
Nayla mematung, Ia tidak tahu harus menuruti permintaan Galang atau segera pergi dari sana. Lalu dengan sedikit memberanikan diri, Nayla menoleh dan berusaha untuk melihat kearah lelaki itu.
Galang masih menatapnya dengan pandangan sayu dan penuh harap, Tak pernah sebelumnya Nayla melihat Galang begitu tak berdaya seperti sekarang ini.
"Tolong temani aku beristirahat, Aku sangat lelah." Lirih Galang lagi.
Kali ini Nayla benar-benar lunglai, Kalimat Galang yang terakhir bagaikan sebuah batu besar yang menghantam hatinya.
Selama ini, sebanyak apa pun pekerjaan Galang dan sebesar apapun permasalahan yang tengah dihadapinya, tak pernah sekalipun lelaki itu akan mengeluh.
Dia adalah sosok yang kuat dan pantang menyerah. Kecerdasannya dalam memecahkan setiap permasalahan yang ada, membuatnya jadi pribadi yang tak terkalahkan.
Tapi lihatlah sekarang, Galang terlihat sangat-sangat tak berdaya. Lelaki yang biasanya selalu tangguh itu kini berada dititik terlemahnya.
Nayla pun akhirnya tak kuasa untuk pergi.
Ia kembali duduk diposisinya semula. Lalu bersamaan dengan itu, genggaman tangan Galang juga ikut mengurai.
"Terima kasih..." Bisik Galang sambil sedikit menarik sudut bibirnya, Kemudian dia kembali memejamkan matanya untuk kembali tidur.
Nayla menatap wajah Galang dengan seksama, Entah kenapa Nayla merasa wajah itu tak lagi secerah dulu. Guratan halus yang sebelumnya memang telah ada dikening Galang, kini menjadi semakin menegas, mengisyaratkan jika lelaki ini telah berpikir terlalu keras.
Tangan Nayla terulur dan menyentuh wajah yang kelelahan itu dengan lembut,Setetes airmata kembali membasahi pipi Nayla. Hatinya remuk melihat Galang yang sekarang. Dada Nayla terasa sakit, bahkan lebih sakit daripada saat Galang meminta bercerai dengannya dulu.
Tangan Galang mengenggam tangan Nayla yang menyentuh wajahnya, Kemudian matanya kembali terbuka dan menatap kearah Nayla. Pandangan mereka pun bertemu untuk beberapa saat, Galang bangkit dari posisi berbaringnya dan bersandar pada sandaran tempat tidur. Tangannya terulur mengusap kepala Nayla lembut, lalu turun menghapus airmata Nayla dan Perlakuan yang tak pernah Nayla dapatkan sebelumnya.
"Kenapa menangis, Apa permintaanku terlalu merepotkanmu?" Tanya Galang.
Nayla diam tak menjawab, Kepalanya juga tidak menggeleng ataupun mengangguk untuk merespon pertanyaan Galang. Tapi airmatanya kembali jatuh dan sekarang malah menjadi semakin deras.
"Apa yang terjadi, Galang? Kenapa sekarang kamu menjadi seperti ini? Kemana perginya Galang yang ku kenal dulu? Galang yang selalu bisa mengatasi apapun. Galang yang tak tertandingi dan mampu mengalahkan semuanya. Kemana perginya dia?" Nayla terisak tanpa bisa ia tahan lagi, Dadanya benar-benar sesak saat ini.
Kini berganti Galang yang terdiam dan memandang Nayla sendu, Dia tak menyangka jika perempuan yang sudah sering disakitinya ini masih akan menangis untuknya. Rasa penyesalan pun semakin besar bersarang dihati Galang, Bagaimana bisa dulu dia menyia-nyiakan sosok berharga dihadapannya ini.
"Kembalilah seperti dulu Galang, Jadilah orang yang selama ini aku kenal. Aku selalu ingin melihatmu bersinar dan berada dipuncak kejayaan. Kau dan Alvaro, kalian berdua harus hidup dengan sukses dan bahagia, Itulah do'a dan harapanku saat aku keluar dari rumah ini dulu. Aku tidak pernah ingin melihatmu menjadi seperti ini,Tolong jangan buat aku semakin bersedih." Nayla menyeka airmatanya.
