
Setelah Haruka memastikan adik-adik iparnya pergi ke sekolah, dia pergi ke kamar Daniel dan mendapati suaminya itu sedang bekerja.
Ruangan yang selalu terkunci rapat dan gelap itu kini terbuka lebar dan dimasuki oleh cahaya matahari. Laptop Daniel menyala dan seorang perempuan di dalamnya membacakan apa saja yang dilewatkan oleh Daniel selama masa cutinya.
Haruka merasa aneh, dia pikir Daniel sudah tidak memiliki keserakahan lagi setelah ia menyaksikan betapa gampangnya Daniel memberikan seratus miliar untuk Haruka. Namun, jika melihat Daniel masih berusaha mempertahankan perusahaannya, ternyata dia masih memilikinya.
Haruka tidak ingin mengganggu dan ingin segera pergi, tetapi ia terlambat, Daniel sudah menyadari keberadaannya. Daniel mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada sekretarisnya untuk berhenti sejenak kemudian beralih ke Haruka.
Haruka meminta izin untuk pergi ke Distrik Beta menemui neneknya. Haruka bisa saja menelepon sang nenek, tetapi jika ia melakukan itu, neneknya pasti masih akan mengkhawatirkannya.
Daniel memberi Haruka dua pilihan, meminta sopir mengantarkannya atau membawa mobil Daniel yang sudah cukup lama membusuk di garasi. Haruka memilih untuk mengemudi sendiri.
Ketika mobil merah mewah memasuki halaman rumahnya, Nenek langsung berdiri, ada perasaan waswas dalam hatinya. Namun, disaat Haruka keluar dari dalamnya, dia dengan cepat menghampiri dan memeluk cucunya itu. Nenek dengan cemas bertanya, "Bagaimana dengan orang yang kamu nikahi? Apa dia baik padamu? Bagaimana dengan keluarganya? Mereka tidak menyakitimu, kan?"
Haruka memegang kedua tangan neneknya dan tertawa ketika mengingat apa yang ia lakukan kepada adik suaminya. Mereka tidak menyakiti Haruka, justru Harukalah yang menyakiti mereka.
"Mereka baik padaku, Nek."
Meski Haruka sudah mengatakannya dengan wajah bahagia, neneknya masih tidak tenang, bisa saja Haruka berpura-pura bahagia di depannya. Haruka menyadari itu dan melepaskan tangannya untuk memamerkan pakaian mewah yang ia kenakan.
"Nenek tidak perlu khawatir, dia membelikanku pakaian ini dan memberiku uang yang sangat banyak untuk aku belanjakan."
__ADS_1
Haruka memberikan selembar kertas pada neneknya. Meski nenek sudah tua, tidak ada masalah pada matanya, tetapi ketika melihat kertas itu kepalanya seketika menjadi pusing. Ada banyak sekali angka nol setelah angka satu.
Nenek tidak tahu berapa tepatnya nominal uang dalam kertas itu, tetapi melihat pria itu mempercayakan sebanyak itu pada Haruka, neneknya mulai merasa tenang. Pria itu baik pada cucunya dan itu sudah lebih dari cukup.
"Baiklah kalau memang seperti itu. Nenek lega jika dia memperlakukanmu dengan baik. Jadi, kamu juga harus memperlakukannya dengan baik. Nenek tidak tahu apa-apa tentangnya, tetapi pasti sulit baginya menerima kondisinya yang sekarang." Mata tuanya tergenang. Haruka segera merangkul dan membiarkan wanita tua itu bersandar di pelukannya.
"Meski keadaannya buruk, kamu tidak boleh merendahkannya. Nenek yakin, daripada sakit di kakinya, hatinya jauh lebih terluka. Meski itu akan sulit, cobalah untuk menjadi obat untuk hatinya," kata Nenek meneruskan nasehatnya.
Pikiran wanita tua itu sangat sederhana. Pasangan suami istri harus mencoba saling mengerti satu sama lain. Jika satu saja lebih mementingkan dirinya sendiri, hidup mereka bersama akan segera berakhir. Tidak ada salahnya melawan badai, hanya saja jangan sampai terbawa arusnya, tetaplah bergandengan tangan dan percaya terhadap satu sama lain.
Haruka mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali. Haruka dan neneknya saling mengandalkan satu sama lain untuk bertahan hidup. Semua kehangatan dalam hidup Haruka berasal dari neneknya. Jadi, dia berpegangan pada pelukan neneknya dan berharap dia bisa tinggal di pelukannya selama sisa hidupnya.
