
"Lukisan ketiga, bisa dilihat bahwa Sang Ksatria Keadilan, menginginkan cara untuk menyelamatkan dunia dari ramalan yang ia lihat dari Surga. Jadi, dia membangun benteng yang tangguh dengan bantuan semua orang. Dia masih membutuhkan Pedang Keadilan demi menghadapi masa depan dalam ramalan, tetapi kehadiran Pedang Keadilan di masa ini hanya akan menjadi bencana. Jadi, sang Ksatria membagi pedang keadilan menjadi tiga dan memisahkan jiwa pedang. Dia berharap Pahlawan Masa Depan akan menyatukan semua pecahan pedang keadilan dan membawa kedamaian dunia."
David Yon mengepalkan tinjunya dan melepaskannya ke udara, dia sangat bersemangat dengan cerita heroik semacam ini. Darel Yon frustasi, dia tidak bisa membuat kakaknya ini berhenti karena dia sendirilah yang memintanya untuk menafsirkan lukisan. Jadi, dia berpura-pura tertarik. "Jadi, jika pemeran utamanya diganti menjadi Keluarga Yon, maka hasilnya menjadi, Ksatria Keadilan adalah kepala keluarga Yon, Pedang Keadilan adalah kekuasaan, dan Pahlawan masa depan adalah kepala keluarga berikutnya? Begitu?"
David Yon menatapnya dengan wajah bodoh, dia dengan bingung menjelaskan, "Huh? Aku tidak berpikir sampai sejauh itu. Lukisan ini tentang keluarga kita?" Dia terlihat sangat polos, Darel Yon tidak bisa melawannya. "Baik-baik, mari anggap saja begitu. Lanjutkan dan selesaikan." Dia merasa muak sendiri.
"Di lukisan keempat, terlihat jiwa pedang yang dipisahkan berubah menjadi manusia dan berjalan terpisah dari sang ksatria. Jiwa pedang berjuang untuk hidup di lingkungan yang buruk. Banyak orang yang tidak menyukai kehadirannya yang bagai cahaya. Di sisi lain, keluarga Ksatria di bentengnya menghadapi masalah internal karena terpisahnya tiga bagian pedang keadilan. Mereka mulai saling menyakiti dan mencoba mengambil gelar Ksatria Keadilan untuk diri mereka sendiri."
Mendengar betapa lancarnya David Yon menafsirkan lukisan, Daniel Yon menjadi cukup tertarik dengannya. Dia juga mulai memperhatikan kata-kata David Yon dan sama seperti Darel Yon, dia mulai mengganti beberapa tokoh di cerita ini agar cocok dengan keluarga Yon. Bagaimanapun, ini adalah lukisan tentang keluarga mereka, bukan kisah Ksatria Keadilan yang diharapkan oleh David Yon.
"Ehem, lalu kian waktu pun berlalu, kegelapan dalam ramalan akhirnya tiba, Jiwa Pedang kembali ke benteng sang Ksatria keadilan dan mendamaikan keluarga itu. Dia membimbing seorang pahlawan untuk menyatukan pedang keadilan." Melihat keseriusan adik dan kakaknya saat mendengarkan kata-katanya, David Yon merasa bangga. Dia secara terang-terangan melebarkan dadanya dan meninggikan hidungnya. Dia akhirnya bisa membuat saudara-saudaranya yang seperti bintang di langit kagum dan bersedia mendengarkan kata-katanya yang bagaikan serangga dengan serius.
__ADS_1
"Apa ini? Sial, aku tidak menyukai plot akhir seperti ini." David Yon terkejut saat dia hendak membaca lukisan terakhir. Dia menggigit bibirnya sendiri dan wajahnya menjadi masam. "Apa? Katakan apa yang kamu lihat?" Daniel Yon ikut gugup dan penasaran.
David Yon memalingkan wajahnya dari lukisan dan dia merasa jijik. "Sang Pahlawan dalam ramalan dan Pedang Keadilan, akan bertarung dan menang melawan masa depan yang gelap. Namun, dia kehilangan semuanya. Dia satu-satunya yang berdiri di tanah yang hancur. Dia kehilangan semuanya, rasa kehilangan melahap kewarasannya, dan akhirnya menjadi gila. Sang Pahlawan pada akhirnya menghancurkan dunia."