"Tidak masalah jika kamu bersama dengan orang lain dan melupakanku. Asalkan kamu selalu bahagia, walaupun bukan aku sumber kebahagiaanmu, aku akan ikut senang, Galang. Sungguh...itu akan jauh lebih baik daripada aku harus melihatmu seperti ini." Nayla tersedu hingga bahunya bergetar Sedangkan Galang masih tetap diam dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Tiba-tiba Galang menarik Nayla kedalam dekapannya, Dipeluknya Nayla erat seakan tak ingin dilepasnya lagi.
"Maafkan aku, Nayla. Aku benar-benar bersalah, Aku telah banyak menyakitimu tapi kau masih peduli dengan kebahagiaanku. Bagaimana aku harus menebus semua kesalahanku padamu selama ini, Nayla. Katakanlah." Galang berbisik dengan suara serak Sedangkan Nayla yang masih terisak didalam pelukan Galang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku tidak bisa bahagia tanpamu, Aku bodoh karena selama ini menganggap hanya Alvaro saja sumber kekuatanku Ternyata aku salah. Ternyata bukan hanya Alvaro, tapi justru kaulah kekuatan terbesarku, Aku bodoh karena telah mengusirmu dari kehidupanku Nayla. Aku mengira tidak masalah melepasmu agar kau bisa terbebas dariku. Tapi ternyata aku malah menjadi gila dan tak bisa melakukan apa-apa tanpamu."
"Bahkan hanya dengan membayangkan kau bersama lelaki lain saja, aku bahkan batal mendapatkan kesepakatan dengan beberapa klien. Aku tidak bisa melanjutkan hidupku tanpamu, Nayla. Aku benar-benar tidak sanggup...." Galang terus bergumam sambil masih memeluk Nayla erat, Tidak ada tanda jika Galang akan mengurai pelukannya. Sepertinya kali ini Galang benar-benar tidak akan melepaskan Nayla dari pelukannya lagi.
Nayla terkesiap.
Kalimat demi kalimat yang Galang ucapkan benar-benar sangat mengejutkan Bahkan telinganya sendiri mungkin meragukan apa yang saat ini ditangkapnya.
Galang terdengar seperti tengah mencurahkan isi hatinya, Ini adalah kalimat-kalimat paling menyentuh yang pernah Galang ucapkan pada Nayla sepanjang Nayla mengenal lelaki ini.
Apakah ini yang disebut dengan pengakuan? Benarkah Galang saat ini sedang mengungkapkan pengakuannya kepada Nayla?
Nayla melepaskan pelukan Galang dan menatap lelaki itu lekat, Tidak ada kebohongan dimatanya. Dia benar-benar mengatakan yang sesungguhnya. Tapi tetap saja Nayla tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang didengarnya barusan.
Galang tak bisa hidup tanpa Nayla sungguh terdengar mustahil.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Aku tidak bisa melanjutkan hidupku tanpamu. Sejak kau tidak ada dirumah ini, aku tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain dirimu. Aku sangat menyesal telah menceraikanmu, Nayla. Bahkan pekerjaanku pun ikut menjadi berantakan karena aku hanya terpaku pada penyesalanku."
Nayla masih tak bergeming, Dari sorot matanya jelas terlihat jika ia masih tidak percaya dengan kata-kata Galang.
"Bukankah waktu itu kamu menceraikanku karena Cinta Pertama mu kembali? Kenapa kamu harus menyesal? Apa mungkin hubunganmu dengannya tidak berjalan lancar?" Tanya Nayla kemudian dengan agak tajam.
" Cinta Pertama dan kembali?" Gumamnya bingung.
"Aku tidak pernah mengharapkannya kembali bahkan membayangkan saja tidak dan soal tentang dia kembali aku tidak tahu menahu tentang itu " Sahut Galang
" Dan Satu-satunya yang pernah menjadi kekasihku adalah kau sendiri,Itu pun hanya sehari." Lanjut Galang lagi.
Nayla mendelik dengan wajah agak merona, Terbayang lagi diingatannya saat ia dengan tak tahu malunya meminta Galang menjadi kekasih seharinya waktu itu dan meminta Alvaro bersamanya seharian juga. Kenangan yang indah sekaligus menyedihkan yang tak akan terlupakan bagi Nayla.
