
^^^"Kehidupan ini bagai papan catur, jika tak memiliki strategi tentu akan kalah. Siapa tak berkawan tentu takkan pernah menemukan jalan keluar."^^^
......................
...----------------...
"Sekarang kamu bisa memarahiku sepuasnya. Kamu juga boleh memukulku. Tapi jangan memutuskan hubungan denganku, Sarah. Kamu satu-satunya teman dan juga keluargaku selain kedua adikku." sambung Nayla
Sahabat merupakan sosok yang selalu ada dalam suka maupun duka, yang tak segan mengulurkan pertolongan. Dalam persahabatan pasti akan muncul riak-riak kecil seperti perselisihan. Namun, permusuhan tersebut tak akan membutuhkan waktu yang lama untuk segera kembali akur.
Sarah yang mendengar kata-kata terakhir Nayla langsung menghentikan tangisnya dan seketika menoyor dahi Nayla dengan gemas.
"Dasar bodoh! Kamu ini selain jahat ternyata juga bodoh! Untuk apa aku susah-susah mencarimu kalau hanya sekedar ingin memutus hubungan denganmu? Kalau memang aku tidak menganggapmu teman lagi, untuk apa aku mencarimu sampai kehilangan pekerjaan. Kamu kira cari kerja itu mudah, apa?" Sarah kembali menyergah Nayla sambil mendelikkan matanya.
Sarah hanya bisa meringis sambil memegang dahinya. Hatinya menghangat. Ternyata setelah enam tahun, Sarah benar-benar tidak berubah. Sarah masih tetap sahabat yang menerimanya dalam keadaan apapun, bahkan setelah melakukan sebuah kesalahan sekalipun.
Nayla kembali merasa emosional. Dipeluknya Kara erat seolah tak ingin dilepasnya lagi.
"Terima kasih, Sarah... Maaf sudah membuatmu susah." lirihnya.
Sarah tampak melunak, di balasnya pelukan Nayla tak kalah erat. Lalu mereka pun berpelukan cukup lama sebelum akhirnya sama-sama saling mengurainya.
"Jadi sekarang kamu kerja apa?" tanya Nayla kemudian.
Sarah tak langsung menjawab dan terlihat menghela nafas.
"Sejak dipecat dari restoran, aku tidak dapat pekerjaan tetap lagi, Aku kerja serabutan. Kadang aku mengambil jasa membersihkan rumah orang secara harian. Atau juga menerima jasa loundy kecil-kecilan,Pokoknya apa saja selama aku bisa beli makanan dan bayar kontrakan. Tapi, akhir-akhir ini aku membuat kue dan menjualnya secara online." jawab Sarah.
"Kamu jual kue?" tanya Nayla.
Sarah mengangguk.
Nayla tahu jika Kara cukup mahir membuat aneka ragam kue. Tapi selama ini Sarah tidak cukup percaya diri untuk menjual kue hasil buatannya itu. Sepertinya desakan ekonomi telah membuatnya melewati batasan yang ia buat sendiri.
Nayla menjadi semakin merasa bersalah mendengar cerita Sarah.
"Aku kira kamu sudah tidak tinggal disini lagi, Sarah." ujar Nayla kemudian.
Sarah terdiam sesaat.
"Kalau aku pergi dari sini, bagaimana kamu bisa menemukanku." jawabnya kemudian.
__ADS_1
Berganti Nayla yang terdiam.
"Apa sebegitu yakinnya kamu jika aku akan kembali?" tanya Nayla akhirnya.
Sarah mengangguk sambil melihat kearah lain.
"Aku yakin kamu akan kembali. Walaupun aku harus menunggu lebih lama dari perkiraanku. Tapi tidak apa-apa, asalkan kita masih bisa bertemu lagi, enam tahun bukan masalah." Sarah tersenyum.
Nayla tertegun. Ia tidak menyangka jika Kara menganggapnya seberarti itu.
Sarah sebenarnya masih punya kedua orang tua. Hanya saja mereka telah bercerai dan sudah punya keluarga masing-masing. Ayah Sarah sudah menikah lagi dan punya anak. Begitu pula dengan Ibu Sarah.
Sarah menjadi seperti anak yang terbuang. Baik dikeluarga ibunya, maupun dikeluarga ayahnya, Sarah menjadi sosok yang tak dianggap. Hal itu membuatnya memutuskan untuk hidup sendiri dan pergi merantau.
Hingga kemudian, karena pekerjaan ia bertemu dengan Nayla. Mungkin karena kondisi mereka yang sedikit banyak punya kesamaan, mereka pun cocok satu sama lain dan menjadi dekat.
