Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 116 : Pembela Kebenaran!


__ADS_3

Dean Yon menahan telinganya yang terbakar dan meminum susu di gelasnya dengan bingung. Kemudian, dia buru-buru mengambil tasnya dan berseru dengan kaku, "Aku sudah selesai makan. Aku akan pergi ke sekolah sekarang. Sampai jumpa Kakak ipar. Sampai jumpa kakak laki-laki. Sampai jumpa kakak perempuan!" Dia berlari ke pintu untuk mengganti sepatunya dan tidak berani menatap mata Soma Haruka yang tersenyum lagi. Namun, telinganya ditingkatkan untuk bisa menangkap suara-suara yang datang dari ruang makan.


"Kakak ipar, bagaimana denganku?" Marina Yon adalah yang terbaik dalam berakting genit. "Ak-aku tahu aku sudah besar, tapi..." Marina Yon berpura-pura. "Iya, lain waktu, jika kamu membutuhkan, aku akan ada untukmu." Soma Haruka mencubit pipi tembamnya dengan geli.


Mayuna Yon memandang dengan iri dan penuh kerinduan. Dia memanggil dengan suara rendah, "Kakak ipar, Yuna..." Dia ingin mengatakan sesuatu tetapi ragu-ragu. Dia terlalu malu untuk bertindak genit seperti Marina Yon. Namun, tanpa sadar sudah melakukannya. "Tentu saja, aku akan selalu ada untuk Yuna."


Soma Haruka menggelengkan kepalanya tanpa daya. Dia melirik David dan Dean Yon yang juga menatapnya dengan cemas dan dia tidak bisa menahan tawanya. Dia menganggukkan kepala, sehingga dua laki-laki itu memalingkan wajah dengan malu.


Daniel Yon dan Darel Yon menurunkan mata mereka secara bersamaan. Bagi Daniel Yon, adik-adiknya terlihat seperti pengganggu yang suka merusak pemandangan. Ada begitu banyak saudara dan saudari. Mereka semua harus diusir dari rumah dan hidup sendiri.


Setelah makan, David Yon duduk di sofa dengan gelisah. Dia tidak memegang ponselnya dan bermain game sepanjang hari seperti sebelumnya. Dia duduk di sofa dan bergerak seperti belatung. Itu merupakan pemandangan yang menjengkelkan untuk disaksikan.


"Apa kamu juga melukai pantatmu? Duduk dengan benar!" Darel Yon yang sedang duduk di sofa di sampingnya tidak bisa menahan gangguannya lagi. Dia berdiri dan dengan marah berkata, "Tingkah lakumu semakin terbalik kian waktu, tidakkah aku sudah katakan padamu untuk pergi ke Rumah Sakit? Pergi sana!"

__ADS_1


"Berisik! Tempat ini adalah rumahku dan pantat ini adalah pantatku sendiri. Aku bisa memindahkannya sesukaku. Dasar orang jahat!" David Yon menggosok luka kecil di kepalanya dengan tidak sabar dan tanpa sengaja menekannya. Dia meringis kesakitan, tetapi dia tidak lupa mengumpat, "Orang kasar dan jahat sepertimulah yang seharusnya pergi dari rumah ini!"


Soma Haruka sedang berkomunikasi secara daring dengan Sintia Wang tentang dana amal. Ketika dia mendengar suara berisik mereka, dia menatap dengan wajah frustrasi. "Apa lagi sih yang kalin ributkan? David Yon, apa ada yang salah dengan lukamu? Ini masih pagi, jangan membuat masalah!" Dia mengangkat dagunya dan menunjuk ke arah kursi di seberangnya. "Duduk di sini dan bicara denganku."


Daniel Yon yang sedang membaca dokumen di samping, juga mengangkat kepalanya dan melihat dengan tenang dengan matanya yang gelap. Ditatap seperti itu oleh keluarganya, David Yon merasa semakin tidak nyaman. Dia menggaruk telinganya dan meletakkan lengan dan kakinya yang panjang dalam posisi yang patuh.


"Kakak ipar, aku..."


