
Sungguh Nayla merasa sekarang Galang sudah sangat berlebihan Bukankah dulu juga dia biasa melakukannya sendiri, kenapa juga sekarang tidak boleh. Entah semua perhatian dari Galang ini merupakan anugerah ataupun musibah bagi Nayla, Nayla tidak tahu.
"Sore nanti aku jemput." Ujar Galang dengan nada tidak ingin dibantah.
Nayla tak menjawab, Ia sedikit kesal karena permintaannya tidak digubris Galang. Nayla ingin membawa mobil sendiri tapi Galang bersikeras untuk mengantar Nayla kemanapun Nayla mau pergi, Tampaknya lelaki ini benar-benar menjadi posesif sekarang.
"Peluk aku dulu, Sayang." Goda Galang saat Nayla turun dari mobil dengan raut kesal, Lalu Galang juga turun dari mobil dan menyusul Nayla.
"Pergilah, Aku mau masuk ke Butik." Sergah Nayla saat Galang sudah tepat dihadapannya.
"Apa kau tidak dengar, aku mau minta dipeluk dulu." Bisik Galang.
Nayla mendelik dan melengos.
"Aku tidak mau."jawabnya.
Bukannya marah, Galang malah tersenyum.
"Peluk aku, nanti sore aku ajak kau ke suatu tempat." Tawarnya.
"Aku jamin kau pasti akan menyukainya." Tambah Galang lagi.
Nayla terdiam sejenak, terlihat sedang mempertimbangkan.
"Baiklah..." Ujar Nayla akhirnya, Nayla pun berbalik dan memeluk lelaki itu. Hal itu tidak disia-siakan olah Galang, Dia langsung mendekap tubuh Nayla dan menghujani wajahnya dengan ciuman.
Cup. Cup. Cup.
Hidung, mata, pipi dan dagu Nayla menjadi tempat mendaratnya kecupan dari Galang. Setelah itu, Galang pun akhirnya melepaskan Nayla setelah puas menciumi setiap inci wajahnya.
Sore harinya, Galang benar-benar membawa Nayla kesuatu tempat.
Awalnya Nayla tidak tahu kemana mereka akan pergi Tapi kemudian, ia merasa akan pergi Tapi kemudian, ia merasa mengenal jalan yang mereka lalui.
Tak lama kemudian mereka pun sampai ditempat tujuan.
Benar apa yang Nayla tebak sebelumnya, mereka pergi kepantai yang dulu pernah Nayla datangi bersama Galang.
Nayla dan Galang menyimpan alas kaki mereka terlebih dahulu didalam mobil sebelum akhirnya mereka berakhir dengan bermain air.
Nayla tertawa dengan sangat cerah hingga membuat Galang jadi tersenyum melihatnya, Lelaki itu kemudian melangkah mendekati Nayla dan sekali lagi memeluk Nayla dengan eratnya.
"Terakhir kali kita datang kesini, Kau sangat sedih saat kita pulang. Hari ini tidak boleh ada kesedihan lagi, Aku ingin kau terus tertawa seperti ini, Nayla." Ujar Galang pelan.
Nayla terdiam. Entah apa bedanya tapi rasanya ada yang lain dengan Galang.
"Aku ingin kau selamanya menjadi teman hidupku, dalam suka maupun duka. Apapun yang terjadi tetaplah bersamaku hingga akhir." Galang menghentikan kata-katanya, Lalu dia mengurai pelukannya dan mengambil sesuatu dari saku celananya.
Galang mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya dihadapan Nayla, Sebuah cincin bertahtakan berlian tampak tertengger disana.
Nayla terperangah saat melihat cincin itu, Apakah artinya ini? Apa sekarang Galang sedang melamarnya.
Belum hilang keterkejutan Nayla tiba-tiba saja Galang berlutut dihadapan Nayla dengan satu kaki bertumpu pada pada tanah yang dipijaknya.
" Nayla Purnama, will you marry me....again?" Tanyanya.
Nayla mematung.
Ia terdiam beberapa saat karena masih belum bisa mempercayai apa yang terjadi saat ini.
Galang Christian Alexander, sosok yang sangat didambakan Nayla selama lebih dari Lima tahun lamanya, kini tengah berlutut dihadapannya dan menunggu sebuah jawaban.
Aitmata tiba-tiba saja lolos dari pelupuk mata Nayla, Ia menangis sembari menganggukkan kepalanya.
