Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 74


__ADS_3

^^^" Sulit bagiku untuk mengatakan bahwa aku cemburu dengan caramu bahagia tanpaku".^^^


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Untuk sesaat Nayla merasa terlena, Perlakuan Galang membuatnya terhanyut kedalam suasana yang tercipta. Tapi sejurus kemudian kewarasannya terkumpul kembali, Otaknya menyalakan alarm penolakan yang langsung direspon oleh tubuhnya.


Nayla melepaskan cekalan tangan Aaron yang melemah, Kemudian dengan segenap sisa tenaganya ia mendorong tubuh Galang menjauh hingga lelaki itu terdorong dan mundur satu langkah.


Ciuman panas itu terlepas, Nafas mereka berdua terengah dengan wajah yang sama-sama memerah.


Plakk!!!


Tiba-tiba saja sebuah tamparan yang sangat keras mendarat dipipi Galang.


Galang tertegun dan sedikit terkejut, Sedangkan Nayla menatapnya nyalang dengan raut wajah murka.


"Dasar brengsek!!!" sentaknya.


"Bahkan setelah bercerai pun kamu masih memperlakukanku seperti ini. Sebenarnya apa kesalahanku padamu, Galang? Kenapa kamu selalu saja mempermainkanku sesuka hatimu. Apa bagimu, aku ini hanya mainan yang bebas kamu mainkan?" Nayla mengucapkan kalimatnya dengan nada tajam.


Galang semakin terkejut, Lalu dia tersadar dengan apa yang baru saja dia lakukan.


Karena marah dengan kehadiran Kevin yang seakan menantangnya, lalu ditambah pula Nayla yang tak mau menjawab pertanyaannya, membuat Galang tanpa sadar melakukan sebuah tindakan impulsif yang tak pernah dia rencanakan sebelumnya.


Dan kini, akibat dari perbuatannya itu, wanita dihadapannya ini menjadi benar-benar marah. Nayla murka karena merasa telah dilecehkan oleh Galang.


Astaga, apa yang sudah kulakukan? Galang menarik rambutnya sendiri kearah belakang. Dia merutuki kebodohannya karena telah mencium Nayla tanpa permisi. Bagaimana bisa dia melakukan hal yang dapat membuat Nayla semakin menjauh darinya. Benar-benar bodoh!


"Maaf, aku tidak bermaksud begitu..." sesal Galang.


Nayla mendengus kesal, Tampak senyuman pahit tersungging dibibirnya.


"Pergilah, Galang. Aku harap tidak akan bertemu denganmu lagi di lain waktu. Jika Alvaro merindukanku, kirim saja pesan padaku agar aku bisa menjemputnya. Tidak perlu kau mengantarnya kesini." Galang terdiam, Matanya menatap Nayla lekat seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.


Melihat Galang yang mematung, Nayla pun melangkah kearah pintu dan membuka pintu semakin lebar untuk mempersilahkan Galang pergi.


Galang semakin menatap Nayla dengan raut wajah tak percaya.


"Apa yang kamu tunggu,Silahkan keluar dari rumahku sekarang juga. Dan aku harap kamu tidak pernah datang kemari lagi." tambah Nayla lagi.


"Maaf, Nayla. Aku sungguh tidak bermaksud melecehkanmu. Tadi aku..."


"Pergi!!!" Nayla menyentak tanpa memberi Galang kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya.


Galang terdiam, Matanya tajam menatap kearah Nayla. Selama beberapa tahun mengenal perempuan ini, ini adalah kali pertama Galang mendengar Nayla berbicara dengan nada tinggi kepadanya, Perempuan ini pastilah benar-benar marah.


Sedangkan Nayla sendiri menunggu Galang pergi sembari memalingkan wajahnya kearah lain, Ia menggenggam jemarinya yang sedikit gemetar.

__ADS_1


Jujur saja, sebenarnya Nayla sedikit takut mengusir Galang seperti sekarang ini. Nayla sangat tahu bagaimana saat Galang marah, dia akan berubah menjadi sosok tak terkendali yang sangat mengerikan. Tapi kemarahan Nayla mengalahkan rasa takutnya, Ia tidak ingin lagi dilecehkan oleh lelaki itu seenaknya.


Jika saja statusnya masih sebagai istri Galang, mungkin Nayla akan lebih menahan diri dan menerima perlakuan Galang tadi. Tapi sekarang, mereka sudah tidak punya ikatan lagi. Tidak sepatutnya Aaron melecehkannya seperti itu. Nayla punya harga diri, tidak akan dibiarkannya punya harga diri, tidak akan dibiarkannya mantan suaminya itu berbuat seenaknya begitu saja padanya.


"Pergilah, Galang Kumohon..." ujar Nayla lagi, Kali ini dengan nada lirih.


Galang terlihat menghela nafasnya, Matanya menjadi sedikit meredup.


"Baiklah." ujarnya kemudian. Lalu dengan langkah gontai dia meninggalkan Nayla yang masih membuang muka. Langkahnya berhenti saat dia selangkah keluar dari pintu rumah.


"Maaf." ujarnya lagi, Kali ini dia kembali melangkah tanpa menoleh lagi.


Galang masuk kedalam mobilnya dengan perasaan tak menentu.


'' Sial! Sial! Sial!''


