Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 73


__ADS_3

^^^" Ayah Bunda itu layaknya pelita sebagai penerang hidup. Ibarat cahaya lilin yang selalu setia menerangi setiap sudut jalan. Dan sebagai semangat yang menjadi motivasi tuk tetap kuat untuk terus melangkah maju." Alvaro Christian Alexander^^^


...****************...


......................


...----------------...


"Kak Kevin, masuk dulu." Suara Nayla membuyarkan lamunan Kevin.


Kevin kembali tersenyum, Lalu dengan agak ragu, Kevin menuruti kata-kata Nayla. Dia mendudukkan dirinya dikursi tamu yang berhadapan dengan Galang.


Mata keduanya kembali bertemu. Galang menatap Kevin dengan tajam dan tak terbaca. Sedangkan Kevin mencoba untuk lebih santai dan bersikap biasa. Tapi tetap saja, aroma persaingan tercium dari kedua lelaki ini.


"Mama, Om ini siapa?" tanya Alvaro tiba-tiba.


Nayla agak terkejut, lalu buru-buru ia tersenyum pada putranya itu.


"Sayang, ini teman Mama. Namanya Om Kevin." Jawab Nayla


"Kak Kevin, kenalkan ini Alvaro. Putraku yang tempo hari aku ceritakan." Ujar Nayla


Kevin tersenyum kepada Alvaro, Lalu dia berinisiatif menyalami tangan Alvaro. Alvaro menyambut tangan Kevin dengan tatapan menyelidik, Matanya memperhatikan Kevin dengan sangat Seksama dan tatapan menyelidik. seolah ingin memberikan penilaian terhadap teman Mamanya itu.


Alvaro memang tipikal anak yang tidak akan menerima hal baru begitu saja. Pikirannya sangat kritis, Ia akan mempertanyakan sesuatu yang dianggapnya tidak sesuai.


"Hai, Alvaro Senang bisa berkenalan denganmu." Kevin berusaha untuk bersikap ramah Sedangkan Alvaro hanya menanggapinya dengan mengangguk tipis.


Jabat tangan mereka pun terlepas.


"Apa Mama tidak ingin memperkenalkan Om ini dengan Papa juga?" tanya Alvaro dengan polos.


Nayla agak terkejut.


"Oh, eh, iya..." ujarnya terbata.


"Kak Kevin, kenalkan juga, Ini Papanya Alvaro...., Galang." sambungnya lagi dengan canggung.


Kevin kembali melihat kearah Galang,Kali ini dengan mengulas senyum tipis.


Kevin mengulurkan tangannya pada Galang.


" Kevin." ujarnya mantap dan percaya diri.


Galang menjabat tangan Kevin dengan tatapan yang mengintimidasi, seolah ingin mengatakan jika Kevin bukanlah tandingannya.


" Galang." Suaranya terdengar berat dan dalam, Penuh dengan kharisma.


Kevin melepas jabat tangan mereka sembari tetap tersenyum. Tampaknya dia tak merasa gentar dengan segala kesempurnaan Galang. Dia bahkan terlihat sangat tenang dan mampu membuat Galang merasa terusik.


Nayla merasakan hawa yang berbeda sejak kedatangan Kevin. Entah kenapa, rasanya jadi begitu tegang seolah ia sedang berada di arena pertempuran.


"Se-sebentar, aku buatkan minum dulu." ujar Nayla gugup sambil berlalu menuju dapur. Agak lega rasanya bisa menyingkir dari suasana canggung diruang tamunya tadi meski hanya sebentar.


Tak lama kemudian Nayla kembali keluar dengan membawa minuman dan makanan kecil, Ia mendudukan dirinya kembali disisi Alvaro.


Nayla melirik Kevin dan Galang bergantian, Kedua orang ini masih mengeluarkan aura permusuhan yang sangat kental. Nayla tidak tahu ada permasalahan apa sebenarnya diantara kedua orang ini. Tapi yang jelas, sangat terlihat jika keduanya sama-sama tidak saling menyukai.


Kevin mengalihkan pandangannya kepada Nayla.


"Apa kita jadi pergi?" tanyanya lembut.

__ADS_1


Nayla tampak agak gugup saat akan menjawab pertanyaan Kevin.


