Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 50


__ADS_3

Adakah yang mengerti, aku terlalu sakit untuk bertahan, tetapi terlalu cinta untuk melepaskan.


...Dan...


Derasnya hujan di luar sana tak sebanding dengan derasnya air mataku yang mengalir karena kekecewaan yang kau buat.


...Tapi...


Suamiku, kamu menghancurkan hatiku, tapi aku masih mencintaimu dengan semua bagian kepingan itu.


Angin sepoi-sepoi membelai rambut Nayla. Tampak gaun yang dikenakannya ikut melambai terkena tiupan angin.


Nayla memandang Taman bunga yang berada disekitar balkon kamarnya yang terhampar di hadapannya saat ini. Kemudian padangannya turun ke jari manisnya yang dihiasi cincin kawin sederhana.


Sudah Lima tahun yang lalu, tepat di hari ini Galang menyematkan cincin itu dijari manisnya. Sejak saat itu pula hati Nayla terikat pada lelaki itu dan tidak mampu untuk berpaling. Pernikahan mereka sudah lima tahun berarti umur Alvaro sudah lima tahun lebih juga ya gaes.


Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Nayla dan Galang. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, Nayla selalu Berdiri di balkon kamarnya . Tapi kali ini Nayla akan lebih menikmati setiap momennya, karena sepertinya ini adalah hari ulang tahun pernikahannya yang terakhir. Hadiah istimewa " Surat Cerai " Indah, Bukan?


Galang telah memilih untuk melepaskannya, dan sepertinya sekarang Nayla tahu alasannya.


" Dia sudah menemukan wanita yang ia cintai "


Nayla jadi teringat kata-kata yunita dulu saat memintanya untuk menceraikan Galang.


"Apa yang kau pikirkan, Nayla. Apa kau kira Galang akan menjadi suamimu selamanya. Kau hanyalah istri sementara bagi Galang. Nanti setelah tiba saatnya, Galang pasti akan meninggalkanmu dan bersanding dengan perempuan yang lebih pantas untuknya. Cepat atau lambat kalian pasti akan bercerai juga. Tapi jika kau yang meminta cerai terlebih dahulu, meski rasanya sama-sama sakit, setidaknya kau masih punya harga diri."


Kata-kata itu sudah sangat lama terlontar dari mulut Yunita, tapi saat ini kembali menggema dipikiran Nayla. Sungguh naif dirinya yang saat itu meragukan semua yang dikatakan Yunita.


" Ketika suamiku memilih untuk berpisah dengan aku, aku tidak sendirian karena kesepian selalu bersamaku. Aku berusaha melangkah sendirian tanpa merasa kesepian dan kesepian adalah temanku "


Tidak. Nayla sebenarnya tahu jika semua yang Yunita ucapkan benar adanya. Ia hanya berharap suatu hari ada keajaiban yang bisa membuat Galang membuka hati untuknya. Harapan yang tak pernah berubah menjadi kenyataan. Harapan yang dulu membuatnya sanggup menghadapi apa saja. Tapi justru harapan itu juga yang kini membuatnya terhempas kedasar jurang paling dalam.


Nayla menengadah sambil memejamkan matanya. Ia berusaha menerima hasil akhir dari semua perjuangannya selama ini dengan lapang dada.


Yah..., inilah akhirnya.


Nayla pun beranjak, melangkah meninggalkan Balkon yang tampak sunyi itu dan memasuki kamarnya dan beristirahat untuk menenangkan hati dan pikirannya.

__ADS_1


" Aku merasa seperti orang idiot. Aku memikirkanmu sepanjang waktu, tetapi aku tahu kamu tidak memikirkanku sama sekali." Isi hati Nayla


Sudah menuju pukul delapan malam Nayla baru bangun dari tidurnya yang amat nyenyak.


Setelah membersihkan diri, Nayla turun untuk makan malam. Tampak Galang dan Alvaro telah menunggunya dimeja makan.


Nayla menyapa Alvaro lalu mencium pipi anak kesayangan nya itu yang selamat ini membuat dia bertahan berada di rumah mewah itu namun amat sepi. Nayla langsung duduk di samping Alvaro tanpa melirik kearah Galang yang berada di hadapannya.


Mereka makan tanpa mengeluarkan suara. Semuanya larut dalam pikiran masing-masing. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


Makan malam berakhir lebih cepat dari biasanya. Nayla kembali kekamarnya setelah sempat mengantar Alvaro ketempat tidur. Lalu ia datang ke ruang kerja Galang sambil membawa sesuatu ditangannya.


Galang sedikit terkejut dengan kedatangan Nayla. Tapi kemudian dia bisa menguasai dirinya dan menyuruh Nayla duduk.


