Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 50 : Melati


__ADS_3

Mengenakan gaun kecil berenda tipis, Soma Hanah nampak seperti peri bunga melati yang cantik ketika dia berdiri. Dengan senyum murni dan polos di wajahnya, dia menatap Roseta dengan ekspresi wajah yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.


Roseta tersenyum hangat dan duduk kembali di kursinya. Dia mengangkat tangannya dan berkata dengan lembut, "Naiklah, semua orang memiliki kesempatan yang sama."


Penampilan Soma Hanah tampak murni dan mencolok bagi orang-orang. Dia sengaja berdandan untuk perjamuan malam ini, baik itu gaun atau aksesoris yang ia kenakan, semuanya didesain khusus untuk tampil di atas panggung. Ketika dia berdiri di atas sana, mata semua orang berbinar, itu sangat indah, dan ketenangan yang dipancarkannya luar biasa.


Soma Hanah sangat berbakat dengan biola. Jadi, di antara alat musik yang disediakan, dia mengambil biola. Keluarga Soma rela menghabiskan banyak uang untuk melatihnya. Dengan penampilannya yang sudah cantik, begitu dia mengambil biola, pesonanya semakin tak tertahankan. Orang-orang tidak bisa tidak ingin melihatnya. Mereka akan merasa bahwa gadis kecil ini sangat cantik seperti peri.


Mereka mengingat kembali dan membandingkan penampilannya dengan Soma Haruka. Jika Soma Haruka adalah bunga mawar yang dikelilingi oleh banyak duri, maka adik perempuannya ini adalah bunga melati putih yang bersinar di kegelapan.


Soma Hanah tahu bahwa ini adalah kesempatan langka baginya untuk pamer di hadapan masyarakat kelas atas. Dia mengambil napas dalam-dalam dan menarik busur biola. Aula perjamuan menggemakan suara yang merdu dari gesekan biola dan suara nyanyian yang indah.


Soma Haruka menyaksikan adegan ini dengan mata yang dingin. Di satu sisi dia ingin naik ke atas panggung setelah Soma Hanah dan membuat pertunjukan yang lebih baik untuk menghancurkannya, tetapi di sisi lain, dia sudah terlalu banyak menyebabkan masalah hari ini, menambah satu masalah lagi bisa-bisa pandangan orang-orang padanya akan kembali seperti sedia kala. Wanita dari wilayah kumuh yang tidak pantas berdiri di antara mereka.

__ADS_1


Soma Hanah meninggikan hidungnya, dia telah berusaha keras berlatih biola. Jadi, sudah sewajarnya untuk bersikap sombong. Dia bukan cuma menunjukkan suara indah yang penuh ketenangan, tetapi juga profesionalismenya kepada orang banyak dengan standar yang sangat tinggi. Di akhir pertunjukan, semua orang terkesima terlepas dari pengetahuan mereka tentang biola. Itu pertunjukan yang luar biasa di mata mereka.


Maestro Roseta menunjukkan sedikit kelegaannya dengan tersenyum dan menganggukkan kepala, tetapi dia tidak memiliki kegembiraan seperti seseorang yang telah menemukan gadis dengan bakat di atas rata-rata untuk menjadi muridnya.


Maestro Roseta memuji, "Tidak buruk. Keterampilan biolamu sudah sangat bagus. Satu hal yang bisa aku katakan untuk permainanmu adalah, kurangi beban pikiran saat memainkan biola. Menjadi percaya diri itu bagus, tetapi jangan sampai termakan olehnya. Terus kembangkan permainanmu, kamu pasti akan menjadi pemain biola yang hebat di masa depan."


Walaupun ini adalah penilaian terbaik yang diberikan Roseta malam ini, tetapi Soma Hanah tidak merasa puas sama sekali. Dia tersenyum dan berterima kasih padanya dengan rendah hati, tetapi di dalam hati, dia mencibir, "Persetan denganmu wanita tua!"


