
^^^" Aku sangat mencintaimu hingga aku bisa gemetaran ketakutan setiap kali aku membayangkan menjalani sisa hidupku tanpa berada di sisimu." Nayla Purnama^^^
^^^"Jika aku harus memilih antara bernapas dan mencintaimu, aku akan menggunakan napas terakhir untuk memberitahumu aku mencintaimu." - DeAnna Anderson^^^
ππππππ
Rumah tangga bisa disebut sebagai media untuk sepasang kekasih dalam menjalankan misi untuk meraih cita-cita. Jika tak ada kecocokan, tak mungkin dua orang manusia bisa bersatu dalam rumah. Namanya masalah pasti ada, namun dalam penyelesaiannya tergantung dengan cara yang kalian pilih. Agar emosi tak makin panas, kalian bisa menyampaikan atau mengeluarkan semua isi hati kalian sebagai peredam amarah.
Membangun rumah tangga tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai macam hal harus dipersiapkan. Mulai dari kesiapan mental, fisik, finansial, dan lain sebagainya. Sebab, jika tidak akan muncul berbagai pertengkaran yang bisa saja berujung pada perpisahan. Dan hal ini Sudah menjadi kewajiban bagi suami untuk menafkahi keluarganya. Namun kadang suami terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga mengabaikan istrinya yang kesepian.
Mau tak mau Galang kembali berbalik dan menatap Nayla.
"Ini hanya pesta kecil, Nayla. semuanya akan ada orang yang menyiapkannya, jadi kau tidak perlu khawatir. Tapi para pemegang saham akan datang, jadi kau harus pastikan berpenampilan sebaik mungkin dan gunakan gaun itu ." jawab Galang sambil berlalu. Meninggalkan Nayla yang mematung berusaha memahami kata-kata Galang barusan tadi.
Para pemegang saham akan hadir, dan Nayla harus berpenampilan sebaik mungkin. Apakah itu artinya Galang akan memperkenalkan dirinya juga? Mungkinkah? Apa itu cara Galang untuk menebus kesalahan yang dia perbuat pada Nayla kemarin.Apa Nayla bisa berharap? Apa Nayla merasa ini hal menuju kebahagiaan nya?
Tiba-tiba seulas senyuman terbit dibibir Nayla,Hatinya menghangat. Mungkin sekarang ia harus percaya jika Galang memang sedang berusaha membuka hati padanya. Dan tentu saja dia juga harus menghapus ingatan buruk tentang kelakuan Galang waktu itu padanya.
Rasanya Nayla merasa kata-kata yang terlontar dari mulut Galang hanyalah sebuah halusinasi tapi ini sebuah kenyataan. Nayla benar-benar bahagia.
Tentu saja. Nayla harus bisa memaafkan Galang jika ingin memulai dari awal lagi. Jika dengan kejadian itu bisa membuat Galang berubah dan menerimanya, bukankah itu artinya perjuangannya tidak sia-sia? Hal yang cukup sepadan, bukan?
Nayla pun tersenyum makin lebar, membayangkan semua itu.
Dikenakannya gaun indah itu segera. Sangat pas membalut tubuhnya, membuatnya terlihat cantik dan elegan.
Galang juga bilang jika gaun ini dipilihkan sendiri oleh Yunita, ibu mertuanya. Mungkin sekarang Yunita juga sudah berubah pikiran dan mulai menerimanya. Sungguh hal yang sangat Nayla syukuri jika benar seperti itu.
Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, perlu adanya sikap toleransi yang baik antara suami dan istri. Hal tersebut karena dalam hubungan, menyatukan dua kepala yang sejatinya memiliki pikiran yang berbeda.
Oleh sebab itu, istri harus berlaku baik kepada suami dan seorang suami sudah sepantasnya juga untuk memperlakukan istri dengan baik.
Lalu, bagaimana dengan suami yang menyakiti istri?
Hal tersebut tentu tidak boleh dilakukan karena dapat memperpendek hubungan rumah tangga yang selama ini dibina.
__ADS_1
Nayla menghela nafas untuk menetralkan perasaan yang bercampur aduk didadanya. Ia berharap tidak salah menebak. Semoga apa yang ada dipikirannya saat ini memang seperti itu adanya. Diam-diam ia mulai tak sabar untuk pesta besok malam. Terbayang dibenaknya Membawa Alvaro digendongannya dan berdiri disamping Galang.
" Ya Tuhan, semoga saja ini bukan cuma sekedar halusinasi ku " harap Nayla
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Siang itu suasana rumah lebih ramai dari biasanya. Ada beberapa pekerja yang sedang mendekorasi aula rumah untuk dijadikan tempat pesta malam nanti.
Bunga-bunga segar pun dipakai untuk menghiasi beberapa sudut ruangan. Membuatnya tak hanya indah dipandang mata, tapi juga mengeluarkan aroma wangi yang menenangkan.
Dibantu oleh para pelayan di rumah Galang, tak butuh waktu lama ruangan besar itu telah hampir rampung didekorasi.
"Nyonya, bisa tolong gendong tuan muda Al sebentar, Bibi Sani sedang meminta bantuan saya." suara pengasuh Alvaro sedikit mengejutkan Nayla. Pasalnya pengasuh itu tidak pernah berinisiatif menyerahkan Alvaro kedalam gendongan Nayla sebelumnya.
"Oh, iya. Tentu saja." jawab Nayla senang.
Dengan tersenyum lebar Nayla mengulurkan tangannya untuk menyambut Alvaro yang tengah tertawa riang. Bayi gempal itu tak berhenti tertawa sedari tadi, seakan tahu jika semua orang tengah sibuk menyiapkan pesta untuk dirinya.
