
^^^" Cinta tidak akan menuntut kesempurnaan, cinta akan memahami, menerima dan rela untuk berkorban. Karena cinta seharusnya membuatmu bahagia bukan terluka."^^^
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Perasaan cinta manusia memiliki fase yang begitu unik. Dimana cinta bisa menjadi sumber kekuatan dan sekaligus kelemahan bagi mereka. Ketika jatuh cinta, hidup seolah berwarna dan serasa menjadi orang paling beruntung di dunia.
Sayangnya, cinta juga bisa membuat luka. Di saat hal itu terjadi mungkin seseorang akan merasa menjadi orang yang paling tersakiti di dunia. Hidup bahkan terasa tak ada artinya lagi. Itulah mengapa manusia diminta untuk mencintai sesuatu sewajarnya. Karena pada dasarnya semua hanyalah titipan Yang Maha Kuasa.
"Iya, Nyonya. Tapi itu memang untuk tumbuh kembang tuan muda juga." balas Bi Sani.
"Saya tahu. Tapi sekarang saya merasa bosan, makanya saya mau membantu disini." jawab Nayla masih bersikeras.
Bi Sani terlihat sedikit berpikir.
"Bagaimana kalau Nyonya mengantar makan siang untuk Tuan Galang saja?" tanyanya kemudian. Terlihat seperti telah menemukan ide yang sangat cemerlang.
"Hah?" Nayla melongo.
"Iya, Nyonya. Menu makan siang hari ini kebetulan masakan kesukaan Tuan semua. Kalau Nyonya membawa makan siang untuk Tuan kekantornya, pasti tuan akan 11 sangat senang." jelasnya
Nayla nampak sedikit berpikir.
"Dengan begitu kan Nyonya bisa makan siang bersama tuan. Mungkin Tuan akan tersentuh dengan perhatian Nyonya, dan Nyonya bisa jadi semakin dekat dengan Tuan." Bi Sani kembali menambahkan.
"Iyakah?" Jawab Nayla dengan bimbang
"Saya siapkan makanannya, ya, Nyonya. Sekarang nyonya ganti baju dan dandan yang cantik. Nanti Nyonya bisa minta Pak Aris untuk mengantar Nyonya." putus Bi Sani sepihak.
Buru-buru Nayla menarik tangan Bi Sani dan menggeleng.
"Saya tidak berani, Bi. Saya takut... Nanti kalau Galang marah bagaimana? Kalau dia semakin membenciku bagaimana? " tanyanya agak cemas.
"Bagaimana nyonya tahu kalau belum mencoba? Nyonya harus lebih berani kalau mau lebih dekat dengan Tuan, seperti yang pernah saya bilang tempo hari." Bi Sani berusaha meyakinkan.
Nayla diam sejenak. Haruskah ia melakukan ini? Haruskah ia lebih berinisiatif seperti yang Bi Sani katakan untuk meluluhkan hati Galang? Tapi bagaimana kalau Galang jadi terganggu dan merasa tidak senang.
Tapi Nayla tidak akan pernah tahu seperti apa reaksi Galang jika tidak pernah mencobanya, bukan? Mungkin sekarang saatnya untuk Nayla agar bisa menjadi lebih berani. Bukankah orang bilang cinta itu harus diperjuangkan.
Nayla sedang berpikir menimbang usulan bi Sani. Cinta harus diperjuangkan. Bukan?
Ya. Naylaa harus memperjuangkan Galang jika dia memang mencintainya. Nayla akhirnya memutuskan untuk memulai perjuangannya menaklukkan hati Galang, dimulai dari mengantarkan makan siang untuk Galang siang ini.
"Baiklah..." gumamnya kemudian.
"Bibi tolong siapkan bekal makan siangnya, saya akan ganti baju dulu." pintanya kemudian.
"Baik, Nyonya." Bi Sani menjawab semeringah. Kemudian dengan senang hati ia memasukkan beberapa menu makanan kedalam dua kotak makan siang sementara Nayla keatas untuk bersiap.
