Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 95


__ADS_3

๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


" Aku harus pergi, Nay. Itulah satu-satunya cara agar aku bisa melepaskanmu." Tambah Kevin lagi.


Nayla terdiam beberapa saat.


"Maukah Kakak memaafkan aku?" Tanya Nayla kemudian.


Kevin tersenyum, Lebih tepatnya berusaha


untuk tersenyum.


"Memaafkan untuk apa? Tidak ada yang perlu kumaafkan, Kita mungkin memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Aku sudah berusaha untuk menerima semua itu meski sulit." Ujar Kevin sambil masih berusaha untuk tersenyum.


Tapi Nayla tahu jika saat ini Kevin sedang menahan perasaannya sebisa mungkin.


Perlahan tangan Kevin terulur dan menyentuh kepala Nayla, Dibelainya rambut Nayla dengan sayang.


"Aku baik-baik saja, tidak perlu memikirkanku. Menikahlah dan hiduplah dengan bahagia, Nay..." Ujar Kevin sambil masih membelai kepala Nayla.


Kevin menatap Nayla lekat sambil masih terus berusaha untuk memberinya senyuman.


"Aku merestuimu." Ujar Kevin lagi. Kali ini setetes airmata jatuh dari pelupuk matanya, meski kemudian cepat-cepat dia hapus.


"Jadwal penerbanganku sebentar lagi. Aku pergi dulu, Nay." ujarnya


Kevin kembali menarik kopernya dan berlalu dari hadapan Nayla untuk masuk kedalam taksi yang sudah sejak tadi menunggunya.


Dapat Nayla lihat Kevin masih menyempatkan diri melambaikan tangannya sebelum taksi itu melesat meninggalkan Nayla yang masih berdiri mematung.


Tiba-tiba airmata Nayla juga jatuh membasahi pipinya.


" Maafkan aku Karena tidak bisa bersamamu, Kak. Semoga Kakak juga bisa menemukan kebahagiaan suatu hari nanti...'' harap Nayla


Nayla semakin tersedu, Setelah banyak hal yang telah banyak Kevin lakukan untuknya, kini hanya luka yang Nayla berikan pada malaikat pelindungnya itu sebagai balasannya.


Tiba-tiba sebuah tangan kokoh menyentuh bahu Nayla dengan lembut hingga mau tak mau Nayla menoleh,Tampak Galang telah keluar dari mobilnya dan berdiri dibelakang Nayla.


Lelaki itu membalik tubuh Nayla dan membawa Nayla kedalam pelukannya. Diusapnya kepala dan punggung Nayla seolah ingin memberikan ketenangan untuk perempuan itu.


"Menangislah jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik." Gumam Galang sambil mempererat pelukannya.


Nayla menuruti kata-kata Galang. Ia menangis semakin kencang didalam pelukan Aaron, seolah tidak takut jika tiba-tiba Galang tidak suka dengan sikapnya ini Tapi memang tampaknya Galang tak berkeberatan dan membiarkan Nayla menumpahkan semua kegundahannya.


Nayla menangis hingga ia mulai sesegukan.


Galang menuntun Nayla menuju mobil, kemudian membimbing Nayla untuk masuk.


Galang memberikan Nayla air mineral yang ada didalam mobilnya, Nayla pun menerimanya dan meneguk air itu beberapa tegukan.


Terlihat Nayla sudah mulai tenang dan berhenti menangis, Mereka pun hening untuk beberapa saat.


" Galang, maaf..." Suara Nayla yang serak terdengar memecah keheningan. Tampaknya Nayla mulai sadar dengan situasinya saat ini, Ia menangisi Kevin saat ada Galang di dekatnya. Apakah sekarang lelaki di sampingnya ini akan marah?


Tapi di luar dugaan, Galang malah menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis, seolah ingin menenangkan Nayla.


"Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja." Ujar Galang dengan lembut, jauh sekali dari kesan marah.


Nayla menelan salivanya, Ia berusaha menyusun kalimat yang tepat untuk di sampaikan pada Galang tentang dirinya dan Kevin.


" Aku banyak berhutang budi padanya karna dia yang selalu melindungi dan membelaku dari bullyan teman-teman sekolah waktu itu, Itulah kenapa aku sangat sedih dia pergi dengan cara seperti ini." Tutur Nayla mencoba menjelaskan.


