
πππππππππππππππππππππππππππππππππππππͺ΄πͺ΄πͺ΄πͺ΄πͺ΄πͺ΄πͺ΄πͺ΄πͺ΄πͺ΄πͺ΄πͺ΄πͺ΄πͺ΄πͺ΄πͺ΄πͺ΄πͺ΄
Nayla lalu membuka matanya karena mendengar suara ketukan di pintu kamar, Matanya masih agak menyipit karena belum begitu menyesuaikan sinar matahari yang masuk ke dari arah balkon. Perlahan ia bangkit dan membuka sempurna matanya.
Kemudian Nayla tertegun.
Sejenak ia mematung saat melihat pemandangan di hadapannya saat ini, Sepasang ayah dan anak yang masih tertidur lelap sambil saling memeluk, Terlihat begitu damai dan tanpa beban.
Ada rasa yang tak dapat Nayla artikan saat melihat keduanya, Dadanya terasa hangat dan sesak secara bersamaan. Ada secercah kebahagiaan yang muncul disudut hatinya, tapi juga ada kesedihan yang menyusup mengikuti kebahagiaannya itu.
Nayla sungguh tak bisa memahami apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini, Kemudian ia berpaling kearah lain untuk menetralkan detak jantungnya yang entah sejak kapan mulai menjadi lebih kencang dari sebelumnya.
Nayla meraih ponselnya diatas nakas. Lalu ia terbelalak saat melihat waktu yang ia terbelalak saat melihat waktu yang 85% tertera dilayar ponselnya, ternyata sudah menunjukkan 09.00 pagi waktu setempat.
Nayla bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sepertinya seharian menghabiskan waktu di Disneyland kemarin membuat mereka bertiga kelelahan dan tidur nyenyak sampai matahari meninggi. Padahal baik Nayla, Alvaro dan Galang, ketiganya terbiasa selalu bangun tepat waktu dan tidak pernah kesiangan sebelumnya. Tapi kali ini mereka tampak tak terjaga seperti biasanya.
Apa mungkin karena terlalu lelah atau mungkin mereka terlalu nyaman karena tidur bersama orang-orang yang disayangi, yang kebetulan selama ini tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Entahlah, yang jelas dalam kurun waktu Lima tahun lebih hidup bersama Galang, baru kali ini Nayla melihat lelaki itu masih terlelap di jam segini.
Sesaat setelah Nayla selesai mandi dan berpakaian rapi kembali terdengar ketukan dari arah pintu, seperti yang sebelumnya telah membangunkan Nayla. Nayla pun bergegas kearah pintu dan membukanya.
Tampak Asisten Rangga berdiri dengan wajah cemas yang tak bisa ditutupi, Lalu orang kepercayaan Galang itu sedikit membungkukkan badannya kearah Nayla.
"Maaf Nyonya, saya sudah mengganggu waktu istirahat Anda." ujarnya sopan.
"Ada apa, Asisten Rangga?" tanya Nayla. Ia bingung melihat Asisten Rangga yang terlihat gusar.
"Tuan Galang Nyonya, Saya tidak mengetahui keberadaan beliau sekarang. Tadinya saya menunggu beliau di restoran hotel, tapi karena beliau tidak kunjung turun, akhirnya saya berinisiatif menyusul ke kamarnya. Tapi setelah saya ketuk berulang kali, tak ada respon sama sekali dan akhirnya karena saya khawatir terjadi hal buruk terhadap Tuan, saya meminta pihak hotel untuk membuka kamar Tuan. Dan ternyata Tuan tidak ada didalam Saat saya berusaha menghubunginya pun, nomornya diluar jangkauan. Apa sebelumnya Tuan mengatakan pada Nyonya mau pergi kemana?" Rangga menjelaskan dengan panjang lebar dan akhirnya bertanya pada Nayla.
Nayla yang mendengar penjelasan dari Rangga pun agak sedikit tertegun dan nampak bingung harus menyusun kata seperti apa untuk menjawab pertanyaan dari Asisten pribadi Galang tersebut.
"Tidak mungkin Tuan hilang, kan?" gumam Rangga lagi tepat saat Nayla hendak membuka mulutnya.
