Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 29 : Aku Punya Adik Perempuan?


__ADS_3

"Darel Yon, bukankah aku sudah bilang kalau kamu harus menjaga mulutmu!" Setelah mengatakan itu, Haruka melambai pada Bibi Liam. "Bibi, tolong buatkan wedang jahe untuk David Yon . Dia terjebak dalam hujan hari ini, wedang jahe bagus untuk menghangatkan tubuh. Lalu, tolong bangunkan Dokter Arkam dan minta dia untuk mengoleskan salep."


"Baik, Nyonya."


Bibi Liam membungkukkan badannya dan bertanya dengan sopan, "Nyonya, Anda juga kehujanan. Haruskah kami membawakanmu wedang jahe ke ruangan Anda?"


"Tentu, terimakasih." Soma Haruka mengangguk. Bibi Liam dengan cepat mengatakan bahwa itu tidak masalah sama sekali. Saat Bibi Liam hendak pergi, Darel Yon mencegahnya. "Tolong berikan aku wedang jahe juga. Aku punya banyak pekerjaan malam ini."


Soma Haruka mencium akal busuk Darel Yon yang ingin bolos kelas. Karena dia sudah mengetahuinya, dia tidak akan membiarkannya. Bolos kelas sama seperti merokok dan mengkonsumsi narkotika, awalnya memang coba-coba, lama kelamaan kecanduan juga.


Soma Haruka meralat permintaan Darel Yon, "Jangan dengarkan dia, Bi. Berikan saja dia jus kangkung." Mendengar itu Bibi Liam tersenyum kemudian dia dengan puas pergi ke dapur untuk membuat dua wedang jahe dan satu jus kangkung, mengabaikan Darel Yon yang bibirnya berdarah karena menahan untuk tidak menggunakan tinjunya lagi.


Saat David Yon melihat suasana menjadi sedikit lebih cerah, dia bertanya, "Apakah aku sudah diperbolehkan naik ke kamarku sekarang, Kakak Ipar?"


Soma Haruka mengangguk. "Tidak perlu terburu-buru. Kita punya banyak waktu di masa depan. Naiklah ke atas, mandi air panas, dan ganti pakaian kering. Pastikan kamu menghabiskan wedang jahemu, jangan sampai masuk angin." Setelah mengatakan itu, dia berjalan terlebih dahulu.


David Yon menatap punggungnya yang ramping dan merasakan perasaan aneh di hatinya. Rasanya udara di sekitar menjadi lebih ringan dan rasa sakit di telapak tangannya yang memerah mulai berkurang.


Keesokan paginya, Darel Yon turun sambil menguap. Ketika dia melihat David Yon duduk di meja makan, matanya segar seketika. "Luar biasa, kamu tidak kabur?"

__ADS_1


Dean Yon yang mengikuti di belakang, mengucak matanya kuat-kuat, dia tidak percaya kalau kakak keduanya yang pemberontak sudah pulang ke rumah setelah sekian lama.


Setelah kematian ayah mereka, David Yon pergi tanpa meninggalkan pesan, dia berkeliaran di malam hari dan selalu melakukan aktivitas yang bisa membunuhnya. Dean Yon sudah tidak akan terkejut jika suatu hari dia menerima berita bahwa David Yon meninggal karena kecelakaan.


David Yon memandang Darel Yon, yang tampaknya menjadi orang yang benar-benar berbeda sekarang. Bocah yang dulunya tidak peduli dengan apapun yang orang lain lakukan, sekarang seperti ingin ikut campur urusan orang lain. Dia mengerutkan kening. "Urus saja urusanmu sendiri, maniak otot sialan."


Ekpresi Darel Yon yang santai berubah, dia ingin mencengkeram kerah David Yon dengan keras, tetapi ia harus menahannya. Ini hal sepele, dia tidak boleh melepaskan tekadnya hanya karena kata-kata kakak laki-lakinya.


"Bagus, bagus sekali. Hari masih pagi, tetapi kalian sudah mulai bertengkar?"


Mengikuti suara kursi roda, Soma Haruka dan Daniel Yon masuk ke ruang makan. Di belakang mereka ada Yuna Yon yang menundukkan kepalanya dalam diam. Dia belum bisa mengakrabkan diri dengan Daniel Yon dan Dean Yon. Namun, sekarang anggota keluarganya malah bertambah.


