Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 130 : Pencarian


__ADS_3

Setelah makan malam, Darel Yon duduk di sofa ruang tengah kemudian menyalakan ponselnya. Tiba-tiba, dia berkata, "Aku akan pergi ke luar negeri mulai minggu depan."


Ruang makan seketika langsung hening. Membuat Darel Yon tidak nyaman. Wajah kedua kakaknya masih pucat dan sesekali mata mereka terlihat kosong. Dia mendecakkan lidahnya. "Aku sudah menyera dengan nilaiku. Semua posisi Eunha Grub juga sudah aku percayakan pemeliharaannya kepada orang lain. Jadi, daripada menghabiskan waktu di rumah saja, aku memutuskan untuk berkeliling dunia, sekalian mencari satu lagi plakat emas berlian hitam keluarga kita yang hilang."


Darel Yon sudah memikirkannya, ini alasan yang masuk akal untuk melarikan diri dari vila terkutuk ini. Sebagai penanggung jawab Keluarga Yon, Daniel Yon tidak akan punya waktu luang jika bukan karena kakinya. Dia akan menghabiskan seluruh waktunya di tempat kerja. Beberapa saudaranya sedang mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi, dan beberapa sedang berlatih biola. Bahkan David Yon yang paling tidak bisa diandalkan, pergi ke akademi militer untuk berlatih.


Sebagai pewaris yang ditunjuk oleh kakeknya, Darel Yon merasa bertanggung jawab untuk menyatukan kembali tiga permata hitam. Dia sudah mendengar kebenaran yang disembunyikan bahkan dari Daniel Yon. Tuan Tua Asrahan berkata bahwa satu pecahan berlian hitam ada di tangan saudara kandung ayah mereka, tetapi ayah mereka tidak pernah tercatat punya saudara kandung.


Dia mendengar bahwa orang itu melarikan diri ke daratan China sebelum kepala keluarga sebelumnya meninggal dan tidak pernah kembali. Akan tetapi, Tuan Tua Asrahan bisa menjamin bahwa orang itu masih hidup, sebab, dia adalah didikan kakek mereka sebelum Darel Yon. Dia juga seorang Monster.


Saat Darel Yon menemukan arti asli dari lukisan di dinding, dia menjadi gelisah, dan tidak akan tenang sebelum memastikan dengan mata kepalanya sendiri soal arti dari ramalan di lukisan terakhir. Dia tidak benar-benar memiliki pekerjaan dan telah bermalas-malasan tanpa tujuan. Dia sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Namun, itu membosankan dibandingkan dengan saudara-saudarinya yang memenuhi gaya hidup dengan bahagia.


Kata-kata Darel Yon seperti bom di telinga anggota Keluarga Yon. Mayuna Yon, yang paling sensitif dan yang paling dekat denganya, langsung merasa sangat sedih. "Kakak kedua dan kakak ketiga tidak akan ada di rumah. Rumah akan kosong lagi."

__ADS_1


Di keluarga ini, Mayuna Yon mungkin satu-satunya yang benar-benar menyukai saudara-saudarinya. Yang lain tidak benar-benar bergaul dengan baik. Sekarang mereka memang terlihat selalu bersama, tetapi mereka hanya memaksakan diri untuk lebih ramah dan bersikap baik satu sama lain.


Soma Haruka mencari informasi dengan melihat ekspresi Daniel Yon, tetapi pria itu hanya diam saja dengan mata yang kosong. Jadi, dia membuka suara, "Baiklah, karena kamu ingin pergi, maka pergilah. Kamu harus menjaga dirimu baik-baik, karena kamu hanya bisa mengandalkan diri sendiri di luar negeri. Lalu, apa kamu sudah melakukan sesuatu tentang sekolahmu?"


Sebuah keluarga harus tetap bersama, tetapi rumah harus menjadi sarang untuk elang beristirahat, bukan sangkar yang memenjarakan sayapnya. Tidak ada alasan untuk menghentikan seseorang yang sedang mengejar atau mencari masa depan yang lebih baik. Sebagai yang lebih tua, kita seharisnya mendukung mereka.