Galang nemukul setir mobil dengan tangannya. Dia benar-benar kesal dengan dirinya sendiri. Karena kebodohannya, semuanya sekarang menjadi berantakan. Seandainya saja dia bisa sedikit menahan diri tadi, pasti saat ini Nayla masih menerima kehadirannya.


Sekarang apa yang harus dia lakukan? Nayla pasti bahkan tidak mau melihatnya lagi.


Benar-benar sial!'


Galang memukul setir mobilnya sekali lagi.


Kemudian setelah terdiam didalam mobilnya agak lama, Galang pun melajukan kendaraannya itu meninggalkan kediaman Nayla.


Sedangkan Nayla sendiri setelah Galang pergi, cepat-cepat ia menutup dan mengunci pintu rumahnya. Ia tidak ingin jika sampai Galang mendadak kembali dan menerobos masuk kedalam lagi. Nayla tidak ingin melihat lelaki itu, setidaknya untuk saat ini.


Nayla menyandarkan tubuhnya yang lemas dengan perasaan yang bercampur aduk. Sedih, marah dan kecewa. Semua itu Nayla rasakan saat ini Bahkan sampai dititik ini pun la tetap menjadi lelucon bagi Galang, Sungguh kenyataan yang menyesakkan dadanya.


Senyum pahit kembali tersungging dibibir Nayla. Seandainya saja tidak ada Alvaro, Nayla pasti sudah menyerah sejak lama. Ia pasti akan pergi jauh agar tak perlu bertemu dengan Galang lagi. Ingin rasanya Nayla menjerit sekeras-kerasnya untuk meluapkan segala rasa sakit yang ditahannya selama ini.


Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, Tampak nama kevin yang sedang berkedip-kedip dilayar ponselnya. Dengan sedikit menghela nafas, Nayla pun menggeser tombol terima.


"Halo." sapanya, berusaha agar suaranya tidak terlalu bergetar saat berbicara.


"Hai, sedang apa?" tanya Kevin dari seberang sana.


"Tidak ada." jawab Nayla


"Maaf, tadi aku pulang tidak berpamitan lagi padamu. Apa Alvaro sudah tidur?" tanya Kevin


"Iya, tidak apa-apa. Sekarang Alvaro sudah tidur." jawab Nayla.


"Lalu Galang, mantan suamimu itu, apa dia juga sudah pulang?" tanya Kevin lagi.


"Iya." jawab Nayla lagi, Kali ini ia terdengar emosional dan suaranya kembali tergetar.

__ADS_1


" Nay...? Ada apa? Apa mantan suamimu itu melakukan sesuatu padamu?" suara Kevin terdengar khawatir.


Nayla tak kuasa menjawab, mulutnya seakan terkunci rapat.


" Nayla? Apa kamu baik-baik saja? Haruskah aku kesana untuk melihatmu?" Kevin terdengar semakin khawatir.


"Tidak, tidak. Aku tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir." jawab Nayla berusaha untuk terdengar baik-baik saja.


"Dia pasti mengganggumu, kan? Katakan, apa yang dia lakukan padamu?" Kevin tetap bersikeras menanyakan keadaan Zaya.


Nayla menghela nafasnya.


"Aku baik-baik saja, Kak." lirihnya.


Kevin tak langsung menanggapi, kemudian terdengar ia menghela diujung telfon.


"Baiklah kalau begitu." Kevin pun menyerah.


"Dee, boleh aku minta satu hal?" tanya Kevin kemudian.


"Apa?" Nayla Tanya balik.


Kevin terdiam sejenak.


"Tolong pertimbangkan aku." pintanya kemudian.


"Pertimbangkan apa?" Nayla tampak tak mengerti dengan apa yang Kevin bicarakan.


"Pertimbangkan aku untuk menjadi kekasihmu, Nay." ujar Kevin akhirnya.


Nayla terdiam, tak tahu harus menjawab apa.


"Apa kamu tahu, jika mantan suamimu itu saat ini tampaknya sedang berusaha untuk mengejarmu lagi. Jika aku kekasihmu, aku bisa melindungimu dari mantan suamimu itu. Aku akan melindungimu dengan sekuat tenagaku, Tapi dengan status kita yang sekarang, aku tidak bisa berdiri diantara kalian berdua."


"Makanya aku minta padamu, tolong pertimbangkan aku." Suara Kevin terdengar penuh harap.


Nayla diam dan mencerna kata-kata Kevin. Galang berusaha mengejarnya? Terdengar mustahil ditelinga Nayla. Tapi yang juga membuatnya sedikit terkejut, Kevin meminta Nayla mempertimbangkannya untuk dijadikan kekasih.


Nayla kembali membuang nafas kasar. Baik kevin maupun Galang, Kenapa sekarang Nayla malah merasa kedua-duanya sama-sama membuat kepalanya menjadi pusing?


Nayla pun memijit sendiri pelipisnya dengan mata terpejam, Dia butuh istirahat. Sepertinya tidur akan membantunya untuk melepas penat ditubuh maupun pikirannya.


Pusing di rebutin dua laki-laki ganteng kan nay? 😂🤭


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan vote ya gaes, author tunggu 🥰

__ADS_1


Happy Reading Gaes 💚💛💙💜


__ADS_2