Tatapan David Yon mengarah pada gadis itu, dia merasa bingung, lalu berbisik kepada Darel Yon untuk bertanya. "Hey, siapa gadis kecil itu?"


Darel Yon masih merasa jengkel dengan kata-kata David Yon sebelumnya, tetapi dia tidak bisa membuat masalah di depan adik perempuannya. Jadi, dia meladeninya. "Dia putri ayah kita, usianya lima belas tahun."


Meskipun mereka berbicara dengan sangat pelan, Yuna Yon tetap bisa mendengarnya sedikit. Perasaannya menjadi aneh dan dia mengencangkan cengkeraman pada sumpitnya.


David Yon tersenyum kecut ketika dia mendengarnya. Ayah mereka punya anak lain? Dia tidak tahu akan hal itu. Setelah ayahnya meninggal, beberapa keluarga cabang mendekatinya dengan berkata kalau mereka akan mendukungnya untuk merebut posisi kepala keluarga.

__ADS_1


Dia tidak menginginkan itu dan memutuskan untuk kabur dari mereka. Dia menjual semua warisannya dan menggunakan uang itu untuk berpindah tempat tinggal dari satu tempat ke tempat lain dan bersenang-senang dengan teman-teman dari dunia malam.


Dean Yon menyadari ada badai di pikiran kakak laki-laki keduanya itu dan pelan-pelan menghabiskan susu di cangkirnya. Saat dia selesai, dia melirik ke arah Soma Haruka dan dengan pelan mengeluarkan selembar kertas dari ranselnya.


"Kakak Ipar."


Ada sedikit rasa malu di wajahnya yang tenang. Mata hitamnya yang sedikit kecoklatan menyembunyikan emosi yang rumit. Dia bertanya dengan patuh dan malu-malu, "Ada konferensi orang tua dan guru bulan depan. Bisakah kamu datang sebagai waliku, kakak ipar?"


Dia memiliki senyum di wajahnya, tetapi matanya padam dan suram, membuatnya tampak lebih tua dari usianya. Dia menurunkan matanya untuk menyembunyikan pandangan menyelidik mengenai reaksi Soma Haruka tentang permintaannya.


David Yon yang mendengar itu kembali berbisik kepada Darel Yon. Dia bertanya, "Apa selama aku pergi Ibu Dean Yon sudah meninggal?" Mata Darel Yon sedikit gelap saat dia tenggelam dalam ingatannya. Dengan senyum tipis di wajahnya, Darel Yon menjawab, "Wanita itu masih hidup. Kami memang bertemu beberapa kali, tetapi aku tidak membunuhnya." Ekspresi dingin Darel Yon membuat bulu kuduk David Yon berdiri.


"Konferensi orang tua dan guru?" Daniel Yon melepaskan sumpit di tangannya, lalu dia mengambil kertas itu dari Dean Yon, "Kenapa kamu tidak memberitahuku kemarin?"


Dean Yon menurunkan pandangannya dan memainkan jari jemarinya di bawah meja. "Kakak sangat sibuk. Jadi, aku tidak ingin mengambil waktumu untuk mengurus hal-hal kecil seperti ini. Apalagi kesehatanmu tidak terlalu baik saat ini, aku tidak ingin membuat lebih banyak masalah untukmu."


Daniel Yon hampir saja meneteskan air matanya. Selama ini dia terlalu terpaku kepada dua adiknya yang nakal, sehingga tidak memperhatikan adik bungsunya. Hatinya sakit ketika adik laki-laki yang tidak dia urus dengan baik, malah mengkhawatirkannya sebanyak itu.


"Dean benar, Daniel. Kamu tidak perlu memikirkan apapun selain fokus pada penyembuhanmu. Demi adik-adikmu dan demi aku." Soma Haruka mengambil kertas itu dari Daniel Yon. Dia melihat waktu yang dijadwalkan yang tertera di sana, lalu berpikir sejenak sebelum berkata, "Baiklah, aku akan pergi bersamamu."

__ADS_1


__ADS_2