
Guru Wali Kelas adalah yang pertama mengerutkan kening. "Dean Yon, jangan biarkan emosimu menguasaimu. Kamu sekarang sudah kelas tiga, saat ini adalah periode paling kritis untuk nilaimu. Yang paling penting adalah menyesuaikan suasana hatimu dan mempersiapkan ujian masuk dalam kondisi terbaik."
Dibandingkan dengan keseriusan guru Wali Kelas, Soma Haruka sangat toleran. Mendengar ini, dia menatap Dean Yon dan bertanya dengan lembut, "Bisakah kamu memberi tahuku alasannya? Aku tidak akan memaksamu, tetapi aku harus memastikan bahwa kamu tidak membuat keputusan ini secara impulsif. Kamu harus memikirkan keputusan ini dengan lebih serius."
Soma Haruka tidak memutuskan atas nama Dean Yon secara sewenang-wenang. Sebaliknya, dia sepenuhnya menghormati pendapatnya. Kehangatan Dean Yon terasa saat dia mengerucutkan bibirnya.
Dia menjelaskan, "Tidak, aku tidak bertindak berdasarkan dorongan hati. Aku tidak berpikir itu perlu. Bahkan jika aku pergi ke sekolah baru, masalahaku akan tetap sama, bahkan bisa jadi lebih buruk. Selain itu, aku perlu waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Sekolah ini telah mengajarkan semua pengetahuan di buku pelajaran. Aku yakin aku sudah memiliki pemahaman yang kuat tentang itu. Jadi, aku bisa belajar di rumah. Daripada pindah ke sekolah lain, lebih baik aku mengajukan cuti untuk belajar di rumah." Dean Yon menatap Darel Yon, membuat kakak laki-lakinya itu merasa tersindir.
Setelah jeda, Dean Yon melanjutkan, "Aku bisa belajar bersama dengan kakak-kakak lain di rumah. Jika Guru masih khawatir, keluarga kami dapat menyewa beberapa guru privat lagi. Untuk memverifikasi hasil studi saya, saya akan menghadiri ujian bulanan dan akhir sekolah tepat waktu."
Darel Yon kehabisan kata-kata. Bocah kurus lemah ini jauh lebih licik daripada dirinya. Darel Yon bisa dengan jelas melihat niatnya. Dean Yon sudah tersihir oleh kasih sayang Soma Haruka, kasus yang sama dengan yang di derita oleh Daniel Yon, Marina Yon, dan Mayuna Yon. Mereka semua diperbudak oleh kasih sayang yang tidak pernah mereka dapatkan. Dean Yon sangat licik. Dengan cara ini, dia akan memiliki lebih banyak waktu untuk tinggal di sisi Soma Haruka. Ini adalah rencana sempurna bagi obsesi barunya.
__ADS_1
Soma Haruka tenggelam dalam pikirannya sendiri. Guru Wali Kelas memikirkannya dengan hati-hati. Dia merasa bahwa rencana Dean Yon juga layak. "Kakak ipar Dean Yon. Dean Yon memiliki rasa disiplin diri yang kuat. Jika dia merasa lebih nyaman belajar di rumah, kami dari pihak sekolah tidak akan keberatan dengan keputusan ini. Masalahnya adalah..."
"Ya, Saya juga merasa ini cukup bagus. Meski begitu, mendapatkan izin resmi akan cukup sulit." Soma Haruka setuju dan menatap ke arah Darel Yon. Guru Wali Kelas melihat hal ini, dia kemudian memindai Darel Yon. Meski tubuhnya sudah sangat dewasa, dari wajahnya bisa dikatakan kalau anak ini masih sekolah, dia sepertinya berhasil mendapatkan izin cuti, anak ini pasti bisa menyelesaikan masalah ini. Jadi, dia juga ikut menatap Darel Yon, menambah beban tambahan padanya.
"Dean Yon kalau kamu ingin mengambil cuti, maka ambillah. Setidaknya kita bisa bertemu sesekali. Lebih baik daripada tidak bertemu satu sama lain setelah pindah sekolah." Raymon Pattinson mengangkat lengannya dan mengalungkannya di leher Dean Yon. "Dean Yon, jangan khawatir. Aku akan mendengarkan apa yang guru ajarkan di kelas. Lalu, aku akan mencatat poin-poin penting yang dikatakan guru dan mengirimkannya kepadamu!"
