang dimiliki. Anak lemah yang tumbuh di neraka itu akhirnya membangkitkan kepribadian baru yang kejam dan tidak mempercayai siapapun. Untuk bertahan di neraka, manusia pada akhirnya harus menjadi iblis.