
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπ·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
Seharian Nayla tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya, Ciuman Galang saat lelaki itu mengantarnya ke Butik tadi pagi masih terus terbayang dikepalanya, Pipi Nayla langsung memerah jika teringat adegan memalukan itu.
Saking tidak berkonsentrasinya, Nayla sampai beberapa kali salah merespon orang-orang yang mengajaknya berbicara. Hingga akhirnya, dengan gemas Sarah mengajak Bu Bosnya itu masuk keruang kerjanya.
"Kamu tidak terlihat seperti orang sakit tapi tingkahmu hari ini juga tidak terlihat sehat. Kamu kenapa, sih?" Tanya Sarah penasaran.
Nayla hanya menggelengkan kepalanya dengan agak bingung.
"Aku tidak apa-apa." Jawabnya.
Membuat Sarah mendengus sebal.
"Lalu kenapa dari tadi kamu sulit diajak bicara? Lila sudah berapa kali menanyakan hal yang sama sejak tadi tapi jawaban kamu malah ngawur sampai-sampai dia bingung harus melakukan apa, Lihat saja dia dibelakang sekarang sedang kelabakan." Ujar Sarah lagi.
Nayla agak melebarkan matanya.
"Benarkah?" Tanyanya.
"Ada yang tidak beres denganmu, Nayla." Gumam Sarah Kemudian gadis itu mengamati Nayla dengan seksama.
"Aku lihat tadi kamu datang diantar mobil mewah pasti mobil Tuan Galang, kan?" Tanyanya dengan nada menyelidik.
Nayla tampak agak gelagapan mendengar pertanyaan Sarah.
"Ah..., benar. Pasti itu ada hubungannya dengan tingkahmu yang aneh hari ini, Apa kalian habis melakukan sesuatu yang sulit untuk dilupakan?" Tanya Sarah lagi dengan nada menggoda.
Nayla mendelik, Lalu tangannya langsung terulur menutup mulut Sarah.
"Jangan bicara sembarangan." Sergah Nayla salah tingkah, Sarah sontak langsung berontak karena tangan Nayla juga menutup hidungnya.
Sarah menepis tangan Nayla yang membekapnya.
"Kamu mau membunuhku, ya? Aku tidak bisa bernafas, tahu!" Ujarnya agak marah dengan nafas yang terengah-engah.
Nayla meringis.
"Maaf..maaf. Kamu sih, suka bicara sembarangan, Aku kan jadi tidak sengaja membekap mulutmu." ujar Nayla membuat Sarah mencebik
"Dasar tidak berperasaan." Gerutunya.
"Tapi tebakanku tadi benar, kan?" Tanya Sarah lagi, Belum sempat Nayla menjawab sebuah ketukan pintu mengalihkan perhatian Sarah dan Nayla.
Lila masuk dengan membawa seikat mawar merah.
"Bu Bos, ada yang mengirim bunga untuk Bu Bos." Ujar gadis itu sambil menyerahkan bunga yang dibawanya kepada Nayla.
Nayla menerimanya dengan agak bingung.
"Dari siapa?" Tanya Nayla
Lila mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
Nayla tercenung untuk sesaat Kemudian dengan ragu ia mendekatkan hidungnya pada mawar-mawar itu.
" Harum.... " Nayla menghirup Aromanya sekali lagi.
"Asyik...sepertinya Bu Bos punya pacar baru." Ujar Lila dengan girang.
Nayla mendelik pura-pura marah.
"Anak kecil sudah tahu pacar-pacaran Kerja yang benar sana." Sergahnya.
"Siapa yang anak kecil, Bu. Saya sudah hampir dua puluh satu tahun." Jawab Fina tak terima.
Nayla tampak menahan diri untuk tersenyum.
"Masih kecil itu." Ujarnya bersikeras.
"Iya, Bu, saya anak kecil. Tapi anak kecil yang sudah bisa membuat anak kecil juga." Lila terkekeh, diiringi oleh Sarah.
"Kamu ini, ya..." Nayla pura-pura marah.
Lila buru-buru kabur dengan Masih terkekeh.
" I,m Sorry, Bu....I,m Sorry ." Ujarnya disela kekehannya.
Sepeninggalan Lila suasana pun hening sejenak, Nayla tampak memandangi bunga ditangannya sambil agak berpikir.
"Ehem..." Suara Sarah membuyarkan lamunan Nayla.
Tiba-tiba saja ponsel Nayla berdering, Tampaklah nama Galang terpampang dilayar ponselnya.
