Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 71


__ADS_3

^^^"Penyesalan tanpa adanya tindakan, hanya akan membuatmu akan lebih bertambah menyesal." Galang Christian Alexander^^^


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Asisten Rangga tampak bingung dan tidak tahu mesti melakukan apa. Pasalnya selama dua puluh tahun bekerja untuk Galang, baru kali ini dia menghadapi situasi seperti ini.


Saat ini tuannya itu benar-benar dalam kondisi yang kacau. Sejak kembali dari meeting dengan seorang klien siang tad, Galang mendadak jadi hilang kendali.


Dia memporak-porandakan meja kerjanya hingga ruang kerjanya jadi sangat berantakan. Maya yang tidak sengaja memergoki hal itupun tidak luput dari kemarahan Galang. Hingga sekertarisnya itu harus menerima punishment tanpa tahu apa kesalahannya.


Lalu setelah beberapa saat, Galang pun tampak telah lebih tenang. Meski begitu, baik Sekretaris Maya maupun Asisten Rangga masih tidak berani untuk membuka suara, bahkan untuk sekedar mengingatkan jadwal Galang sekalipun.


Mereka berdua masih memilih untuk dipotong gaji daripada harus kehilangan nyawa. Kemarahan Galang tadi benar-benar membuat mereka takut, hingga menyingkirkan rasa penasaran mereka tentang penyebab kemarahan Galang itu sendiri. Tidak ingin tahu banyak hal adalah kunci penting agar bisa tetap aman bekerja pada Galang. Dan itulah yang sudah dipegang teguh olah Maya dan Asisten Rangga selama bertahun-tahun ini.


Galang menghela nafas panjang. Jangankan kedua bawahannya itu, bahkan dirinya sendiri pun tidak mengerti dengan apa yang telah dia lakukan.


Dirinya tiba-tiba hilang kendali dan melakukan hal yang tidak masuk akal sejak melihat Nayla bersama lelaki lain siang tadi.


Galang sendiri bingung dan bertanya-tanya.


Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Benarkah dia marah karena tahu Nayla sudah menjalin hubungan dengan lelaki lain. Lalu jika memang seperti itu, apa yang sebenarnya saat ini dia rasakan.


......................


...****************...


...----------------...


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Galang. Sekretaris Maya masuk dengan ragu dan tampak ingin menyampaikan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Galang sambil mengangkat wajahnya, Raut wajahnya masih terlihat tidak bagus.


Maya menelan salivanya, perlu usaha keras baginya agar dapat mengeluarkan suara.


"Tu..tuan, Mahendra ada disini." akhirnya Maya berhasil mengucapkan apa yang ingin ia sampaikan meski dengan terbata.


'Papa? " Gumam Galang


Galang menoleh kearah pintu, Seorang lelaki paruh baya masuk. Dia tak lain adalah Mahendra, Ayah kandung Galang .


Mahendra memperhatikan sekelilingnya. Tampak dia keheranan dengan kondisi raungan kerja Galang yang kini berantakan. Pandangannya kemudian beralih kearah Galang yang tampak tidak menyambut kedatangannya.


Melihat situasi yang nampaknya akan kembali menegang, Asisten Rangga dan Maya buru-buru permisi dari ruangan yang hawanya mulai dingin itu.


Kini tinggalah Galang dan Mahendra yang masih sama-sama hening. Mahendra menatap penuh tanda tanya kearah Galang anak tunggal sekaligus pewaris anak kesayangan mereka. Sedangkan Galang membuang pandangannya kearah lain agar tidak menatap papanya yang seperti sedang mengintimidasi dirinya.


Galang semakin kesal, Kenapa juga Papanya ini datang disaat-saat seperti ini. Dia benar-benar sedang tidak ingin berdebat atau sekedar mendengarkan ocehan. Ya, Papanya ini adalah orang yang lebih sering mengocehinya ketimbang Mamanya sendiri. Dan Galang tidak ingin mendengar semua itu sekarang.


"Ada apa ini, Galang?" tanya Mahendra dengan nada serius.

__ADS_1


Galang menghela nafas panjang.


"Ada perlu apa Papa kemari?" bukannya menjawab, Galang malah balik bertanya.


Kini Mahendra yang membuang nafasnya kasar.


"Aku ingin membicarakan tentang kinerjamu belakangan ini, tapi tampaknya kau baru saja selesai mengamuki bawahanmu. Apa yang sedang terjadi? Kenapa bawahanmu, Kenapa ruangan ini seperti kapal pecah?" tanya Mahendra dengan berturut-turut.