Galang menatap Nayla lekat.


"Aku tahu." jawab Galang kemudian.


"Aku bisa memaklumi apa yang terjadi hari ini" Ujar Galang lagi, Nayla tampak menghela nafas lega.


Tapi sejurus kemudian Galang merubah mimik wajahnya.


"Tapi Naylaku sayang, Aku hanya ingin melihat yang seperti tadi hari ini saja. Di kemudian hari, aku tidak mau kau menangisi lelaki lain lagi, terlebih dihadapanku."


"Cukup sekali ini saja." Ulang Galang lagi dengan penuh penekan.

__ADS_1


Sebenarnya lelaki ini sangat cemburu dan ingin marah sejak tadi tapi Galang tahu jika Kevin sudah Nayla anggap sebagai Kakaknya sendiri, hingga Galang sebisa mungkin berusaha menerima apa yang terjadi hari ini.


Tapi dorongan rasa cemburu itu membuat Galang merapatkan tubuhnya pada tubuh Nayla.


" Nayla, apa kau tahu hal yang bisa memperbaiki mood selain mengkonsumsi coklat?" Tanya Galang.


Nayla menatap Aaron sesaat dan menggeleng.


Galang tersenyum.


"Akan aku tunjukkan padamu." Gumamnya sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Nayla.


Detik berikutnya, kedua makhluk yang berbeda jenis kelamin ini telah hanyut dalam nikmatnya ciuman yang memabukkan. Mereka berdua saling berpagutan, melepaskan emosi yang mendera keduanya.


Mungkin benar apa yang dikatakan Galang tadi, yang mereka lakukan saat ini memang cara terbaik membuat kesedihan Nayla berkurang, meski tidak ada coklat.


...****************...


......................


...----------------...


Satu minggu menjelang pernikahan, Galang secara resmi memperkenalkan Nayla sebagai calon Nyonya Muda Keluarga Alexander di perusahaannya. Dia meminta semua karyawannya menghormati Nayla seperti mereka menghormati dirinya, Galang juga meminta agar jangan sampai Nayla memperoleh kesulitan apapun setiap ia datang keperusahaan.


Semua orang merasa takjub dibuatnya, Mereka jadi penasaran dengan sosok yang bisa menaklukan hati Galang. Pastilah perempuan yang akan dinikahi oleh Galang kali ini bukanlah perempuan biasa. Buktinya saja, belum apa-apa ia sudah diperlakukan seperti seorang ratu oleh bos mereka itu.


Bahkan istri pertama Galang dulu yang telah memberikannya seorang putra saja tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu, Para karyawan Galang pun mulai bergunjing jika mantan istri Galang dulu tidak dicintai oleh Galang.


Andai mereka semua tahu jika Nayla adalah wanita yang sama dengan wanita yang diceraikan Galang dulu, mungkin mereka akan sangat bingung dibuatnya.


"Ingin melihat ruang kerjaku?" Tanya Galang pada Nayla setelah pertemuan dengan para petinggi Alexander Group telah selesai.


"Apa boleh?" Nayla malah balik bertanya.


"Tentu saja boleh. Dilain hari, kau juga bisa datang kapan saja jika merindukanku." Jawab Galang dengan nada menggoda.


Nayla tersenyum dengan wajah yang mulai merona.


"Aku tidak akan merindukanmu." Balas Nayla.


Nayla kembali tersenyum sambil melangkah mendekati Galang, Tangan Zaya terulur menyentuh lembut rahang lelaki itu.


"Bukankah kamu sudah berjanji untuk selalu bersamaku. Kamu tidak akan pernah meninggalkanku, kan? Jadi buat apa aku merindukanmu?" Ujar Nayla lembut sambil membelai wajah Galang.


Galang tampak terkesiap dengan perlakuan Nayla itu, Kemudian jemarinya mengenggam tangan Nayla yang membelainya. Galang membawa tangan halus itu pada bibirnya, lalu mengecupnya dengan lembut dan penuh perasaan.


Dipandangnya Nayla dengan tatapan yang teramat sangat dalam, Sungguh Galang mencintai perempuan ini. Tak sanggup rasanya membayangkan harus kehilangannya lagi.