Mata Nayla agak membulat mendengarnya.
"Haruskah saya melapor ke polisi atau meminta pihak hotel untuk memperlihatkan rekaman CCTV?" tanya Rangga lagi dengan frustasi.
Nayla buru-buru menggengkan kepalanya.
"Tidak perlu, Asisten Rangga." cegah Nayla cepat.
Rangga menghela nafasnya.
"Lalu saya harus bagaimana agar bisa tahu keberadaan Tuan, Nyonya?" tanyanya lagi.
Nayla menelan salivanya bagaimana ia harus mengatakan jika Galang tidaklah hilang, melainkan tidur di kamarnya. Apa yang akan dipikirkan oleh bawahan Galang ini jika dia sampai tahu Galang dan Nayla bermalam dikamar yang sama?
"Sebenarnya... Galang..." Nayla berusaha untuk memberi tahu keberadaan Galang kepada Rangga, tapi orang dimaksud justru muncul dari arah dalam kamar masih dengan muka bantalnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya, entah kepada Nayla atau kepada Rangga. Suaranya serak khas orang yang baru bangun tidur.
"Tuan...?" Rangga bergumam pada dirinya sendiri, Lalu dia melirik pada Nayla yang tampak berusaha menutupi kecanggungannya dengan tersenyum kecut.
"Galang.. ada disini sejak semalam.." ujar Nayla akhirnya dengan canggung, Entah kenapa saat ini Nayla merasa dirinya dan Galang seperti pasangan mesum yang tengah digerbek oleh seorang petugas disebuah kamar hotel.
Nayla yakin Asisten Rangga pasti salah paham dan berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan Galang saat ini, Astaga. Ia benar-benar merasa malu dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Tuan..disini sejak semalam?" tanya Rangga ingin memastikan.
"Ya, Memangnya kenapa?" Galang balik bertanya.
"Ah, ti-tidak Tuan." jawab Rangga dengan terbata.
Kemudian Galang beralih pada Nayla.
"Kau sudah bangun dan mandi lebih dulu rupanya, Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Galang kepada Nayla.
Nayla agak membeliakkan matanya.
Meski tak ada yang salah dengan kalimat yang baru saja dilontarkan Galang, entah kenapa kalimat itu terdengar sangat intim hingga tubuh Nayla jadi merinding dibuatnya. Seolah-olah mereka berdua telah menghabiskan malam panjang yang penuh dengan gairah hingga tertidur sampai kesiangan.
"Aku...aku mau melihat Alvaro dulu." ujar Nayla sambil buru-buru berlalu dari hadapan Galang dan Asisten Rangga. Wajahnya sudah sangat merah karena menahan malu, Hancur sudah reputasinya dihadapan Rangga saat ini.
Rangga yang menyaksikan interaksi Nayla dan Galang pun ikut menjadi salah tingkah.
"Kalau begitu saya akan menunggu di bawah, Tuan" ujar Rangga sambil membungkukkan badannya kepada Galang, Kemudian cepat-cepat dia berlalu dari sana dengan sejuta pertanyaan yang berputar-putar dibenaknya.
Rangga dan Sarah yang sudah menunggu sejak tadi akhirnya bisa bernafas lega karena sudah bisa mengakhiri penantian panjang mereka.
Sarah mengamati ketiga orang yang ada dimeja tak jauh darinya tersebut,Sekilas mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Orang yang melihat pasti tak akan menyangka jika mereka adalah pasangan yang telah bercerai.
Nayla menyantap sarapannya dengan agak canggung, berbeda dengan Galang dan Alvaro yang terlihat sangat menikmati hidangan mereka. Wajah ayah dan anak Albern yang tampak berseri seperti baru saja melewati sesuatu yang menyenangkan.
Nayla mengarahkan pandangannya kearah lain Tapi justru matanya beradu dengan tatapan Sarah yang seakan menelanjanginya, Nayla agak terkejut dengan tatapan itu. Tiba-tiba ia merasa seperti terdakwa yang sedang menanti vonis hakim atas kejahatan yang telah dilakukannya. Nayla bingung bagaimana harus menjelaskan situasi ini agar orang-orang tak salah paham padanya.
Nayla menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri.