Nayla menjawab panggilan itu.
"Ya, Galang." Jawab Nayla
"Apa kau sudah menerima bunganya?" Tanya Galang dari seberang sana.
__ADS_1
Nayla terdiam sesaat Ternyata Galang yang mengirimkan bunga padanya, Entah apa tujuan lelaki itu kali ini.
"Ya. Bunganya sudah aku terima." Jawab Nayla akhirnya.
"Ternyata pengirimannya cukup cepat Baguslah, Itu jenis mawar kesukaanmu, bukan?" Tanya Galang lagi.
Nayla sedikit menghela.
"Iya benar, ini mawar kesukaanku Tapi kenapa kamu mengirimnya?" Nayla balik bertanya.
"Memangnya salah memberikan bunga pada gadis pujaanku?" Gumam Galang dengan entengnya.
Apa? Gadis pujaan katanya?
Astaga!
Nayla sampai agak ternganga mendengar kata-kata Galang tadi, Sejak kapan lelaki kaku itu berubah menjadi perayu ulung.
"Apa malam nanti kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu keluar untuk makan malam." Suara Galang kembali terdengar.
Nayla sedikit berdehem menetralkan keterkejutannya.
"Aku sedang agak lelah jadi langsung ingin beristirahat pulang dari butik nanti." Jawabnya berusaha menolak.
"Baiklah, Kalau begitu kita makan malam dirumahmu saja." Ujar Galang lagi.
"Tapi aku tidak pandai memasak Biasanya saat malam aku hanya makan masakan sederhana buatanku sendiri." Ujar Nayla lagi, masih berusaha menolak.
"Tidak apa-apa, Aku akan makan apapun yang kau masak." Galang bersikeras.
"Aku sedang ada meeting, Nanti malam aku akan datang kerumahmu." Galang memutuskan sepihak tanpa menunggu persetujuan dari Nayla Lalu panggilan pun terputus.
Nayla terperangah sambil menatap layar ponselnya tak percaya Sedangkan Sarah yang sedari tadi diam dan memperhatikannya pun akhirnya mengeluarkan suara.
"Tampaknya Bu Bos kita memang sudah punya pacar baru, Pacar baru rasa lama." Sarah terkekeh sambil berlalu meninggalkan Nayla.
Nayla mematung seorang diri, Ia agak kesal dengan Galang yang ingin datang tanpa persetujuannya Tapi alih-alih merasa marah, Nayla justru merasakan dadanya menjadi berdebar saat membayangkan akan bertemu kembali dengan lelaki itu.
Ya Tuhan, Nayla kembali merasakan pipinya memanas untuk kesekian kalinya. Ingin rasanya ia menggali lubang ke dasar bumi dan bersembunyi disana agar tak perlu bertemu dengan Galang lagi.
Lelaki itu benar-benar telah membuatnya jadi serba salah.
Akhirnya Nayla tetap kalah, Mau tidak mau ia tetap menyediakan masakan untuk makan malam bersama Aaron dirumahnya.
Sore tadi saat Nayla baru pulang, lelaki itu kembali menelfonnya dan mengatakan akan segera datang kerumah Nayla setelah pulang dari kantor. Hingga Nayla terpaksa memasak makanan seadanya untuk lelaki itu.
Galang datang tepat saat Nayla baru saja selesai berganti pakaian.
Lelaki itu juga terlihat segar dan berpenampilan lebih santai,Tampaknya dia juga baru selesai mandi sebelum datang kerumah Nayla.
"Kamu tidak mengajak Alvaro?" Tanya Nayla saat mendapati Galang hanya seorang diri.
"Alvaro belum pulang dari acara berkemahnya Besok baru akan pulang." Jawab Galang, Nayla hanya mengangguk kemudian mempersilahkan Galang masuk.
Mereka pun makan malam berdua dengan suasana yang entah kenapa menjadi agak tak biasa. Lilin yang tadinya Nayla nyalakan dengan tujuan agar masakanya tak didatangi lalat saat menunggu Galang, justru membuat kesan romantis pada makan malam mereka.
Sesekali Nayla melirik Galang yang terlihat sangat menikmati makanannya, Padahal yang Nayla masak hanyalah masakan sederhana.
Selesai makan Nayla membereskan meja makan dan mencuci piring, Lalu ia menyusul Galang yang tengah duduk diruang tv.
"Mau minum teh atau kopi?" Tanya Nayla dengan sedikit canggung.
