Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 69 : Perkara Keberuntungan


__ADS_3

Rayan Moon tiba-tiba berkata, "Kalian bisa turun dulu. Aku terlalu malas untuk menuruni tangga. Jadi, aku ingin menaiki lift dengan Tuan Daniel Yon." Setelah dia mengatakan itu, dia memiringkan kepalanya dan menatap Daniel Yon dengan wajah penuh cemas. Dia bertanya, "Tuan Yon, kamu tidak keberatan, kan?"


Daniel Yon menatapnya dengan mata yang dingin. Dia menilai sejenak kemudian setuju. "Kalau begitu aku harus merepotkanmu untuk menjagaku, Tuan Rayan Moon?" Ada sarkasme di dalam kata-katanya. Daniel Yon mengangguk dan berkata dengan tenang, "Silakan."


Yang lain merasa bahwa suasana di antara mereka berdua tidak benar. Soma Haruka ingin mengatakan sesuatu, tetapi Marina Yon dan Mayuna Yon terlanjur menarik tangannya dan berjalan ke bawah.


Setelah kerumunan menghilang, ekspresi Rayan Moon benar-benar menjadi acuh tak acuh. Pemuda itu secara kasar menunjukkan permusuhannya. Dia bertanya dengan suara yang dalam, "Bagaimana kakimu?" Nadanya kasar dan matanya dingin.


"Aku secara aktif mengobatinya. Kamu tidak perlu khawatir tentang itu, Tuan Rayan Moon." Daniel Yon tersenyum sopan, kali ini sarkasme juga terlukis dari wajahnya. "Aku dengar Neneknya ISTRI-ku membawamu bersamanya, boleh aku tahu apa yang kamu lakukan setelah keluar dari Distrik Kumuh? Dilihat dari usiamu, kamu mungkin masih sekolah, kan?" Daniel Yon memberikan penekanan pada kata-katanya.


"Aku tidak secerdas HARUKA-ku. Jadi, aku sudah lama berhenti belajar." Rayan Moon tidak ingin kalah.


Pintu lift terbuka, dan Rayan Moon mendorong Daniel Yon ke dalam lift. Rayan Moon memperhatikan saat pintu lift perlahan tertutup. Namun, dia tidak terburu-buru menekan tombol untuk turun. "Kamu sangat beruntung, aku iri padamu. Kamu bisa memiliki semua yang ingin kamu miliki di dunia ini. Aku sangat iri."


"Tidak, tidak, aku tidak seberuntung itu." Daniel Yon menggelengkan kepalanya kemudian menyeringai. "Aku mendapatkan semuanya karena aku pria yang luar biasa. Tidak seperti orang-orang bodoh, aku adalah seorang pria yang sangat menghargai keberuntungan yang aku dapatkan dengan susah payah, aku akan langsung menggenggamnya dan tidak akan melepaskannya."

__ADS_1


Mata hitam Daniel Yon menjadi kosong ketika dia mengancam, "Jadi, aku tidak akan memberi siapapun kesempatan untuk merebutnya dariku. Lalu, jika keberuntungan itu direbut dariku, aku bersumpah akan melakukan hal paling buruk yang pernah ia bayangkan."


Bukannya takut, Rayan Moon malah menjadi sangat marah. Dia mengepalkan tinjunya dan meralat perkataannya, "Salah, ada keberuntungan yang tidak bisa kamu rebut, meskipun kamu sangat meninginkannya, Tuan Yon." Kilatan dingin menyala di matanya.


Daniel Yon berkata datar, "Itu berlaku untukmu, tidak untukku." Saat dia mengatakan itu, Rayan Moon menggigit bibirnya sendiri untuk menahan amarah. Dia berkata dengan menekan suaranya, "Kamu harus berhati-hati, Tuan Yon. Saat kamu tidak begitu menghargai keberuntunganmu, orang lain yang telah merindukannya akan mempertaruhkan hidup mereka untuk merebutnya kembali darimu. Kamu bisa kehilangan nyawamu, jangan bermain-main."


"Sudah aku katakan padamu, tidak seperti orang bodoh, aku tidak akan melepaskan keberuntungan yang datang ke sisiku. Lalu, kamu salah besar, tidak ada di dunia ini yang bisa merebut apa yang aku inginkan." Ekspresi Daniel Yon berubah dingin, dan penyamarannya yang lembut benar-benar terkoyak. Mata gelapnya menunjukkan paranoia kuat yang belum pernah terungkap di depan orang lain.


