
"Perpisahaan seringkali mengajarkan kita betapa berharganya seseorang setelah dia tiada."
Bi Sani hanya bisa mengeluarkan airmatanya. Beliau tahu betul bagaimana perasaan Nayla saat ini. Pasti sangatlah pedih harus meninggalkan orang yang dicintai. Tapi tentu saja Nayla tidak bisa memaksa untuk tinggal karena Galang memaksa untuk tinggal karena Galang sudah berkehendak. Bi Sani hanya berharap Nayla bisa kuat dan mampu melewati ini semua.
Tak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan, Nayla segera mengakhiri momen perpisahan itu dan bergegas meninggalkan rumah Galang dengan menggunakan taksi.
Sepanjang perjalanan Nayla berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak emosional saat bertemu Galang. Nayla tidak ingin sampai lepas kendali dan menangis dengan menyedihkan dihadapan Galang nanti. Ia ingin menampilkan kesan terbaik, agar Galang mengingatnya sebagai sosok yang kuat.
Akhirnya Nayla sampai ditempat tujuan. Setelah menyuruh taksi menunggu dan meninggalkan barang-barangnya disana, Nayla pun memasuki kantor pengadilan itu dengan hati berdebar.
Didalam Galang sudah menunggu bersama dengan pengacaranya. Lalu Nayla langsung diminta menandatangi selembar surat yang diketahuinya adalah akta cerai.
Nayla menandatanganinya dengan tangan sedikit gemetaran. Ia tidak percaya jika saat ini ia sudah bukan istri Nayla lagi. Pernikahan selama lima tahun, berakhir hanya dengan sebuah tanda tangan.
Sebelumnya Nayla pernah melihat diacara infotaiment jika perceraian itu akan melalui proses yang panjang dan melelahkan. Tapi disini ia bisa bercerai dengan sangat cepat dan mudah.
Sepertinya Galang memang telah mengaturnya sedemikian rupa agar urusannya menjadi mudah, dan mereka cepat berpisah.
Nayla tersenyum miris. Galang tampaknya sudah menyiapkan perceraian ini sejak lama. Dan bodohnya ia berharap bisa hidup dengan Nayla selamanya.
"Semua pasti berubah, mau tidak mau. Semua pasti berpisah, ingin tidak ingin. Semua pasti berakhir, siap tidak siap."
Dengan langkah gontai Nayla keluar dari gedung itu. Tapi kemudian Galang berjalan menyusulnya.
"Biar aku antar." Galang terlihat mempersilahkan Zaya untuk masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
Nayla mendongak, lalu menggeleng.
"Sudah ada taksi yang menungguku." jawabnya sambil meneruskan langkahnya tanpa menoleh ke arah Galang.
" Nayla " Tiba-tiba suara Galang yang memanggil namanya menghentikan langkah Nayla.
Nayla menoleh. Terlihat Galang berjalan kearahnya dan berhenti tepat saat mereka telah saling berhadapan.
"Nayla.., mulailah kehidupan barumu dengan baik. Selama menjadi istriku kau selalu terkekang dengan banyak aturan, sekarang kau bisa menikmati masa mudamu. Hiduplah dengan bahagia... Aku harap kau akan bertemu dengan lelaki bisa mencintaimu dengan tulus." ujar Galang dengan suara berat dan dalam.
Nayla hanya diam dan tak menjawab. Ditatapnya Galang dengan tatapan yang teramat sendu. Jelas terlihat ada luka di matanya yang jernih itu.
Kemudian Nayla menarik sudut bibirnya, berusaha mengulas sebuah senyuman.
"Boleh aku memelukmu?" tanyanya serak.
Lalu entah karena dorongan apa, Galang semakin mendekatkan diri pada Nayla dan merengkuh tubuh ringkih itu kedalam pelukannya.
Nayla membalas pelukan Aaron erat, seakan tak ingin melepaskannya lagi. Dihirupnya aroma tubuh Galang yang selalu disukainya, kemudian disandarkannya kepalanya didada lelaki itu.
Mereka diam beberapa saat, sebelum akhirnya sama-sama mengurai pelukan itu.
"Jaga dirimu, Galang. Jangan bekerja terlalu keras. Kalau kamu terlalu lelah nanti kepalamu bisa sakit." ujar Nayla sambil tersenyum.
Galang tidak menjawab dan hanya membeku. Kata-kata Nayla barusan, entah kenapa begitu terasa *******-***** hatinya. Galang benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya sekarang.
__ADS_1
"Sampai jumpa." Nayla berbalik meninggalkan Galang yang masih mematung dan menatap nanar kearahnya.
Nayla terus melangkah sambil menahan airmata yang hampir tak terbendung. Dipercepatnya langkah kaki menuju taksi yang sedari tadi telah menunggu.
Dan saat ia telah masuk kedalam taksi, runtuh sudah pertahanannya.
"Hati itu mudah patah, makanya kau harus mampu menjaga dan memeliharanya. Jika tidak, dia akan sering terjatuh lagi dan lagi hingga akhirnya hancur tak tersisa, terluka, dan sakit selamanya. Dan apabila kau tak mampu menyembuhkannya, dia akan mati rasa dan menutup selamanya. Jadi, jagalah hatimu." Nayla Purnama
Nayla tergugu. Airmatanya mengalir tanpa ampun membanjiri wajahnya yang mulai sembab. Ia tersedu dengan sangat memilukan. Hilang sudah janji untuk tidak menangis lagi. Seberapa pun kerasnya ia berusaha tak mengeluarkan airmata, nyatanya airmata itu tetap saja mengalir tanpa bisa dicegah.
'Selamat tinggal, Galang.... Aku mencintaimu, sangat. Andai saja aku punya cukup keberanian untuk mengatakannya padamu, mungkin saat ini hatiku akan sedikit lega. Entah bagaimana aku akan menjalani hidupku setelah ini. Tapi aku akan bertahan. Aku akan menjadi lebih kuat agar kamu tak malu mengakui jika aku pernah menjadi istrimu.'" Nayla menangis air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
Perpisahan tentu akan membuat sedih orang yang ditinggalkan. Sedih adalah hal wajar yang dirasakan ketika seseorang berpisah dengan orang yang ia cintai. Tapi jangan sampai terlena dengan yang namanya 'sedih', karena hidupmu masih panjang.
Waktu tidak akan mau menunggumu untuk berdiri kembali. Angkat pundak, langkahkan kakimu lagi ke depan. Masa depan masih cerah, kebahagiaan baru ada di depan mata. Untuk memaknai arti perpisahan, meski sedih dan bikin merana, ungkapkan perasaanmu dengan kata-kata.
Saat ini mungkin pertemuan sudah berakhir. Tapi tidak ada yang tahu dengan takdir. Di lain waktu, bisa saja jodohmu dengannya masih bisa berlanjut.
^^^Bersambung.. ^^^
^^^** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho^^^
^^^Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah^^^
^^^Please....pleasee🙏🙏^^^
__ADS_1
^^^Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP😘🥰^^^