
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Galang tersenyum penuh ironi. Tidak akan pernah mudah lagi untuk kembali mendekati Nayla. Sepertinya dia sudah mulai mendapatkan hukuman atas apa yang telah dilakukannya pada Nayla selama ini.
...****************...
...----------------...
......................
Nayla bangun dari tidurnya dengan kondisi yang tidak terlalu baik. Semalaman ia tidak bisa memejamkan matanya. Bayangan wajah Galang terus saja memenuhi pikirannya sepanjang malam, hingga ia tak bisa tidur.
Nayla sungguh ingin menjaga jarak dengan Galang, tapi tidak bisa dipungkiri ia juga merindukan lelaki itu. Melupakan seseorang yang telah dicintai selama Lima tahun lebih tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Galang telah banyak menyakitinya, itu benar. Tapi Nayla juga tidak menampik banyak hal baik yang ia dapatkan karena Galang juga. Salah satunya kemampuan berbisnis yang sekarang ia punya. Nayla sadar, tak akan pernah mendapatkan itu semua jika dirinya tidak masuk kedalam kehidupan Galang.
Nayla tidak bisa dan juga tidak ingin membenci Galang. Ia hanya ingin menjaga jarak untuk melindungi hatinya agar tidak kembali jatuh kepada Galang dan merasakan sakit lagi. Tapi kenapa disaat Nayla berusaha untuk melepaskan dan menjauh, Galang justru seakan ingin mendekat padanya?
Apakah setelah bercerai pun Galang masih ingin bermain-main dengannya?
Nayla benar-benar merasa kesal. Mungkin satu-satunya jalan agar bisa lepas dari Galang adalah dengan cara kasar kepadanya, seperti yang Nayla lakukan semalam. Berbicara tajam kepada Galang sampai lelaki itu kehabisan kata-kata dan hanya bisa terdiam.
Haruskah Nayla terus bersikap seperti itu agar Galang behenti mempermainkannya?
Nayla beranjak dari tempat tidurnya dan sedikit memijat kepalanya yang agak berdenyut.
Hari masih terlalu pagi. Alvaro saja masih terlelap dengan damainya.
Nayla memandangi wajah tampan putranya itu. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. Hanya dengan melihat Alvaro tertidur saja tubuh dan pikirannya menjadi jauh lebih baik.
Semangat Nayla perlahan mulai bangkit. Ia pun bangun dari tempat tidur dan langsung menyegarkan diri dikamar mandi.
Setelah memakai baju rumahannya, Nayla bergegas kedapur untuk membuatkan malaikat kecilnya sarapan. Alvaro sangat suka nasi goreng omelet, Nayla akan membuatkan itu untuk menu sarapan.
Tapi sejurus kemudian Nayla teringat Galang. Lelaki itu tidak makan apapun saat sarapan kecuali sepotong roti yang dioles dengan selai. Dan saat ini Nayla sedang tidak punya stok roti.
Nayla memang tidak punya banyak stok makanan dirumahnya karena ia hanya tinggal sendiri, Ia juga tidak pernah menerima tamu sebelumnya. Jadi apa yang ada didapurnya benar-benar hanya untuk dirinya sendiri.
Nayla pun memutuskan hanya nenyiapkan nasi goreng omelet saja untuk sarapan. Dia tidak merasa perlu untuk pergi mencari makanan yang sesuai dengan selera Galang. Toh saat ini Nayla bukan istrinya lagi, Galang bisa sarapan ditempat lain jika tidak ingin makan masakan Nayla.
Lagipula Nayla tidak ingin Galang salah paham jika Nayla masih saja terus memperhatikannya. Nayla takut Galang menganggapnya masih punya hati dan ingin kembali padanya. Tidak! Nayla tidak ingin terlihat seperti itu. Biarlah Galang menganggapnya buruk agar mereka bisa menjaga jarak.
Galang dan Alvaro datang keruang makan saat Nayla sudah selesai memasak dan menata hasil masakannya dimeja makan.
Nayla agak kaget melihat keduanya yang tampak sudah mandi dan berganti pakaian.
Alvaro telah memakai seragam sekolahnya. Galang juga sudah siap dengan pakaian kerjanya. Tampaknya saat Nayla sedang sibuk memasak tadi, seseorang telah mengantarkan pakaian ganti untuk Galang dan Alvaro.
__ADS_1
Nayla agak terkesiap melihat Galang.
Penampilan Galang saat akan pergi kekantor setiap paginya memang selalu bisa menghipnotis Nayla. Setelan jas yang sangat pas membalut tubuh liatnya, Serta rambutnya yang telah tersisir rapi. Tak ketinggalan juga aroma parfum maskulin yang tercium dari tubuhnya. Aroma yang dulu selalu bisa memabukkan Nayla.
Galang terlihat gagah, segar dan juga...tampan!
Buru-buru Nayla mengumpulkan segenap kewarasannya. Berusaha untuk tak terusik pada pesona Galang dan bersikap biasa.
Nayla pun mengalihkan perhatiannya pada Alvaro dan mengulas senyum manis kepada putra kesayangannya itu.
"Sayang, kemarilah. Mama sudah membuat sarapan kesukaanmu." panggil Nayla pada Alvaro.
Alvaro mendekat sambil tersenyum senang. Lalu bocah itu duduk dikursi yang diarahkan Nayla. Tampak tiga piring nasi goreng omelet dan tiga gelas susu terhidang dimeja makan.
Nayla juga ikut duduk, Lalu ia menoleh kearah Galang yang tampak ragu untuk bergabung.
"Kamu tidak mau sarapan juga? Aku sudah memasak untuk kita bertiga." Nayla berusaha untuk tetap bersikap sopan pada Galang.
