Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 139 : Mama (12)


__ADS_3

Selain itu, jika dia tidak bisa kembali ke negara ini, itu artinya dia tidak bisa mengendalikan Dean Yon lagi. Investasi masa depannya hilang begitu saja. Dia tidak bisa membiarkan ini. "Aku tidak akan pergi, tidak akan pergi!" Maria Lan memberontak.


Dia maju dan melemparkan dirinya di depan kursi roda Daniel Yon. Bersimpuh di tanah. "Daniel Yon, demi ayahmu dan demi adikmu Dean Yon, tolong lepaskan aku. Aku salah, aku benar-benar tahu aku salah! Aku bersumpah, mulai sekarang, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di keluarga Yon lagi. Tolong biarkan aku pergi kali ini saja, ya?"


Dia menangis. Riasannya yang indah dan sempurna semuanya kacau. Dia tampak sangat menyedihkan, tetapi hati Daniel Yon tidak tergerak. Dia mengusirnya dengan dingin, "Enyahlah!"


"Daniel Yon, tolong jangan lakukan ini." Maria Lan tahu bahwa tidak ada gunanya memohon ampun pada Daniel Yon. Maria Lan kemudian berbalik dan berlutut di depan Soma Haruka. Dia memeluk kaki Soma Haruka. "Nyonya Yon, aku benar-benar tahu kesalahanku. Bukankah kamu mencintai Dean Yon? Tolong biarkan aku pergi karena Dean Yon. Aku ibu Dean Yon. Tolong bantu aku dan minta suamimu untuk menunjukkan belas kasihan."


"Putraku, Dean Yon, cepat kemari!" Maria Lan menarik Dean Yon dengan sangat terburu-buru seolah dia hampir menjadi gila. "Bersujudlah pada kakak iparmu. Minta dia untuk melepaskanku. Cepat lakukan!"


Dean Yon terguncang oleh tarikannya, senyum tragis muncul di wajahnya. Dia menatap ibunya dengan mata memerah. "Ma, Dean telah mengecewakan mereka. Kamu hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri sekarang."


Maria Lan jatuh ke tanah dengan putus asa dan mengutuk dengan liar, "Dasar tidak berguna, bisa-bisanya aku melahirkan sampah! Sialan, padahal wanita lain yang menerima benihnya melahirkan anak yang hebat dan berbakat, mengapa yang aku lahirkan justru si Psikopat idiot yang tidak berguna ini!?"

__ADS_1


"Hentikan!" Soma Haruka tidak tahan lagi. Dia mengangkat tangannya dan menampar Maria Lan. "Memang benar Dean Yon adalah anakmu, tetapi dia punya hak atas kebebasannya sendiri. Maria Lan, apa yang kamu lakukan sangat tidak pantas. Orang sepertimu tidak layak menjadi seorang ibu!"


Mata Soma Haruka sedingin es dan nada suaranya tegas. "Berhenti merendahkan dirimu di bawah kakiku. Tidak peduli berapa banyak kamu memohon, aku tidak akan membiarkan kamu pergi begitu saja. Kamu akan bertobat atas apa yang telah kamu lakukan selama ini untuk sisa hidupmu berikutnya.",


"Apa hakmu untuk mengkritik diriku!?" Maria Lan tidak dapat menerimanya. "Apa kamu berpikir kamu lebih baik daripada aku? Munafik! Kamu hanyalah gembel tidak berpendidikan yang beruntung, itu saja! Jujurlah, kamu pasti ngiler saat tahu kekayaan keluarga Yon, kan? Kamu tidak bisa menyembunyikan keserakahanmu. Jadi, kamu bersedia menikahi orang cacat setengah gila demi uang. Apa bedanya kamu dan aku!?"


"Dean Yon!" Maria Lan berteriak dengan marah ketika penjaga mulai memegangi tangannya, hendak menyeretnya. Dia melihat sekuntum bunga dengan kuncup bunga yang sepertinya sebentar lagi akan mekar. Melihat ini mengingatkan Maria Lan pada artikel yang dia cari di internet sebelum dia datang ke sini. Tidak ada foto yang memperlihatkan anggrek Tuan Tua Asarahan, tetapi saksi matanya banyak. Dengan itu, artikel yang memuat berita ini menuliskan derkripsi dan ciri-ciri dari anggrek Tuan Tua Asrahan.