"Ya, Galang. Aku mau..." Lirihnya.
Galang tersenyum dan bangkit, Lalu disematkannya cincin itu dijari manis Nayla.
"Terima kasih Nayla Aku, mencintaimu. Mulai saat ini aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakanmu." Galang kembali membawa Nayla dalam pelukannya, Nayla pun semakin tersedu didalam pelukan Galang.
"Aku juga mencintaimu, Galang." Ujarnya disela isakan.
Nayla sangat bahagia, Meski sudah tahu Galang akan mengajaknya menikah, Nayla tidak membayangkan jika Galang akan melamarnya seperti ini. Tampaknya pengorbanan Nayla selama ini tak berakhir sia-sia.
Pelangi akhirnya muncul setelah badai. Sangat indah, hingga Nayla sampai tak bisa mendeskripsikan sebesar apa kebahagiaannya hari ini.
...****************...
__ADS_1
......................
...----------------...
Nayla berusaha menetralkan rasa gugupnya dengan meremas ujung gaunnya. Dihadapannya tampak dan Yunita, kedua orang tua Galang sedang menatap serius kearahnya.
Malam ini Galang mengajak Nayla makan malam keluarga bersama Alvaro dan kedua orang tuanya di sebuah restoran bintang lima. Di kesempatan itu pula, Galang menyampaikan kepada kedua orang tuanya jika dia dan Nayla sudah kembali bersama. Galang juga mengatakan jika dia sudah melamar Nayla dan rencananya mereka berdua akan kembali menikah dalam waktu dekat.
Mahendra dan Yunita sama-sama terdiam beberapa saat sambil menatap kearah Galang dan Nayla secara bergantian. Mimik wajah mereka berdua sangat tidak bisa ditebak hingga Nayla menjadi sangat gugup dan tegang dibuatnya.
"Apa kalian serius?" Suara Mahendra akhirnya memecah keheningan.
"Tentu saja kami serius." Jawab Galang mantap.
" Nayla?" Kali ini Mahendra meminta jawaban dari Nayla.
Nayla terdiam sejenak.
"Iya...kami serius." Ujarnya kemudian.
Mahendra kembali terdiam Kemudian tiba-tiba saja senyuman terbit di wajahnya.
"Baguslah jika kalian kembali bersama, aku ikut senang mendengarnya. Alvaro juga pasti akan sangat senang jika kalian menikah lagi." Ujar Mahendra akhirnya sambil melihat kearah Alvaro.
Alvaro menanggapinya dengan tersenyum cerah.
Ya. Selain Galang dan Nayla sendiri, Alvaro adalah sosok yang paling bahagia saat ini. Bocah itu terus menyungging senyumnya saat tahu Mama dan Papanya kembali bersama.
Melihat itu, Nayla jadi semakin merasa mantap jika keputusannya untuk kembali pada Galang adalah hal yang tepat.
Tapi sejurus kemudian Nayla kembali diliputi perasaan gugup, Pasalnya Yunita masih mempertahankan ekspresinya yang tak terbaca. Raut wajah perempuan paruh baya itu terlihat sangat datar, hingga sulit ditebak saat ini ia tengah merasa senang atau sebaliknya.
Galang yang melihat raut wajah tak biasa Mamanya itu pun ikut merasa heran, Dia menyadari jika ada hal yang janggal dibalik sikap Yunita itu.
"Jadi...sekarang kau memutuskan untuk kembali bersama Galang lagi, Nayla?" Tanya Yunita akhirnya sambil menyesap minumannya satu tegukan, Entah kenapa Nayla merasa ada nada tidak senang dari kalimat yang baru saja diucapkan Yunita barusan.
"Bukankah kau bilang sudah tidak mau menjalani hidup demi siapapun lagi? Lalu kenapa sekarang kau tiba-tiba mau melakukannya?" Tanya Yunita lagi dengan tajam.
Nayla hanya bisa menelan salivanya Tampaknya pertemuan terakhir dengan mantan mertua yang kini sudah kembali menjadi calon mertuanya lagi mungkin sangat membekas dihati Yunita.
Mungkinkah saat ini Yunita tidak merasa senang melihat Nayla dihadapannya kini Atau mungkin ia sedikit menaruh dendam karena Nayla sudah menolaknya mentah-mentah sebelumnya.