Daniel Yon dan Darel Yon yang mendengar ini segera merinding. Darel Yon menyeringai saat dia berkata, "Lukisan ini adalah sejarah dari awal hingga akhir keluarga Yon." Daniel Yon menganggukkan kepalanya, "Sebuah ramalan akurat yang sangat menjijikan."
Darel Yon menatap lukisan pertama. "Di saat perang besar dunia bisnis berkecamuk memperebutkan Distrik Pusat. Sebuah pedang yang disebut Keluarga Yon muncul sebagai penengah, menghentikan perang dan menstabilkan Distrik Pusat di bawah kekuasaannya."
Darel Yon berpindah ke lukisan ke tiga. "Kepala keluarga waktu itu tidak ingin kejadian ini terulang kembali. Jadi, dia menciptakan 'Peraturan dan tradisi', membuat tiga kekuatan berdasarkan tiga bagian dari plakat emas berlian hitam. Dia berharap niat baik yang diwujudkan sebagai malaikat di sini, akan tersampaikan ke generasi selanjutnya."
Daniel Yon merinding mendengar hal ini. Sekujur tubuhnya menggigil, sudah tidak sanggup lagi menafsirkan isi ramalan dalam lukisan. Melihat hal ini, Darel Yon menghela napas dan mengambil alih. "Generasi berputar, keluarga Yon akhirnya terpecah belah satu kali lagi. Keluarga Yon dilahap oleh kegelapan dan kembali terpecah belah menjadi beberapa kubu. Di sisi lain, niat baik yang diharapkan oleh kepala keluarga sebelumnya kini sudah hadir ke bumi. Niat baik itu menjelma menjadi seorang wanita yang lahir di kumpulan para sampah."
__ADS_1
Daniel Yon menyeringai dengan putus asa, "Wanita itu adalah Soma Haruka, benar?" Ada rasa pahit yang menyakitkan di hatinya saat Darel Yon menganggukkan kepalanya setuju. Kecelakaan yang membuatnya lumpuh, tunangan yang berkhianat, dan pernikahan dengan orang asing yang dilakukan tanpa kehadiran kedua mempelai. Rasanya sangat mengerikan ketika ada sosok tidak diketahui mengatur hidupnya dari jauh.
"Huh? Mengapa wanita ini bisa menjadi Kakak Ipar?" David Yon bertanya dan mulai merasa takut dengan aura suram yang keluar dari tubuh dua saudara laki-lakinya. Melihat betapa seriusnya ini, dia tidak bisa untuk tidak merasa takut. Darel Yon menganggukkan kepalanya dan menunjuk ke arah lukisan ke lima. "Lihat ini, Wanita ini keluar dari tempat tinggalnya yang kotor dan masuk ke dalam istana, ya, istana keluarga Yon."
David Yon menatap kembali ke arah lukisan dan dengan gemetar bertanya, "Apa kamu yakin? Jika benar, ini... sudah berada di tingkat yang mengerikan."
"Perlu kamu ingat, betapa kacaunya keluarga Yon sebelum kedatangan Soma Haruka, tetapi saat dia datang, keluarga Yon yang saling membenci satu sama lain menjadi damai kembali dan dia membimbing kita, para ahli waris, untuk menjadi lebih baik. Mendorong bakat kita, untuk menciptakan pemimpin keluarga Yon yang layak." Setelah mendengar penjelasan Darel Yon ini, David Yon merasa tubuhnya tanpa tulang, semangatnya yang membara kini padam. Dia merasa ada seseorang yang menatap punggungnya dari jarak yang sangat jauh.
"Bagaimana dengan lukisan terakhir?" Mata gelap Daniel Yon memudar saat dia bertanya dengan suara sedih. Namun, Darel Yon tidak bisa menjawab pertanyaan ini. "Darel Yon, katakan padaku! Bagaimana dengan lukisan terakhir itu!? Apa yang tertulis di sana!?" Daniel Yon meninggikan suaranya sehingga beberapa langkah kaki terdengar berlari menuju ruangan mereka.
Darel Yon menghela napas dengan berat. "Mari kita lupakan lukisan terakhir. Jangan pernah memikirkan tentang itu dan jangan sekali-kali mencoba menafsirkannya. Kita tidak bisa menanggung beban lebih dari ini." Darel Yon memasang ekspresi kemarahan palsu ketika dia keluar dari ruangan, membiarkan orang-orang di luar mengira bahwa mereka tadi bertengkar.
__ADS_1