
πΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Setiap orang yang menjalin hubungan percintaan selalu memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Banyak cerita suka dan duka dalam menjalin sebuah hubungan. Adanya perasaan bahagia, rindu, cemburu, dan kecewa akan selalu mewarnai perjalanan setiap pasangan.
Hampir setiap pasangan yang membina sebuah keluarga memiliki pengalaman menyakitkan dalam hidupnya. Banyaknya masalah dalam hidup, tak jarang hal tersebut membuat seseorang patah semangat. Namun, berlarut-larut dalam kesedihan bukanlah jalan keluar yang baik.
tatapan nyalang. Tanpa Asisten Rangga Dan Sekertaris Maya, juga dua orang yang sebelumnya berbicara dengannya.
Nayla terkesiap. Tubuhnya meremang melihat betapa menakutkannya ekspresi Galang saat ini. Nayla benar-benar merasa telah melakukan kesalahan dengan datang ke kantor Galang. Ia menyesal, entah apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
"Galang..." lirih Zaya takut.
Galang tak menjawab. Namun tiba-tiba dia langsung menarik lengan Nayla dengan kasar dan menyeretnya tanpa ampun. Tidak menghiraukan sedikitpun Nayla yang terlihat kesakitan karena tangannya yang dicengkram terlalu kuat.
Galang melangkah dengan cepat dan lebar sehingga Nayla harus berlari tertatih-tatih untuk mengimbangi langkah Galang.
"Galang...sakit..." Nayla berujar lirih, namun tetap tak dihiraukan oleh Galang.
Galang terus menyeretnya hingga ke pelataran gedung dan tiba di tempat mobil yang mengantar Nayla sebelumnya terparkir.
Pak Aris cepat-cepat mendekat dan membungkuk pada Galang.
"Kemarikan kunci mobilnya!" pinta Galang pada Pak Aris dengan nada memerintah.
"Ini, Tuan." Pak Aris menyerahkan kunci mobil yang biasa dikendarainya pada Galang.
Galang membuka pintu mobil dengan kasar.
"Masuk!" perintahnya pada Galang dengan nada tinggi.
Nayla sedikit tersentak. Ini pertama kalinya ia mendengar Galang membentaknya.
"Galang...aku bisa pulang sendiri. Aku kesini hanya bertujuan mengantarkan makan siang untukmu.Aku tidak ada niat apa-apa." ujar Nayla lirih sembari menyodorkan kotak makan siang yang ada di tangannya.
Galang menatap Nayla dengan amat tajam, kemudian menatap kotak makan siang yang disodorkan Nayla. Tiba-tiba ditepis nya dengan kasar kotak makan siang itu hingga terjatuh dan isi di dalamnya berceceran.
Nayla menganga tak percaya. Ditatapnya makanan malang itu dengan tatapan Sendu.
"Aku bilang masuk!" kembali Galang membentak dengan nada yang lebih tinggi.
Nayla masih tak bergeming. Otaknya seakan tak bekerja karena keterkejutannya pada kemarahan Galang.
__ADS_1
"Kau benar-benar ingin menguji kesabaranku, Nayla." geram Galang saat melihat Nayla yang masih mematung, dan tidak mendengar ucapannya.
Ditariknya Nayla dengan kasar dan dihempaskan nya tubuh Nayla masuk ke dalam mobil. Kemudian dibantingnya pintu mobil hingga mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring.
Nayla hanya meringis dengan tertahan. Punggungnya terasa nyeri karena membentur kursi mobil terlalu kuat. Galang benar-benar menjadi sosok yang berbeda saat ini hingga membuat Nayla tak berani mengeluarkan suaranya.
Galang ikut masuk kedalam mobil dan mengambil kemudi. Dilajukannya mobil itu dengan kecepatan tinggi hingga membuat Nayla semakin ketakutan. Nayla mencengkram ujung gaun dengan kedua tangannya, berusaha untuk menahan tangisnya yang terasa akan pecah saat itu juga.