Hanya saja, Nayla agak tidak menyangka jika kini Sarah menyayanginya melebihi keluarganya sendiri. Nayla pun berjanji setelah ini akan memperlakukan Sarah dengan lebih baik lagi.
Mereka terus berbincang-bincang melepas rindu hingga hari menjelang sore.
Akhirnya Nayla pamit dan berjanji akan kembali esok hari untuk membawa Sarah ketempat kerja yang baru.
Sarah melepas kepulangan Nayla dengan raut wajah tak terlukiskan. Matanya sempat mendelik tak percaya saat melihat Nayla memasuki sebuah mobil dan mengendarainya sendiri.
" Sahabat bukan tentang siapa yang telah lama kamu kenal, tapi tentang siapa yang menghampiri hidupmu dan tidak pernah meninggalkanmu dalam situasi dan kondisi seburuk apa pun."
Nayla pun meluncur meninggalkan kontrakan Sarah menuju kediamannya.
Nayla memarkir mobilnya dihalaman rumah. Kemudian matanya tertuju pada sebuah mobil mewah yang terparkir diluar pagar rumahnya.
Bergegas Nayla turun dan mengamati lebih seksama.
Deg!
Nayla mengenali mobil itu. Itu adalah mobil milik Galang. Tapi kenapa sekarang ada didepan rumahnya? Apa Galang ada disini?
"Mama." Tiba-tiba saja sebuah suara membuyarkan lamunan Nayla. Suara yang sangat ia kenal dan juga ia rindukan. Suara malaikat kecilnya, Alvaro.
Nayla menoleh.
Terlihat Alvaro telah berdiri diteras rumahnya dengan tersenyum lebar. Dan tampak juga Galang berdiri dibelakang Alvaro.
__ADS_1
Nayla tertegun. Setelah lebih dari dua bulan bercerai, ini adalah kali pertama ia bertemu kembali dengan Galang.
Mendadak tubuh Nayla membeku. Ia tidak tahu ada apa dengan dirinya. Lidahnya tiba-tiba saja kelu dan tak kuasa untuk bersuara, bahkan sekedar membalas sapaan Albern sekalipun.
Nayla mematung, tak tahu harus berbuat apa.
"Mama..." Suara Alvaro kembali terdengar, membuat Nayla kembali tersadar.
" Aku berharap jika ibu dapat mendengarku aku ingin mengatakan bahwa aku sangat merindukan kehadirannya." Alvaro Christian Alexander
Buru-buru Nayla menenangkan dirinya dan tersenyum kearah putra kesayangannya itu. Nayla pun melangkah mendekati mereka.
"Sayang..." Nayla meraih Albern kedalam pelukannya. Bocah itu membalas pelukan Nayla tak kalah erat.
Setelah agak lama, mereka saling melepaskan pelukan.
Nayla menangkup wajah Alvaro dan memperhatikan setiap bagiannya sambil tersenyum. Hal yang tak pernah terjadi selama ia tinggal dirumah Galang.
Ternyata begini rasanya bisa berinteraksi secara dekat dengan anak sendiri. Sungguh menyenangkan. Selama ini saat dia masih menjadi istri Galang, momen seperti ini tidak pernah sekalipun ia rasakan.
Jangan salahkan Nayla jika saat ini ia merasa perceraiannya dan Galang adalah hal yang tepat.
"Ayo kita masuk". Nayla membuka pintu rumahnya dan membimbing Alvaro masuk kedalam rumah tanpa menoleh ke arah Galang yang masih memerhatikan mereka dari belakang.
Galang mengikuti Nayla dan Alvaro dari belakang.
Nayla mempersilahkan mereka duduk dikursi tamu. Lalu ia pamit kebelakang sebentar, meninggalkan Galang dan Alvaro yang tampak masih mengamati suasana rumah Nayla.
Rumah itu tidak terlalu besar dan hanya mempunyai dua kamar tidur, tapi terasa sangat nyaman dihuni. Warna catnya sangat lembut dan tercium aroma pengharum ruangan yang sangat menenangkan.
Tak berapa lama Nayla kembali keluar dengan balutan baju rumahan. Tangannya nampak membawa nampan berisi minuman dan makanan kecil. Lalu setelah meletakkannya diatas meja tamu, Nayla pun ikut duduk disamping Alvaro.
"Alvaro merindukanmu." suara Galang terdengar memecah keheningan.
Bersambung..
Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah
Please....pleasee🙏🙏
Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP😘🥰
__ADS_1
Dukungan Dan Votenya author tunggu lho
Happy Reading Gaes..