Tak lama kemudian Nayla turun dengan penampilan yang begitu manis. Dress selutut berwarna pastel dipadu dengan sepatu heels berwarna senada, sangat anggun melekat ditubuhnya. Wajahnya pun dipoles make up tipis yang membuatnya tampak semakin segar. Tak lupa rambut panjangnya yang indah ia ikat tinggi membuatnya semakin menawan dan terkesan sedikit seksi.
Nayla harap Galang akan senang melihat penampilannya yang sekarang. Membayangkan bagaimana reaksi Galang membuat Nayla harap-harap cemas. Semoga saja semuanya berjalan lancar pikirnya.
__ADS_1
"Ini bekalnya, Nyonya." Bi Sani menyerahkan dua kotak makan siang yang sudah dimasukkan kedalam food bag pada Nayla.
"Wah...Nyonya cantik sekali, pasti Tuan bakal senang sekali Nyonya datang membawakannya makan siang. Siapa yang bisa menolak makan siang bersama istri secantik Nyonya." goda bi Sani.
Pipi Nayla langsung merona dibuatnya.
" Bibi bisa saja ya." ujarnya malu.
Kemudian Nayla pun pamit. ia meluncur menuju kantor Galang dengan diantar Pak Aris, sopir yang biasa mengantarnya saat ia sedang ada keperluan.
Sepanjang perjalanan Nayla nampak tegang membayangkan seperti apa reaksi Galang nantinya. Tangannya sampai mengeluarkan keringat dan tak henti mencengkram ujung gaunnya.
Tak lama kemudian mobil pun berhenti tepat dihadapan sebuah gedung pencakar langit yang berdiri pongah. Tempat Galang setiap hari bekerja. Gedung yang menjadi kantor pusat dari perusahaan Alexander Group.
Nayla menelan ludahnya. Tiba-tiba saja nyalinya menciut melihat gedung dihadapannya itu. Ingin rasanya ia mengajak pak Aris untuk putar balik. Tapi pikirannya itu langsung buyar saat pak Aris membukakan pintu mobil untuknya.
"Silahkan, Nyonya." Pak Aris mempersilahkan.
Mau tak mau Nayla pun turun juga.Dengan sedikit menghembuskan nafas ia mulai mensugesti pikirannya sendiri.Aku pasti bisa. Aku pasti bisa. Aku pasti bisa. ucapnya dengan Semangatnya
"Saya akan menunggu disini, Nyonya." suara Pak Aris menyadarkan Nayla jika ia belum kemana-mana.
Akhirnya dengan memantapkan diri ia mulai melangkah.
"Baik, Pak. Saya akan segera kembali." ujarnya sembari berlalu.
Nayla segera memasuki gedung megah itu sambil melihat sekelilingnya. Matanya tak henti mengagumi interior gedung yang didominasi oleh warna putih itu. Terlihat mewah dan berkelas.Langkah Nayla pun terhenti didepan meja resepsionis.
"Apa anda sudah membuat janji?" tanya resepsionis cantik itu balik.
"Saya...saya belum membuat janji." jawab Nayla.
"Maaf, Nona. Untuk bertemu Direktur, Anda harus membuat janji terlebih dahulu." kata resepsionis itu lagi.
"Kalau saya boleh tahu, Nona ini siapa dan ada perlu apa dengan Direktur?" tanyanya kemudian.
Nayla tampak berpikir sejenak. Seluruh bawahan Galang di kantor tidak ada yang tahu seperti apa istri Galang. Jika ia mengaku sebagai istri Galang, pasti tidak ada yang akan percaya dan juga Galang akan sangat marah.
"Saya kerabatnya. Dan sekarang saya sedang ada keperluan dengan Tuan Galang." jawab Nayla akhirnya.
"Nama anda?" tanyanya resepsionis itu lagi.
"Nayla. Nama saya Nayla." jawabnya
"Baiklah, saya akan menghubungi Sekertaris Direktur dulu. Kalau beliau bersedia, anda baru bisa menemuinya. Anda bisa menunggu disana." resepsionis itu menunjuk sofa diseberang mejanya.