" Galang, kumohon.... Jangan seperti ini...." Nayla mengeluarkan suaranya dengan susah payah. Galang tak menjawab dan tetap mengemudi dengan kecepatan yang cukup membuat jantung serasa akan lepas. Galang seakan menulikan telinganya mendengar rintihan Nayla.
"Galang....." panggilnya Namun.
"Diam!!! Atau kau ingin kita berdua mati saat ini juga." Galang terlihat semakin menyeramkan.
Galang menutup mulutnya. Dihapusnya cepat airmatanya yang tak dapat lagi ia tahan. Percuma saja sepertinya saat ini memohon kepada Galang, karena sekarang Galang seakan menjelma menjadi sosok monster yang sangat mengerikan. Dan sosok yang selama ini Nayla kenal baru terlihat seperti orang yang kerasukan, Bagaimana Nayla tidak beranggapan seperti ini jika sosok Galang berubah drastis amarahnya tidak bisa di kendalikan hanya gara-gara Nayla datang ke kantor mengantar makan siangnya.
Dan setelah waktu yang sangat menegangkan itu, mobil yang dikendarai Galang pun akhirnya berhenti tepat dihalaman rumah mereka.
Galang keluar dari mobil dan kembali menarik Nayla dengan kasar. Dihadapan para pelayannya, Galang kembali menyeret Nayla tanpa ampun dan tak sedikit pun menghiraukan rintihan mengiba dari Nayla.
Tentu saja para pelayan sangat terkejutTentu saja para pelayan sangat terkejut pada pemandangan yang barusan mereka lihat itu, tak terkecuali Bi Sani. Mereka bertanya-tanya kesalahan apakah yang sudah Nyonya Muda mereka lakukan sampai-sampai membuat Tuan mereka terlihat sangat murka. Karena setahu mereka, meskipun berkepribadian dingin, tapi Tuan mereka itu bukanlah orang yang mudah mengumbar amarah.
Apakah gerangan yang terjadi?
Sementara itu, Galang yang telah membawa Nayla masuk kedalam kamar membanting pintu kamar hingga mengeluarkan suara yang menggelegar.
Nayla hanya bisa memejamkan matanya karena terkejut. Wajahnya nampak sangat ketakutan dan sesekali terdengar isakan tertahan dari mulutnya.
Galang kembali menatap Nayla nyalang. Kedua tangannya mencengkram bahu Nayla dan membenturkan punggung Nayla ketembok hingga bibir Nayla kembali mengeluarkan rintihan.
"Katakan, apa yang coba kau lakukan tadi dikantorku? Apa kau ingin menunjukkan pada semua bawahanku bahwa kau adalah istriku? Apa sekarang tidak cukup bagimu menjadi Nyonya dirumah ini saja? Lalu kau ingin jadi Nyonya di perusahaanku juga, iya? Begitukah, Nayla? Jawab!!!" Galang berteriak dengan penuh emosi.
Nayla hanya bisa menunduk sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Airmata semakin deras nembasahi pipinya. Sungguh ia tidak menyangka Galang akan sangat marah dan berpikir seperti itu tentangnya.
"Lalu apa tujuanmu tadi, hah? Ingin memberikan makan siang untukku? Apa aku akan kelaparan jika kau tidak membawakan makanan? Kau pikir aku sebodoh itu percaya dengan alasanmu?" lanjutnya lagi
Nayla tidak menjawab dan hanya terisak, ia hanya mendengar ucapan Galang yang menyakiti relung hatinya.