"Sebenarnya... aku tidak tahu kalau Alvaro akan menginap disini malam ini. Makanya aku menyetujui untuk menonton film bersama Kakak." ujarnya pelan, berusaha untuk menolak ajakan Kevin dengan halus.


Tiba-tiba Alvaro bangkit dan merangkul lengan Nayla.


"Mama... Al sangat lelah, mau tidur sekarang." rengeknya.


"Eh?" Nayla agak keheranan, Tidak pernah selama ini putranya merengek seperti itu. Alvaro adalah anak yang mandiri dan cerdas, Diusianya yang masih kecil ini, bocah itu selalu bersikap tenang layaknya orang dewasa. Tapi kenapa sekarang dia merengek seperti anak kecil pada umumnya?


Nayla buru-buru meraba dahi Alvaro.


" Galang, apa Alvaro sedang tidak sehat?" tanyanya cemas.


Galang melihat kearah Alvaro sambil menautkan kedua alisnya.


"Saat akan pergi kesini tadi dia baik-baik saja." jawab Galang.


Alvaro semakin mengeratkan rangkulannya.


"Al, tidak sakit, Ma. Al cuma lelah dan ingin beristirahat sekarang." rengeknya lagi.


Nayla semakin bingung, Pasalnya saat ini masih terlalu awal untuk pergi tidur, dan biasanya Alvaro juga tidak pernah tidur seawal ini. Tapi karena putranya itu sudah merengek, ia pun tidak ada pilihan selain menurutinya.


"Kak Kevin,maaf ya. Sepertinya malam ini kita tidak jadi keluar. Aku harus menemani Alvaro tidur." uujar Nayla akhirnya dengan nada menyesal.


Kevin merasa sedikit kecewa, Tapi dia tetap menyungging senyuman untuk menutupi rasa kecewanya itu. Kemudian tangannya terulur menepuk bahu Nayla lembut, Hal itu pun tak luput dari pengamatan Galang dan Alvaro.


" Sekilas mungkin aku terlihat tersenyum di matamu. Tapi, sebenarnya hati ini menangis pilu melihat kamu dengan dia ". Kevin


"Tidak apa-apa, Alvaro pasti merindukanmu, temanilah dia. Kita bisa keluar lain kali." ujar Kevin lembut.


Nayla mengangguk sambil tersenyum lega. Kemudian ia menuntun Alvaro menuju kamarnya, meninggalkan Galang dan Kevin diruang tamu.


"Berhentilah bermain-main dengannya,Dokter Kevin. Dia bukanlah wanita yang tepat untuk kau ajak bersenang-senang." suara Galang memecah keheningan.


Kevin mengerutkan keningnya mendengar panggilan Galang padanya. Sepertinya lelaki itu telah menyelidiki latar belakangnya, Kemudian dia menarik satu sudut bibirnya membentuk senyuman miring.


"Bukankah Anda yang saat ini sedang bermain-main dengannya, Tuan Galang?" Tanya Kevin


"Anda bahkan mengajak serta putra Anda untuk bermain-main dengannya, bukan? Kenapa? Apa Lima tahun lebih tidak cukup bagimu untuk mempermainkannya?" tanya Kevin lagi dengan nada memprovokasi.


Galang mengepalkan tangan hingga buku-buku tangannya memutih.


"Jaga bicaramu." sergahnya. Tampak wajahnya mengeluarkan aura mematikan yang akan membuat ngeri siapapun yang melihatnya.


Kevin kembali tersenyum.


"Jangan khawatir, Tuan Galang. Saya bisa menjamin jika saat ini saya sangat serius dengan mantan istri Anda itu." balas Kevin dengan sedikit menekankan kata 'mantan' pada kalimatnya. Kemudian tanpa menunggu tanggapan dari Galang, Kevin pun melenggang pergi dari tempat itu.


Kini tinggalah Galang seorang, berdiri mematung dengan menahan amarah yang terasa akan meledak saat itu juga. Mendengar kata 'mantan istri' yang diucapkan oleh Kevin tadi benar-benar membuat darahnya mendidih. Padahal dia sangat tahu jika itu adalah faktanya, tapi Galang seolah tidak bisa menerima kebenaran yang ada.


