Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 72


__ADS_3

"Rumah yang nyaman untuk berteduh dibangun oleh tangan manusia. Rumah tangga yang kukuh dibangun oleh hati manusia."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


...----------------...


Galang agak termangu mendengar laporan Asisten Rangga tentang lelaki yang beberapa hari lalu bersama Nayla.


Dia adalah seorang Dokter spesialis jantung yang selama ini berdomisili di Singapura. Lulusan Fakultas kedokteran terbaik dari Universitas terkemuka dinegara itu.


Dia mempunyai karir yang baik disana, tapi dua tahun yang lalu memutuskan untuk kembali ketanah air untuk urusan pribadi.


Dan fakta yang agak menganggu Galang adalah, lelaki itu ternyata teman masa sekolah Nayla. Pada masa sekolah Kevin lah satu-satunya laki-laki yang selalu melindungi dan laki-laki yang selalu menemani Nayla. Apakah itu semacam kekasih masa Sekolah, Galang tidak tahu pasti. Tapi yang jelas Nayla dan Kevin seperti sudah terikat. Lalu mereka berpisah karena kevin mengejar cita-cita nya menjadi seorang dokter spesialis jantung dan Nayla pergi mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.


Lalu kini, setelah sekian lama berpisah, mereka akhirnya bertemu lagi dan kembali menjalin pertemanan. Bahkan akhir-akhir ini terlihat semakin akrab.


Lalu benarkah hubungan mereka hanya sebatas pertemanan?


Galang mendadak menjadi sangat gelisah. Melihat dari kedekatan mereka tempo hari, tidak menutup kemungkinan jika dikemudian hari hubungan mereka akan menjadi lebih dari sekedar teman. Galang sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya jika hal itu sampai terjadi.


Lantas apa yang apa yang harus dia lakukan sekarang? Galang memejamkan matanya, memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan untuk kembali mendekati Nayla.


Tiba-tiba saja ponselnya berdenting, Sebuah pesan masuk, dan ternyata pengirimnya adalah Alvaro.


'' Pa, bolehkah Al mengunjungi Mama?'' isi pesan dari Alvaro.


Galang agak tercenung membaca isi pesan itu. Kemudian senyuman tipis terbit diwajahnya. Galang merasa seperti semesta sedang membantunya. Kenapa tidak terpikirkan olehnya jika putranya adalah kunci utama untuk mendekati Nayla.


Meski dirasanya memang agak tidak pantas memanfaatkan anaknya sendiri. Tapi semua ini pada akhirnya untuk kebaikan Alvaro juga, kan?


Galang pun menjadi sedikit lebih bersemangat.


" Rangga." panggilnya kemudian.


Asisten Rangga mendekat.


"Ya, Tuan." jawabnya.


"Apakah aku masih ada jadwal pertemuan sore ini?" tanya Galang.


"Tidak, Tuan. Tapi nanti malam Anda harus menghadiri sebuah undangan pesta dari salah satu klien kita." Galang tampak mengetuk-ngetukkan jari diatas meja kerjanya sembari berpikir.


"Atur orang untuk menggantikanku kesana. Siapkan juga hadiah sebagai permintaan maafku karena tidak bisa datang langsung kepesta itu. Tolong urus semuanya, Aku ada urusan penting malam ini." pintanya kemudian.


Asiaten Rangga tidak punya pilihan selain mengiyakan. Ia tidak ingin mendapat amukan dari tuannya itu seperti beberapa hari yang lalu.


Sejak bercerai dengan Nayla, sosok Galang memang berubah drastis. Dia mudah sekali berada dalam mood yang buruk, hingga hari-hari Asisten Rangga dan Maya menjadi lebih sulit dari sebelumnya.


Galang tampak menghela nafas untuk menetralkan debaran di dadanya. Entah kenapa saat ini rasanya dia seperti seorang remaja pria yang akan menemui kekasihnya. Jantungnya pun berpacu agak cepat dari biasanya.


Ingin rasanya Galang menertawakan dirinya sendiri.

__ADS_1


Dia merasa agak konyol saat ini, Bagaimana bisa, hanya dengan memikirkan akan bertemu dengan Nayla saja pipinya terasa memanas. Jangan bilang jika saat ini dia sedang merona?!


Apakah seperti ini orang yang sedang jatuh cinta? Astaga.... Benar-benar memalukan!


Galang pun kembali memejamkan matanya. Dia memikirkan kalimat seperti apa yang harus ia katakan kepada Nayla agar perempuan itu tidak menolak kehadirannya. Galang tidak ingin pertemuannya kali ini akan membuat Nayla semakin tidak menyukainya.


Ya. Galang memang masih agak bingung harus memulai dari mana.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Nayla sedang mematut dirinya dicermin, Ia memulas wajahnya dengan make up tipis. Kemudian ia menata rambutnya yang tergerai agar terlihat lebih rapi. Terakhir Nayla mengambil sepasang flat shoes dan memakainya. Sempurna, Kini penampilannya terlihat sangat manis, Tinggal menunggu kedatangan Kevin saja.