Lalu sekarang, Nayla muncul bersama Galang dengan mengatakan mereka sudah kembali bersama dan akan segera menikah. Wajar saja jika perempuan paruh baya itu merasa dipermainkan oleh Nayla, kan?
Nayla menghela nafasnya, Ia berusaha menenangkan diri dan menyusun kata yang tepat untuk membalas pertanyaan dari Yunita.
"Saat ini apa yang saya lakukan memang untuk diri saya sendiri, Nyonya." Jawab Nayla akhirnya, Berusaha untuk memberikan jawaban yang memuaskan kepada Yunita.
"Benarkah? Lalu kenapa saat itu kau menolak dengan tegas permintaanku seolah selamanya tidak akan bersama Galang lagi?" Tanya Yunita lagi tak kalah tajam, Kali ini Nayla kehabisan kata untuk menjawabnya.
Nayla menundukkan kepalanya, Entah kenapa ia jadi merasa buruk. Mungkinkah saat itu dia berubah menjadi seseorang yang egois dan plin plan? Seseorang yang mementingkan dirinya sendiri dan tidak memikirkan orang lain. Benarkah ia sudah menjelma menjadi sosok seperti itu?
Nayla kembali menghela nafasnya, Ia benar-benar merasa tidak enak hati Tapi kemudian Nayla merasakan seseorang mengenggam tangannya.
Nayla menoleh, Tampak Galang mengenggam jemarinya erat seakan ingin mengisyaratkan jika saat ini Galang bersamanya.
Nayla tersenyum dan merasa jauh lebih baik, Ia pun kembali menemukan kepercayaan dirinya setelah kembali mendapatkan dukungan dari Galang.
"Mungkin waktu itu saya sedang tidak berpikir dengan jernih, Nyonya Tapi keputusan saya sekarang sudah benar-benar saya pikirkan dengan matang." Jawab Nayla akhirnya.
Yunita tampak masih belum puas dengan jawaban dari Nayla Tapi melihat orang-orang di sekelilingnya yang sudah terlanjur merasa senang, Yunita memilih untuk menahan diri. Ia pun tak bertanya lebih jauh lagi.
Makan malam itu akhirnya berjalan lancar Setelah Alvaro dijemput oleh pengasuhnya untuk tidur lebih awal, mereka pun kembali melanjutkan pembicaraan mengenai rencana pernikahan Nayla dan Galang.
Baik Nayla maupun Galang, mereka berdua menginginkan pesta pernikahan yang tidak terlalu besar Tapi kali ini Galang akan mengundang semua kolega bisnisnya dan membuat semua orang tahu seperti apa sosok perempuan yang dinikahinya.
Diam-diam Nayla merasa senang, Kali ini Galang benar-benar akan memperkenalkan dirinya kepada semua orang Dan Nayla akan menjadi istri Galang yang sesungguhnya.
Setelah pembicaraan yang panjang dan agak meelelahkan itu, Galang akhirnya mengantarkan Nayla pulang.
Sepanjang perjalanan Galang dan Nayla sama-sama hening, Sepertinya mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Meski begitu, raut bahagia sangat terlihat dari wajah mereka.
"Sebenarnya ada apa antara kau dan Mama tadi?" Suara Galang akhirnya terdengar memecah kesunyian.
Nayla agak kaget dan sedikit kelabakan.
"Ceritakan padaku. Aku ingin mendengarnya." Pinta Galang kemudian dengan nada bicara tak ingin dibantah.
__ADS_1
Nayla diam sejenak.
"Sebenarnya Mamamu pernah datang menemuiku sebelumnya. Beliau memintaku untuk kembali padamu, demi Alvaro dan juga perusahaan Tapi aku menolaknya." Ujar Nayla akhirnya.
Nayla melirik Galang yang tengah fokus menyetir, Ia agak was-was dengan tanggapan Galang.
Tapi diluar dugaannya, Galang malah menyungging sebuah senyuman.
"Pantas saja." Gumam Galang.
Nayla menautkan kedua alisnya, bingung dengan tanggapan Galang.
"Kau adalah orang pertama yang berani menolak keinginannya, Pantas saja jika dia merasa sangat terkesan." Ujar Galang akhirnya sambil tertawa kecil.
"Akhirnya Nyonya Besar itu mendapatkan lawan yang sepadan sekarang." Tambah Galang lagi sambil masih terus tertawa.
