
..." Bisa memilikimu adalah kebahagiaan dalam hidupku, Tuhan izinkan aku untuk terus bersamanya." ...
π·π·π·π·π·π·
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit tidak nyaman," jawab Nayla dengan gugup.
"Kenapa?" Tanya Galang lagi, apa kamu tidak sadar Galang perlakuanmu barusan? membuat jantung Nayla berdegup kencang.
Nayla agak ragu menjawab.
"Perutku...." masih belum Nayla menyelesaikan ucapannya Galang sudah menyela.
"Kenapa perutmu masih sakit?" tanya Galang lagi
"Tidak ada ... cuma rasanya dia sedikit menegang," jawab Nayla akhirnya dengan suara lirih.
Menegang karna sudah Galang cium Nayla π€
"Dia menegang?" Galang menatap Nayla, kemudian beralih ke perut Nayla. Pelan-pelan tangannya kembali terulur menyentuh perut yang telah membulat itu. Diusapnya perlahan perut Nayla, hingga Nayla kembali merasakan gelenyar aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya. Dan ajaibnya, perut Nayla pun kembali rileks bukan menegang lagi melainkan tendangan sang anak karena merasakan sentuhan . Galang merasakan tendangan itu menatap ke arah Nayla dengan mata berbinar.
" Dia merespon usapanku Nayla " Galang benar-benar bahagia.
Sepertinya dia merindukan ayahnya.pikir Nayla
"Apa sudah lebih baik?" Pertanyaan Galang membuyarkan lamunan Nayla yang sejak tadi diam menatap ke arahnya.
Nayla pun mengangguk dengan wajah merona. "Terima kasih, Tuan," ucapnya tanpa sadar.
Galang mengerutkan kening mendengarnya.
"Mau sampai kapan kau memanggilku Tuan, Galang? Mana ada istri yang memanggil suaminya sendiri dengan panggilan Tuan," sergah galang tak suka.
"Kau istriku, bukan?" tanya galang lagi.
Eh? Nayla bingung harus menjawab apa.
"Maaf ...," lirihnya kemudian.
"Lalu ... aku harus memanggil apa?" tanya Nayla ragu, berusaha untuk tidak bicara terlalu formal.
__ADS_1
"Tentu saja namaku, memangnya apalagi?" jawab galang
Nayla tersenyum kecut. Dia pikir Galang mau meminta dirinya untuk memanggilnya dengan panggilan khusus. Sayang? Mas? Honey? Atau Dear? yang penting panggilan romantis yang biasa dilakukan oleh suami istri.
Astaga, Nayla. Apa yang kau pikirkan? Memangnya siapa dirimu? Nayla merutuki kebodohannya sendiri.
Bagaimana mungkin dia bisa berpikir bahwa hubungannya dengan Galang akan seperti pasangan suami istri pada umumnya, Mustahil Bukan? Bukankah mereka menikah juga tidak seperti pasangan lain yang dilandasi cinta?
Cepat-cepat nayla menepis semua pemikiran konyolnya. Dan berusaha kembali pada semua kenyataan yang ada.
"Baiklah...Galang," ujar Zaya akhirnya.
Menuruti semua kata-kata galang adalah pilihan terbaik bagi Nayla. Karena dengan tidak membuat Aaron marah, setidaknya hubungan mereka tidak berjalan ke arah yang lebih buruk.
Dan membuat Nayla semakin berharap.
Mereka pun sampai di rumah sakit. Mereka pun segera mendatangi bagian obgyn.
Kandungan Nayla telah memasuki bulan kesembilan kehamilannya, sudah semakin dekat dengan persalinan. Kondisinya dan sang calon anak sehat hingga tak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Hubungan suami istri sangat disarankan menjelang persalinan, karena itu bisa membantu membuka jalan lahir," terang dokter sambil menatap kearah Galang dan Nayla yang masih bengong mendengar ucapannya.
"Maksud Anda melakukan Hubungan S***, Dokter?" tanya Galang meyakinkan. Dibalas anggukan oleh sang dokter.
Dokter menjelaskan lebih lanjut kepada Galang tentang manfaat berhubungan badan menjelang persalinan. Dan Galang tampak menyimak dengan sangat serius.
