Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 67


__ADS_3

Sebelum menutup pintu mobil, Nayla melambaikan tangannya pada Sarah.


"Aku pergi dulu, ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku." ujarnya pada Sarah.


Sarah membalas dengan acungan jempol. Kemudian Sarah juga membalas lambaian tangan kevin.


"Good luck, Pak Dokter." teriaknya, yang tentu saja dibalas dengan pelototan mata Nayla.


Sarah tertawa, begitu juga dengan Kevin.


Tampaknya Sarah menyadari jika saat ini Kevin sedang mengejar sahabatnya itu. Perhatian Kevin sudah tidak bisa lagi dikatakan sebagai perhatian seorang teman atau kakak, tapi lebih kearah lelaki yang memperhatikan wanitanya.


Sarah semakin yakin saat melihat cara Kevin menatap Nayla. Bukan lagi tatapan sayang, tapi Kevin menatap Nayla dengan tatapan memuja. Sepertinya Dokter muda itu benar-benar telah jatuh cinta pada Nayla.


Tapi Nayla juga tahu, sahabatnya yang polos itu tidak menyadari jika lelaki yang ia anggap sebagai seorang kakak itu kini punya perasaan lebih terhadapnya.


Seperti apapun perkembangan hubungan kedua orang ini, Sarah hanya berharap Nayla bisa merasa bahagia kedepannya.


Kemudian Sarah masuk kedalam butik sesaat setelah mobil yang dikendarai Nayla dan kevin melaju.


Didalam mobil tampak Nayla dan Kevin sama-sama diam.


" Kamu ingin kemana? " Tanya Kevin


Nayla tidak langsung menjawab dan sedang berpikir


" Bagaimana kalau kita ke panti asuhan " Ujar Nayla akhirnya.


" Boleh " Kevin menyetujuinya


" Kedua adikmu dan ibumu di mana, sejak kemarin aku tidak melihat mereka ? " Tanya Kevin


" Melly berada di kota pusat sedang mengembangkan bisnisnya "jawab Nayla


" Bisnis " tanya Kevin dengan bingung


Nayla mengangguk


" Iya, melly punya bisnis sepertiku " The Star Butik " itu nama nama butik yang sedang ia kelola disanaa " jelas Nayla


Kevin hanya mengangguk pelan dengan wajah terkejut dan kagum, luar biasa bukan? orang miskin jadi pebisnis yang terkenal di mana-mana dan tentunya kevin tahu butik yang di kelola adik Nayla, Butik langganannya.


" Kalau Reyhan berada di luar kota sedang mengelola bisnisnya juga " The Star Cafe " Sambung Nayla


Kevin kembali melongo mendengar ucapan Nayla, sungguh tidak dapat dipercaya.


Kalian pasti sering mendengar pepatah, "Roda selalu berputar". Pepatah ini diartikan sebagai hidup yang selalu berubah. Kadangkala, hidupmu akan di atas yang artinya serba berkecukupan, namun ada kalanya hidupmu berada di bawah yang artinya serba kekurangan.


^^^"Hidup seperti roda yang berputar. Ada kalanya kita di atas. Saat kita berada di posisi atas, kita memang bisa melakukan apa saja sesuka hati. Tapi kita harus ingat, di lain waktu bisa jadi kita berada di bawah. Posisi bawah itu pasti tidak enak, apalagi untuk orang-orang sombong. Itulah sebabnya, kita harus selalu berbuat baik agar posisi kita selalu baik di dunia ini."^^^

__ADS_1


" Luar biasa, aku tidak menyangka kalian akan sesukses ini " puji Kevin membuat Nayla tersenyum.


"Kita harus tetap kuat dalam menjalani kehidupan. Sebesar apa pun hal yang menyakitkan menimpa kita. Seberapa pun kehilangan mencoba membunuh semangat kita. Hidup itu seperti roda, selalu berputar dan nggak pernah diam di satu titik aja. Akan ada yang pergi lalu datang mengganti. Ada masa kita bisa tertawa, dan kemudian menangis. Hidup tetap berjalan." Mata Nayla mulai sendu, masa lalu terlintas kembali di pikirannya.


Kevin kembali terdiam, dia membenarkan ucapan Nayla. Untung saja kevin gak pernah sombong jadi ngga merasa tersindir😅hanya saja dia sempat menyangkal dulu kalau dia tidak pernah menyukai Nayla.


" Kalau ibumu " Tanya Kevin lagi


Nayla terdiam sebentar.


" Beberapa tahun yang lalu Ibuku sudah meninggal karna sakit " Nayla jawab dengan lirih.


Sekarang Kevin yang terdiam, dia tidak bertanya lebih dalam lagi. Lalu dengan cepat ia mengalihkan topik pembicaraan mereka agar tidak menjadi canggung lagi.


"Kita cari makanan kecil dulu untuk anak-anak panti nanti." ujar Kevin sambil menepikan mobilnya diparkiran sebuah minimarket.


Nayla mengangguk. Lalu mereka turun dan masuk kedalam minimarket itu.


Nayla mengambil dua keranjang kosong, lalu mengisinya dengan snack, coklat dan permen. Setelah dirasa cukup mereka pun mengantri dimeja kasir untuk membayar.


Saat tiba giliran Nayla dan Kevin, tampak kasir perempuan itu sesekali melirik kearah mereka berdua.


"Pengantin baru ya, Kak?" tanya kasir itu akhirnya..