Galang menoleh kemudian dengan agak tiba-tiba dia menarik tangan Nayla hingga Nayla terduduk tepat disebelahnya tanpa ada jarak.
Tubuh Nayla menempel pada tubuh Galang sampai-sampai Nayla bisa mencium aroma parfum lelaki itu. Dada Nayla kembali bergemuruh dibuatnya, Berdekatan dengan Galang benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
"Aku tidak mau teh ataupun kopi,Aku mau dirimu." Bisik Galang sambil membawa Nayla kedalam pelukannya.
"Padahal baru semalam kita bersama, sekarang aku sudah merindukanmu lagi." Tambah Galang lagi.
Nayla kehabisan kata-kata. Lelaki ini, Nayla kehabisan kata-kata. Lelaki ini benarkah dia Galang Christian Alexander yang dulu pernah menikahinya? Kenapa sekarang Nayla merasa jika Galang sudah menjelma menjadi sosok lain. Mungkinkah dia belakangan ini mendapatkan sebuah benturan keras dikepalanya hingga otaknya menjadi sedikit terganggu?
Nayla mengurai pelukan Galang Kemudian menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Galang, Nayla tidak ingin apa yang terjadi tadi pagi terulang lagi.
"Aku sudah memikirkannya, Galang. Bagaimana kalau sekarang kita saling mengenal saja terlebih dahulu. Mungkin kita bisa berteman sambil meyakinkan perasaan kita masing-masing." Ujar Nayla kemudian.
Galang terdiam sesaat mendengarnya.
"Aku setuju untuk saling mengenal Tapi aku tidak mau kita berteman." Jawabnya kemudian.
"Aku ingin kita menjalani proses perkenalan itu dengan menjalin hubungan seperti yang dilakukan Rangga dan temanmu." Tambah Galang lagi.
Nayla menautkan kedua alisnya.
"Maksudmu...berpacaran?" Tanyanya dengan ragu.
Galang mengangguk mengiyakan.
Nayla agak tercenung, Kemudian wajahnya berubah ekspresi seperti sedang menahan tawa.
__ADS_1
"Pft.....hahaha....." Akhirnya Nayla terbahak-bahak tanpa bisa ditahan lagi. Wajahnya sampai memerah karena tertawa, Permintaan Galang tadi benar-benar terdengar lucu di telinganya.
Sedangkan Galang terdiam melihat tawa Nayla yang begitu lepas, Baru kali ini Galang melihat perempuan ini tertawa saat mereka saling berhadapan. Wajah Nayla berkali-kali lipat lebih mempesona saat ia tertawa Tanpa sadar senyum tipis tersungging dibibir Galang.
Tawa Nayla pun mereda, menyisakan senyuman yang masih melekat dibibirnya Tapi sejurus kemudian ia terkesiap saat menyadari Galang tengah menatapnya lekat.
Pandangan mereka seakan terkunci satu sama lain Lalu tiba-tiba Nayla terbelalak saat Galang merebahkan tubuh Nayla disofa yang mereka duduki.
Galang mengambil posisi diatas Nayla dan mendekatkan wajahnya ke wajah Nayla.
Cup.
Sebuah ciuman kembali mendarat dibibir Nayla, Lembut namun begitu menghanyutkan. Seakan Galang ingin mencurahkan seluruh perasaannya kepada Nayla lewat ciuman itu.
Tanpa sadar Nayla mengalungkan kedua tangannya ke leher Galang sambil memejamkan matanya. Ia membuka mulutnya, memberikan Galang akses lebih untuk menjelajahi setiap rongga mulutnya.
Nayla mulai membalas ciuman Galang Semakin lama pagutan mereka terasa semakin panas dan memggairahkan, hingga terdengar suara decapan dari pertautan bibir mereka berdua.
Meski awalnya tak ingin hal ini terjadi lagi, nyatanya saat ini Nayla sangat menikmati apa yang sedang ia dan Galang lakukan. Diam-diam Nayla mengakui didalam hatinya, jika ia juga sangat merindukan Galang.
Galang semakin bersemangat memagut bibir Nayla, Sesekali terdengar erangan dari mulutnya. Tangannya pun mulai tak mau kalah Satu tangan digunakannya untuk menahan tengkuk Nayla dan yang satunya lagi mengusap lembut punggung Nayla.