"Ma ma ma ma...pa pa.." celoteh Alvaro sangat menggemaskan membuat Nayla menatapnya dengan sangat bahagia.
Sontak Nayla membulatkan matanya takjub. Itu adalah kali pertama Alvaro berceloteh 'ma ma ma', setelah sebelumnya hanya bisa menyebutkan 'pa pa pa'.
"Tuan muda Al tahu siapa ibunya, Nyonya. Dia tidak akan salah menyebut Mama pada orang lain." ujar Bi Nayla penuh arti. Nayla hanya mengangguk dengan tersenyum haru. Ia sungguh tak menyangka jika ia dan putranya masih bisa punya kedekatan emosi, mengingat sangat jarang Nayla bisa punya kesempatan untuk sekedar menggendong Alvaro. Apalagi melakukan hal penting lainnya, Nayla benar-benar terbatasi untuk selalu ada di dekat anaknya Alvaro.
"Nyonya tenang saja, saya akan buat laras agak sibuk siang ini, supaya Nyonya bisa puas bermain dengan Tuan Muda." ujar Bi Sani lagi. Kali ini dengan berbisik ditelinga Nayla.
Nayla langsung melebarkan matanya, kemudian tertawa kecil. Sepertinya Bi Sani memang sengaja membuat Laras pengasuh Alvaro, sibuk melakukan hal lain, agar Nayla punya kesempatan menghabiskan waktu dengan Alvaro. Lucu bukan?
Bibi Sani mengedipkan matanya sebelum berlalu bersama Laras, yang dibalas acungan jempol dari Nayla sambil tersenyum lebar.
Nayla sedikit terharu. Pelayan paruh baya yang sudah seperti ibunya itu selalu saja berusaha membuatnya bahagia. Seandainya saja tidak ada Bi Sani dirumah besar ini, Nayla tidak tahu akan seperti apa jadinya. Tentu saja, ia selalu kesepian di dalam rumah mewah itu.
Hari sudah semakin sore. Aula rumah Galang sudah selesai di dekorasi dan terlihat lebih indah dari sebelumnya. Para pekerja juga sudah tidak terlihat lagi.
Kini bergantian penyedia jasa catering yang datang membawa makanan dan minuman untuk pesta nanti malam. Alhasil para pelayan pun kembali mendapat pekerjaan tambahan.
__ADS_1
Hal itu tentu saja membuat Bi Sani tak menyia-nyiakan kesempatan menahan Laras lebih lama lagi, dengan dalih membantunya agar persiapan pesta cepat selesai. Sudah pasti Nayla sangat senang, karena punya kesempatan untuk memandikan Alvaro sore ini.
"Dimana pengasuhnya, kenapa kau yang memandikan Alvaro?" Suara berat seorang lelaki mengejutkan Nayla yang tengah asyik memakaikan pakaian pada Alvaro.
Nayla menoleh. Tampak Galang sudah berdiri di ambang pintu. Nayla pun mengulas sanyum dan menbawa Alvaro yang telah rapi mendekat kearah Galang.
"Bi Sani dan yang lain kewalahan mempersiapkan pestanya, lalu meminta bantuan Laras agar lebih cepat selesai. Jadi aku yang menjaga Alvaro, dan karena sudah waktunya Alvaro mandi, ya aku mandikan saja." jawab Zaya sambil memberikan Alvaro kepada Galang. Galang yang awalnya terlihat tidak senang pun akhirnya melunak saat melihat senyum ceria putranya itu.
Alvaro kembali berceloteh sambil sesekali tertawa membuat Galang ikut tersenyum.
"Anak Papa yang tampan, buatlah semua orang terpesona. Malam ini kaulah bintangnya, Nak." ujar Galang sambil" mencium pipi Alvaro.
Nayla memandang keduanya dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Tanpa sadar bibirnya kembali menarik, membentuk sebuah senyuman.
Nayla mematut dirinya dicermin. Gaun itu tampak sangat indah membalut tubuhnya yang ramping. Wajahnya ia poles dengan make up tipis yang terlihat natural, terakhir rambutnya disanggul keatas dan ditambahkan sedikit aksesori. Sempurna. Rasanya inilah penampilan terbaik yang bisa ia berikan. Semoga saja ia tidak membuat Nayla merasa malu.
"Lanjutkan persiapanmu, aku akan turun duluan. Mama dan Papa sudah datang dan sedang menyambut tamu." Galang keluar kamar terlebih dahulu tanpa menatap nayla. Tampak dia memakai tuxedo berwarna hitam yang membuat penampilannya terlihat makin mempesona. Semakin membuat Nayla jatuh lebih dalam pada pesonanya.
Nayla hanya mengangguk. Ia memang butuh waktu beberapa menit lagi untuk mempersiapkan diri.
βIni sangat menyakitkan. Bukan karena memilikimu disisiku, bukan karena berada disekitarmu, bukan karena bersamamu. Kamu adalah rasa sakit yang aku tidak ingin menyerah."
...Kadang π...
" Hati yang terasa hancur seperti sebuah gelas yang sudah pecah. Ia tidak akan pernah kembali seperti semula meski telah melakukan apapun untuk mengembalikannya.β
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Bersambung..
** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho ya
Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah
Please....pleaseeππ
__ADS_1
Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UPππ₯°
Author harap semoga komen kalian hal yang membuat author lebih semangat yaπ Jika banyak kekurangan atau tidak sesuai ekspetasi kalian author minta maafπ Ini novel pertama author ya