Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 37


__ADS_3

^^^"Silakan pergi jika kau sudah tidak sanggup bersama, namun lihatlah mata anak yang selalu menantimu di rumah untuk bisa bersama."^^^


๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด


Nayla membuka matanya saat jam diatas nakas menunjukkan waktu dini hari. Tubuhnya terasa ngilu dan kepalanya agak pusing. Kemudian dipaksakannya tubuh polosnya yang tertutup selimut untuk bangkit.


Nayla memperhatikan keadaannya saat ini, Galang sudah tidak berada di ruangan itu. Ia merasa dejavu, keadaanya sekarang pernah ia alami saat Galang merenggut kehormatannya dulu.


Airmata kembali mengalir dipipi Nayla. Bahkan setelah menjadi istri Galang pun ia masih harus mengalami hal memalukan ini. Sepertinya memang tak ada harapan untuk Nayla bisa mendapatkan hati Galang lagi, karena dimata Galang, Nayla tidak akan pernah menjadi berharga.


Pelan-pelan Nayla beringsut menuju kamar mandi. Diguyurnya tubuh ringkihnya itu dengan air hangat, berusaha sedikit meredam rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya.


Nayla memejamkan matanya sambil sedikit menengadah. Kembali terngiang ditelinganya kata-kata Galang yang begitu merendahkannya. Sakit ditubuhnya sangat tak seberapa jika dibandingkan dengan sakit didalam hatinya. Sungguh malang nasibmu Nayla.


Galang benar-benar telah menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang istri dan perempuan. Tak pernah terbayangkan oleh Nayla akan dibuat galang sehina ini. Lalu apakah ia tetap akan bertahan dengan keadaan yang seperti ini? Haruskah Nayla melupakan begitu saja semua perbuatan tak terpuji Galang terhadapnya?


Sungguh, sebenarnya Nayla merasa sangat marah. Ingin rasanya ia pergi dari rumah itu saat ini juga. Tapi kemudian ia teringat Alvaro, putranya. Jika Nayla pergi sudah pasti ia tidak akan pernah melihat Alvaro lagi. Nayla tahu seperti apa Galang menyayangi Alvaro. Pasti tidak akan pernah Galang mengizinkan Nayla untuk menemui putranya itu seandainya mereka bercerai.


Nayla hanya tersenyum masam. Dari awal hingga akhir tetap saja dirinya yang akan kalah, karena dia yang selalu berada dalam posisi yang lemah. Beginikah rasanya menjadi istri yang tak dianggap? Sungguh sangat menyakitkan. Apapun yang dilakukan akan dipersalahkan dan tak dihargai.


Setelah dirasa tubuhnya jauh lebih baik, akhirnya Nayla menyudahi mandi tengah malamnya. Ia mengenakan piamanya dan berjalan keluar kamar, Suasana rumah besarnya itu nampak sudah sepi. Sepertinya para pelayan dan pekerja lainnya sudah kembali ke paviliun belakang rumah untuk beristirahat.


Nayla membuka pintu kamar Alvaro. Terlihat bayi menggemaskan itu tengah terlelap dengan damainya. Dan tampak pula sang pengasuh yang tertidur ditempat tidur yang khusus disediakan untuknya disalah satu sudut kamar Alvaro.


Yunita memang mengatur pengasuh itu untuk tidur tak jauh dari Alvaro agar memudahkan ia mengurus Alvaro dimalam hari. Salah satu dari banyak hal yang membuat Zaya merasa ironi. Seorang pengasuh bisa sangat dekat dengan putranya itu disaat dia, ibu kandungnya, sendiri sangat dibatasi untuk berinteraksi dengan sang anak. Bahkan seorang pengasuh pun bisa jauh lebih berarti dibandingkan dengan dirinya.


Sungguh Nayla ingin sekali berteriak kencang dan menangis sepuasnya, ia merasa ini sungguh tak adil. ia ingin mengurus anaknya dengan tangannya sendiri bukan orang lain.


Nayla kembali menutup pintu kamar Alvaro, lalu turun kelantai bawah menuju dapur.


Nayla haus. Ia butuh air dingin untuk menuntaskan dahaganya dan juga mendinginkan hatinya yang sejak tadi bergerumuh.


Diambilnya botol air minum didalam kulkas dan ditenggaknya langsung tanpa menuangkannya terlebih dahulu kedalam gelas.


Air itu hampir tandas, dahaganya juga telah menghilang. Tapi hatinya tetap tak kunjung dingin seolah sesuatu yang bergemuruh di dadanya meminta untuk di lampiaskan dengan hal lain.


Nayla ingin sekali menjerit sekuat-kuatnya untuk menumpahkan seluruh kegundahannya itu. Tapi ia tahu itu tak akan ada gunanya dan hanya akan membuatnya tampak seperti orang yang tidak waras.

__ADS_1


Akhirnya Nayla duduk dikursi dengan menelungkupkan wajahnya diatas meja makan. Airmatanya kembali mengalir. Hanya menangislah yang saat ini bisa ia lakukan. Entah sampai kapan dia akan menjadi orang lemah yang hanya bisa mengeluarkan airmata.


"Nyonya..." Suara Bibi Sani sontak membuat Nayla mengangkat wajah dan buru-buru menghapus airmatanya.


"Apa Nyonya mau makan? Saya akan panaskan makanannya ya." ujar bi Sani


Nayla tak menjawab karena sedikit terkejut dengan kehadiran Bi Sani. Bukankah harusnya beliau sudah beristirahat di paviliun belakang? Kenapa selarut ini masih ada disini?