"Ya, aku sudah menyelesaikan masalah ini. Meski prosesnya akan rumit, aku bisa mengikuti ujian melalui media daring."


Selain itu, Soma Haruka menaruh lebih banyak kekhawatirannya pada anggrek. Di bawah perawatannya yang cermat, anggrek itu secara bertahap memulihkan vitalitasnya. Periode waktu ini adalah periode kritis untuk berakar kembali. Dia bahkan terbangun dua hingga tiga kali di tengah malam hanya untuk memeriksa kondisinya. Sikap Soma Haruka membuat adik-adiknya gugup. Ketika mereka berjalan melewati rumah kaca, langkah kaki mereka menjadi jauh lebih ringan.


Pada hari ini, Soma Haruka baru saja menyelesaikan latihan yang diberikan oleh tutor. Seperti biasa, dia berencana untuk mengamati pemulihan anggrek dan mengirim laporan rutin ke Tuan Tua Asrahan. Saat dia mendekati rumah kaca, dia melihat sesosok tubuh bergerak di dalam.


"Siapa di sana?" Soma Haruka menyipitkan matanya dan sedikit rasa dingin muncul di matanya. Dia dengan gesit menerkam dan menekan sosok licik itu ke pintu. Dia berkata dengan dingin, "Apa yang kamu lakukan di sini?"

__ADS_1


"Aduh, sakit! Lepaskan, ini menyakitkan!" Wanita yang mengenakan sepatu hak tinggi dan parfum yang kuat ini mengeluarkan serangkaian jeritan yang tinggi. "Saya tidak melakukan apa-apa. Saya di sini hanya untuk melihat-lihat!" jelasnya.


Keributan di sini dengan cepat menarik Yon bersaudara. Setelah melihat wanita itu, Dean Yon melebarkan matanya tidak percaya. Setelah beberapa saat terkejut, ekspresinya menjadi gelap. "Ma, kenapa Mama ada di sini? Apa yang Mama lakukan di sini?"


"Wanita ini Mamanya Dean Yon?" Soma Haruka berhenti sejenak sebelum dia perlahan melepaskan tangannya. "Kalau begitu, dia ini adalah... Maria Lan." Dia membatin.


Maria Lan menggosok bahu dan pinggangnya yang sakit. Dia memutar matanya. "Ugh, tadi itu sangat menyakitkan. Kenapa kamu memukulku begitu keras?" Seperti yang diharapkan, dia adalah seorang wanita dari daerah kumuh. Tidak peduli betapa cantiknya dia, dia masih tidak bisa menyembunyikan sikap kasarnya di tulangnya.


Maria Lan mengutuk dalam hatinya. Ketika dia mendengar kata-kata Dean Yon, dia membentak, "Dean Yon, mengapa Mama tidak bisa datang? Mengapa kamu masih bertanya mengapa Mama di sini? Tentu saja, Mama di sini untuk melihat putra Mama yang berharga yang tidak mengatakan sepatah kata pun pada Mama dan sidah tidak pergi lagi ke sekolah!"


"Nyonya Maria." Daniel Yon memasang wajah suram di atas kursi rodanya. Dia menatap Maria Lan dengan tatapan dingin. "Saya ingat Saya mengatakan kepada Anda bahwa Keluarga Yon tidak menyambut Anda lagi. Sepertinya Anda belum mempelajari pelajaran terakhir kali."


Melihat penampilan Daniel Yon, Maria Lan yang awalnya tak kenal takut dan sombong, tiba-tiba kehilangan itu semua. Dia tanpa sadar mundur, dia memaksakan senyum dan meminta maaf. "Tuan Daniel, aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya seorang ibu yang terlalu khawatir ketika melihat putraku tidak lagi pergi ke sekolah. Jadi, aku datang ke sini untuk memeriksanya."

__ADS_1


__ADS_2