Haruka ingin membawa nenek bersamanya, dan dia yakin adik-adik iparnya yang manja juga akan senang. Namun, Haruka masih merasa gelisah, dia sudah menyelidiki keluarga Yon mengandalkan koneksinya saat masih di daerah kumuh, tetapi informasi yang ia dapatkan sangat terbatas pada anggota keluarga utama saja, sedangkan untuk keluarga cabang informasinya hampir tidak ada.
"Kak Haruka!?"
Suara gadis yang bersemangat datang dari balik pintu rumah neneknya. "Aku dengar dari nenek kalau kakak sudah menikah, bagaimana dengan suami kakak? Apakah dia tampan?"
Gadis itu tidak memberi waktu bagi Haruka untuk menyapanya balik dan terus menerus menghujani Haruka dengan pertanyaan. Gadis manis berkuncir kuda itu bernama Sintia, sedangkan dua anak laki-laki yang mengikuti di belakangnya adalah Bari dan Rayan, tatapan keduanya dipenuhi dengan kekhawatiran dan rasa penasaran yang besar saat mereka melihat Haruka.
Soma Haruka sedikit meneteskan air matanya. Ketiga orang ini adalah anak-anak terlantar yang tumbuh bersamanya di distrik kumuh. Mereka tidak memiliki hubungan darah, tetapi sangat dekat seperti keluarga.
__ADS_1
Setelah Haruka menyetujui permintaan ayahnya, dia benar-benar sibuk mencari informasi dan menghabiskan sisa waktu untuk menenangkan neneknya. Jadi, dia lupa untuk mengontak mereka.
"Nenek yang menghubungi mereka. Rumah ini besar dan nenek tidak tahu apa yang harus nenek lakukan dengan uang yang kamu berikan. Nenek berencana menyekolahkan mereka lagi, bagaimana menurutmu?" tanya neneknya.
Haruka hampir tidak bisa berkata apa-apa lagi. Perasaannya pahit jika mengingat dia melupakan mereka dan sempat ingin menikmati semua kesenangan ini sendirian. Haruka juga merasa haru mempunyai seorang nenek yang luar biasa.
"Itu rencana yang bagus. Aku mendukungnya, sangat mendukungnya." Haruka menangis dan tersenyum dengan tulus. Anak-anak itu mencoba mendekat untuk memeluknya, tetapi Haruka langsung mengganti ekspresi wajahnya. "Jangan terbawa suasana. Kalian harus sadar kalau kalian tertinggal dari anak-anak lainnya. Jadi, jika aku menemukan salah satu dari kalian bermalas-malasan, aku akan menghajar kalian semua!"
Anak-anak itu langsung berbalik arah dan masuk kembali ke dalam rumah. Haruka dan neneknya saling tatap kemudian tertawa dan masuk mengikuti mereka ke dalam rumah.
"Nenek, kamu mendengarnya, kan? Kak Haruka memarahiku." Sintia yang lincah merebut lengan nenek dari Haruka.
"Kakakmu benar. Kalian harus rajin belajar, kalian tidak ingin mengecewakan nenek, kan?" kata nenek sambil tersenyum.
Suasana terasa hangat, Sintia yang genit merajuk karena nenek tidak membelanya, sedangkan Bari yang gemuk secara diam-diam menggeledah bawaan Haruka, mencari makanan dan memakannya dengan lahap. Haruka memutar pandanganya, tetapi dia tidak dapat menemukan Rayan.
"Kakak mencari Rayan?" tanya Bari dan dijawab dengan anggukan oleh Haruka. "Kalau dia tidak ada di kamarnya, biasanya dia duduk di belakang tangga."
Haruka mencari di kamarnya dan karena tidak bertemu, dia langsung pergi ke tempat yang diberitahu oleh Bari. Sesampainya di sana, Haruka menemukan Rayan, tetapi ia tidak senang melihat laki-laki itu. "Kamu merokok? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk berhenti!?"
"Aku hanya melakukannya ketika sedang gelisah. Tenang saja, Kak, aku tidak kecanduan," jelas Rayan dan ia langsung mematikan rokoknya. Rayan menatap wajah Haruka dengan saksama, wanita kejam itu menjadi sangat cantik, pakaian mahal yang ia kenakan sangat cocok di tubuhnya yang ramping.
__ADS_1
"Kak, jujurlah padaku. Apa kamu benar-benar baik-baik saja di sana?"