Galang hanya diam dan tidak berniat menjawab.


Mahendra kembali menghembuskan nafas panjang. Dia pun melangkah melewati barang-barang yang berserakan dilantai dan mendudukkan dirinya disofa yang berada dihadapan meja kerja Galang.


"Belakangan ini kinerjamu menurun, Galang. Kau tampak sering tidak fokus, dan ada beberapa proyek yang gagal kau dapatkan. Kenapa? Apa sebenarnya masalahmu?" Mahendra menatap tajam kearah Galang.


"Tidak ada masalah, Pa. Aku minta maaf karena telah melewatkan beberapa proyek penting. Kedepannya hal itu tidak akan terjadi lagi." jawab Galang akhirnya.


'' Keadaanya sudah agak serius sekarang. Para pemegang saham sudah mulai membicarakanmu. Mereka bilang sejak bercerai, kau menjadi tidak kompeten dan kinerjamu memburuk. Kalau keadaannya terus seperti ini, bisa-bisa selanjutnya mereka akan memintaku mengadakan rapat pemecatanmu, Galang. Sekarang katakan yang sebenarnya padaku, ada apa dengan dirimu sekarang. Apa ini memang ada hubungannya dengan perceraianmu?" Mahendra kembali bertanya sembari menatap Galang dengan tajam.


Galang diam sesaat.


"Pa, tolonglah. Aku tidak ingin membahas hal itu sekarang." kilahnya kemudian.


Mahendra tersenyum miring.


"Jadi benar, jika semua ini ada hubungannya dengan perceraianmu?" Tanyanya Lagi


Galang tak menjawab.


"Aku tidak mencintainya. Aku menceraikannya untuk memberinya kebebasan agar dia bisa mencari kebahagiaannya sendiri." jawab Galang.


Mahendra tertawa sumbang.


"Benarkah? Lalu kenapa sekarang "Benarkah? Lalu kenapa sekarang kau menjadi kacau, sampai-sampai perusahaan juga mengalami imbasnya. Apa kau yakin ingin dia mencari kebahagiaannya sendiri? Bagaimana kalau sekarang mantan istrimu itu sudah melupakanmu dan menjalin hubungan dengan lelaki lain. Apa kau akan senang mendengarnya?"


Galang membeku, Pertanyaan terakhir Mahendra benar-benar menikam tepat di jantungnya. Hanya dengan membayangkan kejadian direstoran tadi siang saja nafasnya kembali memburu.


Mahendra tampak memperhatikan perubahan ekspresi Galang.


"Apa jangan-jangan kau mengamuk hari ini karena melihat mantan istrimu itu bersama lelaki lain?" tebak Mahendra. haha papa kok pinter banget nebaknya ya ahay pasti punya masa lalu yang sama nih๐Ÿ˜‚๐Ÿคญ


Galang semakin tersentak, Kenapa juga Papanya ini harus menebak dengan benar.


"Jadi itu juga benar?" Mahendra tampak agak terkejut.


Mahendra kembali menghela nafas panjang.


"Kau harus segera menyelesaikan permasalahan pribadimu ini, Galang. Aku tidak ingin perusahaan sampai terkena imbas Lebih jauh lagi. Jika kepergiannya membuat dirimu jadi tidak baik, segera bawa dia pulang kembali. Minta maaf padanya dan ungkapkan perasaanmu. Kau tahu, perempuan selalu menginginkan pernyataan cinta dari orang yang dicintainya. Mereka tidak akan pernah bosan mendengarkan sesering apapun kau mengatakannya. Cobalah menjadi lebih lembut terhadap wanitamu, Galang." saran mahendra menasehati.


Galang membuang wajahnya kearah lain mendengar saran papanya.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti apa yang sedang Papa bicarakan sekarang." kilah Galang.


"Haishh..." Mahendra mendengus kesal.


"Kenapa juga kau harus sama persis seperti Mamamu." gerutunya kemudian.


"Apa kau ingin tahu sesuatu?" tanya Mahendra lagi pada Galang.


Galang tampak menautkan kedua alisnya.