Ya. Nayla memang sedang ada janji untuk keluar bersama Kevin. Sudah beberapa kali Kevin mengajaknya menonton film, tapi Nayla selalu menolak. Hingga akhirnya, sekarang ia tak kuasa untuk menolak lagi. Kebetulan sedang ada film baru yang ingin ditontonnya. Nayla pun menerima ajakan Kevin kali ini untuk keluar dan menonton film.


19.38 @


Suara bel rumahnya berbunyi.


Bergegas Nayla keruang depan untuk membukakan pintu,Kevin telah datang menjemputnya.


Tapi kemudian Nayla terkesiap. Sosok yang ada dibalik pintu ternyata bukan Kevin, melainkan seseorang yang sangat tidak ingin Nayla temui belakangan ini.


Galang? Gumam Nayla


Mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Hingga akhirnya Nayla membuang pandangan kearah lain dan nemutus kontak mata mereka.


Galang tertegun, Nayla nampak sangat berbeda malam ini. Wajahnya manisnya tampak dipoles make up tipis yang makin mempertegas kecantikannya.


" Mama " Alvaro memecah keheningan, menyelamatkan Galang yang hendak melakukan tindakan konyol.


Nayla tersenyum, Ia baru menyadari kehadiran Alvaro karena terlalu fokus pada Galang.


"Sayang..." Nayla berjongkok dan memeluk bocah itu.


Alvaro tersenyum dan membalas pelukan Nayla dengan erat.


"Al merindukan Mama." ujarnya didalam pelukan Nayla.


Nayla mengurai pelukannya dan merangkum wajah Alvaro dengan kedua telapak tangannya.


"Mama juga merindukan Al, Sayang. Tapi Mama menahan diri untuk tidak menemui Al, karena Mama takut mengganggu konsentrasi Al belajar." ujar Nayla lembut.


"Tapi sekarang ujian sekolah Al sudah selesai. Jadi Al bisa menginap dirumah Mama lagi, kan?" Tanya Alvaro dengan penuh harap.


Mata Nayla melebar.


"Al mau menginap disini lagi?" tanyanya senang.


Alvaro menjawab dengan Anggukan penuh semangat. Senyum Nayla pun mengembang sempurna dibibir tipisnya.


Galang kembali terkesiap, Senyum Nayla membuat desiran halus disekujur tubuhnya, seolah ada yang menghembuskan angin di permukaan kulitnya.


Dia hanya bisa melangkah kaku mengiringi Nayla saat perempuan itu menuntun putra mereka masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Apa Al sudah makan?" tanya Nayla kepada Alvaro.


Bocah tampan itu mengangguk.


"Tapi Papa belum." ujarnya kemudian.


Sontak Nayla menoleh kearah Galang, hingga Galang menjadi sedikit kaget.


"Kamu...belum makan?" tanya Nayla ragu.


Galang tidak tahu mesti mengangguk atau menggeleng.


"Tentu saja sudah, Tadi aku dan Alvaro makan bersama." ujarnya kemudian, Sebisa mungkin untuk berusaha tenang.


"Tapi Papa cuma makan dua suap." Alvaro menimpali dengan cepat.


Nayla menautkan kedua alisnya, Tidak pernah Galang seperti itu sebelumnya. Setahu Nayla, selama ini Galang sangat memperhatikan nutrisi yang masuk kedalam tubuhnya. Makanan yang di konsumsi haruslah memenuhi asupan kalori yang dia dibutuhkan. Hingga apapun yang tersaji di piringnya pasti akan selalu dia habiskan.


Andai Nayla tahu jika Galang tadi kesulitan menelan makanannya karena gelisah membayangkan akan bertemu dengannya. Pasti saat ini Nayla akan tertawa terbahak-bahak.


Galang menghembuskan nafasnya, mencoba menetralkam sesuatu yang semakin bergejolak didalam sana.


Tiba-tiba bel rumah kembali berbunyi.


Seketika Nayla sadar jika saat ini ia sedang ada janji dengan Kevin,Lalu segera ia melangkah untuk membuka pintu.


Dan benar saja, Kevin telah berdiri diambang pintu dengan mengulas senyum manisnya. Penampilannya terlihat sangat menawan, jelas terlihat jika dia akan berkencan dengan seorang gadis.


Detik berikutnya, senyum Kevin memudar. Tatapannya bersirobok pada tatapan tak bersahabat dari arah dalam rumah. Seorang anak kecil juga tampak disana, Kevin langsung tahu jika bocah itu adalah anak lelaki Nayla.


Dan seketika Kevin pun menyadari jika kencan terselubungnya kemungkinan besar akan gagal.


Bocah laki-laki itu menatap Kevin sama seperti Papanya. Sorot mata mereka berdua sangat waspada seolah Kevin adalah ancaman.


Kevin tersenyum masam, Sepertinya upayanya untuk menjadikan Nayla kekasihnya akan mengalami hambatan. Sepasang ayah dan anak dihadapannya inilah hambatan terbesarnya.



Alvaro Christian Alexander 😘


^^^"Kebaikan seorang ayah lebih tinggi dari gunung, dan kebaikan seorang ibu lebih dalam dari lautan."^^^


Haha perang segera Dimulai... 😅


^^^Bersambung..... ^^^


^^^** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho^^^


^^^Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah^^^


^^^Please....pleasee🙏🙏^^^


^^^Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP😘🥰^^^

__ADS_1


__ADS_2