Nayla semakin bingung dibuatnya, Apakah Galang sedang mengatakan jika Galang akan mengadu Nayla dangan Mamanya? Tidak mungkin, kan?
Tapi kemudian Nayla merasakan tangan Galang membelai rambutnya sambil masih fokus menyetir.
"Jangan terlalu khawatir, Meski perkataannya seringkali terdengar tajam tapi sebenarnya Mama punya hati yang baik. Kau hanya belum terlalu mengenalnya saja." Ujar Galang sambil masih membelai kepala Nayla.
Nayla hanya mengangguk mengiyakan Setelah itu mereka pun kembali hening hingga mobil yang dikemudikan Galang sampai didepan rumah Nayla.
Nayla turun dari mobil, disusul oleh Galang.
"Sampai jumpa besok." Nayla berpamitan hendak langsung masuk kedalam.
"Kau melupakan sesuatu." Gumam Galang.
Nayla menoleh dan tersenyum, Ia sangat paham apa yang dimaksud Galang. Nayla pun kembali mendekat dan memeluk lelaki itu.
Galang tak tinggal diam, Langsung saja dia merangkum wajah Nayla dan mencium bibirnya yang terlihat sangat menggoda sejak tadi. Mereka berdua berciuman cukup lama dan saling melepaskan diri saat sudah mulai kehabisan nafas.
Galang tersenyum puas.
"Aku pulang dulu, Langsunglah beristirahat setelah ini." Ujar Galang.
Nayla mengangguk, Lalu Galang kembali masuk kedalam mobil dan melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman Nayla.
Nayla memandangi mobil itu sampai menghilang diujung jalan sebelum akhirnya ia berbalik dan memasuki pekarangan rumahnya.
Seulas senyuman masih tersungging dibibirnya yang sedikit agak membengkak karena ulah Galang tadi.
Tapi sejurus kemudian, senyum itu memudar saat Nayla mendapati seseorang tengah berdiri menunggunya diteras rumah dengan memandangnya tajam.
Nayla terkesiap. Orang itu terlihat dalam mood yang tidak terlalu baik, nampak dari raut wajahnya yang mengeras. Sebesit rasa takut menyusup di dalam hati Nayla saat melihatnya, Tanpa sadar mulutnya pun bergumam sendiri.
"Kak Kevin....? "
๐น๐น๐น๐น๐น
Nayla dan Kevin duduk saling berhadapan diruang tamu rumah Nayla, Mereka sama-sama menunduk dan tak membuka percakapan untuk waktu yang agak lama.
Beberapa saat kemudian Kevin mengangkat wajahnya dan menatap Nayla sendu, Matanya kemudian tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis Nayla.
Kevin menghela nafasnya dan membuang pandangan kearah lain. Dadanya bergemuruh dengan sangat hebat, hingga membuatnya tidak mampu untuk berkata-kata lagi.
"Kak Kevin..." Nayla berusaha untuk mulai berbicara.
Kevin masih tetap memandang kearah lain dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca, Sepertinya dia tengah berusaha sekeras mungkin untuk tidak meneteskan airmatanya. Dia tidak ingin menjadi lelaki cengeng dihadapan Nayla, meskipun tak dipungkiri hatinya benar-benar hancur saat ini.
"Jadi kamu sudah memutuskan untuk kembali bersamanya, Nay?" Kevin akhirnya membuka suara sambil masih menatap kearah lain, Dia masih tidak sanggup melihat wajah Zaya.
Nayla tidak langsung menjawab.
"Maafkan aku, Kak. Dari awal aku sudah mengatakan jika aku tidak bisa menerima Kakak." Ujar Nayla akhirnya.
Kevin akhirnya menoleh dan melihat kearah Nayla.
"Kamu tidak memberiku kesempatan tapi kamu bisa memberi dia kesempatan kedua. Kamu tidak adil padaku, Nay." Ujar Kevin lagi dengan sendu, Suaranya agak bergetar karena menahan sesuatu yang bergejolak didalam dirinya.
Tubuh Kevin juga mulai gemetar, kilasan adegan saat Nayla dan Galang berciuman tadi benar-benar membuatnya ingin meledak saat ini juga.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan Lupa Like, komen dan Vote ya teman-teman plis plis๐๐๐ฅฒ
Author bakal up dan semakin semangat