Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 83


__ADS_3

......................


...****************...


...----------------...


"Ternyata kehadiranku tidak diharapkan, ya?" Tanya Kevin, Meski dia berusaha tersenyum dan membuat ucapannya terdengar seperti candaan tapi tetap saja terdapat kesedihan didalam kata-katanya tersebut.


"Bu-bukan begitu maksudku." Nayla jadi tergagap dan merasa tidak enak.


"Aku cuma heran kenapa Kakak tiba-tiba muncul di sini. Bukankah seharusnya sekarang Kakak sedang berada di rumah sakit.." Tambah Nayla lagi dengan hati-hati.


"Aku sedang cuti untuk ikut merayakan annyversary Ayah dengan ibu tiriku yang ke dua belas tahun. Mereka disana sedang berfoto-foto." Kevin menunjuk kearah dua orang pasangan paruh baya yang berada sedikit agak jauh dari mereka.


''Benarkah?" Nayla melihat pasangan paruh baya tersebut, Ayah Kevin sedang memeluk ibu tirinya untuk berfoto. Ya, Nayla tau jika Ayah Kevin sudah menikah dan Ayah Kevin menikah semenjak mereka masih sekolah.


Jadi Kevin disini untuk orang tuanya,bukan untuk menyusul Nayla? Nayla sangat lega dengan kenyataan itu. Tapi sejurus kemudian ia kembali berpikir, adakah di dunia ini sebuah kebetulan yang sangat sempurna seperti ini?


Belum sempat Nayla berpikir lebih jauh, tiba-tiba Nayla merasakan jemari mungil meraih tangannya.


" Mama " Panggil Alvaro


Nayla menoleh Tampak Alvaro sedang menengadah kearahnya sambil menggenggam jemarinya dengan erat.


Sedangkan Sarah yang tadinya ada disampingnya kini sudah menyingkir dan berada di dekat Rangga. Lalu Galang yang sebelumnya sedang mengajak Alvaro main sekarang juga sudah berdiri tak jauh dari Nayla.


"Sepertinya kalian sedang liburan keluarga?" Tanya Kevin lagi.


"Benar." Kali ini Galang yang menyahut.


Lelaki itu kemudian berjalan kearah Nayla dan Kevin lebih dekat lagi.


"Apa kabar Dokter Kevin? Senang bisa bertemu denganmu disini." Galang mengulurkan tangannya kepada Kevin sambil menatapnya dengan tajam.


Kevin tersenyum Kemudian membalas uluran tangan Galang dan menatap balik lelaki itu.


"Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda lagi Tuan Galang. Saya juga kebetulan sedang berlibur bersama kedua orang tua saya, Benar-benar menyenangkan kita bisa bertemu disini." Ujar Kevin sambil menjabat tangan Galang.


Keduanya sama-sama tersenyum Tapi entah kenapa sorot mata mereka berdua sama-sama terlihat seperti tatapan membunuh.


Baik Kevin maupun Galang keduanya nampak seperti seseorang yang tengah dalam mode siaga untuk mempertahankan sesuatu yang sudah menjadi miliknya, Aura mengerikan terpancar dari diri keduanya.


Jabat tangan yang mengandung tegangan listrik itu pun terlepas, Tapi tetap saja ketegangan menyelimuti Kevin dan juga Galang.

__ADS_1


Nayla benar-benar merasa tidak nyaman, Ia berpikir keras bagaimana caranya agar bisa lepas dari situasi tak mengenakkan ini.


"Mama, Al lapar." Tiba-tiba suara Alvaro menyadarkan Nayla, terbesit ide agar dirinya bisa melarikan diri pun muncul di otaknya.


"Kak Kevin, maaf. Sepertinya aku harus mengajak Alvaro pergi dulu, Tampaknya dia sudah lapar lagi dan ingin makan siang sekarang." Ujar Nayla kemudian.


Galang yang ikut mendengarnya pun tersenyum senang, lalu berjongkok kearah Alvaro sepertinya anaknya ini selalu membantunya untuk menjauhi Nayla dari Kevin.


"Jagoan, mau makan apa siang ini?" Tanya Galang pada Alvaro dengan lembut.


"Anything, Papa." Jawab Alvaro polos.


Galang tertawa.


"Oke, oke." Ujarnya disela tawa.


" Nayla, kebetulan sudah ada orang tuaku disini. Bagaimana kalau siang ini kita makan siang bersama? Mereka sangat ingin berkenalan denganmu." Ajak Kevin tiba-tiba.


Nayla terkejut, Ia bingung bagaimana harus menolak Kevin Secara tidak sadar ia menoleh kearah Galang seolah tengah meminta bantuan padanya.


"Kedengarannya menyenangkan, Dokter Kevin. Bagaimana kalau kami juga ikut. Mungkin orang tuamu ingin berkenalan denganku dan Alvaro juga." Ujar Galang kemudian.


Nayla mendelik mendengarnya. Bukannya membantu Nayla menolak, lelaki ini malah menawarkan diri untuk ikut bergabung juga. Galang malah membuat situasi ini semakin tidak nyaman.


"Ide bagus." Gumamnya.


"Semakin banyak orang, pasti akan semakin meriah." Tambah Kevin lagi.


Nayla benar-benar tak percaya mendengarnya.


Kedua lelaki yang jelas-jelas tidak saling menyukai ini akan berada satu meja makan.Entah kegilaan apa yang akan terjadi nanti Dan lagi-lagi Nayla tak berdaya untuk keluar dari situasi tak mengenakkan ini, Ide gila itu benar-benar berlanjut.


