Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 15 : Detak Jantung


__ADS_3

Stamina Darel Yon yang menipis membuat serangannya menjadi tak berisi dan mulai melambat, hanya menunggu kesempatan bagi Soma Haruka untuk mengalahkannya.


"Dapat!" batin Haruka. Tungkai paha Darel Yon tertaut dengan lengannya, dengan sedikit dorongan dan sapuan pada kaki satunya, Darel terbanting mencium aspal masih dengan kakinya yang ditarik ke atas.


Soma Haruka berpikir keras harus bagaimana ia mengakhiri ini semua, ada banyak teknik yang terpikirkan olehnya, tetapi ada lebih banyak teknik yang tidak bisa ia lakukan dengan baik mengingat kondisi tangannya yang cedera cukup parah.


Saat Haruka terdiam, Darel Yon membuka mulutnya, "Harusnya kamu tidak berada di sini."


Soma Haruka memperkuat cengkramannya, matanya melebar ketika Darel Yon menatapnya dengan dingin. "Aku ini kakak iparmu, apa kamu pikir aku akan diam saja melihat adik iparku mendatangi maut?"


Darel Yon menutup matanya dengan tangan. Air matanya jatuh, tetapi mulutnya tertawa terbahak-bahak. Orang-orang akhir-akhir ini menjadi sangat senang sekali mengganggunya, mereka semua berpikir kalau dia bodoh dan tidak akan menyadari bahwa kekhawatiran mereka padanya adalah palsu.


Reaksi gila Darel membuat Haruka merinding. Dia ingin segera menyeretnya ke dalam mobil, tetapi Darel menyela, "Maksudku, kamu harusnya tetap berada di sisi Daniel Yon. Sesuatu yang buruk mungkin sedang terjadi padanya." Mata Darel Yon melengkung bagai bulan sabit, seringai yang timbul di wajahnya membuat Haruka ingin menghantamkan batu tepat ke mukanya.


Haruka mencengkram kerah Darel, menekan tubuh besar laki-laki itu ke aspal. "Darel Yon, yang barusan kamu katakan, apa maksudnya itu?" tanya Haruka dengan penuh intimidasi.


Darel memalingkan wajahnya, dia tidak mampu menatap wajah wanita cantik lebih dari tiga detik. Lebih dari itu dia tidak akan sanggup dan sesuatu yang buruk mungkin akan bangkit.


"Kamu sebaiknya cepat, malam ini bulannya sangat cocok untuk mati," sambung Darel Yon memperingati.


"Darel Yon, jawab pertanyaanku!"


Haruka bersikeras untuk mengantongi jawabannya, tetapi sebuah truk lewat di jalan itu dan membunyikan klakson menyuruh mereka menepi.

__ADS_1


Haruka mau tidak mau melepaskan cengkramannya dan pada saat itu juga Darel Yon melarikan diri, masuk ke gang sempit dan Haruka tidak bisa lagi menemukan jejaknya yang terhapus oleh gelapnya malam.


Haruka sebenarnya masih ingin menangkap Darel Yon, tetapi peringatan Darel sebelumnya terus membuatnya kepikiran. Haruka segera membalik arah mobilnya dan kembali ke kediaman Yon dalam keadaan khawatir.


Di kediaman keluarga Yon, suasananya tenang, tidak ada keributan sama sekali. Satu-satunya yang salah mungkin tentang Haruka yang terus mengumpat Darel Yon di dalam hati. Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada dibodohi oleh orang yang dianggap bodoh.


Setelah mengganti pakaiannya yang penuh dengan bercak sepatu Darel, Haruka yang berpapasan dengan Daniel dan memutuskan untuk membantunya kembali ke ruangannya. "Apakah ada yang bisa aku bantu lagi?" tanya Haruka.


Ketika mendengar pertanyaan itu, Daniel masih tersenyum. Matanya penuh kebahagiaan, dan tatapannya tidak dipenuhi dengan rasa kasihan atau keintiman yang dipaksakan. Sebaliknya, itu seperti reaksi normal antara suami dan istri.


Haruka tidak menemukan masalah, Darel benar-benar membodohinya dengan baik. Daniel Yon menatap Haruka cukup lama sebelum dia mengalihkan pandangannya kemudian menjawab, "Tidak."


