
Kehadiran Ares Krisan seperti tidak terlihat dan diacuhkan. Pada saat ini, tatapan dinginnya mendarat pada Helma Krisan. Dia diam-diam memperingatkannya. Masalah bodoh ini sudah sampai pada titik ini. Jika Soma Haruka dan Marina Yon tidak kunjung puas dengan permintaan maaf ibu dan saudara perempuannya, keluarga Krisan hanya akan lebih dipermalukan hari ini dan dia akan menjadi bahan tertawaan orang-orang dari kalangan kelas atas.
Helma Krisan mengertakkan gigi. Di dalam hatinya, dia semakin membenci Marina Yon dan Soma Haruka. Dia mengambil keputusan dan ingin berlutut.
"Sebelum itu, mari kita perjelas." Marina Yon mengingatkannya. "Kamulah yang ingin berlutut. Aku tidak memaksamu melakukannya dan tidak pernah mengatakan bahwa aku akan memaafkanmu jika kamu berlutut. Pastikan kamu mengingatnya dengan baik."
Marina Yon adalah orang yang sombong dan sorot mata dingin khas keluarga Yon sangat cocok untuk arogansinya. Alih-alih memberikan getaran yang konyol ketika dia mengatakan kata-kata klise seorang penjahat itu, dia terlihat sangat cantik dan menawan, seperti bangsawan jahat yang punya harga diri tinggi.
"Itu benar. Jika meminta maaf itu cukup adil, maka kita tidak lagi membutuhkan hukum." Soma Haruka mengangguk setuju. "Apakah korban memaafkan atau tidak sepenuhnya terserah dirinya. Tidak ada yang bisa memaksa korban melakukan apa pun yang tidak ingin dia lakukan."
Helma Krisan tidak tahu apakah harus berlutut atau tidak. Dia mempertahankan postur lututnya yang sedikit tertekuk, tidak berlutut atau berdiri. Dia sangat marah dan menahannya, sehingga seluruh tubuhnya gemetar.
"Karena kalian menolak untuk memaafkan kami, maka lupakan saja!" Sedikit kekejaman melintas di mata Ares Krisan. Kemudian dia menghela napas seolah tidak berdaya. "Permintaan maaf ini adalah untuk mengungkapkan sikap tegas keluarga Krisan kami mengenai masalah ini. Saya harap Anda dapat melihat bahwa Helma Krisan telah banyak berubah. Dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi."
__ADS_1
"Jadi, kamu tidak akan berlutut?" Sedikit kekecewaan melintas di wajah Marina Yon. Dia ingin melihat Helma Krisan, yang suka bermuka dua, berlutut di depannya dan meminta maaf. Dia bahkan menginginkan seseorang mengambil foto berlutut Helma Krisan, sehingga ketika dia dalam suasana hati yang buruk, dia bisa melihat foto itu agar suasana hatinya langsung meningkat.
"Lupakan saja kalau begitu. Jika kamu tidak ingin berlutut, maka jangan berlutut. Aku juga tidak akan memaafkanmu karena aku tidak menginginkannya." Marina Yon melambaikan tangannya karena bosan. "Kakak ipar, karena sepertinya aku tidak diperlukan lagi di sini, maka aku akan pergi mencari teman-temanku."
"Baik, pergilah." Soma Haruka mengangguk. Setelah Marina Yon pergi, dia sedikit mengangguk pada ketiga anggota keluarga Krisan sambil berkata, "Bibi, jika tidak ada hal lain, aku akan pergi ke tempat lain. Masih banyak tamu lain yang harus aku temui." Dengan itu, dia berbalik dan berjalan ke kerumunan.
Ares Krisan menatap punggungnya, sudut bibirnya perlahan naik, mengungkapkan senyum bersemangat namun penuh tekad. Penampilan Soma Haruka tidak hanya membuatnya marah. Sebaliknya, itu membuatnya merasakan kegembiraan berburu. Dia merasakan darahnya mendidih saat dia merencanakan bagaimana dia bisa membuat mawar merah itu menjadi miliknya.