Bi Sani berjalan mendekat dan mengambil makanan yang disimpan di wadah tahan panas yang berada dikulkas, lalu memanaskannya kedalam microwave.


"Ini, Nyonya." Bi Sani meletakkan makanan yang sudah hangat kembali itu di hadapan Nayla. Mau tidak mau Nayla mengambil sendok dan mulai menyantap makanan itu. Perutnya memang terasa lapar karena sejak tadi siang tidak diisi. Tapi, seakan makanan itu tidak bisa ia di telan.


"Tuan masih belum pulang. Makanya saya masih disini menunggu Nyonya turun. Saya hanya ingin memastikan jika Nyonya baik-baik saja." ujar Bi Sani seolah ingin menjawab pertanyaan di benak Nayla.


Nayla masih dalam mode diamnya.Ia menikmati makanannya dengan hening dan tampak tak ingin mengeluarkan suara.


"Nyonya..., apa boleh saya bertanya?" tanya Bi Sani kemudian dengan ragu.


"Bertanya apa?" lirih Nayla akhirnya.


Bi Sani tampak mengatur kata-kata dalam benaknya.


Nayla diam sejenak lalu mengangguk pelan.


Bi Sani yang melihat anggukan Nayla tampak menghela nafasnya dengan wajah menyesal.


"Maaf, Nyonya. Semua ini gara-gara saya. Saya yang sudah menyarankan hal konyol itu pada Nyonya. Karena saya, Nyonya jadi menerima kemarahan Tuan. Maafkan saya, Nyonya..... Saya benar-benar minta maaf." Bi Sani meminta maaf dengan suara tergetar. Tampak wajahnya menunduk, tak berani melihat ke arah Nayla. Sepertinya perempuan paruh baya itu merasa sangat bersalah pada Nyonya mudanya itu.


Nayla yang melihatnya tampak iba. Ia tahu jika Bi Sani hanya berniat mendekatkan dirinya dengan Galang tanpa niat yang jahat. Tentu saja dia tidak akan menyalahkan Bi Sani dalam hal ini.


Nayla meletakkan sendoknya dan meminum air telah dituangkan Bi Sani sebelumnya. kemudian ia mendorong sedikit piringnya kearah depan, tanda ia telah selesai menyantap makanannya. Dan kembali menatap Bibi Sani.


"Saya baik-baik saja, Bi. Bibi tidak perlu khawatir. Dan kejadian tadi siang, kita sama-sama tidak tahu jika Galang akan marah. Jadi tidak perlu minta maaf,mungkin aku memang aku tak pantas mendapatkan cintanya bu" jawab Nayla akhirnya.


Bi Sani memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk melihat Nayla.


"Tapi, Nyonya. Tadi siang tuan sampai menyeret Nyonya seperti itu. Saya sangat takut... Saya tidak bisa membayangkan apa yang Tuan lakukan setelah itu. Saya sangat takut jika sampai Tuan menyakiti Nyonya, dan semua itu gara-gara saya. Saya sungguh menyesal, Nyonya. Tolong maafkan saya." Bi Sani kembali berujar dengan sedihnya, dan kali ini airmata tampak jatuh kepipinya. Ia terlihat benar-benar menyesal telah memberi saran konyol yang menyebabkan nyonya mudanya ini di marahi.

__ADS_1


Nayla mengulas senyum tipis berusaha menenangkan Bi Nayla.


"Saya baik-baik saja, Bibi. Bibi bisa lihat sendiri kan? . Sekarang lebih baik bibi istirahat Karena ini sudah sangat larut. Bukankah besok Ibu mesti bangun pagi-pagi sekali?" ujar Nayla.


"Tapi apa Nyonya benar baik-baik saja?" Bi Sani balik bertanya.


Nayla mengangguk mantap.


Kemudian setelah Naylaa kembali meyakinkan jika dirinya baik-baik saja, akhirnya Bi Sani pun mau kembali ke paviliun belakang untuk beristirahat.


Nayla sendiri juga kembali kekamarnya dan berusaha untuk kembali memejamkan matanya. Tapi kemudian ada hal yang kini mengganjal pikirannya.


Galang tidak pulang? . Nayla setelah apa yang di perbuatnya dengan mu , kamu masih mau mengingatnya?


Sebelumnya Galang tidak pernah sampai menginap diluar meski sangat sibuk. Dia akan selalu pulang, bahkan saat keluar kota sekalipun. Setidaknya jika Galang tak bisa pulang, Asisten Rangga akan mengabarinya entah itu atas permintaan Galang atau tidak.


Dan sekarang dia tidak pulang, Asisten Rangga juga tidak mengabari apa-apa. Apa dia masih sangat marah pada Nayla? Atau bahkan sekarang dia merasa muak dan tidak ingin melihat Nayla lagi?


Aku benci pada diri sendiri. Mengapa aku harus terluka karena dirimu?


Suamiku, aku harap aku bisa melukaimu seperti caramu menyakitiku. Tetapi aku tahu bahwa jika aku memiliki kesempatan itu, aku tidak akan melakukannya.


Adakah yang mengerti, aku terlalu sakit untuk bertahan, tetapi terlalu cinta untuk melepaskan.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


...Bersambung.. ...


...** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho...


...Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah...


...Please....pleasee๐Ÿ™๐Ÿ™...


...Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP๐Ÿ˜˜๐Ÿฅฐ...


...Tenang saja author bakal membuat Galang menyesal dan jatuh cinta pada Nayla hehe...

__ADS_1


...jadi, tetap support author ya biar makin semangat lagi๐Ÿ˜...


__ADS_2