Agak lama Nayla terdiam untuk menyusun kalimat yang ia lontarkan dengan Galang. Dan Galang hanya menunggu Nayla mengutarakan maksud kedatangannya tanpa berniat untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.


"Setelah kita bercerai, apa aku masih bisa menemui Alvaro?" tanya Nayla akhirnya.


Galang menatap Nayla sekilas dan tampak menyusun kata.


"Jika Alvaro sedang tidak ada jadwal belajar, kau bisa menemuinya. Aku tidak akan melarangmu menemuinya selama dia sendiri tidak keberatan." jawab Galang.


"Dengan aku pergi nanti, apa kehidupanmu dan Alvaro akan jadi lebih baik, Galang?" tanyanya lagi dengan lirih.


Kali ini Galang tampak tak tahu harus menjawab apa. Dia terdiam agak lama, sebelum akhirnya membuang nafas kasar.


"Mungkin." jawabnya akhirnya.


Mungkin? Pasti maksudnya adalah 'Ya', kan? Tidak mungkin Galang akan menjawab pertanyaan Nayla dengan gamblang. Karena itu akan semakin menyakiti Nayla. Tampaknya Galang masih menjaga etika agar tidak terlalu mempermalukan Nayla.


Nayla berusaha tersenyum meski terlihat sangat kelu. Kemudian ia mr


Mengangguk-anggukkan kepalanya dengan mata agak menerawang, lalu dengan cepat ia berusaha tersenyum agar tidak di anggap cengeng.


"Ini, ambilah. Aku sudah menandatanganinya." nayla menyerahkan berkas pengajuan cerai yang sebelumnya diberikan Galang padanya. Galang pun menerimanya dengan mata yang lekat menatap Nayla.


Nayla beranjak dari duduknya tanpa memandang ke arah galang, sepertinya Nayla sedang berusaha untuk tegar dan tidak menunjukkan sisi lemahnya di depan Galang.

__ADS_1


"Nanti aku akan sampaikan mau meminta kompensasi apa padamu. Sekarang aku belum memikirkannya." ujarnya sambil melangkah kearah pintu.


Tapi saat tangannya menyentuh knop pintu, Nayla berhenti dan berbalik kearah Galang.


"Galang..., bolehkah aku bertanya satu hal lagi padamu?" tanyanya pelan.


Galang kembali menatap Nayla.


"Katakan." ujarnya datar.


Nayla terdiam sesaat, lalu menatap Galang penuh makna.


"Selama lima tahun ini, pernahkah kamu mencintaiku sedikit saja?" tanyanya kemudian. Pelan dan lirih. Tapi sangat jelas terdengar ditelinga Galang.


Galang diam dan hanya menatap Nayla. Sorot matanya terlihat lebih tajam dan tak biasa. Mungkin dia merasa keberatan dengan pertanyaan terakhir Nayla.


Melihat Galang yang tampak tak berniat menjawab pertanyaannya, Nayla pun tersenyum penuh ironi.


"Baiklah, aku mengerti." ujar Nayla sambil menundukkan wajahnya. Nayla sudah tahu jawabannya meski Galang tak berkata apapun. Dari awal sampai akhir, ia tetaplah tak berarti apa-apa dimata Nayla. Itulah kenyataannya.


"Aku pergi dulu, selamat malam." Nayla keluar dari ruangan itu tanpa menunggu tanggapan dari Galang lagi. Dilangkahkannya kakinya dengan cepat, dan saat ia telah sampai kekamarnya, segera dikuncinya pintu kamar.


Tubuh Nayla luruh bagai tak bertulang. Kakinya tak mampu lagi berdiri menopang badannya. Airmatanya kembali mengalir tanpa permisi.


Mungkin sudah saatnya mengakhiri semua ini. Melepaskan mata pisau yang ia genggam kuat sampai telapak tangannya tak henti berdarah.


Membina rumah tangga yang harmonis tentu jadi impian setiap pasangan. Namun nyatanya, bahtera rumah tangga tidak selalu berjalan bahagia. Sering kali, pasangan suami istri harus dihadapkan pada masa-masa yang sulit. Berbagai macam cobaan muncul silih berganti menguji kesetiaan. Apalagi jika pasangan kita tidak memiliki perasaan apa-apa untuk kita sedangkan kita mencintainya terlalu dalam hingga pada saat ia menginginkan untuk berpisah kitalah orang pertama yang merasa hancur.


"Ada yang tetap berusaha meskipun sudah tau hasilnya." Nyesek banget


^^^Bersambung.. ^^^


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


^^^** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho^^^


^^^Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah^^^

__ADS_1


^^^Please....pleasee🙏🙏^^^


^^^Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP😘🥰^^^


__ADS_2