Mata Dean Yon berbinar saat dia melihat Darel Yon yang tertegan, tatapan semua orang menunggu keputusannya. "Dasar ular. Apa menurutmu ini mudah? Aku bukan cuma harus membuat alasan yang bisa diterima oleh semua orang, tetapi juga menyenangkan hati de—"
"Jadi, kakak tidak mampu melakukannya?" Dean Yon memotong. Mendengar nada kekecewaan ini, harga diri Darel Yon terluka. Dia berteriak kemudian keluar dari sana dengan sangat kesal, "Akan aku lakukan!"
"Baik, kakak ipar, aku berjanji!" Dean Yon mengangguk dengan penuh semangat.
__ADS_1
Setelah makan siang dengan ibu Raymon Pattinson, mereka membawa Dean Yon kembali ke Vila keluarga Yon. Keluarga Yon menerima berita tentang apa yang terjadi pada Dean Yon di sekolahnya dan bahwa mulai sekarang dia akan belajar di rumah. Hanya David Yon yang menerima berita di malam hari. Dia merasa sangat marah tentang ketidakasilan ini, tetapi di sisi lain, dia juga merasa cemburu. Semua orang bisa tinggal bersama kalak ipar mereka di siang hari, kecuali dirinya. Satu orang lainnya yang tersihir oleh Soma Haruka.
David Yon berbaring di sofa. Otot-ototnya terasa sakit. Dia merasa seolah-olah jiwanya telah melayang jauh dari tubuhnya. Di bawah pengaturan Daniel Yon, dia telah menyelesaikan prosedur penangguhan. Hari ini, dia pergi ke Akademi Militer untuk tes fisik. Besok, dia harus mengemasi barang-barangnya untuk pelatihan tertutup sebelum memasuki akademi.
Melihat David Yon terbaring dengan menyedihkan di sofa, Soma Haruka merasa itu lucu. Pada saat yang sama, dia tidak lupa menginstruksikan dapur untuk membuat lebih banyak hidangan yang David Yon suka makan malam ini. Baru saat itulah David Yon mendapatkan kembali energinya. Sesuatu yang ia panggil dengan sebutan 'Kekuatan Keadilan.' Sangat bodoh.
Sebelum makan malam. Darel Yon berdiri di tengah-tengah ruang keluarga. Terdapat banyak foto anggota keluarga Yon dari masa ke masa di sana, tetapi yang paling mencolok adalah lukisan-lukisan kasual yang terhubung antara satu sama lain. Jika disatukan, itu akan menjadi kisah tersendiri tentang sejarah keluarga Yon yang ditafsirkan dalam berbagai makna.
Tidak lama kemudian, Daniel Yon datang diantar oleh Kepala Pelayan Hans, yang kemudian pergi meninggalkan dua saudara kandung itu di dalam sana. Daniel Yon melihat arah tatapan mata Darel Yon, dan menemukan kalau adiknya itu sepertinya tertarik dengan lukisan yang menggambarkan pedang yang terbelah tiga.
Daniel Yon tidak ingin banyak basa-basi karena ini sudah hampir waktunya makan malam. Jadi, dia bertanya pada intinya, "Apa yang ingin kamu ketahui, Darel Yon?"
__ADS_1
Darel Yon mengeluarkan permata hitam dan memperlihatkannya pada Daniel Yon, dia bertanya dengan datar, "Yang terlukis sebagai pedang di sana itu, berlian ini, kan?"
Daniel Yon melihat keseriusannya tentang ini. Jadi, dia juga akan menanggapinya dengan serius. "Benar, enam lukisan ini, adalah gambaran dari sejarah keluarga Yon kita. Seperti yang kamu lihat, di lukisan ke tiga, pedangnya dipisah dan salah satunya ada di tanganmu. Ada satu lagi di kantor pusat Yon Grub, tetapi aku tidak tahu ada di mana yang satunya. Salah satu kepala keluarga cabang memberitahuku tentang rumor bahwa ayah kita menjualnya, tetapi aku tidak tahu tentang kebenaran aslinya."