
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kemudian Galang juga ikut merebahkan tubuhnya, lalu memeluk Nayla yang berbaring membelakanginya.
Nayla sedikit terkejut dan menahan nafasnya, Galang mendekapnya dari arah belakang hingga tubuh Nayla seperti tenggelam didalam pelukan lelaki itu.
Posisi mereka sangatlah intim, Nayla bisa merasakan hampir semua anggota tubuh Galang menempel padanya. Termasuk sesuatu yang agak mengganjal tepat dibokongnya.
Ya Tuhan, Dada Nayla berdegub sangat kencang dibuatnya. Bahkan saat menjadi istri Galang pun Nayla tidak pernah mengalami hal ini.
"Galang...Kamu yakin bisa tidur dengan posisi seperti ini?" Tanya Nayla lirih.
"Hem...." Galang malah semakin mempererat dekapannya.
"Galang..." Nayla menggeliat berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Galang.
"Diamlah, nanti aku tidak bisa menahan diri jika kau terus bergerak." Bisik Galang.
Nayla terkesiap dan sontak membeku, Kata-kata Galang terdengar begitu menyeramkan ditelinganya, Ia pun diam dan pasrah dalam pelukan lelaki itu.
Nayla memilih untuk memejamkan matanya, berusaha untuk tidur agar melewati situasi ini dengan cepat. Dan akhirnya Nayla berhasil masuk kealam mimpi meski berada dalam posisi tidur yang tak biasa. Tanpa ia sadari, saraf otaknya merasa rileks saat berada didekat Galang hingga memudahkannya untuk tertidur.
Mereka berdua terlelap dan terlihat damai layaknya anak kecil yang tak mempunyai beban sama sekali.
...----------------...
...****************...
Nayla membuka matanya saat merasakan matahari sudah menampakkan diri, Terlihat Galang sudah tampak segar dengan pakaian kerjanya dan tengah menyelesaikan simpul dasinya.
"Sudah bangun?" Galang menoleh kearah Nayla.
Lelaki itu terlihat sudah kembali pada dirinya yang semula, Pesonanya sudah tampak seperti biasanya. Hanya saja yang membuatnya berbeda kali ini adalah senyum yang tersungging diwajahnya.
Tak ada wajah datar dan aura dingin yang biasanya lekat pada diri Galang, Gunung es itu kini menjadi sosok yang sangat-sangat berbeda Bahkan Nayla sendiri hampir-hampir tak mengenalinya.
"Kenapa melamun?" Tanya Galang sambil mendudukkan dirinya dipinggiran tempat tidur, menghadap kearah Nayla.
"Ti-tidak apa-apa." Jawab Nayla dengan tergagap, Entah kenapa detak jantungnya kembali berpacu saat Galang mendekat padanya. Kilasan adegan sebelum mereka tertidur semalam kembali berputar di kepala Nayla.
__ADS_1
"Aku harus segera kembali." Ujar Nayla lagi sambil beranjak dari tempat tidur Tapi Galang lagi-lagi menahan tangan Nayla hingga Nayla kembali duduk ditempatnya.
"Mandilah terlebih dahulu Beberapa pakaianmu dulu masih ada didalam lemari. Setelah sarapan, aku akan mengantarmu." Ujar Galang dengan nada tidak ingin dibantah.
Nayla menghela nafasnya, Sekali lagi ia menjadi tak berdaya dan tak punya pilihan selain menuruti keinginan Galang. Ia pun pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Tak berselang lama, Nayla keluar dengan memakai salah satu pakaian yang ditinggalkannya dulu.
Sebenarnya ia heran dan sedikit penasaran, kenapa Galang membiarkan saja pakaian Nayla tersimpan di lemarinya Tapi Nayla terlalu malas untuk bertanya. Nayla tidak ingin terjadi drama lain jika ia salah mengajukan pertanyaan.
Ternyata Galang belum turun dan masih menunggunya Lalu mereka pun turun ke lantai bawah bersama-sama menuju meja makan.
Sudah ada Asisten Rangga menunggu di sofa yang terletak di dekat meja makan,Bawahan Galang itu buru-buru bangkit dan membungkukkan badannya kearah Galang dan Nayla.
Nayla mengangguk kearah Asiaten Rangga dan duduk di salah satu kursi meja makan sedangkan Galang menyusul duduk di sebelah Nayla.
Kemudian Bi Sani pun datang dari arah dapur dengan membawa buah segar yang hendak diletakkannya di meja makan,Pelayan paruh baya itu pun agak terkejut melihat Nayla di meja makan.
"Nyonya... Anda di sini?" Tanyanya.
Nayla tersenyum canggung dan hanya bisa mengangguk mengiyakan pertanyaan Bi Sani,Sebenarnya ia merasa sedikit malu pada Bi Sani tapi karena tak ada yang bisa dilakukan, Nayla pun terpaksa menahan rasa malunya.