Kini wajah Nayla tidak tahu sudah seberapa merah wajahnya saat ini. Ingin rasanya ia menggali lubang dan bersembunyi. Pembicaraan yang sedang Nayla dengarkan barusan adalah pembicaraan paling vulgar yang pernah ia dengar selama hidupnya. Sungguh Nayla ingin cepat-cepat mengakhirinya dan pulang sekarang juga.
Setelah beberapa saat, akhirnya semuanya pun selesai. Kini mereka tengah berjalan untuk kembali pulang dengan tangan Nayla yang telah digenggam erat oleh Galang.
Sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan Galang menggenggam jemari Nayla sambil berjalan disepanjang koridor rumah sakit. Dan ternyata diam-diam itulah momen yang dinantikan Nayla saat Galang mengantarnya memeriksakan kandungan.
Tidak masalah ini hanya sementara, setidaknya aku sudah pernah merasakannya. ucap Nayla di dalam hati sambil melihat ke arah tangannya yang di genggam Galang.
Sesampainya di rumah, Nayla langsung buru-buru masuk kedalam toilet. Maklum saja, usia kehamilannya yang semakin mendekati persalinan membuatnya merasa selalu ingin buang air kecil.
Lalu saat ia kembali masuk kedalam kamarnya, ada pemandangan tak biasa yang membuatnya sedikit heran. Galang tengah duduk di sofa yang terletak di sebelah tempat tidur dengan pakaian santai. Tampak dia sedang serius membaca sebuah buku dan sesekali membalik halamannya.
Dia masih di sini? gumam Nayla
__ADS_1
Saat menyadari kehadiran Nayla, Galang pun mendongak, lalu menutup bukunya dan meletakkannya di atas nakas.
"Kamu tidak kembali ke kantor?" Tanya Nayla dengan heran.
"Aku sudah menyerahkan semua pekerjaanku pada sekretarisku dan rangga, jadi tidak perlu lagi pergi ke kantor," jawab Galang sambil beranjak mendekati Nayla.
Zaya
Hal ini semakin membuat Nayla merasa heran. Tidak pernah sebelumnya Galang melakukan hal itu. Biasanya Galang akan menangani sendiri semua pekerjaannya untuk memastikan tidak terjadi kesalahan dan lebih mementingkan pekerjaan daripada dirinya.
"Kenapa?" tanya Nayla lagi sambil menatap Galang yang kini sudah berada di hadapannya yang sudah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Galang semakin maju mendekat, di barengi dengan tindakan impulsif Nayla yang langsung mundur ke belakang hingga punggungnya menyentuh tembok.
Seketika Nayla menoleh ke belakang sekilas dan menyadari bahwa dirinya sudah tidak bisa mundur lagi. Dan tentu hal ini di manfaatkan galang untuk mengurung Nayla dalam kungkungannya, sehingga Nayla tak bisa bergerak ke mana pun.
Jarak mereka sangat dekat, sampai-sampai keduanya bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain, membuat jantung Nayla berpacu dengan sangat kencang seperti orang yang baru saja melakukan lari maraton.
Nayla terkejut . Tiba-tiba Galang membelai wajahnya dengan sangat halus hingga membuat merinding seluruh tubuhnya.
"Ada hal yang lebih penting daripada urusan di kantor yang harus aku lakukan saat ini," bisik Galang dengan nada sensual. Sepertinya naf** Galang sudah tidak bisa di kendalikan, karna saat dokter menjelaskan tentang berhubungan badan itu penting sudah membuat gairah galang bangkit. Namun, ia berusaha mengendalikan diri.
Mata Galang membulat. Ia cukup dewasa untuk mengerti ke mana arah pembicaraan Galang barusan. Tapi kenapa Galang mendadak menginginkannya? Bukankah selama ini Aaron terkesan mengabaikannya?
..."Kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai; dicintai untuk diri kita sendiri, atau lebih tepatnya, dicintai terlepas dari diri kita sendiri." - Victor Hugo...
π΄π΄π΄π΄π΄
^^^Bersambung.. ^^^
^^^** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho... ^^^
^^^ Gaes kalau banyak kesalahan kata atau hal lain author tunggu saran dan kritiknya ya^^^
^^^Dan Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah^^^
^^^Please....pleaseeππ^^^
__ADS_1
^^^Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UPππ₯°^^^