Dan disinilah Nayla sekarang, Duduk dihadapan meja bundar besar di dalam sebuah restoran yang cukup mewah, bersama Kevin serta kedua orang tuanya, juga Galang dan Alvaro.


Kevin bahkan secara terang-terangan memperkenalkan Alvaro sebagai putra semata wayang Nayla dan Galang sebagai mantan suami Nayla kepada orang tuanya.


Dan anehnya, kedua orang tua angkat Kevin tampak sangat santai dan menyambut mereka dengan ramah. Seakan tak terlalu mempermasalahkan jika Nayla, perempuan yang disukai anaknya adalah perempuan yang punya masa lalu yang tak sederhana.


Yang lebih anehnya, mereka malah terkesan memuji apa yang tengah Nayla dan Galang lakukan saat ini.


"Aku banyak melihat anak-anak sangat menderita selepas perceraian orang tuanya. Mereka yang telah bercerai biasanya tidak mau bersinggungan satu sama lain lagi, bahkan demi anak mereka sekalipun. Tapi apa yang kulihat saat ini sungguh membuka mataku terbuka, ternyata masih banyak anak muda saat ini yang tidak berpikiran egois dan lebih mementingkan tumbuh kembang anak mereka Meski mereka telah bercerai." Ibu tiri Kevin memuji secara terang-terangan.


Nayla hanya tersenyum menanggapi, Ia sungguh tidak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


"Kami akan melakukan apapun untuk putra kami, Alvaro bahkan yang lebih dari ini sekalipun." Galang menimpali.


Kedua orangtua Kevin mengangguk-angguk Sedangkan Nayla tampak mencerna kata-kata Galang tadi. Entah kenapa baginya kalimat itu terdengar seperti mempunyai makna ganda bagi Nayla.


"Kalian orangtua yang sangat bertanggung jawab Beruntung sekali Alvaro punya Mama dan Papa seperti kalian. Alvaro pasti akan sangat bangga pada kalian." Kali ini Ayah Kevin yang membuka suara.


Lagi-lagi Nayla hanya bisa tersenyum menanggapi.


Setelah waktu yang tidak bisa dibilang sebentar, makan siang itu pun selesai. Alvaro minta diantar oleh Galang ketoilet sedangkan Kevin dan Ayahnya juga permisi sebentar untuk untuk hal lain. Hingga hanya menyisakan Nayla dan Ibu tiri Kevin di meja itu, Nayla benar-benar canggung dan tak tahu harus bagaimana untuk memulai pembicaraan.


"Tadinya aku bertanya-tanya, kenapa anak itu mau menghadiri perayaan Anniversary kami disini. Biasanya dia tidak akan meninggalkan rumah sakit untuk alasan apapun." Ibu tiri Kevin membuka pembicaraan.


"Tapi sekarang aku tahu alasannya Ternyata anniversary kami hanyalah alibinya saja, tujuan sesungguhnya dia datang kesini pastilah karena dirimu." Tambah Ibu tiri Kevin lagi sambil menatap kearah Nayla.


Nayla membeku Ternyata benar dugaannya jika tak ada sebuah kebetulan yang begitu sempurna di dunia ini. Pertemuannya dengan Kevin di tempat ini sudah direncanakan sebelumnya, bukan murni ketidaksengajaan seperti yang dikatakan oleh lelaki itu.


Nayla hanya bisa tersenyum kecut menanggapi.


"Sejak aku menikah dengan ayahnya, kami sudah akbar dan anak itu tidak pernah bosan menceritakan dirimu pada kami. Awalnya aku mengira dia hanya menganggapmu sebagai teman biasa dan menceritakan masa kalian bersama di sekolah Tapi lama kelamaan aku menangkap ada yang tak biasa dari cara dia menyayangimu. Semakin dewasa, dia semakin menghindari berteman dengan perempuan Bahkan jika ada yang terang-terangan menyukainya, dia akan menolaknya mentah-mentah dan meminta perempuan itu untuk menjauhinya."


Ibu tiri Kevin berhenti sejenak dan menghela nafas,Lalu pandangannya agak menerawang kedepan.


"Lalu aku menyadari satu hal ternyata dia tidak hanya sekedar menyayangimu Tapi dia sudah tergila-gila padamu, Nayla." Ibu tiri Kevin beralih menatap Nayla yang nampak kaget dan bingung.


" Kevin, putraku itu. Dia tidak ingin menikahi wanita lain selain dirimu." Tambahnya lagi dengan nada dalam dan penuh penekanan.


Nayla tercekat, Ia sungguh sulit untuk mencerna apa yang baru saja didengarnya.


Baru saja Galang memintanya untuk memberi kesempatan lagi Lalu sekarang Kevin datang dengan obsesinya untuk menikahi Nayla.


Nayla bingung dan tak tahu harus bersikap bagaimana pada kedua lelaki itu, Situasi ini telah menjadi semakin membingungkan.


Nayla menghela nafasnya dan berusaha untuk mengatur kata Kemudian ia memberanikan diri untuk melihat kearah Ibu tiri Kevin.


"Apa saat ini Anda sedang memberi lampu hijau pada saya, Nyonya?" Tanya Nayla penasaran.


Bersambung.....


Jangan lupa like, komen dan vote ya gaes


biar author makin semangat up tiap hari 🤗


Selamat Membaca Gaes🌺

__ADS_1


__ADS_2