Sedangkan Bi Sani sendiri sebenarnya ingin menyapa dan bertanya kepada Nayla lebih banyak Tapi melihat ekspresi Galang yang tidak mau diganggu, akhirnya Bi Sani pun memilih kembali ke dapur setelah meletakkan buah segar yang sebelumnya ia bawa.
"Dimana Alvaro?" Tanya Nayla saat menyadari putranya itu tak kunjung turun untuk sarapan.
"Dia sedang mengikuti acara berkemah di sekolahnya selama tiga hari, Laras yang mendampinginya." Jawab Galang.
Nayla menganggukkan kepalanya dan kembali diam, Mereka pun memulai sarapan pagi tanpa mengeluarkan suara.
Setelah sarapan, Galang benar-benar mengantar Nayla seperti yang dia diucapkan sebelumnya. Dia menyetir mobilnya sendiri tanpa sopir pribadi, dia juga menyuruh Rangga untuk mengantarkan mobil Nayla dan pergi kekantor dengan menggunakan taksi.
Sepertinya Galang sengaja ingin berduaan dengan Nayla di dalam mobil, Nayla yang menyadari hal itu pun lagi-lagi hanya bisa pasrah,Mau tidak mau ia menurut saja saat Galang menyuruhnya masuk kedalam mobil.
"Mau di antar ke rumah atau ke Butik?" Tanya Galang sambil memasangkan sabuk pengaman Nayla.
Nayla hanya menahan nafas menerima perlakuan tak biasa ini,Aroma parfum Galang yang tertangkap indra penciumannya benar-benar melemahkan imannya. Lelaki ini perlahan membuatnya goyah.
"Ke Butik saja." Jawab Nayla, Ia mengalihkan pandangannya kearah lain, tak ingin Galang menyadari jika pipinya mulai merona.
__ADS_1
Galang pun melajukan mobilnya meninggalkan kediamamnya menuju Butik .
Sepanjang perjalanan mereka sama-sama terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Lalu tak berselang lama mereka sampai di depan Butik milik Nayla.
Nayla agak tergagap saat mobil berhenti.
Dan saat ia menyadari jika mereka telah sampai buru-buru ia melepas sabuk pengamannya Tapi saat Nayla hendak membuka pintu mobil, Galang tiba-tiba menahannya.
Tubuh Galang condong kearah Nayla hingga jarak mereka menjadi sangat dekat.
"Kau belum menjawab pertanyaanku semalam." Ujar Galang.
Nayla mengerutkan keningnya dengan penuh tanda tanya.
"Sekarang aku sudah tidak mabuk lagi, keadaanku sudah sangat baik. Jadi apa jawabanmu, Nayla? Bisakah kita memulai semuanya dari awal lagi?" Tanya Galang. Tampaknya kali ini dia tidak akan membiarkan Nayla mengelak lagi seperti semalam.
Sedangkan Nayla hanya tertegun tanpa bisa menjawab, Ia tak menyangka Galang akan membahasnya secepat ini. Nayla benar-benar tidak siap dengan pertanyaan itu sekarang.
"Masalah itu... akan aku pertimbangkan dulu." Jawab Nayla akhirnya. Nayla merasa itulah jawaban paling tepat yang bisa ia katakan saat ini.
"Mempertimbangkan..." Galang bergumam pada dirinya sendiri Kemudian lelaki itu mengangguk-anggukkan kepalanya seolah setuju dengan jawaban Nayla.
Nayla yang melihatnya merasa lega Tapi sejurus kemudian ia kembali bingung saat Galang justru semakin mendekatkan wajahnya.
"Apa aku boleh membantumu mempertimbangkannya?" Tanya Galang setengah berbisik.
Nayla melebarkan matanya Tiba-tiba wajah Galang semakin dekat kewajahnya hingga benar-benar tak ada jarak lagi diantara mereka.
Nayla membeku Dirasakannya bibir Galang menyentuh bibirnya dan mengecupnya penuh perasaan.
Lalu bibir Galang mulai meyesap dan membelai bibir Nayla dengan lembut hingga tanpa sadar Nayla memejamkan matanya untuk menikmati ciuman itu. Bibir Nayla juga mulai membalas pagutan Galang sampai mereka mulai kehabisan nafas.
Galang melepas ciuman yang sudah mulai menggairahkan itu dan Diusapnya bibir bagian bawah Nayla yang basah dengan ibu jarinya. Ditatapnya Nayla dengan tatapan yang sangat dalam.
"Sekarang pertimbangkanlah dengan baik. Aku menunggu jawabanmu." Ujar Galang dengan senyuman yang merekah di bibirnya
Bersambung...
Bambang Galang udah main nyosor aja ye🤭
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote ya😁
Bahagia selalu buat kalian miss you💜❤🧡💛💚💙💙