Kemudian setelah sarapan yang sudah sangat telat itu, mereka pun melanjutkan jalan-jalan ke menara Eifeel yang terletak cukup dekat dengan hotel tempat mereka menginap.
Meski tak segemerlap saat malam, menara itu tak kalah mempesona disiang hari, hingga pengunjung masih tetap ramai.
Nayla memandangi menara yang menjulang tinggi itu sambil sesekali melihat dari kejauhan kearah Alvaro yang sedang bermain-main dengan Galang dan Rangga.
Senyum tipis tersungging di bibir Nayla melihat putranya yang tampak sangat ceria.
"Sepertinya kalian akan segera rujuk." suara Sarah sedikit mengejutkan Nayla.
Nayla menoleh dan tampaklah Sarah berdiri dengan menatap Nayla lekat.
__ADS_1
"Maksudmu?" tanya Nayla tak mengerti.
Sarah tersenyum.
"Kalian bahkan sudah tidur sekamar masih berpura-pura juga." sindir Sarah.
Sontak Nayla terbatuk karena tersedak liurnya sendiri.
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan Kami hanya menuruti keinginan Alvaro." sanggah Nayla kemudian.
"Oh ya? Tapi kelihatannya kalian sangat menikmatinya. Terutama Tuan Galang, kelihatannya dia seperti musafir yang dahaganya baru saja terpuaskan." ujar Sarah frontal ,Tentu saja Zaya mendelik mendengarnya.
"Jangan bicara sembarangan." sergahnya.
Sarah hanya terkekeh melihat wajah Nayla yang memerah.
"Hei, kepiting rebus santai saja, Memangnya kenapa harus malu. Kalian juga sebelumnya sudah punya Alvaro." ujar Sarah ditengah kekehannya.
Nayla masih mendelik dengan wajah tidak suka.
"Tidak perlu gengsi jika memang kamu juga menginginkannya." bisik Sarah kemudian yang tentu menambah merah wajah Nayla.
Tapi sejurus kemudian Sarah menghela nafas.
"Tapi sejujurnya, aku sedikit kasihan pada Dokter Kevin sepertinya dia kalah cepat." gumamnya.
Nayla menoleh kearah Sarah dengan penuh tanda tanya. Belum sempat Kara melanjutkan pembicaraan, suara seorang lelaki mengejutkan mereka berdua.
" Nay..."
Nayla dan Sarah menoleh kearah sumber suara itu secara bersamaan. Mata mereka berdua pun sama-sama membulat tak percaya.
Seorang lelaki yang tak disangka kemunculannya tampak berdiri tak jauh dari mereka. Matanya menatap Zaya penuh kerinduan, dan bibirnya mengulas senyum tipis yang meyiratkan kelegaan dari dalam hatinya.
Lelaki itu perlahan mendekati Nayla Sedangkan Nayla hanya bisa mematung dengan tatapan tak percaya.
"Kak Kevin...?" Bibirnya pun hanya bisa bergumam lirih.
Nayla masih terperangah saat Kevin berhenti tepat dihadapannya, Mulutnya bahkan sampai sedikit terbuka saking tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya saat ini. Secara impulsif Nayla melihat sekelilingnya, memastikan jika saat ini ia benar-benar berada didekat Menara Eiffel bukannya Tugu Monas.
Bagaimana bisa lelaki dihadapannya ini tiba-tiba muncul? Dari mana dia tahu jika saat ini Nayla sedang berada disini? Dan lagi, meski dia tahu sekalipun, dia punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja, kan?
"Kak Kevin, bagaimana bisa ada di sini juga?" Tanya Nayla tanpa sadar, Ia sungguh penasaran bagaimana Kevin bisa muncul begitu saja saat ini.
"Ternyata kehadiranku tidak diharapkan, ya?" Tanya Kevin, Meski dia berusaha tersenyum dan membuat ucapannya terdengar seperti candaan tapi tetap saja terdapat kesedihan didalam kata-katanya tersebut.
"Bu-bukan begitu maksudku." Nayla jadi tergagap dan merasa tidak enak.
Bersambung......
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Komen Dan Vote ya teman-teman π₯°π€
Happy Reading And Happy Sunday β€β€