Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 65


__ADS_3

Nayla pun bertanya-tanya didalam hatinya, apa sikapnya pada Galang sudah berlebihan? Apa tanpa sadar ia sudah menyakiti Galang?


Sungguh Nayla hanya berusaha untuk menjaga jarak, tanpa berniat menyakiti sama sekali. Tiba-tiba hatinya jadi tidak nyaman. Entah kenapa ia jadi merasa bersalah.


''Maaf, Galang. Aku melakukan semua ini untuk melindungi diriku sendiri, karena aku tidak ingin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.'' Lirih Nayla


^^^"Jika kamu ingin bahagia, jangan biarkan masa lalu mengusikmu. Kamu boleh melihat ke belakang, namun jangan membawanya kembali."^^^


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nayla mengemudikan mobilnya sambil sesekali memijat kepalanya yang terasa agak pusing. Tidak tidur semalaman dan tidak makan dengan benar saat sarapan tadi, membuat tubuhnya agak terasa kurang sehat.


Tapi karena hari ini ia sudah berjanji untuk menemui Sarah, akhirnya ia tetap memaksakan diri untuk pergi kerumah sahabatnya itu.


Nayla datang disambut dengan tatapan penuh teka-teki dari Sarah. Setelah mempersilahkan Nayla masuk, Sarah terlihat siap membuat Nayla dengan sejuta pertanyaan yang berputar-putar diotaknya sejak kemarin.


"Jadi orang yang menghamilimu itu orang kaya?" tanya Sarah akhirnya.


Nayla diam tak langsung menjawab.


"Katakan, pasti dia bandot tua yang suka gadis-gadis muda dan punya simpanan dimana-mana. Iya, kan?" tanyanya lagi.


Nayla makin tak bersuara dan hanya melongo mendengar pertanyaan Sarah.


"Astaga, Nayla... Jadi benar, selama ini kamu jadi simpanan Om-om, lalu kalian cerai karena ketahuan istri sahnya, dan anakmu sekarang hidup bersama ibu tiri?" Nayla tampak terkejut dan menutup mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya.


Nayla yang mendengarnya juga tak kalah syok.


Ia benar-benar takjub dengan sahabatnya satu ini. Selain sering mengeluarkan kata-kata konyol, Nayla juga sering berpikiran hal yang aneh-aneh.


Nayla hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dasar Miss Lebay." berganti Nayla yang menoyor dahi Sarah menggunakan telunjuknya.


"Makanya jangan terlalu sering menonton drama tidak bermutu di TV. Sekali-kali tonton acara yang menambah wawasan, supaya otakmu tidak sering berhalusinasi." sergahnya.


Sarah pun mengusap-usap dahinya sambil mendelik sebal.


"Habisnya kamu masih main rahasia-rahasiaan segala. Menghilang Enam tahun, tiba-tiba muncul pakai mobil sendiri, Aku kan jadi curiga." Ujar Sarah membela diri.


"Mantan suamiku orang kaya, memang benar. Tapi dia bukan bandot tua mata keranjang seperti yang kamu bilang. Aku juga menikah dengannya sebagai istri sah, bukan jadi simpanan." Nayla terlihat agak kesal.


Sarah yang tadinya berapi-api kini hanya bisa nyengir kuda.


"Kami bercerai karena tidak ada kecocokan. Dari awal pernikahan kami memang hanya sebatas tanggung jawabnya pada anak yang kukandung, tidak lebih. Dan kenapa anakku tidak ikut bersamaku, itu karena dia adalah penerus satu-satunya keluarga mantan suamiku." Nayla meneruskan kalimatnya dengan nada sedikit sedih, membuat Sarah jadi agak merasa bersalah.


"Maaf...aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Tadi aku terlalu penasaran karena tiba-tiba sekarang kamu menjadi kaya. Aku hanya takut kamu terlibat hal-hal buruk." ujar Kara akhirnya.


Nayla hanya tersenyum.


"Tidak apa-apa. Aku tahu kamu hanya mencemaskanku. Tapi kamu tidak usah khawatir, aku tidak melakukan sesuatu yang ilegal. Dan mobil yang kamu lihat itu, itu adalah hasil dari jerih payahku sendiri." balas Nayla dengan bangga.


"Benarkah?" Sarah nampak tidak percaya.


Nayla mendelik pada Sarah.