Galang telah takluk, setakluk-takluknya. Jika saat ini ada yang mempredikatkan dirinya sebagai seorang budak cinta, sungguh Galang tak berkeberatan. Dia tidak akan menyangkal jika saat ini dia telah sangat memuja sosok lembut dihadapannya ini, karena memang seperti itulah keadaanya.


Justru Galang akan senang jika orang-orang tahu Nayla telah memiliki Galang seutuhnya, Karena dengan begitu tak akan ada yang berani mengusik hubungan mereka berdua.


"Ayo, kita keruang kerjaku." Ajak Galang sambil masih menggenggam tangan Nayla.


Nayla tak menolak, ia mengiringi langkah Galang dari belakang Tapi tak lama kemudian Galang berhenti, membuat Nayla mau tak mau ikut berhenti juga.


"Berjalanlah disampingku, Sayang. Kau calon istriku, bukan bawahanku." Pintanya lembut.


Hati Nayla berbunga mendengarnya. Entah mengapa, ia merasa Galang semakin manis saja setiap harinya. Sampai-sampai Nayla sering bertanya-tanya sendiri, benarkah lelaki yang akan menikahinya ini Galang Christian Alexander yang sama dengan yang menikahinya dulu.


Seulas senyum manis tersungging dibibir Nayla, Ia mengangguk dan segera mengambil posisi disebelah Galang. Lalu mereka kembali melangkah dengan tangan yang saling bergandengan.


Setelah masuk lift dan naik tiga lantai, sampailah mereka ke ruangan yang dituju.


Ruang kerja Galang sangat luas. Menggunakan desain minimalis yang didominasi warna putih, abu-abu dan hitam. Terdapat sebuah kamar khusus yang biasa digunakan Galang untuk beristirahat jika dia sedang sangat sibuk tak sempat pulang.


Sementara Nayla yang tampak masih mengamati sekeliling, Galang pun duduk dikursi kebesarannya.


"Sayang, kemarilah." Suara Galang membuyarkan pikiran Nayla.


Nayla menoleh dan mendekati lelaki itu.


"Duduk disini." Pinta Galang lagi sambil menepuk pahanya.

__ADS_1


Nayla mendelik tapi tetap saja ia tak bisa berbuat apa-apa saat Galang menarik tangannya dan mendudukkan Nayla dipangkuannya.


Nayla duduk diatas pangkuan Galang dengan posisi wajah yang saling berhadapan, Galang memeluk pinggang Nayla erat dan tak memberikannya peluang sedikit pun untuk melarikan diri. Mata mereka menatap satu sama lain membuat Nayla terhanyut dan tanpa sadar mengalungkan kedua tangannya ke leher Galang.


"Aku merindukanmu." Gumam Galang sambil mengecup sudut bibir Nayla.


"Sejak tadi aku menahan diri untuk tidak memelukmu, Pertemuan tadi benar-benar lama dan membosankan." Lanjut Galang lagi sambil menghirup aroma wangi dari ceruk leher Nayla.


Nayla menggeliat menahan geli.


" Galang...hentikan, Kita sedang ada dikantormu." Sergah Nayla.


"Ini ruanganku, Tidak ada yang berani masuk sembarangan. Lagipula pintunya sudah aku kunci." Jawab Galang sambil masih menelusuri wajah dan leher Nayla dengan kecupan-kecupan kecil.


Nayla kembali mendelik.


"Lalu jika ruangannya terkunci, kamu mau apa?" Tanya Nayla.


Galang berhenti, lalu mengangkat wajahnya dengan menatap Nayla penuh hasrat.


"Tanpa aku katakan, kau pasti tahu aku mau apa, Sayang." Lirihnya dengan suara yang benar-benar menggoda.


Nayla terkesiap, Tiba-tiba saja tubuhnya menjadi seperti hilang kendali dan menerima saja apa yang Galang lakukan padanya.


" Nayla..." Panggil Galang setelah dia puas bermain-main dileher Nayla.


"Ya?" jawab Nayla


"Cium aku, Sayang." ujarnya


Nayla menelan salivanya sambil menatap Galang yang juga sedang menatapnya, Sorot mata Galang seolah mengatakan jika dia tengah menantikan apa yang dipintanya tadi.