Keduanya saling menghisap, menyecap dan *******, sambil sesekali membelitkan lidah satu sama lain, Mereka saling mengulum dan bertukar saliva dengan sangat bernafsu. Sesuatu yang telah lama tertahan, nampaknya bangkit dan meminta untuk segera di tuntaskan.
Nayla menggeliatkan tubuhnya, Sentuhan Galang di beberapa titik sensitifnya membuatnya menggelinjang hebat, Ia mendesah ditengah ciuman panas itu.
Tapi tak lama kemudian, Galang menarik wajahnya dari wajah Nayla mengakhiri pertautan bibir mereka dan memadamkan api yang baru saja berhasil mereka nyalakan.
Jika ciuman itu diteruskan, maka dapat ditebak kegiatan mereka ini akan berakhir seperti apa.
Tampaknya Galang tak mau terburu-buru, Dia memilih untuk mengambil hati Nayla terlebih dahulu sebelum melakukan hal lebih, Itulah sebabnya sekarang dengan terpaksa dia menghentikan aksinya meski sangat ingin meneruskannya.
Nafas mereka berdua sama-sama terengah dengan tatapan yang juga sama-sama sayu, Kedua orang yang saling merindukan ini terlihat sedang menahan hasrat yang telah bangkit setelah sekian lama tertahan.
Galang mengusap pipi Nayla lembut dan tersenyum pada Nayla, Kemudian dia kembali mengecup bibir Nayla ssekila sebelum akhirnya membimbing tubuh Nayla untuk kembali duduk.
Mereka hening sesaat Tampak keduanya sama-sama berusaha menetralkan sesuatu yang bergejolak di dalam diri mereka.
"Apa kau marah?" Tanya Galang kemudian pada Nayla.
Nayla menoleh, Seketika pandangannya terpaku pada bibir bagian bawah Galang yang agak bengkak karena ulahnya.
Buru-buru Nayla membuang muka dengan wajah yang merah padam, Ia baru menyadari jika beberapa waktu yang lalu telah menjadi begitu agresif dan membalas perlakuan Galang dengan sama liarnya.
Astaga! Bagaimana bisa dia menjadi tak terkendali seperti ini, Nayla benar-benar merasa malu dibuatnya.
Nayla menutup wajahnya dengam kedua telapak tangannya, Ia sungguh tak punya muka untuk melihat kearah Galang.
"Kenapa?" Tanya Galang lagi sambil berusaha untuk mengurai kedua tangan Nayla yang menutupi wajahnya.
Wajah Nayla kembali terbuka, Matanya langsung bertemu dengan mata Galang yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Lepas." Ujar Nayla sambil menarik kedua tangannya yang digenggam Aaron.
Galang melepaskan tangan Nayla.
"Kau benar-benar marah, ya? Apa setelah ini aku akan kembali ditampar?" Tanya Galang lagi.
Nayla membeliakkan matanya Seketika ia sadar dengan situasi yang saat ini tengah dihadapinya.
Pertanyaan Galang barusan mengingatkannya pada kejadian ciuman Galang yang sebelumnya. Nayla pun tersadar jika mereka berdua telah bercerai dan tak sepatutnya melakukan apa yang baru saja mereka lakukan, Segera Nayla menarik dirinya dan sedikit menjauh dari Galang .
"Aku tidak marah Tapi ini salah, Galang." Gumam Nayla akhirnya.
Galang menautkan kedua alisnya sambil masih terus menatap Nayla.
"Apanya yang salah?" Tanya lelaki itu.
Nayla menundukkan wajahnya.
"Apa yang kita lakukan tadi....itu tidak seharusnya terjadi." Lirih Nayla.
"Kita sudah bercerai, tidak sepantasnya melakukan hal seperti ini." Tambah Nayla lagi masih dengan nada lirih, Entah kenapa kalimat terakhir Nayla itu terdengar begitu ironi.
Galang terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menghela nafas panjang.
"Maaf, tadi aku tidak bisa menahan diri Tapi bukankah kau menginginkannya juga? " Nayla agak terkejut mendengar pertanyaan Galang, Ia tak menjawab karena malu mengakui kebenaran itu.
"Katakan sejujurnya Nayla, Kau juga merindukanku, bukan?" Tanya Galang lagi.
Nayla memalingkan wajahnya kearah lain untuk menghindari tatapan Galang.
"Tidak." Ketusnya.
^^^Bersambung..... ^^^
^^^Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya gaesπ₯²^^^
^^^Happy Reading Buat kalian yang sudah mampir π₯°π^^^
__ADS_1