
Dia seperti gadis murahan yang tidak memiliki harga diri. Dia minum satu demi satu gelas-gelas itu seolah-olah dia belum pernah melihat sesuatu yang enak sebelumnya. Itu sangat memalukan. Namun, sangat bagus bahwa Soma Haruka masih hijau dan tidak berpengalaman. Bibi Namira Krisan pikir dia bisa dengan mudah membodohinya.
"Haruka, Bibi kemari mencarimu untuk berbicara denganmu tentang sesuatu. Bibi yakin kamu akan menyukainya." Senyum di wajah Bibi Namira Krisan mekar. Dia bertepuk tangan dengan berlebihan dan berkata, "Bibi dengar dari putra Bibi, kamu membuka perusahaan investasi baru-baru ini."
"Benar, aku baru saja membukanya." Soma Haruka tetap tanpa ekspresi. "Sebenarnya, aku juga tidak mengerti akan hal-hal seperti ini. Jadi, semuanya ditangani oleh asisten yang aku pekerjakan. Aku mendengar bahwa bisnis ini memiliki pengembalian yang cepat. Pengembaliannya bisa beberapa kali lebih tinggi jika aku beruntung berinvestasi dalam proyek yang tepat." Soma Haruka tertawa dan mengungkapkan ekspresi yang sedikit serakah di wajahnya. "Melipat gandakan uang itu bagus. Semakin banyak pun semakin bagus."
Bibi Namira Krisan menjadi lebih bersemangat. Merupakan hal yang sangat bagus baginya bahwa Soma Haruka adalah wanita yang serakah. Sebagian besar gadis yang menikah dengan orang kaya memiliki pemikiran yang sama. Mereka secara tiba-tiba memegang setumpuk uang di tangan mereka dan karena mereka menganggap diri mereka sebagai orang yang pintar, mereka akan mencoba untuk menggandakannya. Sesuatu yang tidak mereka ketahui adalah, dunia lebih kejam dari yang mereka duga dan pada akhirnya, semua uang itu akan masuk ke saku orang-orang yang licik.
"Bagus kalau kamu punya ide seperti itu. Bibi sangat mendukungmu untuk berinvestasi," kata Bibi Namira Krisan sambil tersenyum. "Kita para wanita, meskipun dapat menikmati hidup mewah dengan menikahi laki-laki dari keluarga yang baik, dan tidak perlu khawatir untuk menjalani kehidupan glamor. Kita masih harus punya uang sendiri, jika sewaktu-waktu hal-hal buruk datang ke dalam pernikahan kita, kita masih bisa tertawa." Senyumnya menjadi seringai saat dia menarik napas untuk melanjutkan.
"Sebagai contoh, Bibi telah berinvestasi dalam beberapa proyek yang sebagian besarnya." Bibi Namira Krisan melihat ke kiri dan ke kanan dan berbisik ke telinga Soma Haruka seolah-olah dia sedang berbicara tentang sesuatu yang sangat rahasia. "Berlipat ganda hingga sepuluh kali lipat. Apakah kamu tahu apa artinya hal itu? Hanya dengan menginvestasikan satu juta ke dalamnya. Dalam sekejap mata, itu telah menjadi sepuluh juta." Dia menekankan kata-katanya.
__ADS_1
"Sepuluh kali lipat dalam sekejap mata? Bualan yang lucu," batin Soma Haruka. Mata Soma Haruka menjadi dingin, dia tahu bahwa Bibi Namira Krisan sedang mencoba untuk menipunya. Oleh karena itu, dia bereaksi seperti yang Bibinya harapkan dan tidak menunjukkan rasa jijiknya. Dia bertanya dengan mata penuh minat, "Benarkah? Asistenku berkata bahwa proyek yang sedang kami investasikan baru-baru ini tidak akan dapat mengembalikan uang untuk sementara waktu. Di mana kamu berinvestasi, Bi? Bisakah kamu memperkenalkannya padaku?"
"Dalam hal ini." Bibi Namira Krisan berpura-pura gelisah agar Soma Haruka melihat bahwa dia tampak bermasalah. "Ini adalah cara Bibi untuk menghasilkan uang. Dari sudut pandang tertentu, ini bisa dianggap sebagai rahasia dagang."
