
"Alvaro merindukanmu." suara Galang terdengar memecah keheningan.
"Itulah kenapa aku membawanya kesini." tambahnya lagi.
Nayla kembali melihat kearah Alvaro dan membelai lembut wajahnya. Hatinya sangat senang mendengar putranya itu merindukannya. Tanpa sadar Nayla pun tersenyum.
Galang menatap senyum Nayla itu dengan tatapan yang sulit untuk dilukiskan. Ada getaran halus yang menyusup didadanya dan membuat jantungnya berdetak agak cepat dari biasanya. Hatinya sedikit berdebar. Tak pernah sebelumnya dia merasa seperti ini saat melihat senyum Nayla.
"Mama, apa boleh Al menginap?" tanya Alvaro kemudian.
Mata Nayla agak membulat. Ia terkejut mendengar pertanyaan Alvaro, sekaligus senang.
"Al ingin menginap disini?" tanyanya tak percaya.
Alvaro mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Boleh kan, Ma?" tanyanya lagi.
Senyum Nayla kembali merekah, kali ini ia meraih Alvaro kedalam pelukannya dan memeluknya erat seakan tak ingin melepasnya lagi.
"Tentu saja boleh, Sayang. Al bisa menginap disini sebanyak yang Al mau. Mama akan senang sekali tidur ditemani Al. Mama juga sangat merindukan malaikat Mama ini." Nayla mencium pucuk kepala putranya itu dengan penuh kasih sayang.
Lagi-lagi interaksi ibu dan anak ini tak luput dari tatapan lekat Galang.
Nayla menyadarinya, tapi ia pura-pura tidak tahu dan bersikap biasa. Ia tidak ingin salah tingkah dan bersikap bodoh dihadapan Galang. Entah kenapa, saat ini ia merasa perlu untuk menjaga imagenya dihadapan lelaki itu. Mungkin karena mereka sekarang telah bercerai dan kembali menjadi dua orang asing.
"Tapi Papa juga menginap disini ya, Ma?" Pertanyaan Alvaro kali ini sukses membuat mata Nayla membulat sempurna.
Matanya tanpa sadar melihat kearah Galang yang masih setia menatapnya. Mata mereka bertemu untuk beberapa saat, kemudian Nayla membuang pandangannya kearah lain.
"Papa juga merindukan Mama, jadi Papa harus menginap disini juga." pinta Alvaro dengan keras kepala.
Nayla tampak mengatur kata untuk menolak permintaan Alvaro ini. Ia tidak mungkin membiarkan Galang menginap dirumahnya. Lagipula lelaki itu juga tidak akan mau menginap dirumahnya yang sederhana ini, bukan?
"Besok Papa mesti kekantor pagi-pagi. Jadi Papa pasti akan kerepotan kalau menginap disini. Bisa-bisa Papa malah telat pergi kekantor." Nayla berusaha menolak keinginan Alvaro.
"Tidak masalah." Tiba-tiba terdengar suara Galang menginterupsi.
"Papa akan menginap disini bersama Al. Papa bisa pergi kekantor agak siang." tambah Galang lagi sambil tersenyum kearah Alvaro.
Zaya mendelik. Entah apa yang ada Zaya mendelk. Entah apa yang ada di benak Galang saat ini, yang jelas itu membuatnya kesal.
__ADS_1
Tapi kemudian, Nayla tak bisa menyangkal lagi karena Alvaro yang bersorak kegirangan. Alvaro tampak sangat senang mendengar kata-kata Galang. Sangat jarang Nayla bisa melihat Alvaro ceria seperti itu, hingga ia tak tega untuk menolak keinginannya.
Nayla pun menyerah dan mwnyetujui keinginan Alvaro. Hanya sekali ini saja tak masalah pikir Nayla.
Malam pun merambat. Nayla memasak spageti untuk makan malam mereka bertiga. Terlihat Alvaro makan dengan lahap dan sangat bersemangat,Nayla sangat senang melihatnya. sudah lama ia tidak melihat Alvaro makan, dan sejujurnya ia merindukan momen ini.
Setelah menyelesaikan makan malam, Nayla membereskan meja makan dan mencuci piring yang kotor. Sedangkan Alvaro dan Galang terlihat sedang menonton tv diruang tengah.
Sekilas mereka seperti keluarga kecil sederhana yang normal Tapi kemudian ia tersenyum masam. Jika bukan karena la menuruti keinginan Alvaro, tidak mungkin mereka seperti ini.
Hari telah semakin larut. Nayla telah menidurkan Alvaro dikamarnya dan menyiapkan kamar tamu untuk dipakai Galang.
Kemudian Nayla menghampiri Galang yang tampak sedang duduk diteras samping rumah Nayla.
