Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 78


__ADS_3

πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸπŸπŸπŸπŸπŸπŸπŸπŸπŸπŸπŸπŸπŸπŸπŸπŸπŸ


Alvaro menunjukkan raport kenaikan kelasnya kepada Nayla dengan bangga. Hampir semua nilai akademisnya menyentuh angka sempurna. Hingga bocah itu dinobatkan sebagai juara umum dikelas, bahkan disekolahnya.


Ya. Saat ini Nayla, Galang dan Alvaro sedang makan siang bersama usai Galang mengambil raport kenaikan kelas untuk Alvaro. Bocah itu tidak sabar untuk memperlihatkan piagam penghargaan yang ia dapatkan kepada Sang Mama, hingga siang itu mereka pun bertemu tanpa direncanakan sebelumnya. Alvaro sudah genap enam tahun namun karena kecerdasannya di atas rata-rata, di umur Lima tahun Alvaro masuk TK Namun selama satu semester Alvaro sudah di masukin di Sekolah Dasar .


Nayla terlihat sangat senang dengan apa yang telah putranya capai, Jika mengingat bagaimana nilai-nilainya dulu saat bersekolah, Nayla sungguh tidak menyangka bisa dikaruniai seorang putra yang sangat cerdas seperti Alvaro.


Sepertinya dalam hal ini gen Galang lebih mendominasi didalam otak Alvaro ketimbang gennya. Dan Nayla sangat mensyukuri hal itu, karena setidaknya Alvaro tidak perlu mengalami penderitaannya dulu sebagai siswa yang bodoh.


Nayla tersenyum sambil mengelus kepala Alvaro dengan lembut.


"Anak Mama sangat hebat, Mama sangat bangga dengan malaikat kecil Mama ini. Al pasti sudah bekerja keras untuk mendapatkan nilai yang bagus" ujarnya masih dengan mengelus kepala Alvaro.


"Grandma juga sudah bekerja keras mengajari Al." tambah Alvaro.


Nayla mengangguk setuju, mantan mertuanya itu memang punya andil besar dalam membimbing Alvaro belajar. Meski seringkali Nayla tidak memahami pola asuhnya terhadap Alvaro, tapi tidak Nayla pungkiri jika Yunita sangat handal membuat Alvaro lebih unggul dibandingkan dengan anak-anak lainnya.


'' Makanya Al harus berterima kasih pada Grandma, Al harus patuh dengan apa yang Grandma katakan. Jangan membuat Grandma kerepotan, Anak Mama yang pintar ini mengerti, kan?" ujar Nayla kemudian kepada Alvaro.


Alvaro mengangguk.


"Al mengerti, Ma." jawabnya.


Mereka pun makan siang sambil sesekali bercengkrama.


Momen makan siang yang tidak pernah terjadi sebelumnya selama Lima tahun lebih Nayla menjadi istri Galang.


"Al ingin hadiah apa?" tanya Galang kemudian setelah beberapa saat lalu hanya menjadi penonton melihat interaksi antara anak dan ibu itu.


Alvaro tampak agak terkejut.


"Al boleh minta hadiah walaupun tidak sedang ulang tahun?" bocah itu malah balik bertanya dengan polos.


Galang mengangguk.


"Al boleh minta apa saja, Papa akan mengabulkan apapun yang menjadi keinginan Al." jawab Galang


Wajah Alvaro mendadak menjadi lebih berseri dari sebelumnya.


"Al mau pergi liburan sama Mama dan Papa." pintanya kemudian dengan penuh semangat.


Nayla terkesiap, begitu pun dengan Galang. Keduanya tidak menyangka jika Alvaro akan meminta hal seperti itu. Menyadari jika kedua orang tuanya tidak merespon dengan baik permintaannya tadi, Alvaro pun menunduk dengan sedikit sedih.


"Tidak boleh, ya...?" tanyanya dengan suara lirih.


Nayla buru-buru menyadari perubahan wajah Alvaro,Kemudian ia mengulas senyum kepada putranya itu.


"Memangnya Al mau pergi kemana?" tanya Naylakemudian.


Alvaro mengangkat wajahnya dan menatap Nayla, seakan ingin mencari kesungguhan Atas yang Nayla ucapkan.


"Al mau ke Disneyland dengan Mama dan Papa." ujarnya kemudian.

__ADS_1


Nayla agak menautkan kedua alisnya.


Bukankah putranya ini penggemar tokoh Avangers bukannya Disney? Lalu kenapa dia ingin ke Disneyland?


"Kenapa Al mau ke sana?" tanya Nayla penasaran.


Alvaro terdiam dan tak langsung menjawab.


Nayla menyadari ada sesuatu yang membuat putranya ini bersedih, meski Nayla tak tahu itu apa.


"Sayang..." Nayla menyentuh lembut pipi Alvaro.


"Ada apa, Jagoan? Katakan apa yang menganggu pikiranmu." Galang akhirnya ikut membuka suaranya.


Alvaro mengangkat wajahnya dan memandang kearah Galang.


"Apa Papa tidak akan marah jika Al nengatakannya?" tanyanya ragu.


Galang tampak menatap putranya itu beberapa saat.


"Kenapa Papa harus marah? Katakanlah, mungkin Papa bisa membantu." jawab Galang mencoba menenangkan


Alvaro terdiam lagi, tapi sejurus kemudian ia kembali membuka suaranya.


"Sebenarnya...teman Al menunjukkan fotonya sedang berlibur di Disneyland kemarin. Dia berlibur bersama Mama dan Papanya saat liburan tahun lalu." kalimat Alvaro sukses membuat Galang maupun Nayla kembali terkesiap.