Dia ingin mencabut duri yang mengelilingi sang mawar sedikit demi sedikit dan membuatnya tunduk padanya. Dia ingin membuatnya memohon dan menangis di bawah tubuhnya. Memikirkan adegan itu saja sudah membuatnya bersemangat.
"Putriku, jangan khawatir. Ibu dan saudara laki-lakimu akan membalaskan dendammu,." Bibi Namira Krisan merasa kasihan pada putrinya saat dia memeluknya dan menghiburnya, "Kamu tunggu dan lihat saja. Mereka tidak akan bahagia seperti ini untuk waktu yang lama dan apa yang kamu bayangkan akan segera menjadi kenyataan!"
Bagaimanapun, pemegang status keluarga Yon tidak hadir. Tidak banyak tamu yang membutuhkan Soma Haruka untuk menghibur mereka selain sosialita muda yang memang tertarik dengannya sedari perjamuan keluarga Asrahan. Yang mengejutkan adalah, rombongan pewaris keluarga Asrahan datang menemui Soma Haruka dengan membawa hadiah.
__ADS_1
Tuan Tua Asrahan hanya memiliki dua putra. Putra tertua dan istrinya telah meninggal dalam kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu, hanya menyisakan anak-anak mereka, Helena Asrahan dan Ronald Asrahan. Ronald Asrahan menjadi seorang dokter dengan keterampilan medis yang luar biasa. Dia tidak terlihat tertarik dengan bisnis. Sebaliknya, Helena Asrahan agak berbakat di dalamnya. Sehingga posisi mereka di keluarga cukup rentan semenjak Tuan Tua Asrahan mulai mempersiapkan masa pensiunnya.
"Nyonya Yon!" Helena Asrahan menyapa dengan semangat. Ketika dia melihat Soma Haruka, dia mendekatinya dengan antusias dan berkata, "Lama tidak bertemu."
Soma Haruka memiliki kesan yang baik tentang keluarga Asrahan karena Helena Asrahan. Dia masih muda, tetapi dia teliti dalam menangani masalah. Dia akan menjadi wanita yang kuat di masa depan.
"Saat itu, sikap kakek tidak sopan karena anggrek kesayangannya rusak. Saya harap Nyonya Yon tidak keberatan dengan ini." Helena Asrahan menyerahkan hadiah dan menjelaskan sambil tersenyum, "Sekarang kakek sudah tenang, dia secara khusus meminta kami untuk datang hari ini dan meminta maaf. Saya harap Nyonya Yon dan Nona Marina Yon bisa memaafkan kesalahan kami sewaktu menjadi Tuan Rumah di perjamuan sebelumnya."
Para tamu hanya bisa terkesiap. Yang mereka tahu latar belakang yang dimiliki oleh Soma Haruka tidak relevan. Dia berasal dari daerah kumuh dan Ayah kandungnya tidak menyekolahkannya. Melihat keluarga Ken dan keluarga Asrahan bersikap ramah padanya membuat tatanan hirarki di antara mereka menjadi bias dan aneh. Soma Haruka menghajar adik Ken Bara sampai sekarat dan anggrek Tuan Tua Asrahan dihancurkan oleh Marina Yon, tetapi mereka masih bersikap baik pada keluarga Yon, khususnya pada Soma Haruka.
Kerumunan mulai bertanya-tanya apakah Soma Haruka sebenarnya memiliki latar belakang yang kuat yang tidak mereka ketahui. Apakah saat dia tinggal di distrik kumuh dia bertemu dengan beberapa pensiunan dan mengangkatnya sebagai pewaris atau semacamnya? Mereka yang tenggelam dalam pemikiran bahkan sudah sampai memikirkan sebuah konspirasi.
Ronald Asrahan adalah cucu yang dibanggakan oleh keluarga Asrahan karena kegeniusannya dan Ken Bara juga seorang genius yang di usianya masih sangat muda, dia dapat bertanggung jawab atas bisnis keluarganya.
__ADS_1
Bersama-sama dengan Daniel Yon, mereka adalah tiga genius yang akan menopang Distrik Pusat di masa depan. Berpikir generasi emas dari tiga keluarga besar akan berkumpul dan bergaul. Orang-orang tidak bisa tidak berkonspirasi.