Galang tak menjawab. Tapi dia mendekat dan mengambil tempat duduk dihadapan Nayla.
"Maaf, aku tidak punya roti dan teh herbal. Hanya ada ini untuk sarapan." ujar Nayla lagi.
Galang tampak tersenyum tipis.
"Ini saja sudah cukup. Terima kasih." jawabnya.
Alvaro kembali menyantap makanannya dengan lahap. Wajar saja, karena sejak semalam menu yang ia makan adalah makanan kesukaannya semua. Nayla memang sengaja memasakkan makanan kesukaan Alvaro agar bocah itu merasa senang.
Lalu diam-diam Nayla melirik Galang.
Lelaki itu makan dengan elegan seperti biasa. Tak tampak raut tidak suka diwajah Galang saat menyantap makanan itu. Ia mengunyahnya dengan lahap pula seakan itu juga makanan kesukaannya.
Nayla melengos. Sikap Galang yang terlihat sangat menikmati masakannya itu entah mengapa jadi sangat menganggunya. Nayla lebih suka jika seandainya Galang menolak makanannya dan pergi lebih dulu.
Tapi apa yang dilihatnya sekarang. Galang menyantap makanan itu sampai tandas tak bersisa. Dan yang membuat matanya semakin membulat, Galang juga menenggak susu yang dibuat Nayla sampai habis.
Bukannya Galang sangat tidak meyukai susu? Aroma susu dipagi hari akan membuat perutnya mual. Makanya dia lebih suka teh herbal atau coklat panas untuk pendamping menu sarapannya. Tapi sekarang dia meminum susu yang sangat tidak disukainya itu sampai gelasnya kosong!
Nayla tersenyum masam.
Tadinya ia sengaja menyiapkan ini semua agar Galang tidak perlu bergabung saat ia menghabiskan momen sarapan pagi ini dengan Alvaro. Tapi sekarang, justru ia sendiri yang kehilangan nafsu makannya dan kehilangan momen.
Nayla hanya mampu menghabiskan sarapannya tiga suap saja, dan meneguk susunya beberapa tegukan. Perutnya tiba-tiba saja tidak mau diisi.
Setelah sarapan bersama yang sangat " mengesankan'' itu, Nayla kemudian mengantar Alvaro dan tentu saja juga Galang, ke teras rumah. Dan lagi-lagi, saat ini Nayla merasa seperti seorang istri yang sedang melepas suami dan juga anaknya untuk memulai aktivitas.
^^^ "Saat kau memaafkan orang lain, berarti kau telah memulihkan hati dua orang sekaligus. Hati dia yang berbuat salah, dan hatimu yang ikhlas menerima."^^^
__ADS_1
Astaga! Kepalanya semakin berdenyut dan ingin cepat-cepat keluar dari situasi ini.
Disisi lain, sopir pribadi Galang dan Asisten Rangga juga sudah ada disana. Entah kapan datangnya dan dengan mengendarai apa, dua orang kepercayaan Galang itu sudah menunggu didekat mobil Galang terparkir.
"Mama, Al berangkat sekolah dulu, ya. Lain kali Al akan menginap disini lagi. Boleh, kan?" Alvaro berpamitan pada Nayla.
Nayla mencium pipi Alvaro dan tersenyum.
"Tentu saja boleh, Sayang. Mama akan sangat senang jika Al bisa sering menginap disini." jawab Nayla.
Alvaro tersenyum ceria mendengar jawaban Nayla. Lalu dengan semangat bocah itu masuk kedalam mobil.
Galang masih berdiri ditempatnya dan melihat kearah Nayla.
"Kau mengerjakan semuanya sendiri, mungkin akan lebih baik jika kau mempekerjakan seseorang untuk membantumu dirumah." terdengar Galang membuka pembicaraan.
Nayla hendak membuka mulutnya, tapi Galang sudah terlebih dahulu menyambung kata.
"Aku tahu itu urusan pribadimu dan aku tidak berhak ikut campur, tapi jika kau kelelahan dan sampai jatuh sakit, Alvaro pasti akan sangat sedih." timpal Galang lagi.
Nayla terdiam dan tak menjawab.
"Tidak usah khawatir, jika Alvaro ingin nenginap disini lagi, aku akan membujuknya agar aku tidak perlu ikut menginap. Aku tahu kau tidak nyaman karena aku berada disini. Aku minta maaf." ujar Galang lagi.
Nayla masih terdiam dan mencerna kata-kata Galang.
"Terima kasih untuk sarapan dan makan malamnya, Nayla. Jaga dirimu." tangan Galang terulur hendak menyentuh bahu Nayla, tapi secara spontan Nayla menghindar.
Galang tersenyum tipis dan menarik tangannya lagi. Matanya tampak sedikit meredup dan terlihat agak sedih.
"Aku pergi dulu." ujarnya sambil berlalu.
Nayla masih tak menjawab. Ia mematung. Tidak pernah sebelumnya Nayla melihat tatapan mata Galang yang seperti tadi.
Nayla pun bertanya-tanya didalam hatinya, apa sikapnya pada Galang sudah berlebihan? Apa tanpa sadar ia sudah menyakiti Galang?
^^^" Untuk mencintai, kamu harus memiliki kekuatan. Kekuatan melawan amarah dengan kesabaran dan kekuatan memaafkan dengan ketulusan."^^^
...Bersambung.... ...
...** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho...
... Tapi bagi yang ikhlas aja yaaaa Gaes๐ ...
...Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah...
...Please....pleasee๐๐...
__ADS_1
...Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP๐๐ฅฐ...