Menjadi pemain biola yang hebat di masa depan, itu terdengar seperti penghinaan di telinganya, dia dalah pewaris satu-satunya keluarga Soma. Alasan dia mempersiapkan pertunjukan sampai sejauh ini adalah karena dia ingin mendapatkan evaluasi tinggi untuk meningkatkan statusnya sendiri dan status keluarganya. Siapa yang peduli dengan biola, dia hanya ingin menjadi objek pengejaran semua orang.


Sebagai gantinya, dia menoleh ke belakang dan bertanya sambil tersenyum, "Apakah ada lagi yang ingin menunjukkan keterampilannya?" Meskipun itu yang dia katakan, dia tidak lagi memiliki harapan. Di gundukan emas hanya ada tumpukan sampah dan satu keping koin perak, apa yang bisa ia harapkan lagi di tempat ini?


Mendengar pertanyaan Roseta, Yuna Yon tanpa sadar bergerak maju setengah langkah, tetapi dia dengan cepat mundur. Dia menundukkan kepalanya dan menggigit bibir mungilnya.

__ADS_1


Trauma masa lalu yang menyebabkan Yuna Yon menjadi tertutup dan pengecut datang kembali. Setiap kali dia ingin melangkah maju dengan kedua kakinya sendiri, ketakutan akan memakannya mentah-mentah. Setiap kali dia melakukan sesuatu yang salah, seluruh tubuhnya akan gemetar dan kaku seketika.


Setelah dia menerima uluran tangan Soma Haruka hari itu, kondisinya menjadi jauh lebih baik karena kakak laki-laki dan kakak iparnya membantunya merawat tubuh kurusnya dengan sangat baik, sehingga fisiknya sudah menyentuh kondisi normal seorang gadis kecil. Namun, kondisi mentalnya masih sama, bayang-bayang gelap masa kecilnya masih tertinggal dan menghantui setiap waktu.


Yuna Yon tidak membuka mulutnya untuk meminta apa pun, Dia juga tidak berani mengungkapkan keinginannya. Dia sejujurnya sangat bahagia ketika melihat langsung Maestro Roseta dengan kedua bola matanya sendiri.


Dia masih mengingatnya dengan jelas, di hari dia datang ke kediaman keluarga Yon, televisi di ruang tamu menyiarkan sebuah pesta musik. Roseta berdiri di atas panggung dan memainkan gitar, biola, piano, dan banyak alat musik lainnya dengan tingkat keahlian yang luar biasa. Yuna Yon begitu tenggelam dalam pertunjukannya. Rasanya seperti kasih sayang melekat dalam setiap tarikan napasnya dan pusat dunia berotasi di sekitarnya. Maestro Roseta sudah seperti cahaya baginya.


Menyadari kegelisahan Yuna Yon , Soma Haruka mencoba membantu, tetapi ketika dia hendak membungkuk dan mengatakan sesuatu, dia mendengar tawa dan langkah kaki berat datang dari samping.


"Aku dengar Nona Muda ke lima keluarga Yon sangat berbakat memainkan alat musik dan bernyanyi."


Suara itu datang dari seseorang yang belum pernah ditemui oleh Soma Haruka sebelumnya, begitu pula dengan orang-orang di sekitarnya. Melihat bagaimana mereka datang untuk mencari masalah, sepertinya mereka berada di gedung yang berbeda ketika semua orang berebut untuk menciptakan hubungan baik dengan keluarga Yon. Sekumpulan orang bodoh.

__ADS_1


"Tidakkah menurut kalian ini adalah kesempatan langka? Berikan kesempatan emas ini kepada Nona Muda ke lima dan biarkan Maestro Roseta mendengarkan penampilan tingkat tinggi khas keluarga Yon yang mulia." Dia melanjutkan kata-kata jahatnya.


"Hahaha, penampilan tingkat tinggi? Apa yang kamu harapkan dari orang gila dengan penyakit mental?" Beberapa gadis di sekitarnya tertawa terbahak-bahak. Gelombang tawa mereka dipenuhi dengan ejekan dan penghinaan, membuat semua orang menjadi terganggu dan jijik dengan perilaku tidak sopan mereka.


__ADS_2