"Jadi kamu meragukan kemampuanku?" tanyanya.


"Bukan begitu, aku tahu kamu tidak berbohong. Hanya saja..., kalau ingat dulu kita sama-sama bekerja sebagai pelayan restoran, rasanya memang sulit di percaya." jawab Sarah sambil sedikit meringis dan mengangkat kedua jarinya tanda damai.


Nayla terdiam dan mengangguk-angguk.


"Benar juga." gumamnya.


"Ah, sudahlah. Lain kali aku ceritakan semuanya. Sekarang aku ingin mengajakmu kesuatu tempat. Kamu mengajakmu kesuatu tempat. Kamu mau pekerjaan tetap, kan?" tanya Nayla kemudian.


"Tentu saja mau. Tapi pekerjaan apa?" Sarah balik bertanya.


"Aku jamin kamu bakalan suka. Cepat ganti pakaian. Aku akan ajak kamu langsung ketempatnya." jawab Nayla.


Meski masih bertanya-tanya, Sarah pun akhirnya menuruti kata-kata Nayla. Segera setelah Kara bersiap-siap, mereka pergi meninggalkan kontrakan Sarah.

__ADS_1


Mobil Nayla melaju membelah jalanan kota.


Sesekali Sarah melirik Nayla yang sedang fokus menyetir Ia tersenyum. Diam-diam ia merasa sahabatnya itu sekarang terlihat sangat keren. Tak percaya rasanya jika mendengar gadis cantik disebelahnya itu dulunya hanya seorang pelayan restoran.


Roda kehidupan memang selalu berputar. Sarah ikut senang mengetahui sahabatnya kini punya kehidupan yang lebih baik.


Setelah beberapa saat, mereka pun berhenti didepan sebuah Butik.


Nayla mengajak Sarah turun dan masuk kedalam kafe yang saat ini tampak sedang ramai pengunjung.


Semua karyawan Butik menyapa Nayla dengan hormat, membuat Sarah menjadi agak bingung. Ia bertanya-tanya kenapa Nayla terlihat seperti bosnya disini. Apa jangan-jangan ini adalah kafe miliknya? Mungkinkah sekarang temannya ini benar-benar telah menjadi orang yang sukses?


Belum selesai Sarah bergelut dengan pikirannya, seorang karyawan Butik menghampiri mereka.


"Selamat pagi, Bu Bos." sapanya.


"Pagi menjelang siang." tambahnya lagi dengan nada bercanda.


Nayla hanya menanggapi sambil tersenyum.


"Bu Bos?" gumam Sarah tanpa sadar. Kemudian ia melihat kearah Nayla dengan tatapan penuh tanda tanya.


Nayla kembali tersenyum.


"Ini kafe milikku." ujarnya akhirnya.


Sarah tampak terperangah dengan wajah takjub.


" Butik ini milikmu?" tanyanya tidak percaya.


Nayla mengangguk.


" Butik ini, dan lima cabang lainnya dibeberapa tempat tapi kalau di kota pusat sudah jadi milik melly adikku " tambahnya.


Sarah semakin terperangah dengan mulut yang menganga sempurna. Cepat-cepat ia tutup mulutnya dengan telapak tangan, adik Nayla menjadi pebisnis juga?


Nayla yang melihat itu hanya tertawa kecil.


pekerjaan. Apa kamu mau bekerja disini?" tanyanya.Sarah tampak berusaha untuk


menenangkan dirinya.


"Pekerjaan apa?" tanyanya masih dengan keterkejutannya.


" Membantuku mengurus Butik ini, aku kelelahan mengurusnya sendiri, butik ku berada dimana-mana hanya saja setiap butik ku aku sudah menempatkan orang yang bisa aku percaya untuk mengurus dan setiap aku melihat butik nya, aku hanya tinggal mengecek Dokumen Laba-rugi nya. " Jelas Nayla


Sarah kembali melongo.


"Aku? Membantumu mengurus nya?" tanyanya.


Nayla mengangguk.


"Kamu akan digaji dengan bayaran sesuai dengan pekerjaanmu. Lalu dapat tempat tinggal dan kendaraan inventaris sebagai tunjangan, bagaimana?" tawar Nayla.


"Benarkah?" Sarah masih merasa tidak percaya.


"Apa semua karyawanmu dapat fasilitas seperti itu?" tanyanya lagi.


Nayla kembali tertawa.