Tapi benarkah itu pengalaman pertama juga bagi Galang? Bukankah dia pernah menyukai seorang wanita?
Mendadak Nayla kembali merasakan tubuhnya direngkuh lagi oleh Galang Tapi kali ini pelukannya terasa lebih lembut dan nyaman.
"Hanya kau yang pernah menjadi istri dan juga kekasihku tidak ada wanita lain. Dan kedepannya juga aku hanya menginginkan dirimu, Hanya kau yang aku harapkan untuk menjadi istri sekaligus kekasihku." Bisik Galang ditelinga Nayla.
Nayla meremang, Tak pernah terbayangkan olehnya akan berada dalam situasi ini setelah mereka bercerai. Berada didalam pelukan Galang dan mendengarkan curahan hatinya, kenapa semua itu justru Nayla rasakan saat sudah tak menjadi istri Galang lagi?
Nayla tak tahu harus tertawa atau menangis, Entah bagaimana nasib dirinya dan Galang nanti. Sungguh ia tak mengerti kenapa Galang mempunyai perasaan terhadapnya justru disaat Nayla mulai menikmati hidupnya tanpa lelaki itu, Nayla tidak tahu akan berakhir seperti apa ini nantinya.
Tiba-tiba Galang mengurai pelukannya dan menatap Nayla dalam.
__ADS_1
"Maukah kau memaafkan semua kesalahanku dan memulainya lagi dari awal, Nayla?" Tanya Galang dengan suara harap.
Nayla membeku mendengar pertanyaan Galang, Ia benar-benar tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan. Saat ini ia tidak bisa terlalu mendefinisikan perasaannya sendiri terhadap Galang.
Nayla tidak terlalu yakin apakah ia masih mencintai lelaki itu atau hanya sekedar bersimpati karena sekarang Galang sedang dalam keadaan yang tidak baik.
Nayla ragu untuk menjawab, Perasaannya terlalu abu-abu untuk ditebak. Ia tidak mau jika harus bertindak implusif dan menerima Galang begitu saja hanya karena sekarang Galang sedang terpuruk, Itu hanya akan menyakiti mereka berdua nantinya.
"Jangan mengatakan apapun lagi, Tidurlah. Sekarang kamu sedang mabuk." Elak Nayla sambil sedikit menjauhkan diri dari Galang.
"Aku memang mabuk tadi tapi sekarang tidak lagi." Jawab Galang menyangkal.
"Aku tidak ingin membicarakan apapun denganmu saat keadaanmu seperti ini,Bicaralah jika keadaanmu sudah baik." Elak Nayla lagi.
Galang terlihat menghela nafasnya, kemudian mengangguk.
"Baiklah..." Gumam Galang akhirnya.
"Kalau begitu berbaringlah juga." Galang menggeser posisinya untuk memberi Nayla tempat.
Nayla hanya melihatnya dengan penuh tanda tanya.
"Aku ingin tidur didekatmu seperti saat kita di Paris, Sudah lama aku tidak tidur nyenyak seperti waktu itu." Lanjut Galang lagi.
Nayla tak bergeming, Ia ingin menolak tapi melihat keadaan Galang saat ini ia tidak tega melakukannya.
Nayla menghela nafas kasar, Entah kenapa saat ini ia merasa menjadi seperti seekor kancil yang terjebak kedalam jerat harimau, Ia tidak bisa melepaskan diri dan lari.
Akhirnya dengan berat hati Nayla pun merebahkan dirinya disamping Galang,Dapat Nayla lihat senyuman dibibir Galang dari sudut matanya Sepertinya lelaki itu terlihat senang.
Ah, sudahlah. Sebentar lagi hari juga akan pagi dan ia bisa segera pergi, Setelah ini ia tidak akan terjebak ke dalam situasi ini bersama Galang lagi. Nayla berjanji pada dirinya sendiri Tapi anehnya dari sudut yang paling dalam justru hatinya ingin mengingkari janji tersebut.
Galang benar-benar pintar melemahkan hati Nayla.
Kemudian Galang juga ikut merebahkan tubuhnya, lalu memeluk Nayla yang berbaring membelakanginya.
Bersambung...
Jangan Lupa Like, Komen Dan Vote ya🥰
Happy Reading Gaes semoga sesuai Ekspetasi kalian ❤
__ADS_1