
^^^" Aku merasa seperti orang idiot. Aku memikirkanmu sepanjang waktu, tetapi aku tahu kamu tidak memikirkanku sama sekali."^^^
^^^" Suamiku, sebenarnya aku hanya ingin mengabaikanmu seperti yang kamu lakukan padaku. Namun, aku tak berdaya." ( Nayla Purnama) ^^^
πΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Mereka pun turun kelantai bawah dengan tangan yang terlihat saling bergandengan.
Semua pelayan yang melihat agak sedikit terkejut dengan pemandangan ini. Tak terkecuali Bibi Sani . Tapi disisi lain Bi Sani juga tampak lega karena beranggapan tuan dan nyonyanya itu sekarang sudah baik-baik saja.
Mereka duduk dimeja makan dan mulai menyantap sarapan.
"Selamat pagi, Jagoan." Galang menyapa Albern yang tengah disuapi bubur susu oleh pengasuhnya. Bayi montok itu tertawa.
"Pa pa pa..." celotehnya sambil tertawa riang.
Galang tersenyum lebar dan menoleh kearah Nayla.
"Lihat, dia sudah bisa memanggilku Papa." ujarnya senang. Nayla yang melihatnya pun mau tak mau ikut tersenyum, meski dengan canggung. Sepertinya dia tidak bisa meneruskan marahnya lagi, pasalnya putranya sendiri kali ini terlihat sedang membantu sang papa.
"Apa Al juga bisa panggil Mama?" tanya Zaya akhirnya pada bayi yang masih terus berceloteh itu.
"Pa pa pa pa..." Alvaro kembali mengeluarkan suara. Dan kali ini dengan suara yang lebih keras.
Galang tertawa melihatnya. Diciumnya pipi gempal Alvaro dengan gemas, lalu di usapnya kepala putranya itu dengan penuh sayang.
"Anak pintar." ujarnya bangga. Sepertinya
dia sangat senang dan puas karena Alvaro tampak sedang memihak kepadanya.
Nayla yang melihat tampak sedikit membuang mukanya. Ia lalu melanjutkan sarapannya dan berusaha untuk bersikap biasa. Tapi sebenarnya hatinya sedikit dongkol melihat Galang yang seperti tengah menertawakannya. Ia merasa Galang kembali mengejeknya dan mengingatkannya kembali pada kejadian kemarin.
__ADS_1
Nayla menghela nafas. Sepertinya kejadian kemarin masih sangat mempengaruhinya dan membuat moodnya buruk pagi ini.
Biasanya ia sangat berharap Galang bisa bersikap hangat seperti saat ini, tapi sekarang Nayla sungguh ingin Galang menyelesaikan sarapannya dengan cepat dan segera pergi kekantor. Nayla sedang tidak ingin melihat lelaki dihadapannya ini, setidaknya sampai malam nanti. Galang butuh ruang untuk menenangkan hatinya. Ia butuh waktu sendirian.
"Aku sudah selesai." suara Galang membuyarkan lamunan Nayla. Dilihatnya Galang sudah selesai membersihkan mulutnya dengan tisu. Kemudian beranjak dari duduknya, seolah memaksa Nayla untuk bangkit dari duduknya juga.
"Papa pergi kekantor dulu, Jagoan. Jangan nakal." ujar Galang sambil mencium pipi Alvaro kembali. Lalu dia melangkah keluar rumah menuju mobil yang sudah sedari tadi siap untuk mengantarnya. Tampak juga Asisten Rangga menunggu disamping mobil itu.
Dengan enggan Nayla mengikuti Galang dari belakang. Melakukan kebiasaan paginya selama menjadi istri Galang, yang kali ini ia lakukan tidak dengan sepenuh hati. Jika biasanya ia mengantarkan Galang dengan penuh semangat, saat ini jelas terlihat jika dirinya sedang sangat terpaksa.
^^^" Suamiku, aku akan tersenyum seolah tidak ada yang salah, berpura-pura semuanya baik-baik saja, bertingkah seolah semuanya sempurna, meskipun di dalamnya sangat tersiksa dan menyakitkan." Nayla Purnama^^^
Nayla menghentikan langkahnya saat Galang telah sampai didekat mobil. Asisten rangga kemudian membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Galang untuk masuk.
Sejak tadi Nayla hanya menunduk dan sesekali memalingkan wajahnya agar tidak menatap Galang.