"Jika ada pun, kamu bisa menganggap orang itu sudah mati. Kebetulan aku memiliki adik laki-laki yang berspesialisasi dalam pembunuhan." Dengan mengatakan itu, dia mengulurkan tangan dan menekan tombol lift untuk lantai pertama.


Rayan Moon menggigit bibirnya lagi, berusaha sekuat tenaga untuk mencoba menggunakan semua kekuatannya demi mengubur perasaan yang tak terkatakan itu di bagian terdalam hatinya.


"Demi apapun, kamu harus memperlakukannya dengan baik. Bagiku dia..." Rayan Moon berhenti dan dia meragu, dia menarik napas dalam-dalam kemudian melanjutkan. "Ah, tidak. Maksudku, dia telah melalui masa-masa yang sangat sulit. Dia jelas menderita, tetapi dia masih ingin melindungi orang lain. Haruka layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan layak mendapatkan orang yang baik pula."


Tidak peduli seberapa enggannya dia, Rayan Moon harus mengakui bahwa hidupnya sendiri sangat berantakan. Dia tidak bisa melihat harapan. Dengan demikian, dia secara alami sadar diri, bahwa dirinyalah yang tidak pantas bersama dengan Soma Haruka.

__ADS_1


Dia adalah orang yang sangat bodoh dan berpikiran sempit. Seorang pria yang termakan rasa iri dengki dan cemburu buta. Memangnya kenapa dengan Daniel Yon? Meskipun dia lumpuh, dia tetaplah seorang Tuan Muda, dia tampan, berwibawa, dan punya banyak uang. Sedangkan Rayan Moon? Dia bahkan tidak punya semeter tanah. Mengatakan bahwa Daniel Yon tidak pantas untuk Soma Haruka, itu semata hanyalah alasan untuk melepaskan rasa marahnya pada diri sendiri.


Dialah yang sombong di sini.


Pintu lift terbuka dan meja makan sudah dipenuhi dengan hidangan mewah. Soma Haruka tersenyum dan melambai pada mereka berdua. "Cepat kemarilah! Kenapa kalian sangat lambat bahkan setelah naik lift? Makanannya hampir dingin!"


Daniel Yon melihat wajah tersenyum Soma Haruka, tetapi kata-katanya ditujukan pada Rayan Moon yang kalah. "Dia cantik, kan? Aku percaya bahwa kamu adalah orang yang cerdas, Tuan Rayan Moon? Aku harap kamu tidak akan bertindak berdasarkan keinginanmu seperti yang kamu katakan barusan. Karena jika kamu melakukannya aku juga akan melakukannya. Maksudku, membuat satu lagi kasus pembunuhan yang tidak terpecahkan."


Setelah mengatakan kata-kata mengerikan itu, dia sedikit mengangguk. Dia tersenyum sopan pada Rayan Moon yang berdiri di belakangnya. "Tuan Rayan Moon, apa yang kamu tunggu? Ini sudah saatnya makan malam. Jangan sungkan, silakan duduk." Setiap kata dan tindakan sangat bijaksana dan sopan. Dia juga menunjukkan postur dan sikap seorang tuan rumah.


Rayan Moon hampa, dia merasa seolah-olah ada lubang menganga di hatinya dan angin dingin bertiup melewatinya. Membuatnya kesulitan untuk bernapas. "Terima kasih atas keramahan Anda, Tuan Yon." Suaranya kaku. Dia mengangkat kakinya dan berjalan ke ruang makan yang ramai seperti robot.


"Cepat kemari! Aku secara khusus meminta dapur untuk membuatkan iga sapi favoritmu." Soma Haruka tersenyum dan menyapa Rayan Moon dengan riang. Dia hanya ingin membagikan kebahagiaan yang ia dapatkan dari menjadi Nyonya dari keluarga Yon. Jadi, dia tidak memperhatikan konfrontasi rahasia antara kedua pria itu.


"Koki di sini sangat pandai memasak. Kamu pasti akan menyukainya!" Koki segera dengan rendah hati menyangkalnya. Namun, sesungguhnya dia merasa sangat senang, selama ia bekerja di sini, tidak ada yang pernah menyebutkan apakah makanannya enak atau tidak. Anak-anak keluarga Yon hanya meninggalkannya dengan diam, dan itu sangat membuat frustasi.

__ADS_1


__ADS_2