Nayla tak kuasa menolak. Didekatkan wajahnya ke wajah Galang. Lalu sembari memejamkan mata, dikecupnya bibir Galang dengan lembut.


Galang langsung menyambut bibir Nayla.


Dipagutnya bibir kenyal dan manis itu dengan lembut sembari mengusap-usapkan tangannya dipunggung Nayla. Lalu setelah beberapa waktu saling menyesap dengan lembut, tangan Galang pun naik dan menahan tengkuk Nayla untuk memperdalam ciumannya.


Ciuman itu berubah menjadi agresif dan panas, Lidah mereka ikut saling membelit dengan sangat sengitnya. Mereka saling menjelajahi setiap rongga mulut satu sama lain, Pagutan itu semakin liar dan menyulut gairah. Mereka berciuman dengan sangat bersemangat, hingga terdengar bunyi decapan dari pertautan


bibir mereka berdua.


Setelah mulai kehabisan nafas, keduanya saling melepaskan ciuman itu. Mereka berdua sama-sama terengah dengan wajah merona, Mata keduanya masih saling memandang sambil sama-sama tersenyum.


Selang beberapa detik, Galang memulai lagi cumbuannya. Kali ini kedua tangannya yang bermain-main. Diremasnya dada Nayla dengan lembut hingga perempuan itu mendesah tertahan sambil melengkungkan tubuhnya.


Galang semakin gemas. Merasa tak cukup puas, dia pun membuka beberapa kancing teratas kemeja Nayla lalu mengeluarkan dada Nayla dari penyangganya.


Nayla yang juga telah diselimuti hasrat tak tertahankan pun tak mencegah apa yang Galang lakukan, Ia menikmati saja setiap sentuhan itu dengan nafas memburu.


Kali ini Galang menjadi semakin agresif, dihisapnya pucuk dada Nayla hingga perempuan itu terpekik karena merasakan sensasinya, Antara sedikit sakit tapi juga sangat nikmat.


Nayla semakin hilang kendali. Dicengkramnya rambut Galang dengan kuat, membuat lelaki itu semakin bergairah mencumbu dada Nayla.


"Galang...hen..tikan..., aku...tidak tahan la..gi.." Nayla memohon dengan terbata, Nafasnya tersengal karena menahan ledakan gairah yang ada di dalam dirinya.


Tapi Galang seperti tak menghiraukannya. Dia masih terus menyesap dada, bibir, telinga dan leher Nayla secara bergantian.


Nayla pun akhirnya benar-benar tidak tahan lagi, Ia mengejan sambil kembali mencengkram rambut Galang dengan sekuat tenaganya. Nayla meraih pelepasannya hanya dengan cumbuan di tubuh bagian atasnya saja.


Galang akhirnya berhenti Dipandangnya Nayla yang masih tersengal, sebuah senyuman terbit bibir Galang. Dia tampak puas dengan hasil perbuatannya kali ini pada Nayla.


Galang merapikan kembali kemeja Nayla yang tadi sempat dibukanya, Dikecupnya kening Nayla kemudian dipeluknya tubuh yang masih terlihat lemas itu.


Aaron merapikan kembali kemeja Zaya yang tadi sempat dibukanya. Dikecupnya kening Zaya, kemudian dipeluknya tubuh yang masih terlihat lemas itu.


"Kau harus membiasakan diri Sayang Setelah kita menikah, kau akan sering mendapatkan lebih dari apa yang kau rasakan tadi." Bisik Galang dengan nada menggoda.


Nayla tak menjawab dengan kata-kata tapi dengan sebuah pukulan didada Nayla, Galang terkekeh sambil menangkap tangan Nayla yang hendak memukulnya lagi. Sepertinya perempuan ini benar-benar malu karena kalimat menggoda dari Galang tadi.


Galang kembali memeluk Nayla, Benar-benar damai rasanya berada dalam pelukan orang yang dicintai. Dia berharap, setelah ini mereka akan selalu bersama dan tak terpisahkan lagi.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan Lupa Like, Komen Dan Vote ya gaes


Happy Reading teman-teman โคโค๐Ÿงก


__ADS_2