"Tentu saja tidak. Itu hanya untuk kamu." jawabnya.


"Sudahlah. Lebih baik kita bicarakan diruanganku saja." ujar Nayla akhirnya. Tapi belum sempat ia membawa Sarah menuju ruangannya, tiba-tiba saja kepalanya kembali terasa pusing, dan kali ini berdenyut dengan sangat hebat hingga matanya ikut menjadi gelap.


Nayla oleng sebelum akhirnya jatuh pingsan.


"Zaya!!!" Nayla terpekik sambil menahan tubuh Nayla.


Orang-orang yang ada di butik itu pun mendadak panik dan berkerumun.Seorang pengunjung laki-laki yang sedari tadi tampak memperhatikan Nayla ikut mendekat.


"Permisi, saya dokter. Biar saya periksa keadaan Nona ini." ujarnya.

__ADS_1


Orang-orang yang berkerumun pun memberikan ruang untuk lelaki itu memberikan pertolongan.


Lila,karyawan Nayla mengarahkan lelaki itu untuk membawa Nayla keruangannya diiringi oleh Sarah.


Suasana Butik akhirnya kembali tenang.


Tak berapa lama Nayla tampak mengerjapkan matanya. Aroma minyak kayuputih yang tajam membuatnya kembali tersadar.


Tampak ia tengah terbaring disofa yang terletak diruang kerjanya, ditemani olah Sarah dan juga Lila.


" Nayla..., syukurlah kamu sudah sadar." Sarah terlihat lega. Kemudian ia membimbing Nayla untuk minum teh hangat.


"Dokter bilang kamu pingsan karena kelelahan, dan sepertinya perut kamu juga kosong. Kamu belum makan, ya?" tanya Nayla.


"Kamu panggil dokter?" Nayla malah balik bertanya.


"Kebetulan salah satu pengujung butik kita tadi ada seorang dokter. Jadi dia yang memberi pertolongan." lila membantu memberi jawaban.


Tiba-tiba pintu ruangan diketuk. Tampak lelaki yang tadi menolong Nayla masuk.


"Eh iya, Bu Nayla. Ini dokter yang tadi menolong Ibu." ujar Lila memperkenalkan.


Nayla tersenyum pada lelaki itu.


"Terima kasih atas pertolongannya." ujarnya tulus.


Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum.


"Boleh saya berbicara berdua saja dengan Nona Nayla?" pintanya.


Nayla menautkan kedua alisnya.


"Kenapa?" tanyanya,Lelaki itu diam sejenak.


"Saya ingin memastikan sesuatu." jawabnya.


Nayla tampak berpikir. Sepertinya ada hal serius menyangkut dengan kesehatannya hingga dokter itu ingin membicarakannya secara pribadi.


"Baiklah." gumam Nayla akhirnya.


Ia pun memberi isyarat agar Sarah dan Lila meninggalkannya.


Kini ia hanya berdua saja dengan dokter itu. Suasana hening agak lama. Nayla jadi sedikit tegang menunggu apa yang akan disampaikan oleh dokter itu padanya.


"Nona Nayla, apa nama lengkap Nona adalah Nayla Purnama?" tanya lelaki itu akhirnya.


Nayla mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu diluar dugaannya. Tadinya Nayla berpikir dokter itu akan menanyakan hal yang berkaitan dengan kesehatannya. Tapi tunggu dulu, dari mana dokter itu tahu nama lengkap Nayla?


Nayla menatap lelaki dihadapannya itu dengan penuh tanda tanya.


"Nona Nayla terlihat mirip sekali dengan orang yang saya kenal masa SMA. Saya hanya ingin memastikan, apakah Nona Nayla adalah orang yang sama dengan Nayla yang selama ini saya cari." tambah lelaki itu lagi.


Nayla tampak terperangah.


Diperhatikannya lekat-lekat lelaki yang tengah berdiri dihadapannya itu. Lalu kemudian matanya tertuju pada tanda lahir berwarna hitam yang ada di punggung tangan sebelah kanan lelaki itu.


Nafas Nayla seketika terasa berhenti. Matanya membulat sempurna dengan mulut yang agak terbuka.


"Kak Kevin...???"


Bersambung..


Hayo tebak laki-laki itu siapanya Nayla 🤭😂


** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho


Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah


Please....pleasee🙏🙏


Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP😘🥰

__ADS_1


__ADS_2