Nayla pun mengangguk dan duduk disana sambil memangku kotak makan siangnya.
Belum sempat sang resepsionis menelpon, lift khusus direktur berdenting dan pintunya terbuka.
Nayla langsung menoleh.
__ADS_1
Tampak Galang keluar dari sana diikuti Rangga dan Maya . Kemudian menyusul dua orang lagi yang kelihatannya adalah orang penting. Terlihat dari cara Galang yang sangat sopan berbicara pada mereka.
Nayla berdiri. Bersamaan dengan Galang yang menyadari kehadirannya. Senyum manis merekah dari bibir Nayla, tapi kemudian segera pudar melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Galang.
Mata Galang membulat dan menatap tajam kearahnya. Tangannya terlihat mengepal seperti orang yang sedang menahan emosi. Dan tampak pula hembusan nafas kasar yang membuat senyum Nayla hilang sepenuhnya.
Nayla tertegun. Tiba-tiba rasa cemas mulai melandanya dan membuatnya takut. Hatinya juga mulai bertanya-tanya.
Apakah Galang marah?
Galang menghembuskan nafasnya kasar. Apa yang dia lihat saat ini benar-benar membuat emosinya bergejolak. Seorang perempuan cantik tampak tengah menatapnya dengan tersenyum manis meski sejurus kemudian senyum itu sirna.
Nayla. Istri yang selama ini dia sembunyikan dari semua orang, terutama orang-orang perusahaanya, kini dengan beraninya datang ke kantor Galang.
Nayla berpenampilan tak seperti biasanya. Wajahnya tampak memakai riasan meski tipis. Rambutnya yang biasa tergerai juga ia ikat tinggi hingga menampakkan lehernya yang jenjang dan mulus.
Perempuan ini. Apa dia sudah tidak waras?
Galang bertanya-tanya apa saat ini Nayla sedang ingin mendapatkan pengakuan dari Galang dan para bawahannya jika ia adalah istri Galang?
Dan sejak kapan pula dia mulai terlihat seperti perempuan penggoda. Riasan dan penampilan itu sungguh Galang tak masalah jika Nayla menggunakannya dirumah atau saat Sedang pergi bersama Galang. Tapi sekarang, Nayla mengguna untuk datang kekantor Galang entah dengan tujuan apa.
Apa saat ini dia sedang ingin menarik perhatian orang-orang kantor? Berani-beraninya dia.
Galang merasa sangat marah. Tapi kemudian dia tersadar jika saat ini dia tengah bersama dua orang klien penting yang baru membahas sebuah proyek besar dengannya.
Segera Galang mengendalikan emosinya dan kembali melangkah sambil melanjutkan obrolan bersama kedua kliennya itu tanpa menghiraukan Nayla. Bahkan Sekertaris Maya dan Asisten rangga pun ikut-ikutan mengabaikan Nayla karena takut melihat ekspresi galang yang barusan tadi.
Nayla tertegun tidak tahu harus berbuat apa. Ia menyadari jika kedatangannya tidak disambut dan sepertinya membuat Galang marah.
"Saya rasa Tuan Galang sedang sibuk sekarang. Saya permisi dulu." Nayla berpamitan pada resepsionis dan dijawab dengan anggukan.
Nayla melangkahkan kakinya hendak meninggalkan gedung itu, tapi kemudian langkahnya terhenti saat menyadari Galang tengah berdiri menunggunya dengan tatapan nyalang. Tanpa Asisten Rangga dan Sekertaris Maya, juga dua orang yang sebelumnya berbicara dengannya.
Apa Galang Cemburu?
Apa Galang marah karna melihat Nayla berpakaian yang membuatnya tampak cantik?
atau karna Nayla ingin menunjukkan dirinya bahwa istri Galang?
^^^"Pernikahan yang bahagia adalah menyatunya dua insan yang bersedia saling mengerti, memahami, dan saling memaafkan."^^^
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
...Bersambung...... ...
...** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho.. ...
...Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah...
...Please....pleasee๐๐...
__ADS_1
...Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP๐๐ฅฐ...