"Hah?" Nayla sedikit kaget.


"Yang biasanya belanja sama pasangan seperti ini kebanyakan pengantin baru, Kak. Apa jangan-jangan sudah lama menikahnya, ya?" tanya kasir itu lagi sambil memasukkan barang-barang Nayla.


"Ngomong-ngomong, kalian serasi sekali lho, Kak. Cantik dan ganteng." tambah kasir itu lagi sambil tersenyum.


Nayla hanya bisa ikut tersenyum tanpa bisa menjawab apa-apa. Ia sendiri tidak merasa perlu menyanggah omongan kasir itu, toh tidak membuatnya rugi juga pikir Nayla.


Kasir itu akhirnya menyebutkan nominal yang harus dibayar Nayla, dan setelah Nayla membayar, segera ia keluar dari minimarket itu.


Karena terlalu terburu-buru, Nayla tidak menyadari jika Kevin masih didalam.


"Hei, Nona. Aku mau ditinggal disini, ya?" terdengar suara Kevin dari arah belakang Nayla.


Sontak Nayla menoleh. Tampak lelaki itu melangkah lebar kearahnya.


"Kenapa buru-buru begitu? Malu karena omongan kasir tadi?" goda Kevin sambil tersenyum jahil.


Nayla melengos dengan wajah memerah.


Kevin tertawa.


"Ternyata kamu masih tidak berubah, ya. Masih suka merona." ujarnya sambil mencubit pipi Nayla gemas.


"Kak Kevin, sakit!" sergah Nayla.

__ADS_1


Kevin semakin terbahak.


"Sudah umur segini, bagaimana bisa kamu masih tetap menggemaskan seperti ini." ujar Kevin disela tawanya.


Kevin mendengus kesal sambil terus berjalan kearah mobil.


Kevin masih tersenyum geli saat menyusul Nayla. Lalu dia mengambil dua kantong belanjaan yang dibawa oleh Nayla tanpa permisi.


"Eh?" Nayla agak kaget mrngetahui belanjaan ditangannya sudah berpindah tangan.


Kevin berjalan mendahului Nayla dan menaruh belanjaan itu kedalam bagasi mobil. Lalu dia kembali mendekati Nayla dan menarik tangannya kembali kearah minimarket.


Nayla tampak bingung.


"Kenapa kita kesini lagi, apa ada ketinggalan?" tanyanya.


"Iya." jawab Kevin singkat, lalu dia mendudukkan tubuh Nayla dikursi khusus pengunjung yang ada dilluar minimarket.


"Tunggu disini." pintanya sebelum meninggalkan Nayla masuk kedalam.


Tak lama Kevin kembali dengan membawa dua es krim rasa coklat ditangannya. Kemudian dia menyodorkan salah satunya pada Nayla sambil ikut duduk disamping perempuan itu.


Nayla menerima es krim itu dengan sedikit terperangah.


"Kak Kevin, kita bukan anak-anak lagi lho." ujar Nayla sedikit mengingatkan.


"Siapa bilang es krim cuma buat anak kecil, tidak ada label yang menuliskan hal seperti itu dikemasannya." jawab Kevin acuh sambil membuka kemasan es krim dan mulai menikmatinya.


Nayla melihat Kevin dengan sedikit aneh, sebelum akhirnya ikut memakan es krim miliknya juga.


Dan tampaklah dua orang dewasa yang sedang menikmati es krim dipagi hari, persis seperti kelakuan dua anak kecil yang tidak bisa diberi tahu. Mereka saling melirik, dan saat pandangan mereka bertemu, keduanya sama-sama tertawa menyadari kekonyolan yang sedang mereka lakukan.


"Kamu ingat, Nay. Waktu perpisahan masa sekolah aku baru membuka scrapbook yang kamu kasih itu sudah dua ** ulan lebih. Aku membaca satu tulisan yang membuatku sedih kalau kamu sangat ingin makan es krim dari aku. Lalu aku berjanji akan membelikanmu es krim jika aku sudah menemukan mu. Tapi kemudian, aku tidak pernah menemukanmu bertahun-tahun dan tidak bisa menepati janjiku itu." tiba-tiba Kevin menengadahkan wajahnya dan berucap dengan sendu.


Nayla terdiam. Ia menoleh kearah Kevin dan menatapnya lekat. Sungguh Nayla tidak ingat lagi dengan hal itu jika kevin tidak mengatakannya sekarang.


"Sekarang akhirnya aku bisa menepati janjiku, walaupun rasanya sudah sangat terlambat dan tidak berarti lagi." ujarnya lagi sambil menoleh kearah Nayla


Kevin menatap Nayla dengan lekat dan tidak seperti sebelumnya. Tatapannya menyiratkan sebuah perasaan yang teramat sangat dalam, seperti telah terpendam dalam waktu yang sangat lama.


Nayla terkesiap. Tatapan Evan seperti menggeklmkannya, membuatnya kesulitan menghela nafas. Nayla tak mengerti dengan situasi yang saat ini tengah ia hadapi. Kevin benar-benar telah membuat hatinya kebingungan. Nayla benar-benar lupa akan masa itu.


^^^Bersambung.... ^^^


^^^** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho^^^


^^^ Mumpung hari jumat nih, bagi yang ikhlas aja yaaaa😅^^^


^^^Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah^^^

__ADS_1


^^^Please....pleasee🙏🙏^^^


^^^Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP😘🥰^^^


__ADS_2