"Hentikan tangisan sok polosmu itu. Lihat aku jika aku sedang bicara. Tidak perlu bertingkah seolah kau takut padaku, Nayla. Apa kau tidak ingat betapa berani dan kurang ajarnya dirimu tadi? Kau bahkan berdandan seperti ingin menggoda seseorang. Katakan siapa yang ingin kau goda, hah?" Galang kembali bertanya secara frontal sambil mengangkat dagu Nayla dengan paksa untuk membuat Namun melihat kearahnya. Namun kali ini ucapannya bagaikan hinaan yang begitu menusuk, hingga tubuh Nayla bergetar menahan tangis kesedihan yang sejat tadi ia tahan.
"Tidak, Galang.... Aku memang hanya ingin mengantarkan makanan untukmu. Aku tidak bohong..." jawab Nayla disela isakannya.
__ADS_1
"Oh ya? Lalu kenapa kau berdandan seperti ini? Apa kau ingin dikatakan cantik oleh para bawahanku? Atau kau sangat kesepian dan ingin mencari orang untuk kau goda? Katakan Nayla jangan diam saja, apa karena aku sudah lama tak menyentuhmu hingga kau berusaha untuk menggoda orang lain?" Galang semakin tak terkendali. Sedangkan Nayla hanya bisa menggeleng dengan tangisan yang semakin menjadi.
"Kau ingin aku menyentuhmu, a Nayla? katakan, apa ini yang kau mau?" Galang meremas dada Nayla dengan kasar hingga Nayla terpekik kesakitan.
"Sakit, Galang...." rintih Nayla pilu.
Galang tak menghiraukan. Sepertinya kemarahannya pada Nayla membuat otaknya tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
"Atau kau ingin disentuh dibagian ini?" tanyanya lagi sambil terus nenyentuh bagian sensitif Nayla lainnya dengan kasar.
"Kumohon, galang....., jangan seperti ini. Kamu menyakitiku." lirih Zaya mengiba dan berurai airmata. Tapi tampaknya Galang tidak peduli dengan apapun yang dikatakan Nayla.
"Sakit? Benarkah? Bukankah kau menyukainya? Ini yang kau inginkan, bukan?"
Galang terus menjelajahi setiap jengkal tubuh Nayla dari atas bahkan sampai bagian sensitif Nayla, hingga membuat Nayla menangis semakin pilu.
Tindakan implusif Galang itu akhirnya membakar dirinya sendiri. Dengan tanpa perasaan Galang mulai mencumbu Nayla dengan keras dan kasar. Tanpa menghiraukan erangan kesakitan dari mulut Naylaa, Galang kembali memasuki miliknya ke dalam milik Nayla seperti saat dia merenggut kehormatan Nayla dulu. Tapi jika dulu dia melakukannya karena sedang dalam pengaruh obat. Kali ini dia melakukannya dengan sadar dan penuh kemarahan.
Tak ada belaian penuh kasih sayang. Tak ada aroma keromantisan dari pasangan yang tengah memadu cinta. Yang ada hanya isak tangis dan rintihan yang keluar dari mulut Nayla.
Nayla benar-benar terluka. Tak ada hal yang lebih menyakitkan di dunia ini selain menerima penghinaan dari orang yang paling kau cintai.
^^^" Aku tidak marah jika kau lebih memilih marah besar kepadaku, tapi tolong jangan tunjukkan padaku bahwa kau juga tidak ingin bersamaku lagi."^^^
^^^" Aku tidak marah jika kau lebih memilih marah besar kepadaku, tapi tolong jangan tunjukkan padaku bahwa kau juga tidak ingin bersamaku lagi."^^^
πππππ
^^^Bersambung.... ^^^
^^^** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho^^^
^^^ Hai gaes jangan marahin author yaπ Nanti author bikin ayang Galang menyesal, Nanti author akan balas perbuatan Galang kok. hehe jadi tenang aja ya, author ga membuat cerita yang menjatuhkan harga diri seorang wanita. Apalagi author tidak suka dengan yang namanya pelakor. ^^^
^^^intinya ikuti aja alurnya yaπ^^^
^^^Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah^^^
^^^Please....pleaseeππ^^^
^^^Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UPππ₯°^^^
__ADS_1