Beberapa saat kemudian, Nayla kembali keruang tamu setelah mengantarkan Alvaro tidur dikamarnya.


Nayla tampak sedikit terkejut saat mendapati Galang lah yang masih berada diruang tamunya, bukannya Kevin.


''Alvaro sudah tidur?" tanya Galang.


Nayla mengangguk mengiyakan.


"Sepertinya dia memang kelelahan." ujar Nayla.

__ADS_1


Kemudian Nayla melirik kearah teras rumah, mencari dengan matanya jika saja kevin masih belum pergi dan masih diluar.


"Dia sudah pergi." ujar Galang seolah mengetahui apa yang ada dibenak Nayla.


Galang melangkahkan kakinya mendekati Nayla, lalu berhenti saat jarak mereka sudah sangat dekat. Galang menatap Nayla dalam, membuat Nayla menautkan kedua alisnya karena bingung.


"Sejauh apa hubunganmu dengannya, Nayla?" tanya Galang kemudian.


Nayla diam dan tak langsung menjawab. Ia heran dengan pertanyaan yang diajukan oleh Galang. Kenapa lelaki itu harus peduli dengan kehidupan pribadinya? lagipula sekarang mereka tidak hubungan lagi, kan?


"Itu tidak ada hubungannya denganmu. Aku tidak harus menjawabnya." kilah Nayla.


Nafas Galang tampak memburu mendengar jawaban dari Nayla, Tanpa sadar tangan kokohnya mencekal kedua lengan Nayla dan menyudutkan perempuan itu kedinding.


Nayla memberontak, berusaha keluar dari kungkungan tubuh Aaron. Tapi tentu saja tenaga Galang jauh lebih besar dan usaha Nayla itu sia-sia saja.


"Lepaskan aku, Galang. Apa yang kau lakukan?" sergah Nayla dengan marah, Ia terus memberontak dengan mengeluarkan segenap tenaganya.


"Jika kau ingin aku melepaskanmu, jawab aku! Sejauh apa hubunganmu dengannya?" tanya Galang lagi, Kali ini dengan nada tak ingin dibantah.


Bukannya menjawab, Nayla malah melotot marah kepada Galang.


"Itu urusanku, bukan urusanmu. Urus saja urusanmu sendiri!" serunya.


Emosi Galang pun semakin naik saat mendengar kata-kata Nayla itu.


"Mulai sekarang segala urusanmu menjadi urusanku. Aku harus tahu setiap hal yang menyangkut tentang dirimu. Kau harus mengatakan semuanya padaku!" balas Galang tak kalah marah.


Nayla tampak terkejut dan sedikit terperangah. Ditatapnya Galang dengan keheranan.


"Kamu pasti sudah tidak waras." desisnya sarkas.


Galang terdiam untuk beberapa saat.


"Benar, Aku memang sudah tidak waras. Aku kehilangan akal karena terlalu merindukanmu." gumamnya sambil masih menatap Nayla dalam.


Kemudian tanpa Nayla duga, Galang membekap mulut Nayla dengan mulutnya.


Mata Nayla membulat sempurna karena terkejut.


Dirasakannya bibir Galang bergerilya menyesap bibirnya. Menghisap dan tanpa ampun, hingga tak memberikan Nayla ruang untuk menolak.


Lelaki itu itu meciumnya dengan sangat panas dan bergairah. Bibirnya melahap bibir Nayla dengan rakus, seakan tengah menuntaskan dahaganya atas diri Nayla yang selama ini dia tahan.


Nayla tak tahu harus berbuat apa, Otaknya tiba-tiba saja menjadi kosong. Apa yang dilakukan Galang kali ini membuatnya mendadak kehilangan akal sehatnya.


Galang benar-benar membuatnya menjadi gila dan menjadi wanita bodoh.


..."Aku cukup bodoh bukan, menerima luka ini dengan ikhlas."...


...Dan...


..."Aku sadar, aku memang bodoh. Aku masih saja menunggumu dan masih saja berharap kau mencintaiku." Nayla Purnama...


Bersambung..


** Dukungan Dan Votenya author tunggu lh


Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah


Please....pleasee🙏🙏

__ADS_1


Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP😘🥰


Di tunggu bab selanjutnya ya gaes🤗


__ADS_2