Dia tidak berbicara dan tidak bergerak untuk waktu yang lama, tetapi dia masih belum bisa merancang kalimat mengenai apa yang ingin dia sampaikan. Melihat keidiotan ini, Marina Yon jadi mengkhawatirkannya. Dia mendesak, "Kakak Ke dua, ada apa? Kita semua adalah keluarga, apa yang membuatmu malu? Tunggu, bukannya biasanya kamu memang tidak pernah malu-malu? Ada apa denganmu?" Dia menjadi bingung sendiri.


"Saudara? Saudari?" Dia menatap wajah mendukung adik dan kakaknya dengan dalam, dan itu membuat energi keberanian mengalir deras dalam darahnya. Dia menganggukan kepalanya dan tekad terbakar di matanya yang cerah. "Kak, sejujurnya aku merasa sangat malu dengan apa yang terjadi kemarin. Aku merasa tidak berguna, dan dikalahkan dengan satu pukulan yang bodoh oleh penjahat sampingan." Sepanjang hidupnya, David Yon jarang merasa malu. Dia hidup dengan penuh percaya diri dan kepahlawanan(???), penghinaan seperti ini tidak dapat diterima.


David Yon kemudian menutup matanya dan melanjutkan, "Jadi, Saudara dan Saudariku yang aku cintai! Tolong izinkan aku untuk mengasah kemampuan seni beladiriku, agar aku... bisa menghukum para penjahat!!!"

__ADS_1


"Hedeh, dasar idiot." Darel Yon yang telah mendengarkan dengan penuh perhatian untuk waktu yang lama, merasa sangat kecewa. "Lupakan soal Rumah Sakit, ayo isolasi dia di ruang bawah tanah. Yang setuju angkat tangan kalian." Darel Yon mengangkat kedua tangannya.


"Hentikan itu Darel Yon!" Daniel Yon membentaknya dan menghentikannya untuk melanjutkan penghinaannya, "Biarkan David Yon menyelesaikan kata-katanya."


Mendengar ini, Darel Yon menepuk dahinya sekali lagi. "Serius? Kalian lebih menyukai dirinya yang seperti ini?" Darel Yon meneruskan ketidaksukaannya. Sehingga ini menyulut amarah di hati Daniel Yon, dia menggeram, "Darel Yon, bisakah kamu berhenti?"


"Cih, baiklah-baiklah. Hedeh, aku harus memukul kepalanya lain waktu agar normal kembali. Aku lebih suka dia yang depresi dan putus asa." Darel Yon terus mengoceh, tetapi dengan suara yang rendah.


"Ehem! Saudari Iparku, sejujurnya aku... mempunyai sebuah mimpi!" David Yon melanjutkan kata-katanya dengan penyesuaian nada dramatis, ini membuat Darel Yon hampir menendang kepalanya. "Aku tahu bahwa aku tidak layak untuk ini karena masa laluku yang gelap, tetapi aku..." David Yon berhenti untuk sesaat dan tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


Jadi, dia memulai sandiwaranya dari awal. "Aku tidak pandai berbisnis dan aku tidak memiliki keahlian khusus yang bisa dibanggakan. Dalam kehidupan ini, aku mungkin hanya anak generasi kedua kaya raya yang hanya tahu bagaimana membuat masalah."


Dia sudah terlalu lama menikmati kehidupan kotor ini, memanggil teman-temannya untuk nongkrong dan bermain-main dengan minuman keras dan wanita. Dia tidak merasa ada yang salah dengan itu. Namun, entah kenapa, dia tiba-tiba merasa hidupnya terlalu menyimpang dari kebenaran. Kehidupan tanpa keadilan di dalamnya adalah suatu pemborosan yang sangat besar.

__ADS_1


Kehidupan membosankan seperti ini tanpa tujuan dan cita-cita bukanlah kehidupan yang nyaman, tetapi sebuah lubang kehampaan yang tak berujung. Dia ingin berubah, tetapi dia dengan canggung menyadari bahwa dia benar-benar tidak pandai dalam hal apa pun.


__ADS_2