"Aku sudah menyiapkan kamar tamu. Kamu bisa menggunakannya malam ini Tapi tentu saja tidak senyaman dirumahmu. Aku harap kamu tidak keberatan." ujar Nayla. Lalu tanpa menunggu tanggapan dari Galang, Nayla melangkah pergi.
"Apa kabarmu?" Tiba-tiba pertanyaan Galang membuat Nayla menghentikan langkahnya.
Nayla terdiam sesaat, kemudian berbalik kearah Galang.
"Baik." jawabnya singkat.
" Kabar kedua adikmu " tanyanya lagi
" Kedua adikmu memiliki kemampuan dalam dunia bisnis sepertimu " ucap Galang yang sedang berusaha mencari topik cerita.
" Hem, terimakasih " ujar Nayla
" Aku sering melihat berita mereka di mana-mana, kedua adikmu luar biasa. Cuma berapa minggu membangun bisnis The Star Batik dan The Star Cafe sudah berkembang pesat. " Sahut Galang . Tentu saja Galang mengetahuinya karena selama ini ia selalu mencari tahu tentang Nayla, saat mendapati bahwa mantan istrinya ini sudah di kenal di dunia bisnis bahkan dia selalu di hormati di mana-mana membuatnya makin kagum dengan sosok mantan istrinya itu. Dan yang membuat dia kaget tentang kedua adik Nayla,mereka sudah bisa menjadi sosok pemimpin bagi semua orang, hingga Penyesalan dalam dirinya makin menjalar.
" Tentu Saja, aku tak akan membiarkan mereka di rendahkan oleh orang-orang jadi aku berusaha membuat kedua adikku bisa menjadi sosok yang bisa dikagumi oleh semua orang.Karena menjadi orang rendah itu harga dirinya akan di injak-injak oleh orang kaya " Jawab Nayla dengan suara dingin dan tegas tanpa menatap Galang yang masih setia menatapnya.
Ucapan Nayla tentu saja begitu tertohok di hati Galang, menusuk hingga ia tidak sanggup menanggapi kalimat Nayla itu.
"Kenapa kau menolak kompensasi dariku tempo hari?" tanya Galang lagi setelah ia berusaha mengendalikan diri. Kali ini dia beranjak dari duduknya sambil melihat kearah Nayla.
Nayla menghela nafas.
"Aku tidak menolaknya, aku memberikannya pada Alvaro ." kilahnya.
Galang tampak tersenyum miring mendengar alasan Nayla.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memastikan kau hidup dengan baik setelah bercerai denganku. Itulah kenapa aku memberikan semua itu. Tapi kau malah menolaknya dan membuatku khawatir." ujar Galang terdengar putus asa.
Nayla terdiam sesaat sambil menatap Galang.
"Terima kasih atas perhatianmu. Tapi aku baik-baik saja tanpa kompensasi itu. Lagipula kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, aku bukan lagi istrimu." tegas Nayla.
Galang terdiam. Kata-kata Zaya begitu telak memukulnya, hingga dia tidak bisa menjawab apa-apa. Sebuah kenyataan jika saat ini Nayla bukan lagi istrinya, tapi kenapa dia merasa tidak senang saat Nayla mengatakan itu?
"Aku hanya ingin kau bahagia, Nayla." lirih Galang akhirnya.
Nayla yang mendengarnya hanya tersenyum miris.
"Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan kamu memikirkan kebahagiaanku?" sarkasnya.
"Tidak perlu seperti ini, Galang. Berhentilah mengasihaniku. Cukup selama Lima tahun Lebih kemarin saja aku hidup dibawah belas kasihanmu. Dan itu terlalu menyedihkan." Nayla membuang nafasnya kasar.
"Aku tidak mau hidup menyedihkan seperti itu lagi." tambah Nayla lagi.
"Segeralah tidur, selamat malam." Nayla meninggalkan Galang yang masih berdiri dengan wajah tertegun.
Galang tak menyangka Nayla yang dikenalnya dulu benar-benar telah berubah. Sepertinya luka yang begitu dalam telah memaksanya membangun sebuah benteng untuk melindungi hatinya agar tak kembali tersakiti.
Bunga indah kemarin telah menumbuhkan duri dibatangnya sekarang, hingga akan membuat luka siapapun yang berusaha untuk menyentuhnya.
Galang tersenyum penuh ironi. Tidak akan pernah mudah lagi untuk kembali mendekati Nayla. Sepertinya dia sudah mulai mendapatkan hukuman atas apa yang telah dilakukannya pada Nayla selama ini.
^^^"Memaafkan, kadang-kadang bukan karena kita terlalu baik tetapi kerana hati tak mampu lagi diisi dengan kebencian. Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan benci dan buruk sangka sesama kita."^^^
Galang dan Nayla ππ
Bersambung....
** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho
Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah
Please....pleaseeππ
Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UPππ₯°
__ADS_1
Happy Reading Gaes β€β€