"Kamu tidak berbeda denganku, Soma Haruka! Suatu hari nanti, kamu juga akan berakhir sepertiku!" Maria Lan berkata dengan kejam saat dia mengerahkan semua tenaganya untuk melepaskan diri. "Aku akan membalas dendam, tunggu saja! Aku akan menyeret kalian semua ke neraka bersamaku!"


Adegan itu menjadi sunyi senyap. Setelah beberapa saat, Soma Haruka menghela napas pelan dan berkata, "Menyedihkan, sangat berani untuk seseorang yang tidak tahu apa-apa." Daniel Yon mengangguk setuju. "Sangat berani."


Soma Haruka tidak tahu apakah dia harus pergi dan menghancurkan fantasi indah Maria Lan atau membiarkan Maria Lan membenamkan dirinya dalam kegembiraan balas dendam.

__ADS_1


"Ma, itu bukan anggrek yang kamu cari." Dean Yon mengangkat kepalanya dan berbicara. Dengan air mata yang membasahi pipi, dia tertawa dengan sinis. "Maaf, itu hanya anggrek biasa. Kakak ipar tahu bahwa kakak perempuanku tertarik menanam anggrek. Jadi, dia meminta kakak laki-lakiku membiarkan mereka menanam yang itu sebagai pengisi kegiatan. Ma, tolong berhenti, kamu terlihat sangat bodoh sekarang."


Melihat kelopak bunga yang berserakan di tanah, Dean Yon memegangi wajahnya yang tidak bisa menghentika tawa mengerikannya. Iblis yang bersarang di hatinya kini mencoba menggambil alih tubuhnya, dia tidak ingin kegilaan melahapnya, tetapi ini yang dia perlukan untuk menghadapi masalah ini. Dean Yon memiliki hati yang terlalu baik dan lemah penurut. Dia membutuhkan kepribadian lain yang jauh lebih kuat.


"Kamu benar, Ma. Yang kamu lahirkan seonggok sampah yang bodoh. Sampah ini merindukan cinta keibuan dari wanita bodoh dan beracun sepertimu. Benar-benar bodoh."


Daniel Yon sadar kalau emosi adik termudanya sudah tidak terkendali, dia tahu bahwa lelucon ini harus segera berakhir. Daniel Yon berkata dengan suara yang dalam, "Bawa Nyonya Maria pergi dari sini."


Segera, pengawal membawa Maria Lan yang meratap tanpa henti. Sayang sekali banyak bunga yang tidak bersalah telah rusak. Soma Haruka melirik rumah kaca yang berantakan dan mengangkat tangannya ke Tuan Tua Asrahan. "Anggrek Anda ada di rumah kaca kecil khusus di sebelah. Karena kita sudah di sini, mengapa kita tidak pergi dan melihatnya bersama?"


Setelah pengalaman mendebarkan tadi, para tetua tidak peduli tentang saat bunga mekar. Mereka semua mengangguk dan pergi melihat anggrek mereka yang berharga. Rumah kaca kembali tenang. Dean Yon berlutut di bunga-bunga di seluruh lantai seperti patung, dia tidak bergerak untuk waktu yang lama.


Anggrek Soma Haruka tumbuh dengan sangat baik. Tuan Tua Asrahan puas dan senang. Para tetua ini adalah semua orang yang menyukai bunga. Setelah melihat kemampuan Soma Haruka, sikap mereka terhadapnya menjadi semakin ramah. Sebelum mereka pergi, mereka semua meninggalkan detail kontak mereka dan berulang kali mengingatkan Soma Haruka untuk tetap berhubungan.

__ADS_1


Setelah mengirim semua orang pergi, Soma Haruka memandang Daniel Yon yang sedang duduk di kursi roda. Tatapannya yang dingin menyapu kakinya, dan dia berkata dengan senyum menyeringai, "Suamiku, apakah duduk di kursi roda lebih nyaman?" Daniel Yon terkejut, tetapi dia masih bisa tetap tenang menghadapi pertanyaan ini. Dia menegangkan tubuhnya, membuka mulutnya hendak berbicara, tetapi Soma Haruka mendehuluinya.


__ADS_2