"Bibi, bukankah kita ini keluarga? Tidak bisakah kamu memberitahuku?" Soma Haruka berpura-pura cemas. "Bagaimanapun, aku adalah keponakan iparmu. Masalah ini antara Bibi dan aku saja. Tidak akan ada orang lain yang akan mengetahuinya!"
"Haduh..." Bibi Namira Krisan berpura-pura terbujuk dan merendahkan suaranya. "Baiklah, aku akan memberitahumu karena darah lebih kental dari air. Namun, tolong jangan sampai orang lain mengetahuinya."
Setelah Soma Haruka mengangguk, dia melanjutkan, "Model bisnis di negara ini telah dibuat agar hanya pemegang kekuasaan seperti kepala keluarga saja yang bisa bermain di dalamnya. Jadi, semut kecil seperti kita harus berinvestasi dalam perdagangan luar negeri jika kita ingin menghasilkan uang."
Bibi Namira Krisan dengan bangga mengulurkan telapak tangannya dan membaliknya. Mata Soma Haruka berbinar. Dia bertanya dengan cemas, "Benarkah? Lalu, Bibi, bisakah kamu membiarkan aku ikut berinvestasi di sana? Aku ingin berinvestasi dan mendapatkan keuntungan seperti Bibi!"
__ADS_1
"Hmm?" Bibi Namira Krisan merenung sejenak dan akhirnya berkata, "Baiklah, dana disini sudah penuh. Namun, tentu saja Bibi harus membantumu karena kita adalah keluarga. Beri tahu Bibi berapa banyak uang yang kamu miliki, Bibi akan membawamu untuk berinvestasi di sana."
Tangan Soma Haruka yang terkepal sudah terasa sangat gatal. Tidak ada uang yang mudah di dapat di dunia ini tanpa pengorbanan. Tingkat pengembalian yang tinggi? Tidak mungkin tingkat investasinya sepuluh hingga dua puluh kali lipat dari uang yang diinvestasikan. Apalagi namanya kalau bukan sebuah penipuan?
Darel Yon bisa untung sedemikian banyak pun, karena dia memanfaatkan kekuasaannya sebagai pemegang berlian hitam keluarga besar Yon. Dia jauh-jauh hari memaksa para petani untuk menjual lahan mereka kepadanya sembari menyebar rumor buruk, membayar kelompok kriminal, dan melepaskan hewan liar.
Dia juga membeberkan informasi ke media bahwa Maestro Roseta dan beberapa orang legenda lainnya tinggal di pemukiman lahan basah, sehingga hal ini menyebabkan publik gempar dan dalam sekejab pemukiman lahan basah kelebihan populasi dan peminat. Mendorong pemerintah untuk membuat kota baru di sekitaran Distrik Pusat.
Singkatnya, untuk mendapatkan keuntungan tinggi dalam waktu yang singkat, Darel Yon memanfaatkan semua yang ia miliki dan tidak ragu membuang kemanusiaannya untuk kemudian menjadi iblis. Dia mempertaruhkan hidup dan matinya ke ratusan hektar tanah yang ia beli.
Soma Haruka mencibir dalam hatinya. Dia memasang tampang meyakinkan. "Daniel Yon memberiku seratus miliar rupiah untuk modal awal." Dia dengan bangga mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. "Jika itu tidak cukup, aku juga memiliki kartu hitam tanpa batas ini yang diberikan Daniel Yon sebagai tanda pernikahan kami berdua."
__ADS_1
Napas Bibi Namira Krisan hampir berhenti. Dia tidak tahu bahwa keponakannya sangat murah hati kepada istri kecilnya. Dia memberinya seratus milliar dan bahkan memberinya kartu hitam tanpa batas. Karena istrinya sangat cantik? Bibi Namira Krisan tidak peduli dengan alasannya, yang jelas, saat ini ada orang bodoh yang picik dengan sejumlah besar uang di depannya. Ini seperti anak kecil yang memainkan ponsel pintarnya di tepi jalan. Sangat mudah untuk mencurinya.
Bibi Namira Krisan menunjukkan sifat serakahnya. Dia mengangguk tanpa ragu. "Cukup. Itu sangat cukup. Ayo buat janji. Bibi segera akan membawamu untuk menandatangani kontrak dengan perusahaan itu."