"Dulu Mamamu baru mau mengakui perasaannya padaku saat aku hampir menikahi gadis lain. Saat itu dia benar-benar terlihat putus asa dan menyesal karena terus menyangkal benar-benar terlihat putus asa dan terus menyangkal perasaannya sendiri. Tapi untung saja semuanya belum terlalu terlambat, hingga kami masih bisa bersama sampai sekarang." Ujar mahendra


"Aku tidak ingin kau melakukan hal yang sama dan menyesal dikemudian hari. Sebelum semuanya terlambat, berusahalah untuk membawa Nayla kembali. Kalian juga sudah punya Alvaro, Kau harus memikirkan dia juga. Perkembangan mental anak akan sangat terhambat jika jauh dari ibunya. Bijaksanalah, Galang,jangan cuma pandai mengurus perusahaan tapi mengurus soal wanita kau bodoh." Sambung mahendra sekaligus mengejek Galang.


Galang diam tak menjawab, Dia berusaha mencerna kata-kata papanya barusan. Benarkah jika dia punya perasaan terhadap Nayla saat ini? Galang sendiri tidak yakin akan hal itu.


Tapi jika saat Galang harus membayangkan Nayla bersama pria lain, dia juga merasa tidak sanggup. Apa ini artinya semua yang dikatakan papanya itu benar? Pikir Galang.


Aarrghh..


Galang menjadi sangat pusing sekarang. Sungguh baginya lebih mudah menghadapi permasalahan perusahaan yang hampir bangkrut daripada harus menghadapi permasalahan hati seperti ini. Galang benar-benar dibuat kelimpungan sekarang.


"Kelihatannya kau juga butuh liburan. Ambilah cuti beberapa hari dan pergi berlibur. Ah, bila perlu ajak Alvaro dan Nayla. Kalian perlu bicara dari hati ke hati, Aku lihat selama ini Nayla sangat memperhatikanmu, dia pasti sangat mencintaimu, Galang. Bodoh sekali kau melepaskan istri yang cantik dan baik seperti dia, Segeralah selesaikan semuanya dan ajak dia rujuk kembali. Aku yakin setelah kalian kembali bersama, kau akan merasa lebih baik, dan perusahaan juga akan stabil seperti semula." saran Mahendra lagi panjang lebar.


Galang tampak sedikit melebarkan matanya mendengar kata-kata Papanya itu. Setiap kalimat yang keluar dari mulut papanya terdengar sangat ajaib dan tak masuk kedalam nalar menurut Galang.


Mengajak Nayla liburan? Menyatakan cinta dan membujuk wanita itu agar mau rujuk padanya? Lalu bagaimana reaksi Nayla ? Jangankan Nayla, bahkan Galang sendiri pun ingin tertawa membayangkannya.


Lima tahun Lebih bersama, dan selama itu pula Galang telah mengabaikan Nayla. Lalu setelah bercerai tiba-tiba datang menyatakan cinta, bukankah itu akan menjadi lawakan yang paling lucu abad ini?


Galang tersenyum masam, Semua itu tidaklah sesederhana kedengarannya. Apapun yang menyangkut dengan hati, tidak akan pernah menjadi sederhana.


Lima tahun Lebih Galang telah membangun dinding penyekat antara dirinya dan Nayla, membiarkan Nayla menahan perasaannya setiap hari. Mengabaikannya meski dia tahu Nayla sangat mengharapkan perhatiannya, hingga puncaknya, menceraikan perempuan malang itu dengan alasan yang terkesan dibuat-buat. Dan kini saat mereka berpisah, Galang justru merasa jika Nayla sangat berarti.


Galang merasa telah dikhianati oleh hatinya sendiri.


Galang pernah meminta Nayla untuk tidak jatuh cinta kepadanya. Tapi kini tampaknya, justru dia sendirilah yang telah punya hati pada perempuan itu.


Ya. Mau tidak mau, Galang harus mengakui jika memang dia telah mulai jatuh cinta kepada Nayla. Perasaan yang mulai tumbuh justru disaat mereka tidak lagi bersama. Sekarang Galang sepertinya menyadari, perasaan itu pertama kali muncul saat dia melihat Nayla dihari perceraian mereka. Kenyataan yang benar-benar lucu dan ingin membuatnya menangis sekaligus tertawa. Lucu, Bukan?


Membina rumah tangga bukan seperti saat menjalin hubungan pacaran. Ketika janji suci pernikahan diucapkan, ada tanggung jawab untuk menjaga janji itu hingga akhir hayat.


Rumah tangga yang bahagia tak selalu tentang berlimpah materi. Makna sesungguhnya pernikahan adalah tentang kebersamaan, bersama menghadapi suka dan duka.


...Bersambung..... ...


...** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho...


...Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah...

__ADS_1


...Please....pleasee๐Ÿ™๐Ÿ™...


...Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP๐Ÿ˜˜๐Ÿฅฐ...


__ADS_2