"Dia berfoto bersama Mama dan Papanya, Al juga mau seperti itu. Al mau punya foto bersama Mama dan Papa di Disneyland, Al mau memperlihatkan sama teman-teman Al kalau Al juga punya Mama. Dan Mama Al cantik..." Alvaro bercerita dengan wajah bahagia


Nayla membeku, Hatinya tiba-tiba terasa seperti ditimpa sebuah batu besar. Apa itu maksudnya putranya ini mengalami perundungan di sekolah karena tampak seperti anak yang tak mempunyai seorang ibu?


"Aku juga tidak tahu hal ini sebelumnya." ujar Galang dengan nada menyesal.


Nayla menghela nafasnya, kemudian berusaha mengulas sebuah senyuman manis untuk Alvaro.


"Selain ingin punya foto bersama Mama 12.21


"Selain ingin punya foto bersama Mama dan Papa, apa ada hal lain yang Al inginkan?" tanya Nayla lagi ia ingin tahu lebih keinginan anak kesayangannya ini.


Bocah itu tampak ragu untuk menjawab.


"Katakan saja, Sayang. Mama akan berusaha untuk memenuhinya." ujar Nayla meyakinkan putranya.


Alvaro mengangkat wajahnya.


"Al mau tidur bersama Mama dan Papa." ujarnya akhirnya.


Nayla membeku mendengarnya, begitu juga


dengan Galang, Mereka berdua sama-sama


tidak tahu harus berkata apa. Nayla tidak menyangka jika putranya itu akan banyak menahan perasaan setelah kepergiannya.


"Ayolah Jagoan, jangan sedih. Kita akan berlibur sesuai dengan keinginanmu." Galang tampak berusaha untuk menghibur Alvaro.

__ADS_1


Alvaro membulatkan matanya.


"Benarkah, Pa?" tanyanya tak percaya. Alvaro semakin membeliakkan matanya.


"Tentu saja. Kita akan pergi ke Disneyland dan kita akan mengambil gambar yang banyak, lalu kita juga akan tidur bersama-sama. Bagaimana?" tawar Galang.


"Papa tidak bohong, kan?" bocah itu masih tampak tak percaya.


Galang mengulas senyum tipis.


"Tentu saja tidak, Al bisa tanyakan kepada Mama jika tidak percaya." Galang melirik sekilas kepada Nayla, seperti memberi isyarat untuk mengiyakan semua yang dipertanyakan Alvaro.


"Benarkan, Ma?" tanya Alvaro sembari menoleh kearah Nayla.


Nayla mengulas senyum tipis dan mengangguk, membuat Albern bersorak kegirangan.


"Yeah... Al akan ke Disneyland." pekiknya senang, Senyuman kembali menghiasi wajah tampan putranya itu, sehingga kekhawatirkan Nayla pun berkurang.


Setelah makan siang itu selesai, Galang pun meminta sopirnya untuk mengantar pun Alvaro pulang terlebih dahulu, sebelum dia kembali kekantor.


Kini tinggalah Galang dan Nayla dengan posisi duduk yang saling berhadapan.


"Aku harap kau tidak keberatan aku menyetujui keinginan Alvaro." ujar Nayla memecah keheningan.


Nayla tampak berusaha menyungging senyuman


"Tidak apa-apa, Jika itu bisa membuat Alvaro senang, kenapa tidak?" jawab Nayla.


"Aku akan mempersiapkan semuanya. Jika sudah akan berangkat, aku akan menghubungimu lagi." Ucap Galang


Nayla hanya bisa mengangguk. Sepertinya kali ini dia mesti menyiapkan diri berdekatan dengan Galang kembali, demi putra semata wayangnya.


Mungkin berlibur bersama bukan ide yang buruk juga.


Nayla juga telah bekerja cukup keras akhir-akhrir ini, jadi dia sebenarnya juga membutuhkan liburan. Meski berlibur bersama dengan Galang tak pernah terbayangkan sebelumnya dibenak Nayla, bahkan saat ia masih sebagai istri Galang sekalipun.


Sepertinya akan sangat terasa canggung bagi Nayla maupun Galang. Tapi jika ini demi kebahagiaan anak semata wayangnya, kenapa tidak?


" Baiklah... anggap saja dia tidak ada." Nayla berbisik dalam hatinya.


Setiap keluarga tentu berharap bersama hingga maut memisahkan. Namun, tidak selamanya harapan menjadi kenyataan. Terkadang, di tengah perjalanan menjadi sebuah keluarga, badai datang dan menyebabkan perceraian.


Memang, perceraian adalah jalan terakhir yang bisa diambil jika segala upaya perdamaian dan perbaikan tidak bisa lagi dilakukan.Tidak hanya orangtua yang tersakiti, perceraian juga menyisakan luka dan trauma pada anak yang mungkin akan terus dibawanya hingga dewasa.


Dampak perceraian yang mungkin terjadi pada anak mungkin bisa berbeda-beda, tergantung dari usia anak pada saat perceraian terjadi serta kepribadian anak itu sendiri. Pada anak usia balita, efek perceraian orangtua mungkin tidak terlalu berpengaruh terhadap perkembangan mentalnya.


Namun, lain halnya jika perceraian terjadi saat anak sudah memasuki usia sekolah, dimana ia sudah bisa mengamati situasi di sekitarnya dan menyadari bahwa orangtuanya tidak lagi bersama.


Bersambunggg.....


Hai gaes jangan Lupa Like, Komen Dan Vote yaπŸ₯²Bagi yang ikhlas aja ya 😊


Happy Reading πŸ–€πŸ€πŸ€ŽπŸ’œπŸ’™πŸ’šπŸ’›πŸ§‘β€

__ADS_1


Di tunggu Bab selanjutnya yaβ€πŸ€—


__ADS_2