Tapi kemudian tanpa Nayla sangka Galang malah berbalik dan kembali mendekat kearahnya. Galang berhenti tepat dihadapannya, menyisakan jarak yang sangat sedikit diantara mereka.
"Kejadian kemarin...., aku sangat menyesal telah melakukannya padamu. Aku harap kau bisa melupakannya dan tidak mengingat-ingatnya lagi. Maafkan aku, Nayla. Aku tahu aku sudah sangat menyakitimu. Aku sendiri tidak mengerti kenapa bisa melakukan hal bodoh itu padamu. Jadi, aku mohon...., maafkan aku...." Galang berujar dengan pelan. Suaranya terdengar sangat lembut dan tulus ditelinga Nayla. Tak pernah sebelumnya Nayla mendengar suara Galang yang selembut itu.
Apa dia benar-benar menyesal?
" Nayla jangan lemah " ucap Nayla dalam hati
Nayla tak menjawab dan hanya menatap Galang dalam, mencoba mencari kesungguhan dari kata-kata Galang lewat matanya, dan Nayla memang melihat penyesalan itu. Tapi tetap saja ia tidak tahu harus berkata apa, ia sudah bertekad untuk melupakan Galang dengan pelan-pelan walau hal itu susah untuk dia lakukan. Namanya cinta, Bukan?
Ditengah-tengah kebisuan itu, tiba-tiba saja Galang semakin mendekat dan menghapus jarak diantara mereka.
Cup.
Sebuah kecupan hangat mendarat di dahi Nayla dengan lembut, membuat mata Nayla membulat sempurna.
__ADS_1
"Baik-baiklah dirumah. Aku akan usahakan pulang cepat." ujar Galang sambil mengelus kepala Nayla dengan lembut lalu kembali berbalik kearah mobil.
Galang pun masuk kedalam mobil, diikuti oleh Asisten Rangga yang sejak terdiam menatap ke arah suami istri ini yang susah untuk di tebak. Kemudian mobil itu melaju meninggalkan Nayla yang masih terperangah sambil meraba keningnya yang tadi mendapatkan kecupan tak terduga dari Galang.
Nayla bertanya-tanya dalam hatinya. Sebenarnya apa yang Galang coba lakukan padanya. Apa semua ini karena dia menyesali perbuatannya kemarin pada Nayla? Atau saat ini dia sedang memainkan permainan tarik ulur? Berusaha menarik hati nayla lagi setelah sebelumnya membuat nayla ingin menjauh.
Nayla jadi sedikit khawatir. Entah apa lagi yang akan terjadi pada dirinya setelah ini, Hanya Tuhan dan Galang lah yang tahu.
Pernikahan merupakan lembaran baru dalam menjalani kehidupan. Mulanya hanya seorang diri, kini ada dua individu yang berlatar belakang berbeda menjadi satu.
Menyatukan perbedaan antara suami dan istri merupakan hal yang umum, namun tak jarang beberapa orang mengalami goncangan saat membina rumah tangga. Hal ini memang wajar terjadi.
Bagi seorang istri, mendapati suami yang terkesan cuek serta minim perhatian terkadang bikin kesal bahkan memicu kemarahan. Sebab, dalam berumah tangga saling memberi perhatian dan pengertian menjadi salah satu kunci hubungan harmonis. Sejumlah kata-kata untuk suami yang cuek bisa jadi sindiran agar dia lebih perhatian dan peduli.
Memutuskan untuk berumah tangga berarti sudah siap menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing pasangan. Meski setiap pasangan suami istri memiliki cara tersendiri mengekspresikan cinta dan sayang mereka, tidak dapat dipungkiri bahwa pasangan yang cuek terkadang bikin hati jadi jengkel dan kesal.
Membangun rumah tangga tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai macam hal harus dipersiapkan. Mulai dari kesiapan mental, fisik, finansial, dan lain sebagainya. Sebab, jika tidak akan muncul berbagai pertengkaran yang bisa saja berujung pada perpisahan.
Saat berharap terhadap sesuatu, kenyataan yang ada tak mendekati atau bahkan jauh dari harapan, rasa lelah dan sedih pasti akan muncul.
πππππ
Bersambung..
** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho
Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah
Please....pleaseeππ
Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UPππ₯°
__ADS_1