"Tuan."


Kepala Pelayan Hans memanggil dari balik pintu dengan membawa nampan di tangannya. "Tuan, ini sudah waktunya meminum obat," kata Hans setelah Haruka membukakan pintu.


Soma Haruka merasakan ada sesuatu di antara mereka yang tidak beres. Dia mengambil nampan dan berkata sambil tersenyum, "Kepala Pelayan Hans benar. Ini sudah larut. Semakin cepat kamu minum obat, semakin cepat kamu bisa beristirahat."


Haruka membungkuk sedikit. Garis leher pada gaun tidur sutranya sedikit rendah, jadi ketika dia membungkuk, dia tanpa sadar memperlihatkan tulang selangka dan dadanya yang indah.


Daniel Yon membuang muka dengan tiba-tiba dan secara naluriah mengangkat tangannya, "Aku bilang tinggalkan saja di sana untuk saat ini!" bentaknya.


Bang!

__ADS_1


Punggung tangannya mengenai nampan, menjatuhkan pil putih dan segelas air ke tanah. Kaca pecah menciptalan suara yang renyah.


Tatapan Daniel sedikit membeku, permusuhan dan kebencian muncul di matanya. Dia mengangkat suaranya dan meraung dengan marah, "Keluar! Kalian semua keluar!"


Soma Haruka tetap tenang. Meskipun Daniel tampak menyeramkan saat ini, dia masih membungkuk, dengan tenang menatapnya, dan menggoda, "Daniel, jangan bilang kamu takut minum obat? Kamu sudah dewasa."


Soma Haruka tidak tahu bagaimana harus membujuk seorang pria yang sudah dewasa, selama ini jika ada yang tidak sesuai dengannya, Haruka pasti akan menggunakan kekerasan, tetapi ia tidak bisa melakukan itu kepada Daniel.


Meski Haruka sudah memutar kepalanya, tetapi dia benar-benar buntu. Haruka mengeluarkan lolipop jeruk dan berbicara kepadanya dengan nada imut dan lembut, "Daniel, ayo makan obatmu. Kalau kamu mau melakukannya aku akan memberimu lolipop ini, oke? Ini sangat manis." Seolah-olah dia sedang membujuk seorang anak kecil.


Daniel Yon secara naluriah mengangkat matanya untuk menatapnya. Rambut hitam panjang alaminya jatuh ke bahu, membuat kulitnya terlihat seperti sepotong batu giok putih. Wajahnya yang lembut penuh dengan senyuman seolah-olah dia adalah malaikat yang memberi rahmat.


Wanita itu sangat cantik, muda, memiliki temperamen yang baik, dan memiliki kepribadian yang baik pula. Dia pantas mendapatkan yang terbaik di dunia, dan tidak seharusnya menderita bersamanya.


Wajah Daniel tiba-tiba menjadi pucat. Telapak tangannya yang besar mencengkeram pegangan kursi rodanya dengan erat dan butiran keringat dingin menetes di dahinya.


"Daniel!"


Soma Haruka baru menyadari bahwa kondisi Daniel tidak benar. Dia dengan cepat meraih pergelangan tangannya yang tegang, dan bertanya dengan cemas, "Daniel, ada apa? Apakah kamu merasa tidak sehat?"


Kepala Pelayan Hans juga menjadi cemas. "Apakah kaki Anda sakit, Tuan?" Dia dengan cepat membuka laci dan mengeluarkan botol obat kecil. Dia menuangkan segenggam pil putih. "Tuan, cepat minum ini."


Soma Haruka melirik botol itu dan segera mengambilnya. Setelah membaca kata-kata di botol, matanya melebar tak percaya. "Kamu ingin memberinya ini?"

__ADS_1


Pil ini bisa menjadi adiktif jika diminum dalam waktu lama. Daniel Yon tidak meminum obatnya dengan benar, tetapi malah meminum pil berbahaya ini. Haruka tidak habis pikir, kalau keluarga Yon sekacau ini, pasti ada seseorang dibaliknya. ini sangat tidak alami.


Setelah minum pil, Daniel Yon tampaknya telah kehilangan semua kekuatannya. Wajahnya pucat saat dia bersandar di kursi rodanya dengan kesadaran yang mulai menipis.


__ADS_2